
Cerita sebelumnya:
Eva dan Vivian pun memasak banyak sekali makanan. Lalu mereka mulai menyajikan nya saat makan malam.
Di meja makan, semua orang sudah berkumpul. Tapi tiba-tiba Sayn datang. Pria itu pun menjadi pusat perhatian karenanya. Terutama Duke, yang mengamati Sayn dari ujung kepala sampai kaki.
Setelah Duke mengetahui identitas sebenarnya Sayn, dia menjadi tidak senang. Tapi Sayn berhasil mengatasi nya dengan memujinya sehingga kesan Duke terhadap Sayn menjadi lebih baik.
***
Meja makan di mansion Duke itu sangat besar. Seperti halnya desain rumah bangsawan, meja di depan mereka sangat panjang dan besar. Kursinya juga banyak. Seakan-akan itu adalah meja perjamuan untuk banyak orang.
Meja sebesar itu hanya diisi oleh keluarga tiga orang, sehingga membuat suasana terasa sepi dan canggung saat makan malam. Tapi itu tidak sering terjadi di keluarga Duke, karena Diana selalu mencairkan suasana dengan sikapnya yang ceroboh dan lembut.
Sekarang, mereka mendapatkan dua orang tambahan untuk makan malam. Tidak bertiga seperti biasanya. Sehingga Diana merasa sangat antusias saat dia melihat Robert dan Sayn.
Untuk Robert, Diana sudah mengenalnya sejak Eva masih kecil, karena dia adalah guru sihir Eva dari kecil. Dan untuk Sayn, Diana baru melihat nya hari ini. Bocah itu seumuran dengan Putri nya. Terlebih lagi dia seorang pangeran. Entah kenapa perasaan Diana merasa sedikit aneh saat melihat Sayn. Seakan-akan putrinya sudah dewasa dan membawa seorang kekasih. Tapi Diana tahu pikiran itu sangat konyol. Jadi dia menggelengkan kepalanya cepat, untuk membuang pikiran itu. Lagipula Eva nya sudah memilikinya tunangan. Dan putra mahkota juga tidak buruk. Tapi Sayn juga tidak buruk. Sekarang, Diana sangat bimbang.
"Diana..." Duke terus memanggilnya, tapi Diana mengabaikan nya karena terus melamun. Tapi Diana mendengar panggilan terakhir nya dan sedikit tersentak.
"Oh? Ada apa?" tanya Diana polos sambil mengerjapkan matanya, menatap Duke.
Duke mengernyitkan kening nya. Dia tahu istrinya sedang memikirkan sesuatu sampai mengabaikan nya. "Tidak apa-apa" tapi dia tidak akan bertanya apapun dan langsung menyerah. "Kita bisa mulai makan malam sekarang" dia berseru sambil menatap semua orang di meja makan. "Ini adalah masakan putriku dan temannya. Semoga kalian menyukai nya" katanya ramah.
"Tuan besar!" Wiya berteriak sambil membuka pintu ruang makan dengan keras, membuatnya menjadi fokus semua orang. "Tuan besar! Tuan besar..." Wiya terus mengulangi kata-kata yang sama dengan gugup, seperti ketakutan.
TAK! Duke tanpa sadar memukul meja makan. "Berhenti bertele-tele, ada apa?!" tanyanya dingin. Suasana hatinya sedang tidak senang sekarang karena selalu ada gangguan saat makan malam akan dimulai.
__ADS_1
"Uh..." Wiya menundukkan kepalanya, ingin mengatakan sesuatu.
Tapi tiba-tiba seseorang masuk ke dalam. "Selamat malam Duke" katanya sambil membungkuk hormat. Dia adalah Denis.
"Putra mahkota datang berkunjung..." akhirnya Wiya menyelesaikan kalimatnya dengan gumaman kecil sebelum akhirnya melesat dengan cepat keluar ruangan karena tidak ingin terlibat.
Wiya sangat menyesal bekerja sebagai penjaga pintu malam ini. Biasanya ini adalah tugas kepala pelayan, bukan tugasnya karena dia hanya pelayan pribadi nyonya Diana dan nona Eva. Tapi tiba-tiba kepala pelayan memberikan tugas penjaga pintu ini padanya karena dia sibuk membagikan makanan yang tersisa untuk pelayan lainnya. Dia juga ingin makan masakan nona muda. Tapi dia akan menjadi orang terakhir yang memakan nya karena dia harus bertugas. Dia merasa dirinya sangat malang.
Pertama, itu hanyalah seorang tamu anak laki-laki asing. Penjaga gerbang tidak membolehkan nya masuk karena dia adalah orang tidak dikenal. Sampai akhirnya nona muda menjemput nya dan menyatakan identitas nya sebagai pangeran kerajaan tetangga. Wiya sedikit bergidik karena dialah yang menyuruh penjaga gerbang untuk menahannya di depan. Itu adalah sikap tidak hormat kepada seorang pangeran. Tapi untungnya pangeran muda itu tidak pernah memikirkan sesuatu seperti itu.
Kedua adalah kedatangan tamu tidak terduga. Dia datang dengan kereta mewah keluarga kerajaan. Tentu saja Wiya langsung tersentak. Dia sempat berpikir ratu atau raja yang datang. Tapi tidak mungkin mereka berkunjung tanpa pengawal seperti itu. Tapi ternyata itu adalah putra mahkota. Wiya tidak berani menahan putra mahkota di depan gerbang. Jadi dia membiarkannya masuk. Lalu melapor pada Duke dengan tergesa-gesa.
Tapi siapa yang mengira bahwa Putera Mahkota akan masuk ke ruang makan secara tiba-tiba.
Denis datang. Semua orang langsung berdiri dari meja makan mereka untuk memberinya hormat sebagai formalitas.
Aku masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ku. Untuk apa orang ini disini secara tiba-tiba? Dia bahkan datang disaat seperti ini. Apa yang terjadi?
"Apa yang membawamu ke tempat ini, Yang Mulia?" tanya Duke dengan wajah sedikit masam.
"Maaf menganggu. Saya hanya ingin berkunjung ke rumah tunangan saya. Apa itu masalah?" Denis mengangkat alis matanya sambil tersenyum.
Aku mengangkat wajahku dan menatap nya. Tatapan kami bertemu dan aku langsung mendengus kesal.
"Kenapa ada banyak sekali orang asing di tempat ini?" kata Denis tidak senang. Dia mengamati keberadaan Robert dan Sayn. Dia tidak menyukai Robert dan menatapnya denagn tajam. Untuk Sayn, dia hanya mengabaikannya. "Apa kalian sedang mengadakan perjamuan?" dia bertanya lagi.
"Ini hanya makan malam biasa" jawab Duke kemudian dengan wajah datar. Dia menatap Denis seakan-akan dia adalah tamu tak diundang dan berharap orang itu pergi secepatnya. "Kalau yang mulia tidak mempunyai urusan tertentu ke tempat orang lain, itu sangat menganggu waktu orang lain" kata Duke acuh. Duke tidak terlalu menyukai Putra Mahkota karena dia adalah seorang bocah penakut di matanya. Intinya, dia hanya tidak menyukai semua pria yang bergaul dengan putrinya. Baginya mereka hanyalah hama.
__ADS_1
Denis tersenyum tidak nyaman karena perkataan Duke.
"Denis kecil, selamat datang~" Diana membuka mulutnya. Dia bahkan tidak memanggil Denis dengan panggilan 'Yang Mulia'.
Berbeda dengan Duke, Diana sangat menyukai Denis. Baginya, Denis terlihat seperti roti kecil. Tapi sayangnya sekarang roti kecil itu benar-benar sudah tumbuh besar. "Kita sedang makan malam, maukah kau bergabung?"
"Dengan senang hati" Denis tersenyum kecil. Ini adalah perkataan yang diinginkan nya.
Denis juga tidak tahu tujuannya pergi ke mansion Duke. Dia hanya merasa tidak nyaman setelah kejadian kemarin. Dia merasa bersalah. Dia tahu bahwa dia juga berlebihan sudah membentak gadis itu. Eva tidak salah. Itu hanya keegoisan dirinya karena tuntutan mencengkam sebagai seorang raja yang harus memperhatikan rakyat dan negaranya. Sehingga dia melampiaskan emosinya pada Eva.
Haruskah dia meminta maaf lagi? Dia sudah meminta maaf berulang kali. Dia berpikir gadis itu tidak akan menerima permintaan maafnya lagi.
"Aku akan mengajaknya ke suatu tempat untuk menghabiskan liburan" pikir Denis. Dia berpikir, bertindak lebih bagus daripada harus meminta maaf lagi. Dia ingin menghabiskan waktu bersamanya dan membuat nya bahagia untuk menebus kesalahannya. Dan tanpa sadar dia benar-benar menginjak kan kakinya ke mansion Duke.
Awalnya suasana hatinya cukup baik. Tapi setelah melihat keberadaan beberapa orang asing, suasana hatinya menjadi buruk. Dia tidak menyangka bahwa Robert akan makan malam bersama keluarga besar Duke. Dan dia juga tidak menyangka akan ada bocah asing lainnya. Dia cemburu? Tentu saja dia cemburu! Alasan Robert sebagai guru sihir Eva tidak akan menghilang kan rasa tidak nyaman nya. Lagipula dia sudah mengenal Robert sejak mereka bertemu di Menara Sihir. Dan pria itu jelas-jelas menganggapnya sebagai musuh!
"Humph!" Duke hanya mendengus kesal saat dia melihat bocah tidak diundang itu. Dia ingin memukulnya karena masuk ke rumahnya tanpa izin. Tapi dia adalah anggota kerajaan dan tunangan putrinya, jadi dia memberinya izin.
Denis dengan perlahan mengambil kursi di samping Vivian. Dia cukup kecewa bahwa Eva berada jauh satu kursi darinya. Tapi tidak mungkin dia menyuruh Vivian secara terang-terangan untuk bertukar kursi. Jadia dia hanya bisa menghela napas kecewa.
Vivian duduk di antara Eva dan Denis, merasakan tekanan berat di pundaknya. Dia merasa seperti orang asing yang terjebak di antara sepasang kekasih. Tentu saja dia menyadari tatapan Denis yang sedikit kesal saat duduk di samping nya. Jadi dengan ekspresi polos dia berkata. "Yang Mulia, ingin bertukar kursi? Aku merasa kursi Yang mulia terlalu pendek dan tidak nyaman"
Denis mengerjap penuh arti saat mendengar perkataan nya. Lalu dia mengangguk dan mereka bertukar kursi.
Aku tidak menyangka bahwa Vivian akan berkata seperti itu. Hei! Jangan pindah! Kenapa kau tinggalkan aku! Aku ingin berteriak dan menghentikan Vivian, tapi aku tentu saja itu tidak terjadi. Jadi, aku hanya bisa menangis dalam hati.
Tanpa sengaja, tatapanku dan Denis bertemu lagi. Aku menatapnya dengan wajah masam tanpa ekspresi. Tapi aku tidak menduga bahwa dia akan tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Apalagi yang pria ini rencanakan? Bukankah aku sudah menjauhinya sebaik mungkin? Dan bukankah dia membenciku? Kenapa dia tiba-tiba muncul di rumahku dan tersenyum polos seolah-olah dia tidak bersalah sekarang?
Sayn, keberadaan yang diabaikan oleh Denis, melihat nya dengan tatapan yang sangat gelap. Putra Mahkota dari Kerajaan Well, dia melihat nya pertama kali di Domain Sihir saat itu. Tapi perasaan nya saat itu tidak sebenci ini. Entah kenapa sekarang hatinya menggelap saat melihat Eva dan orang itu bertatapan penuh arti. Kalau ada permintaan untuk membunuh Putra Mahkota Kerajaan Well, dia akan menerimanya dengan senang hati. Sayn berdoa kepada dewa agar permintaan itu datang.