Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 21


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Tiga Dean tertinggi dari Menara Sihir datang dan membuat situasi menjadi berbalik. Penatua Jiwa Sihir itu pun kalah telak.


Dean Wason ingin membunuhnya, tetapi tiba-tiba pemimpi dari tim lawan muncul untuk meminta maaf. Pertarungan pun berakhir. penatua itu memutuskan untuk meminta maaf lalu pergi bersama dengan anggota Jiwa Sihir lainnya.


***


Sebelum tim Jiwa Sihir pergi, ketua tim Jiwa Sihir mendekati Reina untuk mengajaknya.


"Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak tahu situasi nya akan menjadi seperti ini. Aku kira mengajak seorang penatua akan membuat situasi lebih aman tapi ternyata tidak. Lagipula kami semua hanya junior, tidak bisa melawan perintah seorang penatua seperti itu" dia menjelaskan.


"...."


Tapi Reina tidak merespon. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Um...maukah kau ikut dengan kami? Kami akan membantumu berlatih dan membuatmu lebih kuat. Akan sangat sia-sia kalau kau tetap terjebak di antara para bangsawan itu" ajaknya tanpa basa-basi.


"..."


Reina masih diam. Sampai akhirnya dia mulai mengadahkan kepalanya dan melihat ketua tim dengan mata melotot.


"Kalau aku ikut dengan kalian. Apa kalian bisa membantuku membunuh seseorang?"


"Eh?" Ketua tim itu mengerjap kaget. Suara Reina sangat dingin dan menyeramkan saat dia berkata ingin membunuh seseorang. Tidak sesuai dengan imagenya yang polos dan kalem sama sekali.


"Kami tidak bisa melakukan hal jahat seperti membunuh seseorang tanpa sebab. Tapi bukan berarti kita tidak bisa membunuh. Kami bisa membunuh musuh dan orang jahat" jelasnya.


"Sudahlah" Reina menjawab pelan sambil membalikkan tubuhnya pergi.


Ketua tim itu ingin menghentikan nya, tapi reina menatap nya dengan tegas. "Aku akan memikirkan tawaran itu dulu" lalu dia berbalik pergi.


***


Aku tidak mau meninggalkan kesempatan ini. Melihat tumpukan harta karun di depan, aku dengan semangat menyimpannya dalam ruang dimensiku.


Puk! Sampai akhirnya Robert memukul kepalaku.

__ADS_1


"Jangan serakah. Tinggalkan sisanya juga untuk yang lain" katanya bijaksana.


Aku menghela napas kecewa. Tapi aku tetap menuruti perkataan Robert dan berhenti menyimpan harta. Jujur saja, kami bertiga sudah mengambil harta yang berharga. Dan yang tersisa hanyalah harta biasa yang bisa kau temukan di pasar. Aku Tidak boleh terlalu serakah.


Tapi seperti yang kuduga, para Dean dan yang lainnya juga tidak mau menyentuh harta itu. Bahkan Reina yang sedari tadi iri padaku hanya berdiam diri tak peduli.


Ayolah, sangat disayangkan kalau tidak ada yang mengambilnya. Walaupun harta itu tidak terlalu berharga.


"Aku akan mengambilnya dan akan kuberikan pada murid-murid baru di Menara Sihir kami" kata Dean Wason bijak.


Woosh!


Dean Wason mengangkat tangannya dan tumpukkan harta langsung lenyap dalam sekejap, berpindah ke ruang dimensi miliknya.


Setelah mengosongkan reruntuhan. Kami pun segera keluar dari sana.


Besok adalah hari terakhir kami di domain sihir ini. Jadi kita harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin.


Aku mengamati Reina yang berada di barisan belakang. Aku sudah bersama dengannya selama ini, tapi aku sama sekali belum pernah melihat binatang sihir kuno itu. Apa kita akan menemukan nya besok, di hari terakhir? Kalau memang begitu, berarti aku tidak boleh lengah.


Dean Wason memutuskan untuk mengikuti kelompok kami. Lagipula mereka sudah mendapatkan beberapa harta di domain sihir ini. Jadi tidak apa-apa bagi mereka kalau mereka ingin menjelajah tanpa arah. Lebih banyak orang maka keselamatan semuanya lebih terjamin.


Denis sadar bahwa Reina terluka karena tamparan nya. Dan dia sedikit merasa bersalah. Jadi dia memutuskan untuk meminta maaf pada gadis itu. Lagipula bukan sikap yang baik untuk kasar pada wanita.


"Aku minta maaf karena sudah bersikap kasar padamu. Tapi seharusnya kau tidak berkata seperti itu lagi" kata Denis.


"Tidak apa-apa" Reina menjawab Lirih dengan mata tak bersemangat seperti ikan mati.


"..."


Denis tidak menjawabnya. dia hanya menghela napas tak berdaya karena tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu.


Saat ini masih tengah hari dan belum gelap. Jadi mereka memutuskan untuk menjelajah lebih jauh.


Dean Wason terus mengamati beberapa orang baru yang masuk dalam kelompok mereka. Dia mengenali Robert, Denis dan Sayn. Dia tidak bodoh. Dia sadar bahwa ketiga bocah itu mengejar cucunya.


Cucunya hanya bisa memiliki satu pasangan. Dan dia bermaksud untuk menguji mereka bertiga.

__ADS_1


'Lagipula cucuku harus mendapatkan yang terbaik' pikir Dean Wason. Walaupun dia tahu bahwa tiga bocah itu merupakan jenius muda di generasi ini.


Mereka menjelajahi hutan itu dengan berlari. Tentu saja dengan bantuan sihir sehingga mereka dapat berlari lebih cepat dan menghemat stamina.


Tapi mereka tidak menemukan apa pun. Kecuali, beberapa binatang sihir kecil yang menghalangi jalan mereka. Dan itu sama sekali tidak penting.


Langit pun mulai gelap dan mereka memutuskan untuk beristirahat.


Kali ini aku juga satu tenda dengan Dean Crsytal. Tidak hanya Reina. Jadi aku merasa lebih aman. Karena tidak mungkin Reina melakukan sesuatu yang aneh saat seorang penatua ada di antara kita.


Aku mengamati Rexus yang ada di dalam jubahku. Bocah kecil itu masih tertidur dengan nyenyak seharian ini. Jujur saja ini membuatku cemas.


Aku dengan hati-hati memindahkan Rexus ke atas kasur lipat karena aku akan berganti baju. Kebetulan saat itu Dean Crsytal juga ada di dalam tenda. Dia mengerjap kaget saat melihat Rexus.


"Darimana kau mendapat binatang sihir ini?" tanyanya kaget.


"Um...dia mengikuti ku saat pertandingan babak pertama. Dia berasal dari ruang dimensi itu" aku menjelaskan nya dengan canggung.


"Jangan bilang padaku. Kekacauan di kota Sihir itu karena binatang sihir ini. Para jubah hitam itu ingin merebut nya bukan?" dalam sekejap Dean Crsytal mengetahui beberapa point penting.


"Benar..." kataku lirih.


"Eva, apa kau tahu identitas mahluk ini?" tanya Dean Crsytal serius


Eh? Apa Dean tahu bahwa Rexus adalah naga? Apa semudah itu dikenali?


"Aku tahu" aku mengangguk yakin.


"Binatang ini bukan binatang biasa. Aku melihat banyak sekali akumulasi mana hitam di tubuhnya. Tapi dia masih bayi sekarang, kita tidak bisa melihat wujud aslinya. Tapi aku yakin dia cukup berbahaya dan langka" jelas. Dia menatap Eva dengan tatapan serius sehingga membuat Eva sedikit gugup. "Apa kau yakin bisa mempertahankan nya sebagai piaraanmu? Apa kau cukup kuat untuk melindungi nya sekarang? Mungkin binatang ini akan membawa kehancuran karena banyak orang yang menginginkan nya"


Deg!


Aku sedikit takut saat mendengar penjelasannya. Benar sekali naga sangat langka. Kalau semua orang tahu Rexus adalah bayi naga. mereka akan mengincarnya. Apalagi Rexus dan aku masih anak-anak. Kami belum bisa menjaga diri kami dengan pasti.


"Aku tidak yakin bisa menjaga nya, tapi aku akan berusaha menjadi lebih kuat untuk melindungi diriku dan orang lain. Lagipula Rexus bukan piaraanku. Aku tidak menganggap nya seperti itu. Dia temanku." jawabku.


Dean Crsytal tersenyum. Lalu dia mengusap kepala Eva dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak bermaksud buruk. Jangan terlalu khawatir. Ingat, kau tidak sendiri. Banyak sekali orang yang menyanyangi mu. Tentu saja aku dan kentut tua itu akan selalu melindungi mu sampai kau cukup dewasa dan bisa berjalan secara mandiri"

__ADS_1


"Terima kasih guru~"


__ADS_2