Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Bertemu Kembali


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Makan malam pun dimulai dengan damai. Saat makan malam, juga terjadi sedikit konflik. Terutama antara Sayn, Robert dan Denis. Tapi konflik Sayn dan Denis sangat intens, mengingat keduanya berasal dari kerajaan yang saling bermusuhan.


Ketiga pria itu mengajak Eva untuk menghabiskan waktu liburan bersama mereka. Tapi Eva tidak bisa. Ren yang muncul secara terang-terangan dan memberitahu semua orang bahwa Eva berlibur bersamanya. Membuat sedikit salah paham terjadi sampai Eva berkata bahwa Diana juga ikut.


Makan malam selesai. Denis kembali pulang dengan memberikan permintaan maaf pada Eva. Sementara Sayn memberitahu Eva bahwa dia memiliki rencana dengan mendekati Reina. Ren masih di mansion bersama Diana. Robert juga masih di mansion bersama Duke.


***


Diana dengan antusias menarik tangan Ren, dan membawa pria itu ke kamarnya. Ren cukup kaget saat melihat bahwa Diana menariknya ke dalam kamar.


'Bukankah ini tempat pribadi?' pikir Ren. Dia tidak bisa membayangkan ekspresi suaminya saat tahu hal ini.


Diana terus menarik Ren, sampai akhirnya mereka tiba di kereta bayi.


"Ren lihat. Itu adalah Evan. Bukankah dia sedikit lucu?" kata Diana dengan pelan. Dia tidak mau berbicara terlalu keras karena takut bayi itu terbangun. Evan sedang tertidur lelap sekarang.


Ren melihat bayi kecil di dalam keranjang. Dia memiliki wajah seperti Diana dan terlihat sangat rapuh. Ren merasa dia bisa menghancurkan nya hanya dengan genggaman kecil.


"Dia lucu..." Ren bergumam kecil.


Diana kembali menarik Ren, membuat mereka berdua duduk di atas sofa di dekat keranjang bayi.


"Saat melahirkan Eva, aku merasa sangat senang. Dan saat melahirkan Evan, aku menjadi lebih senang" Diana tersenyum bahagia. "Mereka sangat berharga untukku"


Ren tidak menjawab. Dia membiarkan Diana untuk terus bercerita.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Aku bahkan tidak ingat sudah beberapa tahun. Tapi wajahmu tetap sama" Diana membelai pipi Robert. "Kau bahkan terlihat lebih muda dariku" Diana tersenyum menyakitkan.


Ren juga hanya bisa tersenyum canggung. Dia sama sekali tidak menua. Dan sebenarnya ini cukup menyakitkan saat Diana mengingatkannya kembali tentang itu.


"Saat kau kembali waktu itu untuk mengambil darahku, sebenarnya aku ingin memelukmu. Tapi wajahmu sangat menyeramkan, jadi aku tidak berani melakukannya seperti hari ini" kata Diana kemudian.


"Maaf..." Wajah Ren tampak menyesal.


"Jangan meminta maaf" Dia mengelus kepala Ren seakan-akan dia anak kecil.


"Ren, kau ingat tidak, saat kecil aku pernah bilang ingin menikah dengan mu bukan?" tanya Diana tiba-tiba.


Tubuh Ren menegang. Dia berharap Duke tidak datang dan mendengar ini. Atau dia harus menahan imbasnya karena harus menahan kemarahan Duke liar itu.


"Tapi itu hanyalah keinginan anak kecil, oke" Diana melanjutkan. "Tentu saja aku tetap menyukai Ren. Tapi aku juga mencintai Suamiku. Dan sangat senang dengan kehadiran Eva dan Evan. Jadi jangan terlalu mengartikan nya berlebihan. Aku hanya mengingat masa lalu."


Ren hanya mengangguk pelan.


"Bagaimana kabarnya? Emerta? Ibuku..." tanya Diana dengan senyum menyedihkan.

__ADS_1


Ren merasa canggung. Sebenarnya dia melupakan keberadaan Emerta, dia bahkan melupakan nya. Kalau Eva tidak mengingat kannya, dia tidak akan pernah ingat. Tapi Tidak mungkin Ren berkata bahwa dia sudah lupa keberadaan Diana dan Emerta dalam waktu yang lama. Hal itu hanya akan menyakiti perasaan Diana.


"Dia baik-baik saja..." jawabnya lirih. Dia hanya bisa berbohong seperti ini karena tidak ingin Diana khawatir. Dia berharap Emerta baik-baik saja dan tidak terjadi apapun padanya sekarang.


"Aku merindukan nya. Dia meninggal kanku seperti itu tanpa kabar apapun. Kami saling berkirim surat sebelum nya. Tapi tiba-tiba aku tidak menerima surat lagi darinya selama beberapa tahun." Diana menjelaskan.


"Eva berkata bahwa kau akan mengajak kami menemui nya bukan? Aku sangat bersyukur untuk itu. Aku ingin ibu melihat Eva dan Evan. Aku benar-benar menantikan saat-saat seperti itu" kata Diana dengan mata berbinar.


"Ren, sebenarnya aku punya satu permintaan. Maukah kau mengabulkan nya?" Diana bertanya dengan tiba-tiba.


Ren mengernyitkan keningnya. "Apa itu?"


"Aku benar-benar tidak ingat penampilan aslimu. Maukah kau menunjuk kannya lagi padaku?" tanya Diana dengan mata memohon.


Ren mengangguk. Lalu secara perlahan penampilan nya berubah. Penampilan nya tidak berubah terlalu banyak kalau dilihat. Bentuk wajah, mata dan bibir nya masih sama. Hanya saja warna kulit nya berubah lebih gelap. Lalu warna matanya berubah menjadi emas. Dan kemudian kedua telinga Ren secara perlahan meruncing seperti telinga elf. Dan rambutnya memutih.


Penampilan Ren sebenarnya sangat luar biasa. Walaupun wujud manusianya tampan. Wujud aslinya terlihat lebih tampan. Wujud aslinya mengeluarkan aura elegan yang benar-benar mengatakan bahwa dia adalah seorang raja.


Diana bahkan terkesima saat melihat nya. "Kau sangat tampan" dia memujinya. Terakhir kali, Diana melihat wujud ini saat di istana elf. Dan dia hanya melihat nya sebentar. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan wujud manusia Ren. Sehingga penampilan asli Ren hanya samar-samar di ingatannya.


Pintu kamar berbunyi. Ren menegang, dia takut Duke gila itu datang. Tapi ternyata itu Eva. Ren mendesah lega dan dengan cepat merubah penampilan nya kembali.


"Eva, kemari~" Diana tidak canggung sama sekali dan menyuruh Eva duduk di pangkuannya.


Aku masuk dan suasana di kamar itu sangat sunyi. Awalnya aku sudah menduga bahwa Diana akan mengajak Ren ke kamar, karena dia ingin mengenalkan Evan pada Ren.


Aku pun duduk di pangkuan Diana. Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal ini.


"Tentu saja aku akan semakin besar ibu" jawabku bahagia. Aku sangat menyukai Diana. Aku bersyukur Diana menjadi ibu ku.


"Saat kau semakin besar, semakin cepat pula kau meninggalkanku..." kata Diana sedih.


Uh...jangan berkata seperti itu. Perkataan nya benar-benar membuat ku sedih. Seakan-akan kita harus berpisah, padahal waktuku untuk dewasa masih lama.


Aku menggenggam erat tangan Diana yang memelukku. "Aku tidak akan meninggalkan ibu..."


"Tentu saja, Eva ku tidak akan meninggalkan ku~" kata Diana kemudian. Wajah sedih nya menghilang.


"Apakah kalian berdua berbicara tentang perjalanan nanti?" aku bertanya tentang topik lainnya. "Maksudku rencana untuk mengunjungi istana Elf!" tanpa sadar aku berkata dengan antusias.


Diana mengangguk. "Kami berbicara tentang kunjungan. Dan juga sedikit merasa nostalgia tentang masa lalu kami."


"Ah~ kalian berdua sudah lama tidak bertemu" aku menatap Ren dengan penuh arti. Diana tidak pernah tahu bahwa Ren sudah melupakan nya dalam beberapa tahun ini.


Ren terbatuk kecil. Dia mengerti arti tatapan Eva karena itu lah dia merasa bersalah sebelum nya. "Jadi kapan kalian akan pergi?" Dia langsung mengalihkan pembicaraan nya.


"Lusa? Bagaimana?" aku meminta pendapat Diana.

__ADS_1


"Hmm, oke. Aku akan mengurus persiapan nya"


"Baiklah, aku akan menjemput kalian nanti. Lagipula kita akan pergi dengan teleportasi. Keberadaan rumah pohonku sangat rahasia. Aku takut ada yang mengikuti kita. Jadi aku harus hati-hati"


Aku dan Diana mengangguk patuh.


Pembicaraan kita sudah selesai. Hanya sesingkat ini karena kita tidak mempunyai hal lainnya untuk dibicarakan. Ren pun sudah mau kembali ke tempat nya.


Tapi sebelum kembali, Ren menuju ke kereta bayi. Kemudian, dia menyentuh kening Evan dengan jarinya.


"Apa yang kau lakukan?" aku bertanya.


Ren tersenyum. "Aku hanya menghilangkan aura gelap yang mengelilingi bayinya. Sangat berbahaya kalau ada yang mendeteksinya"


Diana langsung terkesiap.


"Terima kasih Ren~" katanya sungguh-sungguh.


"Aku juga memberinya satu berkat. Aku memberinya sihir pelindung. Setidaknya itu bisa digunakan satu kali saat nyawanya dalam bahaya" Itu adalah perkataan terakhir Ren. "Sampai jumpa nanti" dan pria itu langsung menghilang di tempat.


Tak lama kemudian, setelah Ren menghilang, Duke masuk ke dalam kamar. Duke menatap Diana penuh arti, ingin meminta penjelasannya.


"Aku akan pergi tidur" kataku kemudian.


Diana mengecup keningku dengan lembut "Bermimpi indah sayang~" katanya.


Aku juga mengecup keningnya. "Ibu juga. Mimpi indah" lalu bergegas keluar ruangan.


Hanya ada Diana dan Duke, serta bayi Evan , yang tersisa di dalam ruangan.


"Ada apa dengan tatapan mu?" tanya Diana kesal.


"Tidak kah kau merasa bersalah atas apa yang kau lakukan hari ini? Apa yang kalian rencana kan? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Duke penuh selidik. Dia memang marah saat ini. Tapi dia berusaha bertanya pada Diana dengan nada lembut.


Haa ~Diana menyerah. Dia menarik Duke ke atas tempat tidur dan menceritakan semuanya. Dia bercerita tentang rencananya untuk menemui Emerta di kastil elf gelap.


"Tidak bisakah aku ikut?" Duke bertanya dengan wajah khawatir. Wilayah yang akan mereka kunjungi adalah wilayah berbahaya. Mau tidak mau Duke merasa khawatir dengan keselamatan istri dan anak-anaknya. Apalagi Evan kecil juga terlibat. Keselamatan nya yang paling rentan karena dia masih seorang bayi.


"Jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja" Diana menghibur nya.


"Tapi tetap saja" Duke langsung membantahnya. "Aku ingin ikut" katanya serius.


Diana memasang ekspresi ragu. "Bukannya aku tidak ingin mengajakmu. Hanya saja, ini semua keputusan Ren. Lingkaran sihir milik Ren adalah rahasia. Kalau Eva tidak membujuk nya, aku mungkin tidak akan bisa ikut bersama Evan" jelas Diana dengan nada sedih.


Duke merasa tidak nyaman. Lagipula kalau itu memang rahasia, dia tidak bisa memaksanya. Jadi Duke menyerah. Dia akan sebisa mungkin melindungi istri dan anak-anaknya. Dia akan memperbanyak jimat pelindung, artefak pelindung, dan juga ramuan penyembuh.


"Jangan terlalu cemas oke" Diana mencium bibir Duke dengan cepat. "Kami akan baik-baik saja...Enell..."

__ADS_1


Duke tersenyum "Sudah lama aku tidak mendengarmu memanggil ku dengan nama itu" dia membawa Diana kembali dalam pelukannya dan menciumnya dengan intens.


Note: Author juga ingin ceritanya cepat tamat supaya bisa fokus sama cerita lainnya. but..why its so hard ? 🙃 karena author ngga nulis pakai kerangka cerita, jadi ceritanya murni hanya dipikirkan saat nulis. Dan bahkan ngga tau endingnya nanti kayak gimana...


__ADS_2