Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Aku Ery!


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva berusaha melarikan diri dengan membawa Fena bersamanya. Tapi malangnya mereka bertemu dengan kepala sekolah dan hampir saja ditangkap. Untung saja ada orang asing yang menyelamatkan mereka walaupun dia tidak tahu kenapa dia menyelamatkan nya.


***


"Kenapa kau menyelamatkan kami?" aku bertanya dengan waspada. Kehadiran nya terlalu mencurigakan untukku.


Wajah pemuda itu berkedut dan dia melihat kedua gadis aneh di depannya dengan tatapan tidak senang. "Apakah ini yang kalian katakan kepada penyelamat kalian? Benar-benar snagat kasar!" dia menggerutu.


Baginya, kedua gadis muda di depan nya sangat aneh. Satu dari mereka terlihat acak-acakan dengan rambut panjang yang sangat berantakan. Dia terlihat seperti hantu kalau dilihat dari jauh. Sementara gadis lainnya terlihat seperti pencuri dengan menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian hitam.


Haa~ pemuda itu menghela napas saat dia melihat tatapan waspada dua orang gadis aneh di depannya.


"Aku menyelamatkan kalian karena kalian adalah penyihir gelap. Kita adalah teman" jawab pemuda itu santai sambil melipat kakinya di atas kursi.


"Untuk lebih detailnya silahkan tanya Gord. Pria itu akan datang sebentar lagi karena dia perlu menghalangi orang kuat yang mengajar kalian" dia melanjutkan.


"Dimana kita sekarang? Apa kau yakin mereka tidak akan mencari kita di tempat ini?" Fena akhirnya membuka mulutnya setelah sekian lama terdiam.


"Kita masih di ibukota. Tenang saja. Mereka tidak akan berhasil menemukan tempat ini. Aku percaya pada Gord. Dia sudah mengatur semuanya" pemuda itu mengangkat tangannya di atas meja untuk menyandarkan kepalanya.


Saat itu kebetulan sekali lengan baju panjangnya melorot ke bawah dan memperlihatkan sebuah gelang aneh di pergelangan tangannya.


DEG!


Jantungku berdetak saat aku melihat gelang itu. Refleks aku langsung menghampiri pemuda itu dan memegang pergelangan tangannya untuk memastikan gelang itu dari dekat.


Kenapa gelang itu mirip sekali dengan gelang hadiah pemberian orang tuaku saat di bumi? Saat aku berumur lima tahun, mereka memberikan gelang kepadaku dan adik laki-laki ku. Masing-masing gelang memiliki inisial E dan R, sesuai dengan nama masing-masing. .


Aku tentu saja masih mengingat gelangnya karena aku sudah memakai gelang itu selama belasan tahun. Itu adalah gelang yang sangat berharga untuk kami bersaudara dan juga orang tua kami.


"Apaan sih?" pemuda itu menggerutu kesal sambil menarik tangannya. Dia melihat gadis berpakaian hitam ini dengan tatapan jengkel. "Dimana sopan santunmu? Kenapa kau tiba-tiba menyentuh ku seperti itu?" katanya tidak senang.


Aku tidak mempedulikan ocehan marahnya dan menatap pemuda itu lekat-lekat. Setelah dilihat-lihat kenapa dia mirip sekali dengan adikku? Fitur wajahnya sedikit berubah karena dia sudah bertambah dewasa tapi tetap saja iti terasa sangat familiar.


Tapi tidak mungkin adik menyebalkan itu akan pindah ke dunia ini! Apa itu hanya orang yang kebetulan mirip saja.


"Ricko?" aku mencoba memanggil nya dengan takut-takut.


"Iya, kenapa?" pemuda itu langsung menjawab dengan ketus.


"...."


Kami akhirnya mematung sambil menatap satu sama lain dengan mata melebar.


"Bagaimana kau tahu namaku?" Ricko mengerutkan keningnya dengan wajah bingung. Dia belum memberitahu identitas nya sama sekali.


"Ricko lin..." gadis aneh itu bergumam lagi.


Ricko tersentak. Dia langsung berdiri dan menunjuk Eva. "Hei, bagaimana kau bahkan tahu nama keluargaku?" katanya tak percaya. Apa gadis aneh ini memata-matai nya ?

__ADS_1


"...."


Gadis aneh itu tidak menjawab dan hanya menatap nya tanpa berkedip.


Aku masih tidak bisa percaya ini. Dia benar-benar....adikku. Tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca dan aku menangis dengan keras.


Ricko sangat bingung. Gadis aneh itu menangis dengan tiba-tiba. Apa karena dia membentaknya? Dia menjadi merasa bersalah.


Tapi yang lebih mengangetkan lagi, gadis aneh itu tiba-tiba melemparkan dirinya dan memeluknya dengan erat. Dia mematung. Ada apa dengan situasi ini? Dia tidak mengerti sama sekali.


Sampai akhirnya gadis aneh itu bergumam kecil. "Aku Ery...." katanya.


Dia tersentak. Tapi dia tidak langsung percaya begitu saja. Ery kakak nya? Apa itu mungkin? Jelas sekali bahwa itu sama sekali tidak mungkin. Kakaknya sudah lama sekali meninggal.


"Hei, penipu. Hentikan!" Ricko berkata sambil melepaskan pelukan Eva dari tubuhnya.


"Apa kau menyelidiki identitas ku? siapa kau? Kenapa kau melakukan nya?" Ricko bertanya dengan nada tidak senang.


Eva langsung melepaskan topengnya, memperlihatkan mata dan rambut pirangnya. "Aku adalah Ery!" dia bersikeras menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh.


Heh! Ricko tersenyum miris. Penipu ini sangat bodoh. Dia sudah hidup bertahun-tahun dengan kakaknya, tentu saja dia mengingat penampilan kakaknya dengan sangat jelas. Sejak kapan kakaknya memiliki rambut pirang dan wajah cantik seperti itu? Penampilan Ery hanya seperti gadis sekolah pada umumnya. Tidak ada yang spesial darinya.


Penipu ulung ini benar-benar bodoh. Ingin menipunya dengan penampilan seperti itu. Seharusnya dia merubah penampilan nya terlebih dahulu sebelum menipu. Sangat tidak profesional sama sekali. Mungkin karena dia masih seorang gadis kecil.


Aku bisa melihat dengan jelas bahwa Ricko tidak mempercayai ku. Dia bahkan menatapku dengan tatapan bodoh. "Aku memang Ery!" aku berkata lagi. "Aku mengetahui banyak rahasia memalukan mu. Kau mengompol saat hari pertama masuk SMP, tapi kau berbohong pada ibu dan mengatakan bahwa itu air yang tumpah. Kau juga menyatakan cinta pada gadis tetangga tapi kau ditolak dengan memalukan. Gadis itu melemparmu dengan sandal. Kau tidak lihai menyembunyikan video porno di komputer mu. Kalau ibu mengetahui nya kau akan tamat. Kau selalu bersikap sok keren, padahal kau tahu dirimu sama sekali tidak keren. Kau pernah jatuh di selokan karena dikejar anjing...."


"Hentikannn!" Ricko berteriak. Dia langsung menutup mulut Eva dengan tangannya lalu dia menatap Eva dengan mata melotot. "Kau pasti menggunakan sihir untuk melihat isi pikiran ku bukan?" dia masih tidak mempercayai aku sama sekali.


"Akulah orang yang mencoret celana dalammu dengan spidol karena kau terlalu mengesalkan" sambungku.


"Aku juga merobek celana seragammu karena kau sudah menghabiskan parfumku untuk menarik perhatian teman sekelasmu itu" kataku lagi.


Ricko membelalakan matanya tak percaya sambil menggertakan gigi.


"...."


"Apa kau masih tidak percaya?" kataku sedih. "Aku akan mengatakan beberapa hal lagi" kataku bersemangat.


"Cukup" Ricko langsung menghentikan nya. "Apa kau benar-benar Ery?" dia menatap Eva dengan ekspresi serius sekarang.


"Ya" kataku serius sambil mengangguk.


"Bagaimana kau bisa berakhir seperti ini?" dia bertanya. "Aku bisa melihat tubuh mu dengan jelas saat itu di rumah sakit" katanya berat. Walaupun dia dan kakaknya seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar setiap hari, tetap saja dia tetap menangis saat melihat tubuh kakaknya terbujur kaku di ranjang rumah sakit.


Melihat mata Ricko yang mulai berkaca-kaca, aku langsung menepuk kepalanya. "Jangan menangis. Ini cerita yang sangat panjang. Apa kau ingin mendengarkan?"


Ricko mengangguk patuh.


Aku menyuruh Fena untuk meninggalkan kami berdua saja. Fena mengerti dan segera beranjak keluar ruangan. Tak lama pria bernama Gord juga datang. Tapi Ricko juga menyuruhnya untuk menunggu di luar.


Aku mulai menggunakan sihir kedap suara. Dan mulai menceritakan nya dari awal. Aku tidak menyembunyikan apapun dari Ricko. Aku menceritakan awal mula kematian ku dan bagaimana dewa kucing itu mentransfer ku ke dalam dunia novel. Lalu aku juga bercerita tentang bagaimana aku menjalani hidup ku selama ini. Dan bagaimana takdir tragis yang akan menunggu ku di masa depan.

__ADS_1


"Jadi maksudmu novel romantis itu berubah genre sekarang? Jelas-jelas yang kau alamj itu bukan seperti yang terjadi di cerita novel romantis. Itu terlalu berdarah dan keras. Genre survival lebih cocok untuk itu daripada romantis" Ricko mengomentari.


Aku hanya tersenyum canggung saat mendengar pernyataan Ricko.


"Pasti sangat sulit bukan kakak?" Ricko tiba-tiba memelukku. Dia tidak pernah sehangat ini di masa lalu. Jadi aku cukup kaget. Tapi memang benar kata pepatah. Setelah menghadapi kematian, semua orang akan menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya. Lagipula dari awal kami memang saling menyayangi seperti adik kakak normal.


"Tidak apa-apa. Aku bisa melalui nya" kataku percaya diri sekaligus untuk menghibur diriku sendiri. "Bagaimana kabar ibu dan ayah? Apa mereka baik-baik saja?" aku kemudian merubah topiknya.


Ricko mulai menceritakan kondisi keluarga kita setelah aku meninggal. Itu baik-baik saja, tapi juga tidak terlalu baik karena mereka berdua masih berhalusinasi bahwa aku masih hidup. "Pasti sulit untukmu" aku menepuk kepalanya dengan lembut. "Aku juga tidak ingin pergi dengan cepat seperti itu"


"Lalu bagaimana kau bisa berakhir di tempat ini?"


Ricko menceritakan semuanya. Tentang sosok aneh yang selalu muncul dalam mimpinya dan membawanya ke tempat ini. Lalu dia dipindahkan secara otomatis ke dalam kultus penyihir gelap dan menjadi pemimpin di sana.


Mataku membelalak kaget saat mendengar nya. Jadi mahluk asing itu adalah Ricko!


"Apa kau ingat wajah dewa yang membawamu? Maksudku, dewa yang membawaku seperti kucing jelek. Lalu seperti apa dewa yang membawamu itu?" aku berusaha memastikan nya.


Ricko mengernyitkan keningnya. "Dia tidak memiliki bentuk sama sekali. Dia seperti kabut asap yang bisa berbicara. Jujur saja kehadiran nya cukup menyeramkan. Aku bahkan berpikir bahwa aku mimpi dikejar oleh hantu saat itu" jelas Ricko.


Aku menghela napas. Aku tidak memiliki klue sama sekali. Aku akn berusaha mencari petunjuk dengan bertanya pada dewa kucing itu saat kami bertemu dengannya.


Aku memberitahu Ricko bahwa penyihir gelap sangat dibenci di dunia ini. Ricko berkata dia sudah mengetahui hal itu dari Gord. Gord sudah menceritakan kondisi dunia ini secara garis besarnya.


Lalu aku juga memperingati Ricko untuk hati-hati. Karena dia adalah mahluk asing, ada banyak orang yang ingin memusnahkan nya.


"Tenang saja. Aku sangat jenius. Aku bisa menggunakan banyak sekali elemen. Hanya perlu waktu untuk belajar agar aku bisa melindungi diriku sendiri" kata Ricko percaya diri.


Aku hanya menanggapi nya dengan senyum manis.


Dewa kucing itu memintaku untuk melindungi mahluk asing dan secara kebetulan mahluk asing itu adalah adikku. Apa dewa kucing ini sudah mengetahui hal ini sebelumnya? Aku akan menanyakan hal ini padanya nanti. Aku harap dia memberiku jawaban yang sangat memuaskan.


"Apa tempat tinggal mu itu layak untuk ditinggali? Maksudku orang-orangnya?" tanyaku ragu. Jujur saja, aku juga menganggap bahwa penyihir gelap itu sangat jahat sejak akh bertemu dengan Dean Caro dan juga Jean. Tapi tidak semuanya jahat, contohnya Fena dan nenek dari Menara Sihir itu. Jadi aku menyimpulkan jahat atau tidak nya seseorang bukan karena sihir mereka, tapi karena kepribadian mereka itu sendiri.


"Aku hanya bertemu dengan Casius untuk sekarang. Dan guru tua yang mengajariku. Mereka berdua baik-baik saja. Tapi aku tidak tahu dengan orang lainnya karena aku belum mengenal organisasi itu terlalu dekat" Ricko menjawab.


"Hm, tetap berhati-hati. Jangan lupa untuk selalu waspada. Kalau kau memerlukan bantuan, kau bisa memanggilku dengan telepati, aku akan menolongmu"


"Jangan khawatir kakak. Aku akan menjaga diriku dengan baik karena aku adalah seorang pria. Jangan khawatir." kata Ricko percaya diri.


"Dan juga aku ingin kau membawa temanku bersamamu. Karena identitas nya sudah ketahuan. Dia tidak bisa tinggal di tempat seperti ini lagi" kataku.


"Maksudmu Gadis dengan rambut berantakan itu?"


"Hush! Jangan berkata seperti itu dengannya di masa depan. Dia adalah gadis yang sangat cantik kalau kau melihat wajah aslinya." kataku. "Apa kau tahu kenapa gadis tetangga itu menolakmu dan melemparmu dengan sendal? Itu karena kau menghinanya gendut saat dia masih kecil. Lalu dia tumbuh dewasa dan berubah menjadi gadis yang cantik, kau malah mengejarnya. Aku kira dia masih sakit hati karena kenangan masa kecil itu. Jangan pernah mengatakan hal buruk kepada wanita atau mereka tidak akan menghargai mu sama sekali" aku berusaha menasehati nya.


Anehnya, pemuda liar itu mengangguk patuh. Padahal biasanya dia selalu membantahku.


"Kakak, aku ingin kembali. Suatu saat nanti aku akan menguasai sihir dimensi itu. Tapi kalau itu terjadi, maukah kau kembali bersamaku di bumi? Ayah dan ibu pasti merindukan mu" ajak Ricko. Dia menatapku sungguh-sungguh, menunggu jawaban ku.


Akhirnya pertanyaan ini datang. Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit. "Aku juga punya orang tua dan adik di dunia ini. Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja" kataku lirih. "Maafkan aku....". Aku tidak mungkin meninggalkan Duke, Diana dan Evan.

__ADS_1


Aku menundukkan kepalaku, tidak ingin melihat ekspresi Ricko sama sekali. Apa dia kecewa karena aku memilih keluargaku dari dunia ini? Jujur saja aku tidak memilih siapapun. Hanya saja keselamatan keluarga ku di dunia ini lebih rentan daripada bumi. Jadi aku memilih untuk fokus menyelamatkan mereka lebih dahulu.


"Tidak masalah. Lagipula itu masih lama. Kita masih bisa memikirkannya lagi nanti di masa depan" kata Ricko setelah berdiam lama dalam keheningan.


__ADS_2