
cerita sebelumnya:
Kelompok mereka diserang sekelompok binatang sihir level 4. Pertarungan pun terjadi. Ada beberapa yang kewalahan, tapi ada juga yang berhasil mengalahkan singa-singa itu. Bahkan saat bertarung, Eva mengetahui bahwa ada penyihir gelap lainnya dalam kelompok. Penyihir gelap itu bernama Fena. Salah satu anak bangsawan yang Eva tidak kenal.
Saat pertarungan hampir berakhir, Eva mengira mereka semua akan menang. Sampai akhirnya pemimpin kelompok, sang raja singa mulai muncul dan menyerang Eva secara tiba-tiba.
***
"Evaa!" Fena berteriak histeris.
Dan teriakannya di dengar oleh Robert dan Sayn. Kedua pria itu pun langsung berlari sekuat tenaga ke arah Eva dan meninggalkan singa yang sedang mereka hadapi.
Tapi sayangnya terlambat. Raja singa itu sudah menerjang ke arah Eva. Lalu dia membuka mulutnya dan mengeluarkan bom mana. Bom mana itu sudah mengenai ke arah gadis kecil itu, yang melindungi matanya dengan satu tangan karena cahaya menyilaukan dari bom mana.
DUARR! Bom mana itu mengenai Eva dan meledak. Dalam sekejap semua orang berhenti bertarung dan menyaksikan kejadian ini.
Bom itu menyebabkan beberapa partikel dan tanaman kecil berterbangan. Bahkan pohon yang terkena serangan pun hancur berkeping-keping. Setelah ledakan, terbentuklah sebuah lubang raksasa yang cukup dalam di tempat Eva berdiri tadi.
Robert dan Sayn terdiam di tempat. Mereka melongo tidak percaya. Mereka syok dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
"Mahluk sialan!" Sayn berteriak marah sambil maju ke arah mahluk itu.
Dia menyerang mahluk itu dengan kemarahan yang meluap dalam dirinya. Tapi Robert langsung menghentikannya dengan tenang.
"Tenanglah" kata Robert sambil memegang bahu Sayn. "Itu bintang sihir level 8. Kau tidak bisa menyerangnya dengan gegabah seperti itu atau kau akan kalah"
Mendengar perkataan Robert, Sayn semakin berang. "Siapa yang peduli dengan itu!" dia berteriak. "Kau benar-benar tidak peduli? Eva diserang mahluk sialan itu!"
Haa~ Robert menghela napas. "Jangan meremehkan gadis kecilku~" katanya santai sambil tersenyum.
Dan benar sekali! Di tengah-tengah lubang besar yang terbentuk, ada sosok kecil yang sedang bergerak. Dan tentu saja itu Eva yang sedang berusaha berdiri dengan gaunnya yang sudah kotor.
***
Auman keras terdengar. Lalu sosok besar dan cahaya menyilaukan menyerang kearahku.
Aku masih belum bisa mencerba semuanya. Tapi naluri bertahan hidupku berjalan. Refleks, aku langsung mengaktifkan sihir tanahku dan menggali beberapa meter ke dalam tanah.
Saat aku sudah berada di dalam tanah, aku langsung mendengar suara dentuman yang sangat hebat.
__ADS_1
Untung saja aku tepat waktu menyembunyikan diriku di dalam tanah ini. Walaupun tanah ini bergoyang hebat karena dampaknya, tapi masih aman.
Setelah bunyi itu tidam terdengar lagi, aku pun mulai menggali menuju ke atas permukaan. Dan setelah sampai, aku menganga kaget.
"Apa-apaan lubang raksasa ini?" aku bergidik ngeri membayangkan cahaya itu mengenai tubuhku. Aku yakin, aku pasti akan jadi debu.
Aku benar-benar beruntung. Aku bahagia dengan refleks cepat yang dimiliki oleh tubuh ini.
Aku melihat sekeliling mencari raja singa itu. Ternyata dia sudah merubah targetnya ke arah yang lain. Kearah kelompok pangeran dan putri. Saat mengamati aku juga melihat Robert dan Sayn.
Dan mataku pun langsung bertemu tatap dengan kedua orang itu.
"Kau tidak apa-apa?" suara kedua orang itu langsung menyerang kepalaku. Dan pertanyaan yang mereka berikan sama.
"Aku tidak apa-apa" aku membalas telepati mereka berdua.
"Kyaaa!" kali ini terdengar lagi. Dan suara ini sangat familiar untukku!
Aku melihat Lilac, gadis bodoh itu berteriak, saat tubuh saudara nya terlempar. Astaga! Kapan raja singa itu merubah targetnya ke mereka? Tanpa basa basi aku segera menghampiri Lilac.
Lilac kelihatannya sangat syok. Karena saat singa itu menaikkan cakarnya, dia bahkan tidak berkutit. Dia berlutut syok, dengan wajah menatap ke tanah.
Syu! Aku langsung membawa diriku dengan sihir angin dan BLAR! Menyerang singa itu dengan sihir api. Walaupun singa itu tidak terluka karena seranganku. Tubuhnya bergeser beberapa meter menjauhi kami.
"Eva?" tatapan Lilac kaget. Kemudian, air mata mulai muncul dari matanya dan gadis itu menangis. "si brengsek itu....dia terluka hiks...." katanya sedih sambil menggoyang kan tubuh Louis yang tidak bergerak.
Aku sedikit kaget. Tidak mungkin kan....
Tapi dugaanku meleset. Untung saja. Saat aku menyentuhnya, ternyata Louis masih hidup. Dia hanya pingsan karena syok dan juga beberapa tubuhnya menderita patah tulang.
Aku sebenarnya ingin mencoba sihir cahayaku. Aku tidak tahu sihirku bisa menyembuhkan. Tapi saat aku mencobanya waktu itu, penyembuhan tidak berhasil. Apa kali ini akan berhasil karena aku sudah mengetahui triknya?
Aku pun mulai menyentuh Louis dan mengedarkan mana cahayaku padanya. Saat itu terjadi tubuh Louis juga bercahaya, yang membuatku terkesiap. Maksudku saat Reina menyembuhkan orang lain, tidak ada efek mencolok seperti ini.
Sedikit demi sedikit luka di tubuh Louis mulai lenyap dan tulang yang patah mulai terestorasi kembali.
"Eva..." Lilac yang sedang melihat dari dekat memekik bingung. Apa sahabatnya sedang menyembuhkan saudaranya? Tidak mungkin...Eva pengguna elemen cahaya juga! Apa dunia mulai gila!
Robert menyaksikan semua proses dengan santai. Sayn mengernyitkan keningnya sebentar sebelum dia menunjukkan senyum kecil. Tidak tahu apa yang dipikirkan nya.
__ADS_1
Eva melepas tangannya. Cahaya di tubuh Louis mulai meredup. Lalu secara perlahan Louis membuka matanya.
Sebenarnya saat pingsan tadi, Louis merasakan sesuatu yang hangat dan nyaman memasuki tubuhnya. Lalu kesadarannya mulak kembali. Dia membuka matanya dan melihat sosok kabur di depannya. Tapi sosok itu seperti malaikat baginya. (Disini Louis sedang mengkhayal karena dia baru sadar dari pingsan).
Saat pandangannya mulai jernih, dia melihat seorang gadis kecil kotor yang dipenuhi tanah dari ujung kepala sampai kaki. Eva belum membersihkan dirinya. Lebih tepatnya dia lupa bahwa keadaannya sangat buruk dan kotor. Tapi Louis tidak terkejut. Saat itu dia merasa sosok Eva bersinar di matanya. Tampilannya yang kotor membuatnya lebih imut. Seperti anak-anak yang baru saja bermain..
"Malaikatku..." Gumam Louis dengan mata berbinar. Eva sedikit bergidik saat mendengarnya.
Lalu Louis mulai mengangkat tangannya untuk memeluk Eva. Tapi hal itu tidak terjadi. Robert langsung datang secara tiba-tiba, dan Duk! dia menendang tubuh Louis sampai dia terpental beberapa meter dan kembali pingsan.
"Mastaa, apa yang kau lakukan?" aku berteriak marah. Aku baru saja menyembuhkan orang itu dan dia melukainya lagi? Bukankah manaku terbuang sia-sia?
"Kelihatannya otaknya sedang rusak. Tenang saja. Dia belum mati. Semoga saja otaknya kembali normal karena benturan" jawab Robert acuh tak acuh.
Lilac masih menonton di sudut. Dia tidak keberatan Robert menendang Louis karena dia tahu nyawa orang itu pasti selamat. Saat ini dia sedang sibuk berpikir. Bagaimana Eva bisa menggunakan elemen cahaya? Bukankah berarti dia punya tiga elemen? Itu hal yang sangat hebat. Kalau publik mengetahuinya, Eva tidak perlu dihujat sebagai gadis kaya yang arogan dan tidak berguna. Lalu kenapa salah satu pangeran Kano bisa akrab dengannya? Kapan mereka bertemu? Eva sangat dipenuhi misteri yang membuat nya penasaran. Dan dia bertekad untuk mencari informasi dan menguaknya satu per satu.
Tidak hanya Lilac, Fena yang menyaksikan semuanya dikejauhan juga berpikir begitu. Fena pernah merasakan mana gelap di tubuh Eva walaupun mana itu langsung lenyap dalam sekejap. Hal itu tetap membuatnya penasaran. Ditambah lagi ternyata Eva memiliki elemen cahaya.
"Kalau dia adalah penyihir gelap. Bagaimana mungkin kedua elemen itu (cahaya dan gelap) bisa menyatu dengan tenang dalam tubuhnya?" pikir Fena. Dia masih menyangkal Eva mempunyai elemen gelap. Semoga saja itu hanya perasaan nya. Kalau itu kebenaran, dia akan bergidik, karena dia sudah menemukan monster dalam wujud manusia.
Roar! Auman singa itu terdengar lagi.
Gawat! Mereka benar-benar lupa tentang raja singa itu. Saat itu aku melihat putra mahkota dan para pangeran sedang bertarung dengan raja singa.
"Masta, kau tidak membantu mereka?" kataku.
"Kau juga?" aku menatap Sayn.
"Binatang sihir itu akan menghabiskan tenaga ku" kata Sayn tidak peduli. Dia sama sekali acuh tak acuh dengan keselamatan saudaranya. Tapi saat Eva dalam bahaya, dia langsung berlari panik. Benar-benar sikap yang bertolak belakang.
"Tidak boleh begitu. Tolong saja mereka. Kalau terjadi apa-apa kedua kerajaan akan memulai perang. Hal itu tidak baik"
Sayn mengernyitkan kening. "Aku tidak bisa" tapi akhirnya dia menolak. Dia punya alasan untuk menolak. Dia tidak akan membiarkan kekuatan nya diketahui orang lain. Apalagi kalau sampai ketahuan pria sialan itu (raja kano). Dia masih ingin hidup dengan tenang.
"Aku akan mengurus nya" kata Robert santai. "Em..kau tidak mau menjadikan binatang itu barang latihan. Levelnya cukup bagus."
"Aku akan berlatih sendiri tanpa diketahui orang lain. Aku tidak ingin mencolok. Nanti carikan satu bintang yang seperti itu agar aku bisa berlatih sendiri oke?"
"...."
__ADS_1
Robert ragu. Memang nya menemukan binatang sihir level tinggi seperti itu mudah? Mereka itu sangat tersembunyi. Lagipula kalau dia menemukan nya, bagaimana membawa binatang itu hidup-hidup tanpa membunuhnya? Supaya bisa jadi barang latihan gadis kecil nya. Walaupun ini cukup sulit, dia tidak bisa terlihat lemah. Jadi Robert mengangguk yakin sebelum dia pergi menghampiri raja singa itu.
***