
cerita sebelumnya:
Eva menyentuh peti kecil hitam itu. Tapi tiba-tiba sihir gelap keluar dari dalam kotak dan membuat nya menghadapi ilusi lagi. Kali ini dia bertemu dengan Darwin dan Robert yang menatapnya dengan penuh kebencian dan bahkan memenjarakan nya. Sebenarnya apa yang terjadi?
***
Robert sudah meninggal kan penjara. Sekarang aku sendirian di penjara yang gelap ini sambil mencerna beberapa informasi berdasarkan situasi yang ada.
Jadi mungkin aku melakukan kesalahan yang membunuh banyak orang dan membuat semua orang membenciku karena itu. Lalu mereka melumpuhkan ku agar tidak bisa menggunakan sihir. Apa mereka memenjarakan keluargaku karena kesalahanku juga? Aku sama sekali tidak bisa menangkap maksud dari ilusi aneh ini.
Ilusi itu berlangsung cepat dan beberapa hari pun berlalu. Tiba-tiba aku bisa mendengar langkah kaki di penjara bawah tanah yang sepi ini. Refleks aku terbangun dan langsung maju ke depan jeruji untuk mengamati kondisi penjara.
Aku bisa melihat seorang dengan jubah hitam dan topeng menghampiri sel milikku. Saat dia mendekat, mata kami saling bertatapan. Aku mengenali mata dari balik topeng itu.
"Sayn?" aku bergumam bingung.
"Akhirnya kau tinggal di tempat ini juga ya" kata Sayn datar.
Aku bingung dengan sikap nya. Kenapa semua orang bersikap dingin padaku?
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali tidak mengingat apa pun..." kataku lirih. Aku ingin mencoba berpura-pura lupa ingatan agar dia memberitahuku peristiwa sebenarnya.
"Kau lupa ingatan atau pura-pura tidak tahu?" kata Sayn dengan nada mengejek.
Sebenarnya aku sedikit sakit hati saat melihat sikap dingin mereka semua. Mereka yang selalu bersikap ramah padaku, sekarang menatap ku dengan penuh kebencian. Mengingatkanku akan masa lalu. Tapi aku berusaha menahannya.
"Aku tidak ingat apa pun..." aku menjawab sedih. "Mereka membenturkan kepalaku terlalu keras" aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bukankah pria harusnya merasa kasihan saat seorang wanita memiliki ekspresi sedih? Aku akan mencoba menjadi kucing lemah dan imut kali ini.
Tapi dugaanku salah.
__ADS_1
"Cukup!" Sayn berteriak. Seketika teriakannya membuat udara di sekitar ku bergetar hebat.
Sayn menatap Eva tajam. Tubuhnya bergetar dan tangannya mengepal erat karena dia menahan emosi nya. Lalu dia menatap Eva dengan tatapan menyesal dan sedih.
"Kenapa kau melakukan semua itu? Membunuh semua orang? Walaupun kami membuat mu bertahan hidup dengan membuatmu lumpuh. Itu semua sia-sia karena seluruh dunia ingin kau mati" Sayn menjelaskan dengan suara yang bergetar hebat. "Mereka benar-benar menyiksamu seperti itu. Membuat mu menderita. Aku benar-benar tidak tahan" tiba-tiba tatapannya berubah tajam dan mengerikan, membuatku bergidik ngeri. "Karena itulah aku menerima misi ini. Aku akan membunuhmu"
Eva belum sempat bereaksi, tapi Sayn tiba-tiba sudah berdiri di depan matanya. Dengan cepat, tangan Sayn mencekik lehernya. Eva tidak berkutik. Dia hanya merasakan kesakitan yang amat sangat sebelum akhirnya pandangannya memudar.
Sayn menatap gadis di depannya. Setelah gadis itu tak bernyawa dia memeluknya erat-erat. Lalu dia mulai menangis.
"Setidaknya dengan mati kau tidak harus menahan penderitaan itu seumur hidupmu..."
***
Bang!
Apa-apaan ini?!
Aku bahkan tidak bisa menggunakan logikaku karena semakin syok dengan ilusi yang aku alami.
"Manusia! Manusia! Kau tidak apa-apa?!" Teriakan Rexus membangun kanku dari lamunan. Aku sadar bahwa aku masih terbaring di lantai dan naga kecil itu melompat di atas dadaku untuk menyadarkan ku.
"Uh...aku tidak apa-apa. Berapa lama aku pingsan?" aku bertanya.
"Hanya beberapa menit" jawab Rexus datar. "Ini semua karena asap jelek itu!" dia mengomel.
Aku bahkan lupa kalau kami masih dikelilingi asap hitam yang keluar dari peti itu. Aku bangun secara perlahan dengan kondisi masih mengambang dan berusaha mengamati sekitar.
Asap hitam yang ada di sekitar kami tiba-tiba bergerak dan membentuk gumpalan asap. Bukan, itu bukan gumpalan. Melainkan bentuk wajah.
__ADS_1
Astaga! Asap hitam itu hidup!
Asap itu membentuk wajah pria tua raksasa. Bahkan matanya bergerak menatap kami. Lalu pria itu membuka mulutnya.
"Aku pasti mengangetkanmu karena ilusi itu" Suaranya bergema di seluruh ruangan dan membuat gendang telinga ku sedikit bergetar.
"Maafkan aku"
"Tidak apa-apa." kataku langsung. "Tapi siapa kau pria tua?" aku bertanya cemberut. "Walaupun itu cuma ilusi, rasa sakitnya sangat nyata! Aku membencimu karena harus meletakkan ku dalam penderitaan seperti itu!" aku memprotes keras tindakan nya. Walaupun semuanya tidak apa-apa karena aku selamat. Tapi tetap saja aku tidak akan memaafkan tindakannya.
Pria itu menarik bibirnya dan tersenyum. "Jangan marah padaku. Aku menunjukkan sesuatu yang penting padamu. Jangan menyalahkanku" katanya.
Aku mengernyit bingung.
Sesuatu yang penting? ilusi menyakitkan yang tidak masuk akal itu ternyata penting?
Apa dia ingin menguji ketahanan mentalku?
"Apa maksudmu?"
Pria itu berkedip sebentar. Lalu wajahnya berubah serius.
"Aku memperlihatkan masa depanmu"
Deg!
Mataku membelalak kaget.
Hanya satu kalimat. Tapi itu membuat pikiranku membeku. Aku mematung di tempat dengan wajah pucat dan syok.
__ADS_1