Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Peertandingan Sihir: Kota Sihir 2


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Sayn ingin mengajak Eva berkeliling Kota Sihir tapi Robert menolak. Terjadi pertengkaran sebentar sampai Eva memutuskan bahwa dia akan menemani kedua orang itu berkeliling.


Lalu untuk si telur emas kecil, Eva memberinya nama Rexus.


***


Keesokan harinya, aku mempersiapkan beberapa barang untuk berkeliling. Lebih tepatnya mungkin berbelanja. Aku akan memburu beberapa barang bagus di Kota Sihir dan membelinya.


Saat aku keluar kamarku dan tiba di ruang tamu, aku melihat Dean baru bersama Jean dan Hans. Tapi aku sama sekali tidak melihat Robert. Mungkin pria itu masih berada di kamarnya.


"Kami akan berkeliling, mau ikut Eva?" Jean tiba-tiba menawarkan dengan rendah hati.


Dean baru itu langsung terbelalak. "Kita tidak bisa membawa orang lagi. Kita perlu mencari beberapa barang untuk menjelajah domain sihir bukan pergi bermain seperti anak-anak" katanya sarkas. Jelas-jelas dia menolak.


"Aku akan pergi" katanya sambil melangkah keluar.


"Eh? Dean tunggu aku" Jean hanya menatap Eva dengan pahit sebelum pergi menyusul Dean baru itu.


Aku hanya menghela napas saat melihat sikap Dean baru itu. Kelihatannya dia benar-benar tidak menyukaiku. Tapi sikapnya terlalu kekanakan sehingga aku tidak terlalu mempedulikannya.


Tiba-tiba sinyal telepati masuk. "Aku sudah menunggu di depan" ini dari Sayn.

__ADS_1


Lalu Robert tiba-tiba muncul di belakangku. "Ayo" katanya.


Kami pun keluar dari penginapan. Kali ini kami tidak menggunakan sihir dan menggunakan pintu keluar. Saat kami menginjakkan kaki di luar, ternyata sangat ramai disini. Kita bisa melihat murid-murid dari semua organisasi berkumpul di sini. Walaupun beberapa dari mereka tidak masuk ke babak dua, mereka tetap menetap disini untuk menjelajah Kota Sihir.


Rumor bahwa ada sekali banyak barang langka di Kota Sihir memang benar sehingga setidaknya beberapa bangsawan dari berbagai kerajaan memilih untuk berlibur kemari.


Aku melihat Sayn menunggu di bawah pohon. Kali ini dia mengganti pakaiannya. Dia tidak menggunakan jubah biru gelap dari Organisasi bayangan, tapi mengenangkan pakaian linen biasa seperti pedangang.


Sayn melihatku dan dia menghampiri kami.


"Apa tidurmu nyenyak kemarin?" Sayn bertanya sambil mengangkat tangannya untuk menggosok kepala gadis kecil itu. Tapi belum sempat dia menyentuh rambut Eva, Robert melibas dan menyingkirkan tangannya. Sekali lagi dua orang bertatapan tajam.


"Ya" aku menjawab santai. Lalu melihat dua orang yang hubunganya tidak baik ini. Jujur saja aku tidak tahu kenapa mereka bermusuhan. Tapi setidaknya aku mengira itu hanya persaingan karena menemukan lawan dengan kekuatan yang sama. Dan ini tidak terlalu berlebihan. Jadi aku tidak mau terlalu ikut campur urusan mereka.


"Hmph!" Robert dan Sayn saling membuang muka


Aku berdiri di tengah-tengah mereka, mencoba untuk mencegah mereka bertengkar.


Kami berjalanan ke luar penginapan, lalu menuju aula. Aula ini adalah aula tempat dimana pemenang babak diumumkan. Karena tidak ada seorang pun yang duduk di kursi penonton, aula ini benar-benar memberikan suasana yang berbeda. Sedikit mistis, seakan-akan ini merupakan makam kuno yang sudah berdiri ribuan tahun.


Setelah meninggalkan aula, kami akhirnya memasuki Kota Sihir. Pemandangan Kota Sihir ini sama saja seperti kota biasanya. Dipenuhi dengan ruko-ruko di sepanjang jalan dan manusia yang berlalu lalang. Cuma ada perbedaan suasana. Di kota-kota biasa kita akan merasakan suasana yang sangat ramai, ricuh dan hidup. Tapi di Kota Sihir, suasana tampak lebih mistis, suram dan dingin. Ini semua karena semua pengunjung menggunakan berbagai jubah sihir untuk menyembunyikan wajah mereka, bahkan para pendagang. Membuat semuanya menjadi lebih misterius.


Saat itu sekelompok penyihir dengan jubah hitam melintas di depan kami dan aku langsung tersentak. Saat melihat jubah hitam aku benar-benar kepikiran sesuatu.

__ADS_1


"Aku benar-benar melupakan ini. Tap bukankah ada penyihir gelap yang menyelinap di pertandingan sihir tetapi kenapa para tetua Kota Sihir tidak mengambil tindakan?" aku bertanya.


Robert tersenyum. "Tentu saja tidak akan"


"Eh kenapa?"


"Karena peraturan disini berbeda dengan peraturan kerajaan-kerajaan itu" sambung Sayn.


"Kota Sihir adalah kota para penyihir. Mereka tidak melakukan diskriminasi apa pun kepada setiap penyihir. Karena itulah, penyihir gelap bisa dengan mudah menyelinap ke dalam tim. Walaupun seluruh dunia membenci dan tidak pernah menerima Penyihir gelap, tidak dengan Kota Sihir. Tapi bukan berarti Kota Sihir melindungi para penyihir gelap. Para penyihir gelap bisa dengan bebas berkeliaran di sini dari pada di kota lainnya, tetap Kota Sihir tidak akan pernah melindungi mereka. Jadi walaupun suatu hari sekelompok orang datang untuk menangkap para penyihir gelap, Kota Sihir tidak akan peduli" jelas Robert.


"Bisa dibilang Kota Sihir ini adalah Kota netral bagi para penyihir" samung Sayn.


Aku mengangguk mengerti. Ternyata seperti ini. Pengetahuanku tentang dunia ini masih sangat kurang.


"Bukankah berarti ada banyak sekali penyihir gelap di tempat ini?" tanyaku lagi dengan mata melebar takjub.


Robert dan Sayn mengangguk.


"Tapi tentu saja mereka menyembunyikan diri mereka" kata Sayn.


Ah!


Bukankah ini bagus. Berarti ada banyak hal di sini yang berhubungan dengan sihir gelap. Ini akan membantu perkembangan sihirku sedikit. Aku benar-benar bersemangat. Kalau aku beruntung mungkin aku akan menemukan sihir tingkat tinggi elemen gelap!

__ADS_1


Kalau Robert tahu isi pikiran muridnya yang sangat antusias belajar sihir gelap, dia pasti akan menjitaknya dengan keras. Lagipula sihir gelap itu berbahaya, dia tidak akan pernah mengizinkan gadis itu belajar terlalu dalam.


__ADS_2