
cerita sebelumnya:
Eva berhasil masuk ke 50 besar tanpa bertarung dengan siapa pun. Lalu dia berhasil lolos ke 25 besar. Dia juga berhasil lolos ke 10 besar. Saat itu lawannya adalah Louis, tapi dia bisa dengan mudah mengalahkannya.
Pertandingan untuk para sepuluh besar akan dilanjutkan besok.
***
Aku kembali ke asrama bersama Vivian setelah ujiannya berakhir. Kami benar-benar lelah. Tapi kami tidak beristirahat dan bermain sampai malam. Aku mengeluarkan bahan-bahan aneh yang kudapatkan dari petualangan ku dan kami mulai mencampurkan itu untuk membuat ramuan yang sangat aneh.
Vivian mencubit hidungnya. "Sangat bau" keluhnya.
"Aku yakin tidak akan yang mau meminumnya." Ramuan ini memiliki bau kotoran yang kuat. Sama sekali tidak cocok untuk diminum.
"Eva, kau simpan satu. Aku akan simpan satu. Akan kita gunakan pada musuh di Saat terdesak. Biarkan mereka rasakan bagaimana rasanya memakan kotoran" Vivian tersenyum licik.
Aku dengan patuh mengangguk dan menyimpan ramuan bau itu. Kami membuat ramuan itu dari tadi sore, tapi hanya bisa menghasilkan dua botol. Banyak sekali bahan yang terbuang karena ramuan gagal dibuat. Beberapa ramuan meledak dan sisanya terbakar saat hampir jadi.
Hari sudah tengah malam. Kami memutuskan untuk mematikan lampu dan beristirahat. Lagipula besok aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk ujian terakhir.
Aku pun menutup mataku dengan nyaman dan tertidur pulas.
Aku harusnya tertidur, tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi pada tubuhku. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Dan tiba-tiba tubuhku melayang begitu saja. Aku tidak jadi masuk ke dalam mimpi gara-gara gangguan itu.
"Ehhhhhh?!" aku berteriak kaget karena aku terbang dengan cepat, keluar lewat jendela kamarku, dalam posisi berbaring terlentang.
Aku ingin melarikan diri, tapi tubuhku seperti terikat oleh sesuatu. Aku bahkan tidak bisa berbicara atau bergerak. Aku menggunakan manaku, tapi manaku langsung terpental. Mana asing yang mengikatku dua kali lebih kuat, sehingga aku sama sekali tidak bisa melawannya.
Tidak mungkin bukan?
Akh diculik lagi? Lagi?
Sudah berapa kali aku diculik diam-diam?
Bukankah aku sama sekali tidak pernah membuat masalah akhir-akhir ini? Tapi kenapa ada orang yang ingin menculik ku?
Aku dengan pasrah terbang melewati ibukota. Aku terbang cukup tinggi karena aku bisa melihat pemandangan langit malam yang indah.
"Pemandangan yang indah..." aku mengerjap kagum. "Tapi nasibku setelah ini sama sekali tidak indah..." Wajahku langsung berubah cemberut. Aku sama sekali tidak punya ide siapa yang akan menculikku disaat-saat seperti ini. Tapi aku mempunyai perasaan dia bukan orang jahat. Semoga saja...
Aku terbang dengan cepat melintasi ibu kota. Lalu mulai memasuki hutan di pinggiran gerbang barat ibu kota.
Kemana orang ini akan membawaku?
Aku mengira akan di bawa lebih jauh lagi. Tapi aku mulai berhenti melayang saat sampai di pertengahan hutan barat. Lalu secara perlahan tubuhku mulai turun dengan sendirinya.
Ada sebuah pohon besar di tengah hutan. Dan ada rumah pohon dari kayu di atasnya. Tubuhku perlahan masuk ke dalam rumah pohon itu lalu terbaring di kasur rotan.
Saat aku sampai, sesuatu yang berkilauan lepas dari tubuhku. Seperti nya itu sihir. Lalu aku mulai bisa menggerakkan tubuhku lagi.
__ADS_1
Di rumah pohon yang kecil itu, ada sebuah meja teh kecil. Dan seseorang yang aku kenal duduk di sana sambil tersenyum.
"Guru Wilson?" aku mengerjap kaget.
Wilson bergerak untuk menuangkan sepoci minuman panas ke dalam gelas kecil. "Kemarilah. Hangatkan badanmu dulu. Kau akan sakit karena terkena angin malam" katanya perhatian.
"..."
Aku diam. Tapi aku menurut dan duduk berhadapan dengan nya di meja teh yang kecil itu.
"Minumlah"
Aku dengan patuh meminumnya. Dalam sekejap aku merasakan tubuhku menghangat. Ini sangat nyaman.
"Kau pasti bingung kenapa aku membawamu kemari bukan?"
"Ya" Spontan, aku bersikap sopan di depan Wilson. Pasalnya dia adalah guruku, jadi aku bersikap sopan padanya tanpa kusadari.
"Aku menyelidikimu" katanya santai.
Uhuk!
Aku tersedak.
Apa ada orang yang terang-terangan berkata bahwa dia menyelidiki seseorang? Bukankah dia terlalu berani?
"Lalu aku menemukan sesuatu yang menarik" dia melanjutkan. "Apa kau keturunan David?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Uhuk!
Bagaimana dia mengetahui hal itu? Aku bajkan baru mengetahui nya beberapa bulan yang lalu saat aku masuk ke dalam reruntuhan. Kalau aku tidak pergi ke sana, mungkin aku tidak akan mengetahui fakta mengejutkan itu.
"Jangan bertanya bagaimana aku mengetahuinya. Ini adalah rahasiaku, oke" katanya sambil berkedip.
Aku hampir tersedak lagi. Tapi aku menahannya kali ini.
"Lalu apa yang kau inginkan?" aku mengerutkan keningku penasaran.
Tatapan Wilson berubah menjadi menakutkan. Aura membunuh muncul dari tubuhnya. Aku langsung merinding ketakutan. Aku merasa dia adalah orang yang sama sekali tidak bisa kusentuh. Dari berbagai lawan yang sudah kuhadapi, dia adalah yang terkuat. Instingku berkata seperti itu.
Aku mungkin akan kehilangan nyawa hanya dengan satu serangan miliknya. Bahkan para jubah hitam yang mengejarku hanya kerikil kecil. Dean Wason juga bukan tandingan nya sama sekali
Aku sedikit panik. Apa orang ini menyimpan dendam pada David? Sehingga dia benar-benar mencari keturunan nya untuk membalas dendam? Bukankah itu tidak adil bagiku! Bagaimana mungkin aku bisa tahu kesalahan apa yang dilakukan oleh kakek dari kakekku! Sehingga aku harus menjadi perisai karena kesalahan mereka!
Aura membunuh Wilson perlahan mereda. Aku menghela napas lega. Kelihatannya dia tidak berniat membunuh ku. Syukurlah.
"Lalu apa yang kau inginkan?" aku bertanya pertanyaan yang sama lagi padanya.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil aneh. Lalu dia membuka kotak itu di hadapanku. Ada sebuah benda seperti jam antik di dalamnya. "Aku ingin darahmu"
__ADS_1
Sekali lagi aku merinding ketakutan karena perkataannya.
"Aku tidak bermaksud membunuhmu. Kenapa kau bergetar ketakutan seperti kelinci kecil?" dia tertawa. "Hanya setetes darah"
Aku mengangguk patuh. Aku menusuk jariku dan menuangkan setetes darah ke atas jam antik itu.
Jam antik itu tiba-tiba bersinar, lalu jarumnya bergerak ke angka 4.
Wilson mengernyit tidak senang. Aura membunuh nya muncul lagi
"Darahmu sama sekali tidak murni!" dia berteriak keras sampai membuat angin yang sangat keras.
BRUK!
Aku langsung terjatuh dan terseret oleh angin itu.
Belum sempat aku memperbaiki posisiku, Wilson tiba-tiba melesat ke arahku, mengunciku di dinding kayu dan mencekik leherku.
"Kau sama sekali tidak murni" dia menggertakan giginya. "Dimana keturunan David yang asli?" teriaknya.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Aku memang bukan keturunan asli David. Aku mewarisi nya dari ayah atau ibuku" sergahku langsung.
"Oh?" Wilson mengangkat alisnya. Dia merenggangkan cekikan tangannya di leherku. Lalu secara perlahan dia melepaskan tangannya.
Uhuk! Uhuk!
Aku terbatuk berusaha bernapas karena leherku benar-benar tercekat erat.
"Siapa keturunan David? Ayah atau ibumu?" dia bertanya.
Aku menatapnya dengan mata bingung. Aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu! Siapa yang mengira kalau aku adalah keturunan penyihir gelap? Semua itu berada di luar nalarku. Walaupun aku mengetahui isi novel itu, kisah ini benar-benar tersembunyi dan misterius.
"Siapa?!" dia mendesak sambil mendekatkan wajahnya. Mata kami bertatapan dengan intens.
"...."
Aku mengunci mulutku. Aku sama sekali tidak tahu! Bagaimana ini! Aku benar-benar panik sekarang.
Melihat Eva tidak menjawab, aura membunuhnya muncul lagi. "Haruskah aku bunuh saja semuanya?"
"Aku tidak tahu!" teriakku sambil mengepalkan tangan ku erat-erat. "Kedua orang tuaku menyembunyikan fakta bahwa mereka penyihir gelap. Aku benar-benar tidak tahu siapa keturunan David!"
Mendengar kata "membunuh" membuatku sangat geram. Apa keluarga kami memang mudah sekali dibunuh oleh seorang misterius yang datang tiba-tiba? Itu sama sekali tidak adil!
"..."
Wilson membisu. Seperti nya dia sedang berpikir. "Kalau kau tidak tahu apapun, sebaiknya kita memeriksa nya sendiri" katanya kemudian.
"Eh?"
__ADS_1
Sekali lagi aku diterbangkan ke langit dengan tiba-tiba.