Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Jen


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva hampir direbus di dalam kuali. Tapi disaat-saat terakhir Sayn menyelamatkannya.Mereka pun bertarung dengan para jubah hitam dan pemimpinnya. Di saat-saat krisis, Eva diselamatkan lagi oleh gadis cantik yang merupakan salah satu tahanan.


Eh? Tapi ternyata gadis itu adalah pria yang sedang menyamar? Dan dia adalah Robert!?


***


Aku menatap Robert serius. "Master, apa yang kau lakukan di tempat ini? Kau menghilang karena berada di tempat ini? Tempat apa ini?"


Robert bertanya balik dengan mengernyitkan dahinya,serius, sepertinya dia berpikir keras. "Lalu, apa yang kau lakukan di tempat ini Eva? Aku benar-benar kaget saat kau tiba-tiba muncul di ruangan itu"


"Aku diculik master. Aku menerima undangan aneh. Lalu terkena sihir kuno yang mengunci manaku. Aku jadi tidak bisa menggunakan sihir. Lalu aku bertemu Sayn di tempat ini. Dan dia membantuku untuk mencari kunci pembuka mana dan juga membantuku melarikan diri" aku menjelaskannya dengan serius.


Robert berpikir sebentar. Dia menatap pria bertopeng perak di depan, dan mengangguk yakin. "Aku yakin pasti dia!"


Aku semakin bingung. Dia? Dia siapa?


CLAP! CLAP! CLAP!


Si topeng perak itu tiba-tiba bertepuk tangan, membuat perhatian kami mengarah padanya.


"Aku tidak tahu bahwa aku akan mengumpulkan banyak penyusup" katanya sinis.


"Hmmmm, hanya cacing" gumam Sayn dengan nada meremehkan.


Sayn menggunakan sihir untuk memantau manusia di depannya. Sihirnya sangat lemah. Selain sihir gelap, sihir lainnya benar-benar lemah. Dia juga memperhatikan para jubah hitam yang terjerat.


"Ikan teri" ejeknya jijik sambil mengernyitkan kening.


Identitasnya terungakap karena orang-orang lemah ini?


Robert juga mengeryitkan keningnya. "Aku mungkin salah orang..." gumamnya ragu.


Dia sangat lemah, tidak mungkin bisa menjadi orang itu!


Melihat tatapan meremehkan yang ditujukan padanya, pemimpin topeng perak itu mengertakan giginya marah.


"Berani-beraninya kalian menatapku seperti itu!" teriaknya.


SWOOSHH! Tiba-tiba seseorang terbang ke arahnya. Orang itu langsung berdiri di depan si pemimpin.


AH!


"Charlotteee!" aku berteriak tanpa sengaja.


Aku benar-benar kaget saat Charlotte tiba-tiba muncul dan berada di depan si pemimpin itu!


"Apa yang kau lakukan Charlotte?" teriak Robert sambil menatap Charlotte lekat-lekat.


Tapi gadis itu mengacuhkannya.


Aku melihat Charlotte. Gaya berdirinya sangat kaku. Tatapan matanya kosong. Aku juga samar-samar melihat untaian benang kecil yang terhubung antara dirinya dan juga si topeng perak.


Tidak mungkin! Ini sihir hitam!


Apa Charlotte dikendalikan oleh sihir hitam ini? Sihir vodoo?


"Dia dikendalikan. Aku melihat sihir hitam padanya"


"Apa?" Robert membelalakan matanya tak percaya.


Dia mengalihkan tatapannya kepada topeng perak di depannya. "Hentikan ini semua guru. Charlotte sudah menganggapmu sebagai gurunya sendiri, kenapa kau memperalatnya" kata Robert dingin.


Guru?


Tidak mungkin kan...


"Kau Dean Caro?!" aku berteriak kaget sambil menunjuk topeng perak itu.


"....." suasana hening sebentar.


"Puh..."


"Puh...hahaha! Hahaha!" si topeng perak itu tertawa terpingkal-pingkal. "Bodoh! Bodoh! Baru kali ini aku menemukan manusia bodoh seperti ini hahahaha!"


Secara perlahan dia mulai membuka topengnya dan menampakkan wajah yang tidak asing.


"Ah! Kau Jen!" aku berteriak tak percaya.


Orang ini adalah murid Menara SIhir yang memberiku undangan aneh itu. Dari awal dia memang ingin membawaku ke tempat ini.


Aku tidak pernah membaca tentang "Jen" di dalam novel. Dia bahkan bukan karakter sapingan. Apa dia karakter yang baru saja muncul? Yang lebih mengejutkannya lagi, dia adalah penyihir gelap. Dia penyihir gelap kedua yang kutemui setelah Nenek itu.


Awalnya aku juga mengira dia Dean Caro yang menyembunyikan sihir gelap. Tapi ternyata salah. Dean Caro bukan penyihir gelap. Novel juga tidak menyebutkan plot twist seperti itu. Ternyata plot twistnya hanyalah menambah tokoh tambahan.


"Jen? Siapa itu?" tanya Robert dengan nada tidak suka.


"Dia adalah murid dari Menara Sihir. Kau tidak mengenalnya?"


"Aku tidak mengenal semua murid disana."


"Dialah yang memberiku undangan aneh dan juga mantra pengunci ini. Aku tidak tahu apa tujuannya."


Aku berbalik menatap Jen. "Apa tujuanmu? Kenapa kau membawaku ke tempat ini?"


"Hmph, aku hanya ingin membawamu karena kau bahan terakhir" katanya acuh tak acuh.


Aku mengernyitkan kening. "Bahan terakhir?"


"Ya" dia mengangguk. "Bahan terakhir untuk ramuan yang kubuat"

__ADS_1


Aku melonggo. Ramuan? itu sebabnya dia ingin merebusku!


"Jangan dengarkan." Robert berkata sambil menutup telingaku.


"Ahh....Genius Menara sihir, kau juga mengetahuinya kan? Apa kau ingin menyimpan bahan ini untuk dirimu sendiri?" kata Jen dengan nada mengejek.


Aku menatap Robert tak percaya. "master..."


"Tidak! Jangan dengarkan oke. Kau tidak boleh mendengarkannya. Aku tidak akan pernah mencelakaimu. Kau salah paham"


"Tentu saja aku tidak mungkin percaya pada orang bodoh itu!" kataku merenggut.


Aku tidak akan pernah meragukan Robert! Aku sudah athu karakternya oke. Lagipula aku sudah membca novelnya. Tidak mungkin dia memikirkan hal jahat.


'Tapi, apa yang harus kulakukan dengan karakter baru ini?' aku berpikir sambil menatap Jen. "Hmmm ini sesuatu yang tidak terduga. Aku benar-benar terjebak dalam event tambahan? atau event tersembunyi?"


"Cih!" Jen mendecakkan lidahnya.


Tiba-tiba dia mengeluarkan secarik kertas.


Kertas itu kelihatannya tidak asing?


Ah! Kertasnya mirip dengan kertas undangan itu!


"Aku punya mantra pembukanya. Kemarilah, aku akan memberikannya padamu. Tapi kau harus menurutiku. Kalau tidak aku akan menghancurkannya"


Dia tersenyum sinis. "Kau tahu, mantra ini hanya satu-satunya di dunia. Kalau aku merusaknya, mantranya akan lenyap. Kau tidak akan pernah kembali. Kau akan Menjadi sampah selamanya walaupun kau bisa lari dari tempat ini" katanya dengan nada mengancam.


Aku mengernyitkan kening tidak senang.


Apa-apaan ini? Mengancamku? Huh!


Tapi aku punya rencana hehehe


"Baiklah" aku menyetujuinya dan melangkah maju.


Robert panik.


'Apa yang dipikirkan gadis kecil ini?'


"Jangan!" Dia berusaha menghentikan Eva.


Tapi tiba-tiba, SWOSSH! Charlotte yang sedari tadi berdiri di depan, bergerak dan menghalanginya.


"Apa yang kau lakukan?" Dia berteriak kesal.


Saat dia berusaha untuk maju, Charlotte mulai menghalanginya dan melontarkan sihir untuk menyerangnya.


Saat ini Eva tidak bisa menggunakan sihirnya. Itu berbahaya untuk maju sendiri ke depan musuh! Tapi dia juga tidak bisa melukai Charlotte. Gadis tidak bersalah ini sedang dikendalikan!


Robert melihat sosok di sampingnya, yang dari tadi berdiam diri dan selalu mengamati dalam diam.


"Kau!" Robert menunjuk Sayn kesal. "Bantu Eva"


"Aku sudah memberikannya alat yang berguna"


Ya. Saat dia menggendong gadis itu, menyelamatkannya menjadi rebusan, dia memberi alat sihir yang berguna pada gadis itu.


'Aku kira itu cukup berguna. Alat itu, aku membuatnya sendiri. Aku ingin melihat efeknya'


"Apalagi..." Sayn menatap Charlotte.


Saat dia melangkahkan kakinya maju, mata Charlotte langsung menargetkannya dan BAM! Sebuah laser cahaya terlempar ke arahnya.


"Aku juga tidak bisa pergi" Sayn menatap Robert sambil mengangkat kedua bahunya.


Robert menatap Charlotte lekat-lekat. Gadis itu benar-benar gesit. Saat mereka melangkahkan kaki maju, berbagai sihir mulai menyerang mereka.


"Haruskah aku balik menyerangnya?" Robert berkata dengan ragu sambil menggertakan giginya. Dia tidak mau sihirnya melukai gadis tidak bersalah itu secara tidak sengaja.


***


Aku melangkah maju secara perlahan.


Aku melihat Jen tersenyum penuh kemenangan sambil melambaikan kertas di tangannya.


Aku hanya membalasnya dengan senyum santai.


Jen yang melihat itu hanya membuat ekspresi cemberut.


Saat jarak kami semakin dekat, aku tersenyum polos. "Berikan padaku" aku mengangkat tanganku ke arahnya.


Jen mengernyitkan kening. "Maju lebih dekat. Aku akan memberikannya padamu"


TAP! Aku melangkah maju satu langkah.


AkuĀ  mulai melemparkan barang yang sudah kupegang sedari tadi ke arah Jen.


Benda ini berbentuk bulat seperti bola ping pong kecil. Bola itu melayang dan POP! Mengenai targetnya!


"Apa ini?" Jen mengernyitkan keningnya dan mengambil bola itu.


Tapi tiba-tiba PSHHH! DUAR! Bola itu pecah dan mengeluarkan asap ungu aneh. Asap ungu itu langsung mengerumuni sekeliling tubuh Jen.


"Apa ini?!" Jen panik sambil menggerakan tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat panas.


Ini kesempatanku!


PAT! Aku dengan cepat meraih kertas mantra itu saat melihat Jen mulai lalai. Dan berlari menjauh


"Gadis kecil sialan!!" Jen meraung. Seluruh kulit di tubuhnya mulai mengendur dan jatuh ke bawah. terlihat seperti meleleh.

__ADS_1


"Tidak buruk..." Sayn bergumam bangga dari kejauhan.


Dia bisa memproduksi bom ini secara massal. Walaupun tidak bisa memusnahkan, dia bisa melemahkan kekuatan musuh.


Jen berusaha mengendalikan tubuhnya. Kulit-kulitnya mulai mengendur, elastisitasnya berkurang, tapi dia tidak merasakan sakit apa pun.


'Apa yang dilakukan gadis kecil itu padaku?'


"Aku berubah pikiran. Aku akan membunuhmu!!"


DUAR! Jen mulai melemparkan sihir gelap ke arah Eva.


Aku benar-benar tidak siap saat sihir itu menghampiriku. Sihir itu langsung mengenaiku.


DEG! Jantungku berdenyut. Ini menyakitkan!


Uhuk! Uhuk! Aku langsung memuntahkan darah. Ini benar-benar sakit...Kapan terakhir kali aku merasakan sakit seperti ini...


"Eva!" dari sisi lainnya, Robert dan Sayn berteriak cemas.


Tapi tiba-tiba, bros di dadaku bersinar Ah...ini bros pelindung dari master.


Bros itu menyerap sisa sihir yang terjebak di dalam tubuhku. Ah, walaupun masih sakit, ini tidak terlalu sakit. Lalu kalung kelinci pemberian Denis juga bereaksi, dan mengembalikan vitalitas tubuhku.


Aku sudah bisa bergerak!


Aku melihat kertas yang kugengam.


"Ten en Ourti ois..." aku membaca mantranya.


DEG! DEG! DEG! Jantungku langsung berdenyut kuat. Aku memegang dadaku. Rasanya tidak sakit. Tapi seperti aku terkena rasa kejut yang berlebih. Aku merasa tubuhku dipenuhi oleh aliran listrik. Lalu secara perlahan aliran listrik itu mulai berkumpul di jantungku. Dan aku merasakan sesuatu yang terlepas. Aku merasa sangat lega.


Aku mulai mengedarkan mana. Ah berhasil!


Aku bisa menggunakan sihir!


Aku langsung menatap Jen. Kondisinya sangat buruk.


Jen membalas tatapanku dengan mata penuh amarah dan kebencian. Dia mulai menyerang.


Hee...dia ingin menggunakan sihir gelap padaku? Apa dia bodoh?


Aku dengan santai mengangkat tanganku dan melemparkan sihir gelap lainnya. Dua sihir itu saling beradu, dan tentu saja sihirku menang.


Aku melihat Charlotte. Walaupun aku tidak tahu sihir apa yang digunakan Jen. Tapi aku merasa aku bisa membatalkan sihir itu. Aku melihat untaian benang sihir yang menghubungkan kedua orang itu. Aku langsung memotongnya!


"Tidak!" Jen meraung dan tersungkur. Dia menjerti kesakitan.


eh? Kelihatannya saat sihir ini dibatalkan secara paksa, bisa melukai penggunanya. Tapi ini hal yang bagus bukan ~


Mata kosong Charlotte secara perlahan mulai kembali seperti semula.


"Eh? Aku ada dimana?" Charlotte bergumam bingung.


Dia melihat Robert di depannya.


"Kau sudah sadar?" Robert bertanya dengan ragu.


"Sadar? Apa?" Charlotte masih bingung. Kepalanya pusing. Dia masih mengalami efek samping karena sihir gelap itu. Jadi dia masih belum bisa berpikir jernih.


Setelah beberapa saat, dia mengamati situasi. "Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa disini?" dia menatap semua orang di ruangan itu dengan penuh curiga.


Robert menepuk bahunya sambil menghela napas "Ha~ kau benar-benar sudah sadar"


Robert menatap Charlotte dengan serius dan dia menjelaskan situasinya secara singkat.


Setelah mendengar penjelasan Robert, Charlotte melotot kaget.


"...." dia hanya bisa menatap kembali dua sosok di depan, Jen dan Eva. Lalu dia menatap sosok Eva dengan perasaan yang rumit.


"Dia menolongku?" gumamnya ragu. Lalu dia menatap Jen dengan tatapan benci. "Penyihir gelap tetap akan jadi penyihir gelap. Iblis tidak akan pernah berubah" katanya dengan sarkas.


***


Aku melihat Jen yang tersungkur di tanah dan menjerit kesakitan.


'Kelihatannya efek samping dari sihir itu benar-benar fatal...'


Jen tiba-tiba menatap Eva. "Tolong aku..." rintihnya. Matanya berbinar menginginkan pengampunan. "Jangan bunuh aku. Maafkan aku...."


"Kau pikir aku gila?" aku bertanya balik padanya.


Siapa yang akan mengampuni musuhmu sendiri di dunia yang kejam ini? Kita tidak pernah tahu, saat orang ini melarikan diri, dia akan merencanakan balas dendam yang jahat.


"Kau tidak bisa membiarkan mereka manangkapku. Kita adalah penyihir gelap! Jumlah kita sedikit. Di saat-saat seperti ini kita harus bekerja sama. Penyihir gelap harus bersatu. Kau tahu kenapa aku melakukan ini? Aku ingin kekuatan karena aku ingin penyihir gelap memiliki kebebasan" Jen berkata dengan nada sungguh-sungguh.


"...." aku tak bisa berkata-kata.


Baru kali ini aku melihat orang tak tahu malu seperti ini. Dia benar-benar membalikkan perbuatan jahatnya menjadi "ingin membawa kebebasan para penyihir gelap". Dan dia berharap aku tergerak dengan kata-katanya.


"Apa kau bodoh?" kataku dengan nada mengejek. Aku secara perlahan mendekatinya.


"Aku ingin memusnahkanmu. Aku tidak ingin kau berbalik dan membentuk rencana balas dendam yang lebih jahat"


Setelah hidup di dunia ini, aku belajar bahwa dunia novel ini sangat kejam. Penuh dengan peperangan, konspirasi dan juga pembunuhan. Kita tidak bisa menjadi gadis baik dan naif di tempat seperti ini! Aku masih penasaran bagaimana cara Reina, si tokoh utama itu bisa hidup tanpa beban. Walaupun dia bertemu banyak kecelakaan. Apakah karena hello tokoh utama melindunginya? Atau karena para pria tampan itu melindunginya? Atau ada sesuatu yang lain?


Melihat Eva semakin mendekat padanya, Jen bergidik ngeri. "Tidak, tolong....ampuni aku..." dia bersujud dengan nada memohon.


Aku tidak peduli! Aku sudah mempersiapkan sihir api dengan tingkat kehancuran tinggi. Aku ingin membuatnya jadi abu! Tapi keinginanku tidak pernah terjadi....karena suara yang tidak terduga tiba-tiba muncul.


"Hentikan!" Dean Caro tiba-tiba muncul dengan teleportasi.

__ADS_1


Haa~ aku menghela napas.


Pelaku utamanya sudah muncul. Apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2