
cerita sebelumnya:
Eva berhasil membeli banyak sekali ramuan untuk Rexus. Tapi saat dia melangkah keluar toko, Robert dan Sayn sudah menghilang. Lalu satu per satu orang disekitarnya mulai tidak sadarkan diri.
Sementara Robert dan Sayn berhasil mendeteksi penyusup. Mereka bertarung dengan para penyusup. Tapi Mereka terlalu meremehkan para penyusup dan berakhir tidak bisa melawan. Para penyusup itu memiliki kekuatan Seperti para Dean dan para tetua Penyihir.
***
Semua orang di sekeliling ku tiba-tiba jatuh pingsan. Apa yang terjadi dengan mereka?
"Bahaya!" teriak Rexus lagi.
Aku semakin waspada sambil mengamati sekitar.
Tiba-tiba aku melihat seseorang dengan cepat menerjang ke arahku. Aku kaget. Cukup kaget. Tapi refleks ku cukup kuat ditambah dengan artefak penambah kekuatan dan kecepatan yang kugunakan. Sehingga aku bisa menghindar dengan selamat walaupun lagi-lagi aku merusak pakaianku.
Sekarang aku melihat dengan jelas siapa yang menerjangku! Aku melihat dua orang dengan jubah hitam.
"cih!"
aku bisa mendengar mereka mengumpat.
"Siapa kalian?" tanyaku waspada.
"Kau tidak perlu tahu. Serahkan benda di dalam tasmu maka kami tidak akan menyakitimu" kata salah satu dari mereka.
Di dalam tas? Maksudnya Rexus?
Mereka mengincar Rexus?
Rexus tidak akan pernah kuberikan pada siapa pun, terutama orang yang terlihat jahat seperti mereka!
"Apa maksudmu?" kataku pura-pura tidak mengerti. "Kalian menginginkan uang dalam tasku? Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan dirampok seperti ini"
"Berhenti berpura-pura. Serahkan!" tuntut nya.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan memberikan uangku. Aku akan mati kelaparan kalau tidak punya uang untuk membeli makanan"
"Sudah cukup!" kata mereka kesal dan mulai menyerang lagi.
Karena mereka menyerang, aku berusaha membela diriku. Aku menggunakan beberapa sihir tapi ternyata tidak mempan. Aku ingin menggunakan sihir tingkat tinggi, tapi aku tidak punya waktu cukup memanggil mana karena dua orang itu terus menyerang ku.
Karena terdesak, semua barang pun mulai kugunakan. Dari berbagai alat sihir dan ramuan. Tapi tetap saja dua orang itu tidak terluka. Aku hanya bisa merusak jubah mereka.
Apa-apaan ini? Ini tidak adil! Bagaimana bisa aku menghadapi monster sekuat kakekku! Dan parahnya lagi ada dua orang!
__ADS_1
Aku berhasil merusak jubah mereka dengan belati. Karena jubah mereka rusak, aku bisa melihat rambut putih keluar dari balik jubah. Astaga! Aku sudah menduganya walaupun tidak yakin.
Dua orang di depanku ini adalah monster tua! Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang kulihat dalam mimpi.
Siapa mereka?
Siapa kakek-kakek ini?
Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Bahkan novel itu tidak pernah menggambarkan bahwa ada kakek-kakek berbahaya di pertandingan sihir.
Tapi yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan Rexus! Aku sudah melihat bagaimana mereka membunuh banyak Sekali binatang sihir. Rexus dalam bahaya kalau jatuh ke tangan mereka.
Karena dua orang ini terlalu kuat, aku tidak berusaha menyerang lagi. Aku berusaha mencari cara untuk melarikan diri sekarang!
"Hahahahaha!" salah satu dari mereka tiba-tiba tertawa.
"aku tidak tahu bahwa kami memerlukan waktu selama ini hanya untuk menangkap anak kecil. Kami terlalu meremehkan mu" katanya sambil menyerang lebih cepat.
Aku berusaha berlari menjauh sambil melempar berbagai sihir.
"Ternyata kau bisa menggunakan banyak elemen gadis kecil!"
Deg!
Mereka terus menyerang. Aku mulai kelelahan. Aku sudah menggunakan mana untuk membeli beberapa barang. Jadi aku benar-benar terdesak sekarang.
Salah satu dari mereka tersenyum "Sudah berakhir" katanya sambil melayangkan tinju.
Aku tidak sempat menghindar. Pukulannya mengenai belakang leherku.
Eh?
Pandanganku secara perlahan menggelap dan tubuhku langsung terjatuh di tempat.
Aku tidak boleh tertangkap! Aku harus menyelamatkan Rexus! Harus....
Akhirnya Eva terkena serangan dan kehilangan kesadarannya.
"Kenapa kau menggunakan kekuatan sebanyak itu? Kalau dia terluka kakek sial itu bisa menyalahkan kita"
"Gadis kecil ini menyebalkan. Lebih baik kita serius daripada terus berlarian mengejarnya. Tenang saja dia tidak akan mati"
Dua orang jubah hitam itu berselisih.
"Cepat ambil tasnya"
__ADS_1
Lalu salah satu dari mereka membuka tas rotan milik Eva. Tapi tidak ada apa pun di sana.
"sial! Benda itu melarikan diri lagi!"
"Tidak! ini tidak lari! Aku masih mendeteksi bahwa benda itu ada disini."
"Apa jangan-jangan bersembunyi di tubuh gadis itu?"
"Ayo kita cari"
"tunggu!"
"Kenapa?"
"Tapi itu...anak perempuan. Bukankah kita terlihat seperti kakek cabul kalau menggeledah gadis kecil seperti itu?"
Plak! Terdengar bunyi pukulan. "Dasar bodoh! Kau masih sempat memikirkan hal konyol seperti ini! Cepat bantu aku cari benda itu! Kita membuuthkannya segera!"
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menggeledah baju Eva. Tapi belum sempat mereka menyentuh tubuh Eva, kabut putih tiba-tiba menghalangi penglihatan mereka. Saat mereka mulai menghilangkan kabut, gadis kecil di depan mereka sudah menghilang.
"Sialan! Brengsek! Kenapa susah sekali berurusan dengan gadis kecil! Haruskah kita membunuhnya saja biar lebih mudah!"
"Hei jangan gila. Kau ingin kita berperang dengan Menara Sihir dan Kerajaan Well"
"Cih! Brengsek! Brengsek!" teriaknya sambil melesat pergi. "Ayo cari! Aku yakin mereka tidak jauh dari sini!"
***
Disuatu tempat, seseorang menggendong Eva dalam pelukannya. Lalu mereka berlari dengan kencang di sebuah padang rumput.
Ada dua orang disini, seseorang yang memegang Eva dan seseorang lainnya.
"Pasang rune disini" kata Orang itu memerintahkan. Lalu rekannya mengeluarkan alat sihir aneh dan membuat sebuah rune.
Mereka berdua masuk ke dalam rune dan tiba di tempat dengan dinding dan atap batu. Ini adalah sebuah gua!
Orang itu meletakkan Eva dengan hati-hati di atas alas yang dia keluarkan dari ruang dimensinya.
"Putri tidak apa-apa bukan Yang Mulia?" tanya sang rekan.
Orang itu mengangguk. "Dia hanya pingsan. Dia akan sadar sebentar lagi"
Haa~ sang rekan mendesah lega. "Bagaimana bisa kita menemui masalah seperti ini saat sedang menjalankan misi. Siapa yang mengira bahwa putri akan mengikuti pertandingan berbahaya ini?! Aku yakin Duke bahkan tidak tahu tentang hal ini!"
"Tenanglah Jensen" orang itu menenangkan rekannya. "Aku juga tidak menyangka bahwa dia akan bergabung dengan Menara Sihir. Tapi gadis ini selalu membuat masalah... Benar-benar pembuat masalah..." kata orang itu sambil menatap Eva yang tertidur dengan mata melankolis.
__ADS_1