
Cerita sebelumnya:
Eva berangkat ke akademi lebih awal. Tapi suasana di akademi sudah sangat ramai. Dia bahkan menjadi pusat perhatian saat masuk ke dalam aula pertandingan.
Saat dia menuju kursi seratus peringkat umum, dia juga menjadi perhatian para senior yang membuat nya tidak nyaman. Bahkan senior dari peringkat empat itu menatap nya dengan tatapan menjijikan.
***
Aku datang satu jam lebih awal. Sekarang hanya tersisa tiga puluh menit lagi sebelum ujian pertandingan di mulai.
Aku menghabiskan waktuku mengamati sekeliling dan berusaha mengabaikan tatapan-tatapan yang diarahkan padaku.
Tapi hal ini cukup membosankan. Aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya melihat kerumunan manusia berlalu lalang selama setengah jam.
Akhirnya tiga puluh menit yang membosankan itu berlalu. Ujian pertandingan sebentar lagi dimulai. Aku bisa melihat para senior mulai berkerumun di lapangan pertandingan. Bahkan guru yang selalu bertindak sebagai wasit sudah bersiap-siap untuk mengumumkan bahwa ujian akan dimulai.
Perhatian semua orang sudah tertuju ke tengah-tengah lapangan, tempat di mana para peserta berada.
Tapi tiba-tiba pintu depan aula terbuka. Dan dua sosok asing mulai melangkah masuk.
Perhatian semua orang langsung teralihkan. Baik itu penonton dan peserta. Aku juga secara refleks melihat ke arah pintu depan.
Eh? Itu Denis!
__ADS_1
Ya, Denis mulai memasuki aula dan menjadi pusat perhatian semua orang. Saat ini dia mengenakan seragam akademi yang berbeda dari biasanya. Seperti nya itu seragam modifikasi. Di belakangnya, aku melihat Jensen mengikutinya dengan tubuh tegap.
Jujur saja dia terlihat tampan. Dengan seragam modifikasi nya, dia terlihat lebih mencolok dari semua murid akademi. Ini wajar karena Denis sudah lulus dari akademi ini beberapa saat yang lalu. Dia bukan lagi murid akademi. Aku tidak tahu alasan dia menghadiri ujian pertandingan yang tidak penting ini. Bukankah harusnya dia cukup sibuk?
Serta sudah lama sekali sejak aku terakhir kali melihat mereka. Terutama Jensen.
Aku terus mengamati mereka. Dan Denis juga menatap ke arahku, sehingga kami saling bertatapan. Aku tersentak sebentar, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ku ke depan.
Tapi, Eva tidak berharap bahwa Denis akan berjalan ke arahnya. Walaupun dia mempunyai firasat tentang itu saat tatapan mereka bertemu, tapi Eva berharap Denis tidak akan menemuinya dan membuat nya menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di aula.
Denis melangkah maju ke arah kursi seratus peringkat besar. Dan terus memfokuskan tatapannya pada Eva. Sementara Eva tetap membuang tatapannya ke depan, berharap Denis mengabaikannya.
Tapi itu tidak terjadi, Denis sudah berdiri di samping kirinya hanya dalam beberapa menit.
Aku langsung menoleh ke arahnya dengan wajah berkedut. "Saya baik-baik saja Yang Mulia" jawabku sopan sambil memberinya hormat.
Dalam sekejap kedua pasangan itu benar-benar menjadi pusat perhatian. Bahkan Jensen dan si peringkat empat, yang berada di dekat mereka, hanya menjadi latar belakang di mata orang lain.
Denis tersenyum. Dia tiba-tiba mengusap kepala Eva dengan lembut. "Itu bagus."
Aku membeku. Aku tidak mengerti tujuan Denis melakukan semua ini di depan umum!
Dia tiba-tiba datang dan bertanya tidak jelas tentang kabarku. Lalu dia tiba-tiba menunjukkan sikap lembut padaku di depan publik, seakan-akan kami adalah pasangan yang harmonis! Sangat tidak masuk akal! Ini bukan Denis yang kukenal. Apa yang direncanakan nya?
__ADS_1
Denis tidak mempedulikan wajah Eva yang memerah malu. Dia tersenyum puas sebelum kembali berjalan ke lantai atas, menuju kursinya. Lalu dia duduk dengan elegan sambil menyandarkan dagunya di atas telapak tangan kanannya yang bertopang pada sisi kursi.
Sementara Jensen berdiri di samping nya dengan tegap dan tanpa ekspresi. Membuat nya seperti sesosok raja yang sedang mengawasi para bawahannya.
Suasana sangat sunyi saat Denis mulai memasuki aula dan mulai menuju kursinya. Pria itu benar-benar menjadi pusat perhatian sekarang.
"Aku sangat iri padamu" suara itu tiba-tiba menyerang telingaku. Dan berasal dari senior wanita peringkat empat di samping ku.
Wajahku berkedut. Lalu aku hanya meresponnya dengan senyum kecil.
"Tapi aku tetap tidak setuju kau bersama Yang Mulia. Walaupun posisi bangsawan mu tinggi dan kau berbakat. Humph!" katanya kemudian sambil membuang tatapannya ke depan.
Apa? Ada apa dengan senior wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba memprovokasi ku seperti ini?
Haa...aku menghela napas pasrah. Sangat sulit sebenarnya menjadi tunangan Denis. Di masa lalu, Eva juga menghadapi hal seperti ini. Banyak wanita bangsawan yang memusuhinya.
Tapi karena Eva selalu menghukum orang-orang yang menghinanya, tentu saja dengan bantuan duke. Dia menghukum mereka dengan kejam. Sehingga tidak ada yang berani memprovokasi nya terang-terangan seperti ini. Walaupun beberapa dari mereka masih mencibirnya di belakang.
Aku rasa diriku yang sekarang belum bisa menjadi kejam seperti itu. Sehingga mereka melihat ku sebagai mangsa empuk untuk diprovokasi.
Disisi lainnya, Reina menatap semua kejadian dengan intens. Sebenarnya dia punya harapan kecil di hati nya saat Denis bergerak mendekati nya. Dia berpikir Denis berjalan ke arahnya. Sebelum akhirnya pria itu hanya melintasi kursinya tanpa menoleh ke belakang. Membuat nya menggertakan gigi kesal.
Walaupun begitu, dia tidak menyalahkan Denis. Tetapi menyalahkan Eva. Saat dia melihat kedua pasangan itu saling menyapa, dia membuat kepastian dalam hatinya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti. Yang Mulia masih belum tahu wajah sebenarnya dari wanita itu. Aku akan mengungkapkan semuanya. Dan lihat apakah kau masih bisa bertahan di kerajaan ini bersama keluarga mu..." pikiran Reina menjadi gelap.