Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Eva 12 Tahun, Persiapan


__ADS_3

Arc sebelumnya sudah selesai. Sekarang akan memasuki Arc baru ya.


Eva akan menikmati masa-masa di akademi sebelum pertandingan sihir dimulai.


Selamat menikmati ceritanya ~


***


Akhirnya setahun berlalu lagi. Tanpa terasa aku sudah berumur dua belas tahun! Aku sudah melewatkan ulang tahunku dua hari yang lalu, jadi aku sudah resmi berumur dua belas sekarang. Di dunia ini, umur dua belas tahun adalah dimana kau menginjak masa remaja. Dan umur enam belas tahun adalah masa dewasa. Banyak sekali anak-anak berumur enam belas tahun mengadakan upacara dewasa dan menikah. Ah~ di dunia novel, para anak-anak sangat cepat dewasa. Dan mereka menikah di usia yang sangat muda.


"Hmm...jadi normalnya aku akan menghabiskan waktu selama empat tahun di akademi..." aku bergumam sambil melihat pantulan diriku di depan cermin .


Biar aku mengingat sekilas cerita di dalam novel.


Denis sudah hampir berumur enam belas tahun, dia akan lulus dari akademi. Tapi karena kondisi politik kerajaan memburuk, Raja menyuruhnya untuk tetap tinggal di akademi selama setahun. Jadi dia memperpanjang masa belajarnya selama setahun sebelum lulus. Dia menjabat menjadi dewan di sini, bukan sebagai murid akademi lagi.


Selama setahun inilah benih-benih cinta antara Reina dan Denis akan tumbuh. Dan benih-benih kebencian Denis terhadap Eva akan tumbuh juga. Aku juga mengingat berbagai kejadian selama setahun itu. Semuanya sangat buruk! Selama setahun inilah Eva akan fokus menyiksa dan mengganggu Reina. Lalu saat Denis mulai lulus dari akademi dan fokus terhadap politik kerajaan, rasa benci Eva terhadap Reina berkurang dan dia fokus mengejar Denis. Aku ingat Eva sering berkunjung ke istana dan membuat masalah.


Haa~ aku menghela napas. Memikirkan masa depan yang akan terjadi...


Aku punya banyak musuh. Dan aku tidak ingat siapa-siapa saja yang memusuhiku karena mereka terlalu banyak!


Tapi ada event yang tak terduga oke. Aku akan mengikuti pertandingan sihir! Eva tidak pernah mengikuti pertandingan sihir sebelumnya, jadi kisah ini agak menyimpang.


Aku hanya bisa berdoa, "Oh Dewa kucing yang bodoh, semoga kau mengurangi event kematianku~"


"Nona" Wiya tiba-tiba muncul dan membuyarkan semua pikiranku.


"Semuanya sudah menunggu di bawah. Saatnya makan malam"


"Oke. Aku akan menyusul. Aku akan berganti baju sebentar Wiya"


"Perlu bantuan nona?"


"Aku bisa sendiri Wiya"


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Wiya langsung mengundurkan dirinya.


Aku bergegas ke lemari baju dan mencari baju tidur.


"Ah, aku benar-benar tidak tumbuh" aku bergumam kecewa saat melihat sosokku di depan cermin.


Sosokku sangat ramping, ini tidak mengecewakan. Tapi yang paling mengecewakan adalah bagian dada sangat datar. Setahun sudah berlalu bukan? Harusnya ada sedikit kemajuan hiks....


Besok adalah keberangkatanku menuju ibukota. Aku akan menghadiri akademi, jadi aku akan tinggal di mansion ibu kota. Hari ini adalah perpisahan terakhir bersama keluargaku. Yah, kau tidak bisa menyebutnya perpisahan karena mereka masih bisa berkunjung ke ibu kota untuk menemuiku.


Tapi aku agak sedih saat memikirkan tidak bisa melihat orang tuaku lagi. Aku pasti akan sangat merindukan mereka...


Selesai berganti baju aku langsung turun ke lantai bawah. Aku melihat ayah bodoh dan ibuku sudah duduk di meja makan. Kondisi ibuku terlihat tidak baik, wajahnya pucat. Yah, ini pasti karena kehamilannya. Perutnya sudah semakin besar dan dia sudah siap untuk bersalin. Aku tidak sabar menunggu adik baruku. Di dalam novel, Eva tidak pernah mempunyai adik. Aku menambah satu karakter pendukung yang tidak ada di dalam novel.


Hal yang pertama kulakukan saat turun bukan menyapa orang tuaku, tapi aku langsung berlari menuju ibuku dan memeluk perut besar itu.


"Mama kapan adikku lahir?" tanyaku sambil menempelkan telingaku.

__ADS_1


"Sebentar lagi sayang~" jawab Diana lembut sambil mengelus rambutku.


"Ah, sayang sekali aku tidak bisa melihatnya lahir..." kataku kecewa.


Diana tersenyum. "Jangan sedih. Saat dia lahir, kami akan menghubungimu dengan bola sihir oke. Eva masih bisa melihat ketupat kecil dan memberikan salam ~"


Ps: bola sihir adalah alat sihir yang memiliki fungsi seperti telepati hanya saja lebih canggih karena bisa menampilkan gambar, tidak hanya suara. Ini persis seperti fungsi video call.


"Hmm.."


"Ayo makan ~" buju Diana.


Aku langsung melepaskan pelukanku dari perut besar itu dan menuju kursi. Kami mulai makan.


"Bagaimana persiapanmu untuk ke ibu kota? Apakah ada barang yang kau butuhkan lagi?" Duke Court memulai pembicaraan sambil mengiris daging di piringnya.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku sudah membawa barang-barang yang kubutuhkan di dalam ruang dimensi"


"Hm.." Duke Court mengangguk. "Berhati-hatilah saat berangkat"


"Siap"


Sebenarnya aku bisa menyingkat waku perjalanan dengan menggunakan sihir terbang atau pun teleport. Tapi itu tidak efektif karena aku akan membawa kereta, pelayan dan juga prajurit. Lebih tepatnya ini perjalanan rombongan. Haa~ perjalanan ini mungkin akan memakan waktu seharian.


Duke Court mengeluarkan alat sihir  dari ruang dimensi dan menyerahkannya padaku. "Ini"


"Untuk apa?" aku bertanya bingung sambil mengotak-atik pena itu.


"Itu alat pelindung. Bisa digunakan sebanyak tiga kali" jelas Duke Court.


Mendengar teriakan kagum putrinya, Duk Court tersenyum. Dia membusungkan dadanya dengan bangga. Dia sangat suka saat putri kecilnya memujinya.


"Terima kasih papa ~" kataku dengan nada imut.


Uhuk! Uhuk!


"Ini bukan apa-apa" jawab Duke Court malu-malu.


Ah~ pria ini selalu bersikap dingin dan tegas padaku. Baru kali ini aku melihatnya malu-malu di depanku.


Dia benar-benar menyukai pujian ya~


Setelah selesai makan, aku langsung memberi salam dan mencium pipi orang tuaku. lalu aku kembali ke lantai atas dan melemparkan diriku ke kasur.


***


Keesokkan harinya, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat.


Duke Court menyediakan Satu kereta kuda dengan lima gerbong di belakangnya. Aku dan Wiya akan menempati gerbong pertama, sementara pelayan lain dan juga para prajurit akan menempati gerbong selanjutnya. Aku membawa sekitar sepuluh pelayan dan lima belas pengawal. Sebenarnya ayah bodoh itu ingin aku membawa lebih. Tapi aku langsung menolak. Aku tidak mau terlihat mencolok saat memasuki ibu kota.


Aku juga sudah cukup toleran dengan kereta kuda yng mencolok dan penuh dengan emas ini. Aku sebenarnya ingin mengganti kereta kuda yang lain, tapi duke bersikeras. Jadi aku menyerah.


"Haa~ kurasa aku tidak bisa merubah imageku saat memasuki ibu kota.." aku mengeluh.

__ADS_1


Di novel dijelaskan bahwa Eva pindah ke ibu kota dalam keadaan mencolok. Kereta kuda mewah dan gerbong yang banyak. Sehingga rumor bahwa dia putri muda duke yang boros dan menyukai kemewahan benar-benar tersebar cepat seperti udara.


"Kurasa ini masih lebih baik" aku mengamati rombongan di depanku. Ini masih lebih baik dari pada yang digambarkan di dalam novel. Walaupun masih terkesan kereta bangsawan tinggi, rombongan ini tidak berlebihan.


Sebenarnya ada lebih banyak prajurit yang akan pindah ke ibu kota. Tapi para prajurit itu memutuskan untuk menggunakan portal teleportasi saat pindah. Jarak dari sini ke ibukota cukup jauh. Mereka hanya prajurit kecil, mana mereka tidak cukup untuk berteleportasi menggunakan sihir sendiri.


"Eva~" suara Diana yang lembut itu memanggilku. Ah~ aku akan sangat merindukan suara lembut dan indah ini.


"Mama" aku langsung berlari menghampirinya dan memeluknya.


"Berhati-hatilah" kata Diana lembut sambil memeluk erat putri tunggalnya.


"Hum!" aku juga membalas pelukannya dan mencium erat pipinya.


Setelah cukup lama berpelukan dengan ibuku, aku langsung memeluk ayahku yang berada di samping.


"Sampai jumpa papa"


"Sampai nanti" Duke Court juga memeluk erat putrinya. "Berhati-hatilah"


"Hum!"


Setelah mengucapkan salam perpisahan pada kedua orang tuaku, Wiya menuntunku untuk masuk ke dalam kereta. Aku duduk dan melihat kedua orang tuaku masih berdiri di samping kereta.


Aku melambaikan tanganku. "Sampai jumpa"


Ah! Ada satu hal yang ingin kulakukan!


"Sampai jumpa mama! Aku akan merindukanmu"


"Sampai jumpa ayah bodoh!" aku berteriak sambil menyeringai. Dari dulu aku selalu takut untuk mengatakan itu karena dia selalu dingin dan tegas padaku. Tapi untuk sekarang aku benar-benar memberanikan tekadku hahaha


TUK TUK TUK


Kuda-kuda di depan mulai berlari dan kereta mulai menjauh.


Mendengar teriakan putrinya, urat-urat kekesalan muncul di kepala Duke.


"Gadis nakal itu!"


Tapi kemudian, dia tersenyum. "Waktu sudah berlalu cukup lama, aku benar-benar tidak sadar bahwa gadis kecil itu akan tumbuh dewasa dan lepas dari pengawasan kita" kata Duke nostalgia sambil menatap langit.


"Aku harap dia baik-baik saja" kata Diana lirih. Dia benar-benar enggan untuk melepas putrinya. Sangat enggan. Dia menundukkan kepalanya, sedih.


Melihat wajah sedih istrinya, Duke Court langsung memeluknya. "Dia akan baik-baik saja sayang" katanya dengan nada menghibur. "Jangan bersedih. Kau harus menjaga tubuhmu agar si kecil baik-baik saja" bujuk Duke sambil mengelus lembut perut istrinya.


Diana mengangguk pelan. "Terima kasih sayang ~" katanya penuh sukacita sambil mencium bibir suaminya.


Duke Court agak tersentak kaget saat istrinya tiba-tiba menciumnya di depan halaman depan mansion. Masih ada pengawal dan pelayan disini! Tapi dia tidak menolak dan memeluk erat tubuh istrinya.


Sementara para pelayan yang menyaksikan hal itu segera menundukkan kepala mereka dengan wajah memerah dan lari dari tempat itu. Dan para penjaga gerbang hanya bisa menundukkan wajah mereka dan merubah posisi mereka.


"Kami tidak melihat, kami tidak melihat" begitulah hati kecil mereka berseru.

__ADS_1


Jangan lupa like nya ya 👍👍


__ADS_2