Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Kertas Hitam Aneh


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Eva dan Ren pergi ke desa elf gelap untuk melakukan transaksi dengan mereka. Transaksi itu berhasil. Mereka bisa menukarkan robot pembersih itu dengan beberapa kristal sihir.


Tapi negosiasi itu tidak berjalan terlalu damai. Raja elf, Vien tiba-tiba meminta Eva untuk menjadi ratunya. Semua karena dia tahu bahwa Eva memiliki sihir cahaya yang sangat kuat. Tentu saja Eva menolak nya sehingga terjadi sedikit Konflik. Tapi karena alasan yang sesuai, perseteruan itu berakhir damai dan mereka sepakat untuk melupakan pertikaian yang terjadi.


***


Aku memikirkan kapan waktu yang tepat untuk kembali. Mungkin besok adalah waktu yang tepat. Tapi aku masih perlu berpamitan pada Emerta. Jadi kukira aku akan menetap selama satu atau dua hari lagi.


Saat malam tiba, aku pergi menemui Emerta di laboratoriumnya. Saat itu dia sedang serius dengan penelitian nya. Aku sangat penasaran, jadi aku menyelinap diam-diam untuk melihat apa yang dia lakukan. Saking seriusnya, Emerta bahkan tidak sadar bahwa aku ada disini.


Aku melihat dia membuat cairan aneh berwarna hijau. Aku tidak mengerti apa manfaat dari cairan aneh itu.


"Kau disini?" Emerta akhirnya sadar akan keberadaanku.


Walaupun aku melihat penelitian nya diam-diam, dia sama sekali tidak marah. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan datang?" dia langsung meninggalkan penelitian nya dan menggendong ku.


Sebenarnya cukup memalukan untuk digendong seperti ini karena aku sudah bukan anak kecil. Tapi aku tidak bisa memberontak sama sekali.


"Ya. Aku ingin membuat kejutan. Tapi ternyata nenek terlalu serius, jadi aku tidak berani menganggu" kataku malu-malu.


Emerta tersenyum. Dia meletakkan gadis kecil itu di atas kursi dan mengelus kepalanya. Eva memejamkan matanya dengan nyaman saat dia mendapat elusan lembut di kepalanya.


"Kau harusnya memberitahu ku kalau ingin datang berkunjung sehingga aku akan menyiapkan beberapa cemilan sebelumnya." kata Emerta.


"Um...aku tidak apa-apa kalau tidak ada cemilan." kataku serius. Lalu aku mulai mengalihkan topiknya. "Ramuan hijau apa itu nenek?" aku bertanya dengan polos. Walaupun aku yakin Emerta tidak akan memberitahuku jawaban yang benar. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan penelitian yang Emerta lakukan sampai harus menghabiskan waktu bertahun-tahun. Tapi aku tidak berniat untuk menyelidiki hal itu lebih jauh.


"Itu adalah obat" jawab Emerta.


"Obat?"


"Ya. Obat untuk mengembalikan sesuatu yang hilang" jawabnya sambil tersenyum sedih.


Aku sama sekali tidak mengerti. Jawaban Emerta benar-benar ambigu, tapi aku sama sekali tidak bertanya lebih jauh. Dan hanya mengangguk pelan seolah-olah aku mengerti.


"Sebenarnya aku ingin berpamitan, aku akan pulang dalam waktu dekat ini..." kataku lirih.


Wajah Emerta langsung berubah sedih. Tapi itu hanya sedetik sebelum dia tersenyum lembut. "Sampaikan salamku pada Diana, saat kau kembali. Aku akan mengunjungi kalian nanti" katanya.


"Em"


Emerta mengeluarkan sesuatu dari ruang dimensinya. Itu adalah sebuah peti kayu kecil. Lalu dia memberikan peti kecil itu padaku. "Ambillah. Ini adalah oleh-oleh untuk mu" kata Emerta sambil tersenyum.


Mataku langsung berbinar saat mengambil nya. Ini oleh-oleh dari nenek! Aku benar-benar penasaran barang apa yang akan dia berikan padaku. Tapi aku akan menahan rasa penasaran itu sampai aku kembali ke kamarku dan membuka petinya.


"Terima kasih nenek" aku langsung menyimpan peti kecil itu di dalam ruang dimensiku.


Aku dan Emerta pun melanjutkan pembicaraan kami. Ini hanyalah pembicaraan biasa antara nenek dan cucu perempuannya. Walaupun penampilan Emerta sama sekali tidak seperti seorang nenek. Orang luar akan menganggap mereka ibu dan anak.


Waktu berlalu begitu cepat. Emerta mengingatkanku bahwa sudah tengah malam. Aku bahkan tidak sadar. Jadi aku memutuskan untuk berpamitan kepadanya dan kembali ke kamarku.


Aku sudah memutuskan untuk kembali besok siang. Melihat aku tidak memiliki apapun lagi di tempat ini.


Saat aku kembali ke kamarku, aku melihat Rexus berbaring dengan nyaman di atas tempat tidurku. Jadi pemalas kecil ini sudah kembali? Setelah bosan bermain dengan Fram, dia benar-benar memilih tempat paling nyaman untuk beristirahat.


"Apa kau sudah puas bermain?" aku langsung mengelusnya.


Rexus langsung membuka matanya yang terpejam dan memutar tubuhnya dengan nyaman.

__ADS_1


"Tidak. Aku kelaparan." katanya malas.


"Aku sudah memberimu banyak ramuan kemarin. Apa kau benar-benar masih lapar?" kataku cemberut.


Aku baru saja membeli banyak ramuan saat berkeliling di desa elf gelap. Aku tidak menyangka dia akan kelaparan setelah menghabiskan semuanya. Aku mengira dia masih akan bertahan selama seminggu. Kelihatannya kebutuhan makan Rexus sudah semakin besar. Karena aku bisa melihat bahwa dia sudah tumbuh beberapa centimeter. Walaupun itu hanya ekor.


"aku jadi kasihan dengan Damian. Bagaimana repotnya dia harus memberi makan anak rakus seperti mu..." kataku tanpa sadar sambil mengalirkan mana gelapku ke tubuhnya.


Rexus tidak marah mendengar komplain Eva. "Ah, Aku ingat sesuatu...Naga tua itu ingin membicarakan sesuatu padamu" kata Rexus kemudian.


"Damian?" aku mengernyit kan kening bingung.


"Ya. Ikut aku mengunjungi nya besok" kata Rexus sambil berhenti menyerap manaku. Kelihatannya dia sudah kekenyangan. Dia melipat kembali tubuhnya dengan nyaman dan terpejam.


Damian ingin bertemu denganku besok. Ini adalah kejadian tidak terduga. Kelihatannya aku harus mengundur waktu kepulanganku.


Setelah Rexus kembali tidur, aku juga langsung merebahkan diriku di atas kasur. Tidak lupa aku membuka peti aneh yang diberikan Emerta kepadaku.


"Apa ini?" aku mengerjap bingung sambil melihat isinya. Hanya ada selembar kertas hitam di dalamnya.


Aku mengeluarkan kertas itu untuk merasakan nya lebih jelas. Kertas itu tebal seperti kertas cover, tapi aku sama sekali tidak tahu apa kegunaannya. Emerta tidak menjelaskan apapun padaku.


Dengan insting coba-coba, aku mengalirkan mana gelap ke kertas itu. Dan sesuatu yang aneh terjadi. Permukaan kertas itu mulai bercahaya dna berkedip. Lalu wajah bergerak Emerta muncul di atasnya.


"Ah!" aku tersentak kaget. Untung saja Rexus tidak terbangun.


Ini benar-benar mengingatkan ku pada layar ponsel! Sensasi yang sama saat aku melihat video lewat ponselku!


Emerta yang berada dalam kertas mulai mengeluarkan suara.


"Eva, kalau kau sudah mengaktifkan kertas sihir nya. Aku akan menjelaskan petunjuk penggunaan kertas ini padamu" jelas Emerta.


"Ini adalah salah satu penemuanku. Tapi aku mendapat ide tentang kertas sihir ini dari Ren. Dia memberiku inspirasi dengan semua pemikiran uniknya" Emerta melanjutkan.


Emerta mulai menjelaskan bahwa kertas ini digunakan sebagai alat pelacak. Aku hanya harus menyebarkan mana gelapku di suatu tempat, maka aku bisa melihat pemandangan tempat yang ingin aku deteksi dari kertas ini. Keefektifan kertas Sihir ini tergantung dari seberapa lebar manamu, maka semakin lebar area yang dideteksi. Tapi sebelum itu aku perlu mengikat kontrak dengan darahku, agar kertas ini mengenali manaku dan tidak bisa digunakan oleh orang lain.


Setelah selesai menjelaskan, video Emerta terhenti dan kertas itu kembali menjadi kertas hitam normal.


Aku pun bangun dan dengan cepat meneteskan setetes darah di atas kertas itu. Aku benar-benar ingin mencoba alat sihir ini sekarang juga!


Setelah itu, aku langsung mengedarkan manaku di seluruh istana ini. Dan layarnya mulai aktif secara otomatis. Aku bisa melihat seluruh istana elf dari atas. Ini benar-benar berfungsi seperti kamera drone!


Aku menjadi ngiler saat memikirkan aku bisa menjual alat seperti ini. Kira-kira berapa uang yang bisa aku kumpulkan? Tapi kemudian harapanku pupus saat sadar bahwa kertas ini hanya berfungsi dengan mana gelap, bukan mana lainnya.


"Sayang sekali..." aku meratap sedih. Tapi aku langsung menghapus semua rasa sedih itu. Dan mulai mengutak-atik kertas sihirnya. Aku mencoba mengatur kameranya. Dan tentu saja itu bergerak sesuai keinginanku! Saat aku ingin melihat sisi kiri, kertas itu secara langsung memantau sisi kiri istana. Saat aku ingin melihat lebih dekat ke gerbang, tampilan zoom otomatis langsung ada di depan mataku.


"Uohh kerenn..." aku bergumam kagum sambil terus memainkan nya.


Sampai akhirnya aku menemukan sesuatu yang tidak terduga saat aku memantau area di sekitar kamarku. Ada dua orang berpakaian hitam yang bersembunyi di luar jendela kamarku.


Refleks, aku melempar kertas itu dan memasang pelindung sihir. Waktunya tepat sekali, jendela kamarku terbuka dan dua bilah pisau sihir terlempar ke arahku. Untung saja perisainya berlapis-lapis, jadi walaupun pecah, itu masih tetap melindungi ku.


TRANG, TRANG


Pisau itu menghantam perisai dan membuat suara yang cukup besar. Rexus bahkan terbangun dari tidurnya.


Aku tidak tahu siapa yang mengirimkan dua orang ini. Bukankah mereka pembunuh? Tapi benar-benar ada pembunuh yang menyelinap ke istana elf? Bukankah itu sangat tidak masuk akal? Ren masih ada disini, tidak mungkin ada pembunuh asing yang berhasil menyelinap.


Pembunuh itu melemparkan ramuan hitam aneh ke arahku. Dan tiba-tiba kabut hitam muncul dan mengisi seluruh ruangan.

__ADS_1


Aku merasa sedikit linglung saat terkena kabur ini. Obat tidur?


Tapi untungnya Rexus dengan cepat menghirup seluruh kabut dengan mulutnya, jadi aku tidak kehilangan kesadaran ku sepenuhnya.


Saat kabut mulai menghilang, kedua pembunuh itu berada di dekat ku. Bersiap untuk menusukku dengan pisau lainnya. Aku menghindar dengan cepat, dengan cara melompati dinding dan terbang ke atas. Aku bisa melihat cairan aneh di bilah pisau. Racun? Astaga! Kedua pembunuh ini benar-benar mengerikan. Tapi mereka lemah...


Aku langsung menggunakan sihir cahayaku ke arah mereka. Aku tahu mereka adalah penyihir gelap, sejak mereka menggunakan mana gelap saat menyerangku dengan pisau.


Mereka lumpuh dalam sekejap saat sihir cahaya itu mengenai dada mereka. Seakan-akan sihir cahaya itu adalah racun. Aku langsung memanfaatkan kesempatan itu dengan mematahkan kaki mereka dan mengikat mereka berdua dengan tali sihir.


Aku sengaja tidak membunuh mereka, karena aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka. Apa ada organisasi pembunuh yang bersembunyi di desa elf? Bukankah itu cukup mengerikan?


"Ren, ada pembunuh di kamarku" tidak lupa aku juga memberitahu Ren. Ren menerima sinyal telepati ku.


"Tunggu aku" dia menjawab.


Dia pasti akan sampai ke sini dalam beberapa menit.


Aku menatap kedua pembunuh itu. "Siapa yang mengirim kalian? Bukankah kalian tahu ini istana elf gelap? Bagaimana kalian bisa menyelinap?"


"..."


Kedua pembunuh itu tidak menjawab. Lalu tiba-tiba mereka muntah darah dan jatuh di tempat.


Aku melonggo kaget. Mereka meminum racun bunuh diri! Kenapa aku tidak mengingat ini. Kalau aku tahu, aku akan mengeluarkan racun itu dari mulut mereka dan tidak akan membiarkan mereka bunuh diri.


BRAK!


Ren datang dan masuk ke kamarku dengan cepat.


Aku langsung menunjuk kedua pembunuh yang tergeletak di samping tempat tidurku.


"Ren, kau lihat pembunuh nya..."


Perkataanku langsung dipotong oleh Ren. "Kau tidak apa-apa?" dia memeriksa seluruh tubuh ku dengan cepat, tidak peduli dengan keberadaan pembunuh itu sama sekali. "Apa kau terluka?" tanyanya cemas.


"Ehem! Aku sama sekali tidak apa-apa" kataku sambil melepaskan tangannya dengan canggung. "Aku tidak terluka sama sekali. Tapi bagaimana bisa ada pembunuh di kastilmu?" aku bertanya. Kedua pembunuh ini benar-benar hebat.


Aku tidak merasakan jejak dan hawa pembunuh mereka sama sekali. Seakan-akan mereka hanya udara. Kalau aku tidak melihat mereka tadi, mungkin aku benar-benar akan tertusuk.


Ren melihat ke arah pembunuh dan melepaskan topeng mereka.


"Ah!" aku tersentak kaget. Mereka bukan manusia! Melainkan elf gelap! Pantas saja Ren tidak menyadari bahwa mereka adalah pembunuh.


"Apa elf-elf ini begitu membenciku..." kata ku sedih. Aku tahu elf gelap sangat membenci manusia. Bahkan pelayan elf sebelumnya juga memberi kami racun. Sekarang percobaan pembunuhan. Mereka benar-benar menyuruhku untuk meninggalkan istana ini secepat mungkin.


Ren menatap kedua mayat elf itu dengan ekspresi tidak nyaman. Dia sepertinya mengetahui sesuatu yang penting tapi dia menyembunyikan hal itu dari Eva.


Ren langsung membakar kedua mayat itu sampai menjadi abu. Lalu dia menatap Eva. "Jangan khawatir. Aku akan menemukan pelakunya" kata Ren serius.


"Um" aku mengangguk. Lagipula aku akan pergi dari istana sebentar lagi, jadi aku tidak terlalu peduli dengan insiden pembunuhan ini.


"Selamat malam. Tidur yang nyenyak. Akh sudah memasang penghalang di kamarmu. Tidak akan ada yang berani mendekat karena aku akan segera mendeteksi mereka dan menghancurkan nya" kata Ren.


"Terima kasih"


Ren pun segera keluar dari kamar Eva. Saat dia akan menutup pintu kamar, keningnya berkerut bingung. Ren mengenali kedua pembunuh itu. Lebih tepatnya selama ini kedua elf itu bukan pembunuh, tapi prajurit istana. Karena itulah Ren tidak bisa mendeteksi rencana pembunuhan mereka. Tapi Ren tidak memberitahu hal ini pada Eva. Dia takut gadis itu akan semakin tidak senang saat tahu prajurit istana ingin membunuhnya.


Tapi kenapa para prajurit istana itu berani melakukan pembunuhan di belakangnya? Apa yang terjadi? Ren bahkan berpikir bahwa ada banyak sekali mata-mata tersembunyi di istana nya. Dia akan membereskan semua masalah ini besok. Dia akan mengumpulkan seluruh staff, pelayan dan prajurit istana. Dia ingin melihat siapa lagi mata-mata tersembunyi yang ada di istananya.

__ADS_1


__ADS_2