Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Ketahuan


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Dean Caro datang bersama sepuluh penatua. Saat itu, dia langsung menangkap Jen dan mengkambing hitamkan Charlotte.


Eva mengira semua ini sudah selesai, sampai akhirnya Dean Caro melemparkan alat sihir aneh padanya. Alat sihir itu membuatnya tidak bisa mengendalikan mananya. Akhirnya mana gelap yang dimilikinya bocor keluar. Dean Caro menggunakan kesempatan itu untuk mengkambing hitamkan Eva.


Lalu hal yangpaling tidak terduga terjadi. Eva tidak bisa menahan semua mananya, sehingga setiap aura elemen sihir yang dimilikinya bocor keluar. Hal ini menyebabkan kegemparan yang sangat besar.


***


"Lihatlah iblis ini! Kita harus menangkapnya!" seru Dean Caro dengan semangat berapi-api.


Dia tiba-tiba mengeluarkan alat sihir lainnya dan Tak! Melempar alat sihir itu ke arah Eva.


Alat sihir itu mulai beraksi dan membuat sangkar transparan berbentuk kubus. Membuat Eva terkurung di dalamnya.


Aku memngamati penghalang yang mengurungku di dalamnya. Aku mencoba menyentuhnya dengan jari, dan jariku langsung tersengat. Ah~ ini mirip dengan penghalang yang mengurungku dan Robert waktu itu!


Rasa sakit yang kualami perlahan menghilang. Dan mana yang keluar dari tubuhku mulai memudar. Ternyata efek dari alat sihir ini sudah akan hilang. Aku merasa lega. Tapi aku juga tidak bisa santai. Aku melirik sekeliling ruangan. Aku melihat mata semua orang tertuju padaku. Dan sebagian besar menatapku dengan mata penuh ketakutan bercampur dengan rasa jijik.


Saat-saat terakhir, aku menghentikan tatapanku pada Dean Caro. Wajah pak tua itu tampak bersemangat. Dan dia menunjukkan seringainya yang tajam saat mata kami saling bertatapan.


"Dia adalah iblis, bukan manusia. Tubuhnya sudah diambil alih" kata Dean Caro dingin.


Mendengar perkataan itu aku bergidik. Aku mengakuinya, aku memang bukan Eva yang asli. Tapi aku juga tidak mengambil alih tubuh ini! Tubuh ini adalah milikku sejak lahir. Aku tidak menggantikan roh siapa pun!


"Kita harus melenyapkannya. Aku sudah mengurungnya, kita akan membunuhnya" katanya dingin.


Mendengar kata "bunuh", tubuhku langsung bergetar. Kata itu mengingatkanku kembali akan siklus kematian berulang yang kualami di dalam mimpi. Seketika tubuhku langsung lemas.


"Siapa yang akan kau bunuh!" geram Dean Wason tiba-tiba.


Suaranya menggelegar dan membuat seisi ruangan bergetar.


"Kakek...." aku menatap Dean Wason dengan mata penuh harap. Aku menggunakan mata berbinar seperti anak anjing untuk menambah poin simpati.


"Dia cucuku! Lepaskan!" teriak Dean Wason.


Dean Caro mengernyitkan keningnya. "Ketua! Aku tidak tahu bagaimana iblis kecil ini memperalatmu. Tapi sadarlah, kau juga tahu kan legenda kuno itu. Seseorang yang mempunyai enam elemen adalah iblis! Mereka bukan dari dunia ini! Mereka adalah iblis yang menyusup di tengah-tengah manusia, bertujuan untuk menghancurkan!" kata Dean Caro tidak senang.


"Omong kosong!" Dean Wason langsung membantahnya.


"Bagaimana bisa kau mengorbankan ribuan di Menara Sihir hanya untuk seorang iblis kecil? Iblis ini sangat berbahaya" seru Dean Caro dengan nada prihatin. Dia menatap para penatua lainnya dengan wajah kecewa.


"Ketua, aku minta maaf. Tapi aku tidak setuju dengan keputusanmu!" salah satu penatua langsung menolak keputusan Dean Wason.


"Ketua, kau disihir oleh iblis itu. Dia menggunakan sihir gelap padamu!" penatua lainnya mulai menghasut.


"Kita harus melenyapkannya! Aku tidak bisa membayangkan kalau berita ini bocor keluar...Menara Sihir dalam bahaya!"


"ketua dengarkan kami!"


"Ketua!"


para penatua lainnya mulai menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Hanya Dean Cristal dan Dean Leon yang belum membuka mulut mereka, hanya berdiam diri di belakang Dean Wason.


"Diam!" Dean Wason berteriak geram. "Kalian yang dimanfaatkan oleh orang serakah ini!" katanya sambil menatap Caro dengan tatapan benci.


"Kalian berani meragukanku? Aku tidak akan membahayakan menara Sihir. Kalian tahu kan, aku sudah menjadi pemimpin puluhan tahun untuk membuat organisasi ini berkembang. Berapa banyak sudah tenaga dan pikiran yang kukorbankan. Tidak mungkin aku menghancurkan hasil kerja kerasku hanya karena hal ini. Lagipula Eva tidak berbahaya. Dia hanya genius! Bukankah kalian menyukai para genius? Kenapa kalian bertingkah seperti ini?"


Para penatua mulai menundukkan kepala mereka saat mendengar ceramah Dean Wason. Mereka saling melirik kemudian melihat Dean Caro dengan penuh keraguan. Dean Caro hanya menjadi penatua selama beberapa tahun, berbeda dengan Dean Wason yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pemimpin. Jadi secara logika, mereka tahu siapa yang harus dipercaya.


"Ck!" melihat keraguan para penatua, Dean Caro mulai menggertakan giginya.


"Pak tua itu berbohong" dia menggeram sambil menatap semua penatua.


Dia mengeluarkan secarik kertas dengan tulisan kuno.


Robert tersentak kaget saat melihatnya. Itu resep kuno yang dimilikinya! Apa itu salinannya?


Dean Caro mulai menerbangkan kertas itu dan menunjukkan tulisan kuno yang tertulis.


"Kalian lihat? Ini adalah resep kuno. Aku menemukannya di ruangan Dean Wason. Kalau kalian meragukan keasliannya, kalian bisa mengeceknya sendiri.  Bisa membuatmu benar-benar sangat kuat seperti dewa! Kalian tahu? Penyihir iblis David meminum resep ini sehingga dia memiliki kekuatan untuk mengguncang dunia!"


Dia menunjuk Dean Wason. "Pak tua ini sengaja ingin membawa anak bangsawan itu karena anak bangsawan itu merupakan bahan terakhir agar ramuannya sempurna! Kalian semua sudah ditipu olehnya!"


Dean Wason melonggo kaget. Kapan dia menyimpan resep kuno? Resep untuk menambah kekuatan? Eva adalah bahan terakhir? Apa-apaan ini?


"Kau berbicara omong kosong!" Dean Wason langsung membantahnya. "Hal tak masuk akal apa yang kau bicarakan?" dia menggeram marah.


Melihat sikap defensif Dean Wason, para penatua mulai ragu. Salah satu penatua bergerak maju mengamati kertas itu.


"Aku akan mengecek keasliannya" dia adalah penatua yang ahli di bidang artefak. Dia membaca banyak buku kuno dan memiliki banyak peninggalan sejarah di ruangannya.


"Ini asli!" penatua itu berseru kagum.


Hanya dengan pernyataan penatua itu, para penatua langsung mempercayainya. Mereka mulai ribut dan menatap Dean Wason dengan waspada.


"Bagaimana bisa kau menyembunyikan ini dari kami?"


"Kau ingin membuat ramuan itu untuk dirimu sendiri?"

__ADS_1


"Kau benar-benar serakah!"


"Apa menjadi ketua Menara Sihir tidak cukup untukmu?"


Para penatua itu mulai menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Mereka menatap Dean Caro dengan mata tidak senang.


"Hentikan!" Robert berteriak dari sisi lainnya. Dia benar-benar geram. Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Karena dia menyerahkan semuanya kepada orang tua itu, semuanya benar-benar menjadi kacau! Bagaimana pak tua itu begitu licik dan mulai mengarang banyak hal!


Tapi sayangnya suara Robert tidak digubris oleh satu penatua pun. Para penatua itu masih ribut.


Mereka hanya menganggap Robert sebagai semut walaupun  dia genius. Kekuatannya masih bukan apa-apa di mata mereka. Jadi mereka mengacuhkannya.


"Cukup! Kalian benar-benar bodoh! Bagaimana bisa kalian mempercayai omong kosong itu!" teriak Dean Wason geram. Kali ini dia benar-benar marah dan ingin meledak, tapi dia berusaha menahan emosinya.


Dean Caro tersenyum penuh kemenangan. "Aku tidak serakah. Aku sudah mengumpulkan semua bahannya. Hanya kurang bahan terakhir. Aku akan membagi ramuan itu pada kalian"


Mendengar perkataan Dean Caro, mata para penatua itu mulai serakah.


"Ya kita akan menangkapnya!"


"Kita tidak serakah, kita berbagi!"


"Tapi...dia masih anak-anak..." salah satu penatua masih ragu-ragu.


"Apa kau bodoh! Dia itu iblis! Hanya fisiknya saja yang seperti anak-anak! Kau jangan tertipu seperti yang lainnya!" salah satu penatua langsung membantahnya membuat penatua itu menjadi bertekad kembali.


Mereka mengarahkan mata mereka pada Eva seperti singa kelaparan. Dan bersiap menyerang.


Aku hanya gemetar. Aku berusaha menahan semua aura penatua yang menekanku. Mereka benar-benar menatapku dengan mata penuh hasrat. Aku benar-benar ketakutan.


"Jangan berani-berani kalian menyentuh cucuku!" Suara marah Dean Caro menggelegar. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi. Semua emosinya langsung terlepas. Saat Dean Wason berteriak, gempa kecil terjadi di seluruh ruangan.


"Kelihatannya aku harus membersihkan Menara Sihir" katanya sinis.


bagaimana bisa dia membesarkan para orang serakah ini?


Memang sudah saatnya membersihkan kursi para penatua.


Entah kenapa dia merasa bersyukur karena kejadian ini terjadi. Karena dia bisa mengetahui watak asli para orang tua itu.


"Hmph! kau kira bisa melawan kami!"


"Kau hanya sendiri! Kau kira bisa melawan kami!"


"kau terlalu melebih-lebihkan dirimu!"


Kata para penatua itu dengan nada mengejek. Walaupun Dean Wason kuat, dia hanya sendiri. Karena itulah para penatua itu sangat percaya diri.


Dean Cristal dan dean Leon langsung memasang sikap defensif.


"Hmph! hanya tambahan dua orang bukan apa-apa!"


Akhirnya tujuh orang penatua mulai mengeluarkan serangan mereka.


Ini pertarungan tiga lawan tujuh orang.


Dean Wason menatap Robert dan Sayn "Kalian berdua, lindungi Eva!" teriaknya sambil mengeluarkan sihir defensif.


Mereka berdua mengangguk.


Aku melihat Robert dan Sayn menghampiriku. Aku masih terkurung di dalam alat sihir ini. Tapi untungnya tidak ada hal aneh lain yang terjadi padaku.


Sayn memegang alat sihir itu dan memastikan fungsinya.


"Ayo" katanya sambil memegang lenganku membantuku berdiri.


"Biar aku saja!" Robert langsung menepisnya.


Akhirnya, mata mereka saling bertatapan. Aku merasa ada petir tak terlihat saat mereka saling bertatapan. Dua orang ini!! Di saat-saat seperti ini mereka benar-benar masih sempat berkelahi!"


"Cukup!" aku langsung melihat mereka dengan mata tidak senang. "kekanak-kanakan sekali."


"Aku bisa berdiri sendiri" aku langsung berdiri dan mengabaikan mereka.


BRRRR! Tiba-tiba langt ruangan di atas kami bergetar.


"Gawat! Ruangannya akan runtuh!"


Para penatua itu pasti penyebabnya! Mereka benar-benar berkelahi dengan sengit. Tentu saja bangunan ini tidak akan mampu menahan mereka!


"Ayo pergi! AKu akan membantumu berteleportasi!" Sayn menawarkan bantuannya.


Aku mengangguk.


Eva tidak memperhatikan bahwa Robert menggertakan giginya tidak senang.


SYUU! Kami bertiga berteleportasi keluar. Saat aku keluar, aku melihat hutan yang dipenuhi dengan pohon mati.


"Ini hutan terlarang?" aku bertanya ragu.


Robert mengangguk.

__ADS_1


Ah! ternyata tempat ini tidak jauh dari Menara Sihir.


Tiba-tiba tanah di bawah kami menggelegar. Kami langsung melayang ke atas dan BRUKKKK! BRAAKKK


Tanah itu mulai terpecah belah membentuk lingkaran. Lalu aku melihat banyak cahaya melesat dari bawah tanah.


"Ah! ternyata itu ruang bawah tanah!"


Pantas saja tempat ini tersembunyi dengan baik dari mata kakek, ternyata ada di bawah....


Aku melihat di kejauhan.


Tujuh orang penatua itu memiliki wajah tidak baik. Beberapa dari mereka bahkan terduduk lemas, dan beberapa memuntahkan darah. Lalu aku melihat sisi lainnya. Kakek sama sekali tidak apa-apa. Walaupun guru dan Dean Leon berpenampilan compang-camping, mereka tidak terluka.


Ahh~ para penatua itu kalah.


Kakek benar-benar kuat. Aku penasaran seberapa kuat kakek. Dia benar-benar menghabisi para penatua itu tanpa terluka sedikit pun.


"Kakek sangat keren~" aku bergumam dengan mata berbinar-binar.


Eva tidak tahu bahwa gumaman kagumnya membuat dua orang pria di sampingnya merenggut tidak senang.


Dean Caro dan beberapa penatua benar-benar babak belur. Saat ini dia bersusah payah menompang tubuhnya.


'Pak tua ini benar-benar monster!' pikirnya benci. Dia kira dia akan menang saat menghasut beberapa penatua. Tapi dugaannya salah, mereka tetap kalah dengan menyedihkan.


Dia melirik para jubah putih yang mengamati dari samping. Dia tidak bisa memerintah mereka lagi, karena para jubah putih itu adalah pasukan dari Menara Sihir. Tentu saja saat dia memberontak, mereka tidak akan mematuhinya lagi.


"Aku akan memberitahu pada dunia bahwa kau menyembunyikan seorang monster! Bahkan kau menggunakan resep kuno itu untuk dirimu sendiri!" ancam Dean Caro sambil berusaha menompang tubuhnya untuk berdiri.


"Hmph!" Dean Wason tersenyum. "Katakan saja" dia mengacuhkannya. "Kau kira kau bisa keluar dari sini"


"Sial!" Dean Caro mengumpat.


Otaknya bekerja keras. Rencananya sudah gagal. Dia terus memutar otak untuk mencari jalan melarikan diri.


Dan akhirnya dia menemukan celah itu. Dia melihat Eva, sang target utama dan juga yang paling lemah!


Dengan secepat kilat, dia mulai mendekati Eva.


Aku melihat Dean Caro terbang ke arahku dengan cepat. Sayn dan Robert juga bersiap menyerang. Tapi aku langsung menghentikan mereka. "Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula dia sudah terluka" kataku percaya diri.


Dengan sedikit keraguan dua orang itu menyingkir ke belakang. Dan aku bergerak maju.


Apa yang direncakan pak tua ini? Dia menargetkanku dalam kondisi seperti itu? Apa dia bodoh?


Hmmm...dia pasti menganggapku lemah bukan....Tapi aku bukan Eva yang dulu! Aku tidak menggunakan sihir dasar itu lagi! Aku sudah bisa menggunakan mantra lanjutan!


Dean Caro mulai mengeluarkan alat sihir aneh lagi.


Aku langsung mengeluarkan sihir defensif. Eh? Ini sesuatu yang tidak terduga!


Aku ingin menggunakan sihir bumi. Tapi kenapa aku mengeluarkan sihir api juga? Apa-apaan ini?


Aku mulai tidak mempedulikan dean Caro yang menyerangku dan fikus pada manaku. Ehhh? Ini benar-benar mengejutkan! Aku tidak tahu apa yang terjadi. tapi aku merasa aku bisa menggunakan banyak sihir secara bersamaan! Apa ini efek dari mimpi sihir gelap itu atau karena hal yang lain!


Bukan hanya dirinya yang kaget. Semua orang yang melihat itu juga kaget.


'Gadis kecil itu menggabungkan elemen sihir miliknya!'


Dean Caro menggertakan giginya. "Aku harus membunuhnya!" katanya benci.


Tapi, dia benar-benar salah. Eva menggunakannya sebagai subjek eksperimen sihir. Beberapa kali Eva berlatih menggabungkan sihirnya dan menjadikan dia sebagai targetnya.


Walaupun Dean Caro terus menghindar. Tapi Eva terus menyerang. Eva memiliki kapastitas mana yang besar dan juga vitalitas yang kuat. Setelah mengeluarkan beberapa sihir, dia sama sekali tidak kelelahan. Sangat berbeda dengan Dean Caro. Dia benar-benar tidak tampak seperti manusia lagi. Pakaiannya compang camping, seluruh tubuhnya penuh luka. Dan entah kenapa tubuhnya semakin kering dan kurus saat dia terus-menerus menggunakan sihirnya.


"Eva hentikan!" Sayn tiba-tiba menghentikanku.


Aku menatapnya bingung. "Kenapa?"


"Kau tidak bisa membunuhnya. Kalau kau membunuhnya, aku tidak bisa menyelesaikan misiku" katanya tidak senang.


"...." aku tidak menjawab dan langsung membatalkan sihirku.


Ah~ aku benar-benar lupa dengan misi Sayn. Tapi...


Aku menatap Robert ragu-ragu. "Apakah benar-benar harus membunuhnya?" tanyaku pada Sayn.


Dean Caro adalah orang tua Robert!


Dean Caro melihat bahwa dia tidak mampu melawan lagi. Dia benar-benar sudah dikepung musuh!


Dia menjalankan rencana lainnya. Dia mulai berlutut dan memohon pada Robert. "Tolong biarkan aku pergi. Anggap saja ini balasan atas hutang budi karena sudah membesarkanmu. Aku juga orang tuamu" katanya penuh nada simpati.


Aku melihat Robert menggertakan giginya. Sepertinya dia benar-benar menahan emosinya.


"Jangan membunuhnya" kata Robert langsung.


Dean Caro langsung tersenyum senang.


"Hmph!" Sayn merenggut tidak senang. "Aku tahu kau dekat orang ini. Tapi kau tidak bisa seperti itu. Kau benar-benar ingin kami melepaskan orang jahat sepertinya!"

__ADS_1


__ADS_2