
Cerita Sebelumnya:
Eva memutuskan untuk mengintip kebersamaan Denis dan Reina. Kebetulan juga Vivian ingin ikut. Mereka akhirnya melihat kedua orang yang sedang sibuk bermesraan itu. Tapi akhirnya mereka ketahuan.
Eva mengejek Denis dengan sarkatis. Vivian juga memarahi Reina dengan kejam! Dan kebetulan Marquis Zent, ayah mereka, mendengar semuanya. Marquis Zent membela Reina dan mulai menyalahkan Vivian. Eva berusaha menjelaskan apa yang terjadi agar Marquis tidak membenci Vivian. Tapi ternyata Marquis juga tidak menyukai Eva.
Akhirnya Eva menemukan mush baru lagi. Kali ini musuh itu bukan hanya membenci dirinya tapi seluruh keluarganya.
***
Marquis Zent mengalihkan tatapannya pada Denis. "Maaf yang mulia karena sudah membuat keributan..." kata Marquis itu sopan. "Kami mohon undur diri dulu"
Dia melihat Reina. "Minta maaf dengan Yang mulia" perintahnya.
Reina masih menangis dan terisak. "Yang mulia...sob...sob aku minta maaf" katanya dengan wajah sedih. Dia benar-benar terlihat seperti kelinci menyedihkan yang membuat semua orang ingin melindunginya.
Denis masih terpaku di tempatnya. Dia masih bingung untuk mencerna perubahan kejadian yang begitu tiba-tiba ini.
"Baiklah" Tapi akhirnya dia mengizinkan kedua orang itu untuk pergi.
"Kenapa jadi seperti ini?" Denis menggelengkan kepalanya frustasi.
Marquis Zent memberi hormat sekali lagi sebelum melenggang pergi.
"Ayo" katanya lembut sambil menarik Reina.
'Kerja bagus gadis kecilku!' pikiernya senang sambil menatap Reina dengan senyuman ramah.
Gadis ini benar-benar menarik. Dia ingin agar putra mahkota tertarik pada putrinya. Siapa yang tidak tertarik dengan gadis naif, polos dan lembut? Semua orang ingin melindungi gadis seperti itu! Terlebih lagi putra mahkota menyukai kesederhanaan, dan latar belakang Reina yang pernah menjadi rakyat jelata membuat putra mahkota kagum. Dia ingin mereka bersama. Dia berharap gadis kecil ini menarik putra mahkota. Setelah melihat kejadian ini. bagaimana cemburunya putri Duke itu. Dia yakin dia berhasil. Putra mahkota pasti tertarik pada Reina. Dia tidak peduli putra mahkota sudah bertunangan. Lagipula putra mahkota bisa memiliki lebih dari satu istri. Dia tidak terlalu memikirkannya. Asalkan Reina berhasil memikat Denis, dia sudah cukup senang.
'Lalu masalah selanjutnya adalah menjauhkan Denis dari putri duke sialan itu!' pikirnya tegas.
***
Setelah Marquis Zent dan Reina pergi dari tempat ini, aku masih disini.
Saat Marquis Zent pergi, Vivian langsung melepaskan emosinya dan dia langsung terisak.
"Berhenti menangis oke" aku berusaha menghiburnya.
Gadis yang malang. Semuanya terjadi terlalu cepat karena aku merubah jalan ceritanya. Kejadian ini terjadi gara-gara aku. Aku merasa bersalah pada Vivian.
"Hem..." Vivian bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Dia berusaha membuat dirinya tenang dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Ini semua gara-gara kau!" aku langsung menunjuk Denis tidak senang. "Kalau kalian tidak saling menggoda, semua ini tidak akan terjadi."
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah menggodanya! Kalian salah paham!"
Salah paham hah? Aku salah paham? Aku sudah tahu isi ceritanya. Kau kira aku bodoh!
"Aku tidak percaya padamu!" kataku bersikukuh. "Aku lebih percaya apa yang kulihat dari pada omongan palsumu itu!" kataku geram.
"Kau benar-benar gadis egois. Kau bahkan tidak mau mendengar penjelesanku. Bagaimana kau bisa menyalahkanku seperti itu?!"
"Egois? Menyalahkan?"
Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Putra mahkota ini. Akhirnya dia menyindirku lagi ya?
" Jadi dimatamu aku adalah gadis egois? Karena itu kau sangat membenciku? Yah, aku memang egois, aku mengakuinya"
Aku mengepalkan tanganku erat-erat. Emosi yang kutahan selama bertahun-tahun ini ingin keluar. Aku ingin bertanya padanya kenapa dia memperlakukanku seperti ini.
"Kau membenciku kan? Saat pertama kali aku dan keluargaku mengunjungi istana, kau membentakku dan menatapku dengan dingin. Kau juga melakukan itu walaupun kau tahu aku tidak bersalah, kenapa? Kau tahu para bangsawan itu mengejekku saat pesta teh, dan aku hanya ingin membela diriku sendiri. Tapi kau menyalahkanku. Kenapa? Kau selalu membentakku dan menyindirku sebagai gadis nakal dan kasar. terlebih lagi kau hanya bersikap seperti itu padaku!! Kau bersikap lembut dan baik pada gadis-gadis lainnya! Walaupun kau tahu gadis-gadis itu memiliki pikiran picik. Kau tetap membela mereka dari pada aku! Kau bahkan menyalahkanku saat itu bukan!"
Nadaku semakin mendingin dan mataku sudah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kau selalu menyalahkanku bukan? Aku selalu salah dimatamu. Kau juga sudah tahu bahwa kau bertunangan, tapi kenapa kau mendekati gadis itu. Bersikap lembut dan saling menggoda. Kau bilang salah paham? Siapa yang tidak akan salah paham, saat melihat tunangannya sendiri bersikap baik dan mesra dengan gadis lain? Tapi saat di depanku kau selalu bersikap dingin acuh tak acuh? Kau masih bilang ini salah paham?"
Aku terus mengomel dengan penuh emosi. Ini adalah omelan terpanjang yang pernah keluar dari mulutku.
Aku menatap Denis dengan dingin.
"Sekarang aku ingin mendengar jawabanmu. Kenapa kau membenciku? Kau membenciku tapi masih ingin bertunangan denganku. Kenapa? Apa aku hanya alat politik bagimu? Atau kau ingin memanfaatkan ayahku?"
Denis terdiam mematung. "....." mulutnya terasa kering. Dia tidak menjawab apa pun.
"KENAPA?!!" aku berteriak frustasi. Tanpa sadar aku menuangkan sihir dalam teriakanku sehingga ranting-ranting dan angin mulai bergerak tak menentu.
Aku sudah berusaha menahan amarah ini. Tapi entah kenapa itu keluar begitu saja. Aku benar-benar ingin jawabannya. Kenapa dia membenciku? Apa salahku? Kita bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya. Kenapa dia memperlakukanku dengan dingin?
"...."
Karena terlalu emosi, aku bahkan tidak menyadari bahwa air mataku mulai menetes keluar.
Haa....tenanglah, tenanglah Eva. Kau harus tenang.
"Sudahlah..." kataku pelan. Aku meraih Vivian dan melenggang pergi.
"Tidak...tunggu!" Denis bergerak cepat menahannya dengan memegang tangannya.
"Lepaskan!" kataku benci sambil membuang pegangannya.
Aku menoleh dan mata kami bertatapan.
"Kau membenciku kan?" Aku tersenyum. "Aku juga membencimu sekarang" kataku dingin sebelum berbalik pergi.
DEG! Denis merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya. Itu terasa sangat sakit. Benar-benar sakit.
"Membenciku....?" dia masih bergumam bodoh sambil berdiri linglung.
Seharusnya ini menjadi momen bahagia. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan hari pertunangan mereka. Tapi kenapa jadi seperti ini?
"....."
Denis terdiam. Dia berdiri mematung. Lalu tanpa sadar dia mulai mengeluarkan mana dan angin puyuh mengelilinginya. Pria itu membawa dirinya terbang. Sampai dia tiba di hutan terdekat dan BUM! Mendarat dengan keras. Matanya seperti ikan mati. Tanah yang diinjaknya membentuk lubang dan retak-retak.
"ARRRGGHHHHH!" Denis tiba-tiba menjerit frustasi dan meledakkan semua mananya. Mananya mengenai seluruh isi hutan.
"Kenapa Eva tidak bisa mengerti aku?!!" teriaknya.
"Baik pada gadis bangsawan? Hahaha" dia mulai tertawa gila.
Dia tidak mungkin tidak bisa baik pada mereka! Mereka adalah bangsawan. Tonggak pilar negara ini. Dia tidak bisa memperlakukan bangsawan dengan dingin atau itu akan mempengaruhi kekuasaannya saat naik tahta nanti. Dan akan menyulitkan keluarganya!
"Sial! Sial! Sial! Semuanya gara-gara bangsawan Itu!!" Denis berlutut dan meratap.
"Atau kumusnahkan saja para bangsawan itu?" dia tersenyum gila dengan mata membelalak. Tapi itu hanya sebentar sebelum wajahnya berubah menjadi sedih. "Bisakah?" dia bergumam lirih.
Dia tidak bisa melakukan itu! Kalau dia memusnahkan semua bangsawan, negri ini akan lulu lantah karena tidak mempunyai pilar. Mereka juga akan dijajah oleh negara lain.
"Aku tidak ingin menjadi raja..." gumamnya sedih.
Tapi bayangan ayahnya yang sakit-sakitan langsung menyentak ingatannya. Ayahnya butuh pengganti untuk mengatur negeri ini. Lalu dia tidak bisa menyerahkan tahta pada adiknya, pangeran kedua. Karena pangeran kedua sudah mempunyai cita-cita. Dia menceritakan cita-citanya di depan Denis dengan senyum senang.
"Aku ingin menjadi akademisi dan berpetualang mengunjungi negeri-negeri lain"
Dia masih ingat senyum bahagia adiknya sambil menatap langit dengan penuh kerinduan. Dia tidak bisa memilih keegoisannya untuk mundur dari tahta dan menghancurkan cita-cita adiknya.
Dia harus menerima nasibnya. Dari kecil dia sudah tahu bahwa dia akan menjadi raja dan bergumul dengan para bangsawan itu.
"Padahal aku sudah memperlakukannya dengan lembut...." Denis meratap sedih.
__ADS_1
"Apa yang salah? Kenapa wanita begitu rumit..." dia mengernyitkan keningnya pahit.
"Dia bahkan membuatku hancur sampai seperti ini..."
Denis tidak sadar bahwa matanya mulai basah. Walaupun menangis, dia sama sekali tidak terisak.
Di bawah langit malam. Denis berlutut di tengah-tengah tanah yang berlubang karena kekuatannya. Wajahnya menunduk. Tidak ada yang bisa melihat ekspresinya. Di sekitarnya, pepohonan sudah terpecah belah dan mengelilingnya dengan dia sebagai pusatnya. Siluetnya seperti siluet pria kesepian apabila dilihat dari jauh.
***
Aku kembali ke aula dan langsung menuju ke atas balkon. Di atas balkon, aku dan Vivian menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah kami. Dan mata kami merenung sambil menatap bulan.
"Haa..." aku mengehela napas. "Beginilah nasib tokoh antagonis..." aku tanpa sadar bergumam.
Vivian mendengar gumaman Eva dan mengernyitkan kening. "Antagonis?"
"Bukan apa-apa hahaha" aku tertawa canggung.
"Kau sudah lihat kan bagaimana perlakuan ayahku. Dia pasti sangat membenciku sekarang" kata Vivian berusaha memulai percakapan.
"Aku juga" kataku berusaha menghiburnya. "Kau juga pasti tahu rumor jelek tentangku yang tersebar bukan? Gara-gara rumor itu, aku selalu mendapat pandangan penuh kebencian juga. Lalu tunanganku juga membenciku sejak kami masih kecil"
Aku tersenyum. "Nasib kita sama"
Vivian mengernyit ragu. "Putra mahkota...mungkin tidak membencimu.." katanya ragu-ragu.
Dia ingat melihat pasangan itu berdansa dengan harmonis. Bahkan Denis menyambutnya saat di akademi dan berkata dengan lembut. "Saat aku melihat kalian berdiri berdampingan, kalian sangat cocok" katanya lagi.
"Mungkin kita hanya salah paham...?" dia berkata lirih.
"Salah paham? heh!"
Aku tersenyum jijik.
"Kau tidak tahu apa-apa oke. Kau tidak merasakan bagaimana dia memperlakukanku dari dulu. "
Dalam hati aku benar-benar mencibir. Salah paham? Aku bahkan sudah tahu jalan ceritanya. Aku sudah tahu nasib apa yang akan menimpaku.
Eva masih tidak bisa membatalkan pertunangan ini untuk membebaskan dirinya dari keterikatan. Suasana di negeri ini sedang tidak bagus. Ada banyak konflik di istana. Walaupun dia tidak tahu spesifiknya, dia yakin kalau pertunangan ini dibatalkan, akan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Setidaknya dia masih harus mempertahankan pertunangannya.
"Ayolah, kita harus saling menguatkan dan menghibur oke" kataku ceria sambil menatap Vivian.
"Jadi bagaimana denganmu? Apa kau punya rencana? Tidak nyaman untuk tinggal di rumah karena pak tua itu membencimu"
Vivian menunduk sedih. "Ayahku benar-benar membenciku. Padahal dulu dia tidak seperti itu. Tapi aku memang memutuskan untuk hidup mandiri dan pergi dari rumah. Karena itulah aku pindah di asrama"
"Apa impianmu? Kau menginginkan masa depan seperti apa?"
Vivian menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku hanya berharap bisa lulus dengan baik. Menemukan laki-laki yang baik. Menikah dan pindah dari rumah. Lalu menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak" katanya dengan wajah malu.
"Kau pasti tertawa bukan? Impian sampah seperti ini..."
"Siapa bilang itu sampah!" kataku tidak senang.
"Impianmu cukup indah. Kau bisa menjadi wanita dan ibu paling bahagia kalau mimpimu terwujud. Kau akan menjadi seperti ibuku."
Aku menghela napas dan menatap bulan yang ada di atas langit gelap itu.
"Aku bahkan tidak tahu apa impianku. Jangankan impian, aku bahkan tidak tahu nasibku akan seperti apa di masa depan..." kataku merenung.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa bertahan hidup atau tidak.
Malam semakin larut dan akhirnya pesta itu berakhir. Vivian memutuskan untuk kembali ke asrama. Aku juga berpamitan dengan si kembar api. Setelah itu, aku dan orang tuaku berpamitan pada raja dan ratu. Anehnya, aku sama sekali tidak melihat Denis sampai acara pesta ini berakhir. Bukankah Denis harus mengucap kata penutupan karena ini pesta ulang tahunnya? Tapi orang itu sama sekali tidak muncul. Aku juga melihat wajah raja yang kebingungan dan panik. Raja mengutus beberapa prajurit untuk mencarinya. Pergi kemana orang itu?
Kenapa dia tidak muncul? Apakah dia tidak ingin melihat wajahku karena itu dia memutuskan untuk meghindariku? Apakah dia semakin membenciku?
__ADS_1