
Setelah waktu istirahat, para prajurit itu berburu makanan. Aku tidak ikut karena aku sudah punya makanan. Hal itu memakan waktu yang cukup lama. Mereka semua selesai berburu saat sore menjelang malam. Jadi, setelah berburu tidak ada kegiatan lagi sampai malam. Para prajurit hanya ditugaskan berjaga secara bergantian. Dan aku kembali ke tenda untuk tidur.
Aku berbaring nyaman di kasur yang empuk sambil memegang boneka.
Dari mana aku mendapatkan boneka? Tentu saja dari dimensi penyimpanan.
Aku membeli boneka unik itu saat berbelanja di ibukota saat itu.
Kenapa aku bilang boneka itu unik?
Aku mengangkat bonekanya.
Tentu saja ini unik!
Boneka ini mirip zombiee!
Sebuah boneka yang dijahit tidak teratur. Kaki dan tangannya punya banyak jahitan. Matanya hanya satu, berupa kancing baju. Dan mulutnya terjahit tidak beraturan. Pakaiannya terkoyak sana-sini. Dan rambutnya keriting acak-acakan.
Ini benar-benaar mirip zombie.
Aku tidak tahu kalau ada zombie di tempat ini. Kurasa tidak ada ... mungkin
Karena itulah aku menganggap boneka ini unik dan membelinya!
"Kenapa kau mempunyai boneka vodoo?" suara yang familiar tiba-tiba terdengar.
Aku menoleh. Itu adalah Denis. Dia berdiri di depan tenda sambil memandangiku.
"Kau ingin mengutuk siapa?" tanyanya.
Aku menatap Denis kesal.
"Siapa yang ingin mengutuk seseorang! Dan juga ini bukan boneka vodoo, Ini zombie!" kataku bersikukuh sambil memeluk boneka itu.
Kalau aku ingin mengutuk orang, pasti aku akan mengutukmu!
"Zombie? Apa itu?" tanya Denis bingung..
"Percuma saja aku menjelaskannya kepada bocah bodoh sepertimu, huh!" kataku kesal sambil membalikkan tubuhku untuk tidur menyamping.
"Eva!" Denis berteriak.
Aku tidak mempedulikannya. Aku sudah tahu temperamennya. Dia akan selalu berteriak padaku kalau aku membantahnya. Benar-benar temperamen yang buruk ckck
"sudahlah" kata Denis menyerah. Dia berjalan maju.
"Kau geser" perintahnya langsung.
Aku membalikan tubuhku menghadapnya. "Apa maksudmu?"
"Aku juga ingin tidur. Bergeser!" katanya langsung.
"Kenapa kau tidur disini?!" tanyaku kaget.
Denis kesal. "Kenapa aku tidak boleh tidur ditendaku sendiri?" dia balik bertanya.
"Uhh..." aku tidak bisa menjawab. "Tapi biasanya kau tidak tidur disini. Kenapa tiba-tiba?"
"Jendral Lin kedatangan tamu. Jadi tenda cadangan dipakai" jawab Denis langsung.
"oh" Aku langsung menggeser tubuhku. "Bukankah kasurnya terlalu kecil? Tidak cukup untuk dua orang" kataku langsung. "Tidak bisakah kau tidur luar? Kau kan laki-laki" kataku langsung dengan ketus.
"Kau!!" dia berteriak lagi.
Aku langsung menutup kupingku,
__ADS_1
"Berani-beraninya kau menyuruhku tidur diluar! Berani-beraninya kau mengusirku dari tempatku sendiri! Kau benar-benar tidak tahu maluu!" kata Denis benci.
"Uhh...oke, kau bisa tidur disini"
"Aku tidak perlu izinmu untuk tidur disini" Denis langsung merebahkan dirinya di kasur. Tubuhnya lebih besar dariku, jadi sontak tubuhku yang kecil langsung tergeser ke tepi.
"Kau! merapat kesana. Aku hampir tidur di tanah" teriakku sambil bangkit berdiri.
Bocah ini benar-benar pembawa masalah.
Dia langsung mengacaukan zona nyamanku!
Benar-benar musuh terbesar seumur hidup!
Denis tidak peduli. Dia mulai memejamkan matanya "Kau tidur saja kalau ingin tidur. Kalau tidak ingin jangan ribut" jawabnya datar.
Uh! Mengesalkann!
Aku dengan pasrah berbaring di tepian. Hanya setengah tubuhku saja yang dikasur, sisanya di rerumputan. Saat tubuhku menyentuh rerumputan, Itu benar-benar dingin. Walaupun begini aku seorang bangsawan tahu, jadi saat tidur di tempat seperti ini, aku benar-benar tidak nyaman. Tapi setidaknnya masih lebih baik daripada harus tidur di luar tenda.
Denis membuka matanya. Dia melirik Eva yang bergerak tidak nyaman. Dia langsung mengulurkan tangannya dan membawa Eva dalam pelukannya.
"Kau?" Aku bergumam bingung.
"Diam saja oke. Aku tahu malam hari sangat dingin, jadi aku mentolerirmu." Jawab Denis sambil memejamkan matanya perlahan. "Tidurlah. Kau benar-benar kecil" katanya sambil membungkusku dalam pelukannya dengan erat.
"Aku akan menjadi besar nanti. Kau tidak akan bisa memperlakukanku seperti ini lagi huh!" jawabku ketus dan perlahan mulai memejamkan mataku.
***
Keesokan harinya. Aku terbangun dalam pelukan Denis. Tampaknya kali ini aku yang bangun lebih dulu. Aku melihat Denis, dia masih terpejam.
Woahh, aku benar-benar menganguminya saat ini. Aku tidak pernah melihatnya sedekat ini. Tapi bocah ini benar-benar tampan. Pengaturan protagonis novel itu tidak sia-sia. Aku ingin menyentuh bulu matanya, itu sangat cantik.
Aku langsung cepat-cepat berdiri. "Tidak apa-apa" kataku mengelak. "Tadi ada nyamuk di wajahmu"
Denis tidak bertanya lagi. Dia juga langsung bangun. Kami membersihkan diri dengan sihir dan melangkah keluar tenda bersamaan.
Saat kami keluar, aku melihat seluruh prajurit sudah berbaris rapi.
"Selamat pagi Yang mulia" sapa Jendral Lin.
Jendral Lin saat ini ada di depan barisan. Dan aku melihat sosok asing berdiri disampingya. Inikah tamu itu?
Seorang gadis?
Aku melihat seorang gadis kecil berambut pink dikuncir kuda. Wajahnya sangat tegas dan matanya tajam.
Oh aku ingat gadis ini.
Namanya adalah Adele Benhard, ksatria wanita termuda di kerajaan. Walaupun dia masih 14 tahun, dia sudah menjadi seorang komandan yang memiliki prajurit beberapa ratus orang.
Dia sangat berbakat. Semua orang tahu, perempuan yang berprofesi sebagai pendekar pedang sangat jarang. Dan Adelle adalah salah satu yang terhebat.
Terlebih lagi, Adelle merupakan saingan cinta Reina untuk memperebutkan putra mahkota.
Yah, kau tahu Denis memiliki banyak pengagum, dan Adelle adalah salah satunya. Dia mengagumi Denis yang hebat dan tidak setuju Denis bersama Reina.
Dia menganggap Reina terlalu lemah untuk mendukung Denis saat dia naik tahta. Adelle mungkin menyukai Denis, tapi dia tidak pernah berharap untuk merebut posisi ratu. Dia hanya berharapĀ untuk bisa melindunginya.
Karena itulah Adelle tidak mempunyai akhir yang tragis seperti Eva. Endingnya, Adelle menerima Reina karena luluh dengan kebaikan hatinya, dan mereka pun akhirnya berteman.
Benar-benar kisah yang indah.
Hanya aku yang mempunyai nasib buruk disini~
__ADS_1
"Selamat pagi yang mulia" Adelle juga menyusul untuk memberi hormat.
Denis langsung menghampiri mereka ke barisan depan. Aku berpisah dari Denis dan langsung berbaris ke belakang bersama para prajurit yang lain.
"Baiklah, kali ini kami sepakat untuk mengadakan kompetisi berburu" kata Jendral Lin.
Pengumuman itu membuat semua prajurit menjadi gaduh. Mereka saling berbicara satu sama lain dan membuat kebisingan.
"Diamlah!" teriak Jendral Lin.
Kerumunan itu langsung diam.
"Buatlah tim sebanyak empat orang. Lalu berburulah sampai sore. Pemenangnya dihitung berdasarkan hasil buruan" jelas Jendral Lin.
"Bagi tiga tim teratas mereka akan mendapatkan batu meditasi"
Pengumuman terakhir itu membuat suasana gaduh lagi.
Aku juga agak antusias.
Batu meditasi. Batu untuk meningkatkan kapasitas mana seseorang.
Seperti yang kita tahu kapasitas mana setiap orang berbeda. Semakin besar kapasitas mana, semakin banyak mana yang terkumpul, dan semakin kuat sihir yang dilontarkan.
Ini berbeda dengan tingkatkan mantra sihir.
Apabila orang pertama memiliki kapasitas mana level 6 dan mantar sihir level 1, lalu orang lainnya memiliki kapasitas mana level 4 dan mantra level 2, bertarung. Orang pertama tetap akan menang. Karena seberapa kuat pu mantra sihir, seseorang yang memiliki kapasitas mana lebih besar pasti akan menang.
Bisa dibilang itu salah satu kiteria untuk mengukur bakat seseorang. Kiteria ini dapat ditingkatkan dengan batu meditasi.
Batu itu sangat langka, kenapa bisa digunakan sebagai hadiah untuk kompetisi kecil seperti ini?
"Eva..Eva...Eva" aku mendengar seseorang berbisik memanggilku.
Aku menoleh ke arah sumber suara, itu Jensen. Dia berbaris di belakangku.
"Ada apa?" aku balas berbisik. "Mendekatlah" kataku sambil mengayunkan tangan.
Jensen langsung mencari barisan di dekatku. "Bisakah kita setim?" ajaknya.
"Oh? Untuk berburu?"
"Iya" jawabnya antusias.
"Oke" jawabku sambil tersenyum.
***
Denis saat ini berada di depan bersama dengan jendral Lin dan Adele. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Saat selesai berbicara, Denis mengamati kerumunan untuk mencari Eva. Dan dia menemukannya!
Saat ini dia melihat Eva sedang bercengkrama ria dengan seorang pria!
Denis menggertakan giginya kesal "Gadis itu....Benar-benar...."
"Aku hanya meninggalkannya sebentar dan dia sudah menggoda pria lain!" gerutunya ketus.
Adele yang sedari tadi mengamati Denis, melihat raut wajah Denis tampak tidak senang.
'Kelihatannya dia sedang melihat sesuatu' pikir Adele.
Lalu dia mengikuti pandangan Denis.
'Eh? Kenapa ada seorang gadis di kamp prajurit? Apalagi seorang gadis kecil?'
'Siapa gadis itu?'
__ADS_1