
Cerita sebelumnya:
Tahun ajaran baru akademi dimulai. Eva sudah menjadi murid tingkat dua sekarang. Saat pertama kali dia masuk, Denis tiba-tiba menghampirinya. Denis ingin Eva menggantikan dirinya sebagai ketua dewan sejak dia adalah wakil ketua.
Eva menyetujui nya. Dan dia harus menandatangani dokumen yang menumpuk karena Denis selalu sibuk dan jarang sekali datang ke akademi. Dia menemukan satu demi satu tugas yang harus ditangani oleh anggota dewan. Dia melakukan pekerjaan itu selama tujuh hari berturut-turut. Sampai akhirnya dia menemukan kasus yang cukup tidak terduga. Dokumen itu berkata ada penyihir gelap yang menyusup ke dalam akademi.
***
Aku menatap dokumen di depanku dengan dada berdebar. Aku tidak tahu mengapa, tapi entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman. Ada penyihir gelap yang menyusup, tidak mungkin yang dimaksud itu aku bukan?
Gulp!
Aku membuka dokumen itu secara perlahan untuk membaca kasusnya.
Ada beberapa kejadian secara acak sejak setahun yang lalu. Saksinya adalah para siswa. Kejadian yang mereka alami selalu sama. Awalnya mereka mengira bahwa seorang siswa perempuan yang berlatih di malam hari, jadi mereka mendekatinya.
Lalu mereka melihat bahwa siswa misterius itu mengeluarkan sebuah sihir gelap misterius. Mereka melihat semuanya dengan mata kepala mereka sendiri. Siswa perempuan itu bahkan sempat menatap mereka dan mereka melihat matanya. Itu adalah mata merah yang sangat mengerikan. Jadi mereka pun melarikan diri.
Rumor pun tersebar bahwa ada penyihir gelap yang berlatih di halaman mereka saat malam hari. Tempat itu menjadi terkenal dan setiap orang yang penasaran akan berkunjung ke sana. Tapi tidak pernah melihat penyihir gelap itu. Sehingga akhirnya rumor itu mereda.
Sampai akhirnya muncul rumor lainnya dari saksi mata lain di tempat yang berbeda. Hal itu terus terjadi. Setiap siswa terus melapor bahwa mereka melihat penyihir gelap yang sama di tempat yang berbeda di akademi. Jadi rumor bahwa seorang penyihir gelap memata-matai akademi mereka pun tersebar.
Aku mendesah lega setelah selesai membacanya. Ternyata itu bukan aku. Tidak ada seorang pun yang melihatku menggunakan sihir gelap. Ini sangat melegakan.
Tapi siswa perempuan ini membuatku merasa nostalgia. Kalau aku tidak salah, saat aku mengunjungi Kerajaan Kano bersama dengan siswa lainnya. Aku melihat seorang siswa perempuan dengan sihir gelap. Tapi aku sudah lupa namanya. Lagipula kelihatannya aku tidak pernah bertemu dengan nya saat di akademi, karena itu aku lupa.
Aku memanggil Sion untuk bertanya lebih jelas tentang kasus ini. Sion bahkan menatapku dengan serius dan berkata " kita akan menyerahkan kasusnya kepada pihak sekolah. Kalau itu benar-benar penyihir gelap. Akademi akan berada di dalam bahaya. Dan itu diluar kemampuan dewan juga karena status kita semua masihlah seorang siswa" dia berkata dengan bijaksana.
Penyihir gelap benar-benar tabu di kerajaan Well. Mereka diceritakan sebagai monster dalam dongeng untuk anak-anak. Jadi kalau ada anak yang tidak menurut, orang tua mereka akan berkata "aku akan memanggil penyihir gelap untukmu". Sehingga anak itu akan ketakutan dan menurut.
Jadi, akhirnya aku tetap mengesahkan berkas itu. Tapi kasus itu diluar tanggung jawab dewan sekolah. Kepala sekolah akan mengurusnya sendiri.
Tugasku sebagai pengganti pun selesai. Denis juga sudah kembali. Aku melihat wajahnya, seperti nya kondisinya kurang baik. Wajahnya pucat dan ada lingkaran hitam besar di matanya yang menggambarkan kalau dia kekurangan tidur.
"Kau baik-baik saja?" aku bertanya saat pria itu sudah kembali ke ruangan dewan.
Denis menatap ku sesaat. Tidak menjawab. "Apa Duke ada membicarakan sesuatu padamu?" tanya nya tiba-tiba.
__ADS_1
Aku memiringkan kepalaku bingung, tidak mengerti. "Apa maksudmu? Ayahku tidak membicarakan apapun padaku." jawabku. Dia bahkan belum kembali ke ibukota bersama Diana dan Evan.
"Tidak apa-apa" kata Denis lemah.
"Kau baik-baik saja?" aku akhirnya bertanya.
"Entahlah. Istana cukup kacau, akhir-akhir ini. Aku harus menangani kekacauan itu" jawab Denis.
Oh? Jadi dia kelelahan karena masalah istana. Lalu kenapa dia bertanya tentang Duke padaku? Aku curiga ini berhubungan dengan Duke.
"Apa faksi Court membuat masalah lagi?" aku bertanya to the point. Mengingat hanya faksi Court yang bisa membuat pihak kerajaan menjadi seperti ini.
Denis tersentak. Melihat dari wajah kagetnya, sepertinya dugaanku benar. Tapi Denis tetap bersikeras menolak. "Bukan karena itu" katanya. "Jangan khawatir. Semuanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Duke. Aku akan mengurusnya" kata Denis serius.
Aku tidak percaya. Tapi aku tetap mengangguk, berpura-pura percaya. Tidak mungkin faksi Court tidak akan terlibat dalam semua masalah istana ini.
Lalu aku teringat akan satu hal. Aku hampir saja melupakan nya! Berjualan!
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" kataku sambil mengeluarkan robot pembersih dari ruang dimensiku.
"Robot pembersih" aku menyalakan robot itu dan sang robot secara otomatis membersihkan sampah yang terdeteksi dengan gerakan yang sangat lucu.
"Robot ini sangat efisien karena bisa bertahan lebih lama. Kami menggunakan kristal sihir sebagai energi robot. Jadi robot ini bisa digunakan selama beberapa tahun. Kalau kau meletakkan nya di ibukota. Daerah ibukota akan kelihatan lebih bersih. Kau juga bisa meletakkan nya di istana" aku menjelaskan dengan antusias.
Denis kelihatannya tertarik. "Darimana kau mendapatkan itu?"
"itu R..." aku hampir saja mengatakan bahwa aku mendapat kannnya dari Ren dengan wajah bodoh. Kalau Denis tahu robot itu adalah ciptaan Ren, raja elf gelap, seratus persen dia tidak akan membelinya.
"Itu....aku dan temanku membuatnya" kataku canggung sambil tersenyum.
Denis tidak akan curiga bukan?
"Kalian membuatnya" Denis menatapku lekat-lekat. "Tapi kristal sihir ini sangat langka. Aku yakin harganya akan sangat mahal" katanya sedikit ragu. "Darimana kau mendapatkan banyak kristal sihir untuk membuat mainan itu?" dia menanyakan pertanyaan menjebak sekarang.
Aku memutar mataku, memikirkan alasan yang tepat. Lalu aku teringat dengan kota sihir. "Aku mendapat kan cukup banyak kristal dari Kota Sihir. Lalu aku menggunakannya untuk penelitian. Kemudian kami menggunakannya untuk penelitian dan menjual nya. Kami mendapat kan banyak kristal sihir lagi sebagai bayaran nya dari raja Vien. Kami menjualnya ke wilayah elf cahaya terlebih dahulu" aku menjelaskan dengan sangat percaya diri.
"Elf? Bagaimana bisa kau berkenalan dengan raja elf?" Denis bertanya.
__ADS_1
"Temanku adalah elf" kataku lagi. "Kami bertemu karena kejadian tidak terduga dan menjadi teman baik sekarang" tentu saja itu bohong. Tapi, kalaupun Denis ingin mengecek kebenarannya, dia tidak akan tahu kebohongan yang alu katakan. Karena elf cahaya benar-benar pelanggan pertama kami.
Denis terlihat tertarik. "Lalu dengan apa aku harus membeli nya? Apa mata uang manusia masih berguna untuk kalian?" Dia bertanya dengan nada tidak yakin. Denis tahu bahwa elf menganggap uang manusia sama sekali tidak penting. Karena mereka tidak bisa menggunakan benda itu di wilayah mereka.
"Aku sudah memikirkannya. Kau bisa menularkan apapun yang menurut mu berharga dari kerajaan Well. Teman ku akan menerima semuanya. Dia bukan orang yang pemilih"
"Karena kau juga tinggal di kerajaan ini, bisakah kau memikirkan sesuatu juga?" Denis mengangkat alisnya.
Wajahku langsung berubah cemberut. Bukannya aku tidak mau, tapi di mataku tidak ada yang berharga di tempat ini. Tidak mungkin aku mengatakan hal seperti ini pada Denis bukan? Tapi aku tahu kalau keluarga kerajaan memiliki beberapa barang berharga di gudang mereka. Walaupun aku tidak tahu apa itu karena mereka menyembunyikan nya.
"Aku tidak tahu..." Kataku kemudian dengan nada sedih. "Orang tuaku membesarkan ku dengan barang-barang yang sangat umum. Aku tidak ingat barang berharga yang ada disini sama sekali"
Denis mengerutkan keningnya, berpikir selama beberapa detik. Lalu dia menjawab. "apakah kalian menerima alat sihir?"
"Tentu saja Yang Mulia!"
"Tapi aku perlu merundingkan ini dengan ayahku terlebih dahulu" kata Denis. "Aku akan mengabari mu nanti secepatnya"
"Tidak masalah" aku mengangguk setuju.
lalu kesepakatan antara kami pun terbentuk. Aku berhasil menjual robot ini ke kerajaan Well. Selanjutnya aku akan menawarkan nya ke kerajaan Kano. Atau mungkin aku juga harus membuka toko ya? Kelihatannya lebih efisien untuk membuka toko dan menyebarluaskan penjualan. Aku juga akan menjual robot jenis lainnya di toko itu.
Tapi aku belum yakin untuk melakukannya karena aku masih belum menemukan seseorang yang bisa menjaga tokonya untukku. Aku harus mencari orang terpecaya untuk itu.
Setelah itu, aku berpamitan pulang. Denis menawarkan diri untuk mengantarku. Tapi aku langsung menolak nya.
"Aku akan kembali ke asrama yang hanya berjarak beberapa kaki dari sini. Tidak perlu untuk mengantar ku" Jangan lakukan itu di akademi, karena aku yakin kita akan menjadi tontonan semua orang.
"Baiklah..." Denis menjawab pasrah.
Aku pun kembali ke asrama sendiri. Di sana, aku bisa melihat Vivian sangat sibuk dengan bukunya lagi. Tapi itu bukan buku sihir. Itu adalah buku kas restauran miliknya. Restauran itu sudah buka selama lebih dari seminggu. Dan sudah mendapatkan banyak sekali pelanggan tetap sekarang.
Saat melihat penampilan Vivian yang seperti itu, aku jadi teringat sesuatu. Mungkin aku bisa menyerahkan toko penjualan robot itu padanya. Kelihatannya gadis itu benar-benar berbakat dalam hal-hal seperti ini. Ada jiwa pendagang dalam dirinya!
Aku pun mulai mendiskusikan hal itu dengan Vivian. Aku mengeluarkan beberapa penemuan yang sudah dibuat oleh Ren. Saat melihat semua itu, mata Vivian langsung berbinar. Dia sangat tertarik untuk membantu. Jadi, aku langsung menyerahkan pembukaan toko itu padanya.
Keesokan harinya, kebetulan sekali aku melihat Sayn dan Robert di akademi. Jadi aku ingin menawarkan robot ini kepada mereka semua.
__ADS_1