
Cerita sebelumnya:
Eva memutuskan untuk berkeliling keesokan harinya. Walaupun dia ragu akan mendapatkan izin dari Dean Wason. Tapi ternyata tidak seperti dugaannya. Dean Wason mengizinkannya untuk berkeliling kota. Akhirnya dia pun pergi bersama Robert.
Dia berkeliling dan berbelanja berbagai item di Kota Sihir. Dari ramuan, talisman, hingga senjata sihir. Tapi dia menemukan kenalan di tengah keramaian kota. Mereka adalah dua pria dari Komunitas Pengembara yang menyelamatkannya kemarin. Eva pun mengikutinya karena dia ingin berterima kasih.
Eva mengikuti dua orang itu sampai mereka masuk ke sebuah toko. Tapi dia menemukan kejadian tidak terduga lagi. Reina ada disana, duduk berhadapan dengan dua pria dari Komunitas pengembara. Lalu dua pria itu mulai melepas tudung dan topeng mereka. ternyata mereka adalah Denis dan Jensen. Eva terkejut.
***
Aku masih melonggo bingung. Karena kejadian tidak terduga ini aku memikirkan banyak hal yang membuat pikiranku berantakan.
KRIEET!
Tapi aku tiba-tiba mendengar suara pintu. Pikiranku pun buyar dan aku menoleh ke arah pintu. Ternyata itu Robert.
"Kau ingin makan di tempat ini?" tanya Robert sambil mengangkat alisnya.
Sepertinya suara Robert membuat Denis sadar dan dia menoleh.
"Eva!" Denis mengerjap kaget sambil berdiri dari kursinya. Suaranya cukup keras sehingga membuat Eva menoleh kembali padanya.
Aku mendengar Denis memanggil namaku. Aku pun menoleh dan melihat tiga orang di meja itu menatapku dalam diam. Aku benar-benar linglung karena kaget dan bingung sekarang. Tapi aku berusaha mengatur ekspresi ku menjadi normal kembali.
"Masta... ayo" aku mengajak Robert mendekati ketiga orang itu.
Aku menghampiri mereka lalu memasang senyuman kecil. "Selamat siang Yang Mulia" kataku sambil memberi hormat sederhana.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Yang Mulia di tempat ini." kataku dengan nada sarkas.
"..."
Denis sama sekali tidak menjawab ku. Aku tidak tahu apa yang orang ini pikirkan.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu nona? Apa kau masih mengingatku?" tiba-tiba pria yang duduk di samping Denis membuka mulutnya.
Aku menatap orang itu lekat-lekat. Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikannya karena hanya fokus pada Denis dan Reina. Tapi saat mengamatinya lebih jauh, aku mengenali orang ini!
"Jensen?" kataku dengan wajah kaget.
Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Jensen di tempat ini. Tapi saat melihat dia menemani Denis, aku tahu alasannya. Karena memang akan seperti. Terjadi menurut apa yang dituliskan dalam novel. Jensen akan menjadi tangan kanan Denis di masa depan.
"Kau masih mengingatku nona" seru Jensen bahagia.
"Aku benar-benar tidak melihatmu dalam waktu yang lama. Apa kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan selama ini?" tanyaku antusias.
"Aku baik-baik saja" jawabnya sambil tertawa. Dia menggaruk kepalanya canggung. "Aku hanya berlatih..." katanya dengan nada malu.
"Hm, itu bagus" jawabku kemudian. "Lalu apa yang kalian lakukan di sini?"
"..."
Jensen langsung terdiam saat mendengar pertanyaanku. Membuatku semakin tidak nyaman. Kenapa mereka menyembunyikan tujuan mereka?
Mata Denis membelalak kaget. Dia menatap tajam Reina, tapi dia tetap tidak membuka mulutnya. Tapi kalau dia bisa membunuh, dia akan membunuh Reina dengan tatapan itu. Walaupun Reina tidak memperhatikannya karena dia terlalu fokus menatap Eva.
Aku mengangkat alisku. "Pembicaraan pribadi? Baiklah ~ Maaf menganggu waktu kalian" kataku santai sambil beranjak pergi. Tapi aku sangat kesal saat ini. Aku hanya berusaha menyembunyikannya. Tapi kenapa aku harus merasa kesal? Merasa kesal karena mereka sama sekali tidak penting humph!
"Eva!" teriak Denis refleks. Denis sebenarnya ingin menjelaskan semuanya pada Eva. Bahwa mereka sedang dalam misi rahasia untuk mencari item di domain sihir. Tapi dia takut. Dia takut Eva bertanya lebih jauh untuk apa dia mencari item itu. Kalau Eva tahu alasannya adalah untuk melawan faksi ayahnya, dia akan salah paham lagi dan hubungan mereka akan menjadi lebih buruk. Denis benar-benar takut akan hal itu.
"Ada apa Yang Mulia?" tanyaku tanpa menoleh.
"Kalian bisa bergabung bersama kami. Bukankah kalian ingin makan juga?" kata Denis langsung dengan nada canggung.
"Oh? Bagaimana dengan pembicaraan pribadi kalian?"
"Masalah pembicaraan pribadi itu untuk nanti. Karena kita sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama, bukankah lebih bagus kalau kita semua berkumpul dan berbincang?"
__ADS_1
"..."
Aku sedikit ragu. Haruskah aku ikut?
Melihat Eva ragu-ragu, Denis menambahkan, "Aku mengundangmu dengan hormat karena kita tunangan"
Mendengar kata tunangan, aku tersenyum masam. Apa maksud perkataanya? Apa dia mengancamku dengan kata tunangan itu? Maksudnya aku tidak boleh menolak ajakannya karena itu tidak sopan karena kami bertunangan? Cih!
Baiklah, aku tidak akan menolaknya!
"Terima kasih Yang Mulia" kataku sopan sambil duduk di samping Reina. "Masta, duduk disini" kataku sambil menepuk kursi di sampingku. Robert dengan santai ikut duduk.
Melihat kejadian itu, mata Reina berubah dingin. Dia mengepalkan tangannya erat-erat. Sebenarnya ini akan menjadi pertemuan pribadinya dengan Denis. Di mata Reina, Jensen tidak ada, jadi dia sama sekali tidak dianggap. Dia menganggap ini akan menjadi pertemuan mengesankannya dengan Denis. Dia bisa bercerita bahwa dia juga lulus ke babak kedua. Dan mereka bisa bersama-sama mencari item itu. Dia akan membantunya. Tapi gadis jahat ini tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya.
'Bagaimana gadis jahat ini bisa tiba di tempat ini? Apa dia menguntit ku dan Yang Mulia?' pikir Reina.
Denis juga memasang wajah tidak senang saat Robert duduk di samping Eva. Tapi dia tidak mengatakan komplain apa pun.
Suasana menjadi sunyi saat aku duduk.
Lima menit berlalu, tiba-tiba Jensen bergerak "Aku akan memesan makanan" katanya.
Tidak ada yang menjawabnya. Kami hanya mengangguk.
Jensen pun memesan makanan. Kemudian hanya dalam beberapa menit, berbagai makanan hangat memenuhi meja kami. Tapi anehnya aku tidak melihat satu pun hidangan daging. Apa ini rumah makan vegetarian? Walaupun sudah banyak makanan yang datang, hidangan utamanya belum siap. Suasana sunyi dan tidak ada yang berbicara walaupun makanan-makanan itu sudah datang. Kami juga harus menunggu lima menit lagi sampai hidangan utama di antarkan.
"Kau tidak apa-apa kan?" tiba-tiba Denis membuka pembicaraan sambil menatap Eva serius.
Aku tersenyum. "Terima kasih Yang Mulia karena sudah menyelamatkanku waktu itu" kataku sungguh-sungguh. Aku benar-benar lupa tujuan utamaku untuk berterima kasih karena terbawa perasaan. "Saya tidak apa-apa" sambungku kemudian.
Denis tersenyum. "Itu bagus"
Reina dan Robert yang melihat adegan itu mengernyitkan kening. Entah mengapa mereka tidak suka suasana yang terbentuk saat Denis dan Eva berbicara sambil tersenyum. Seperti sepasang kekasih yang sedang menanyakan kabar. Mereka tidak senang karena mereka sangat cemburu!
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
Akhirnya Robert dan Reina mengajukan pertanyaan bersamaan dengan nada masam.