Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 8 Lingkaran Sihir 2


__ADS_3

Denis berpisah dengan yang lainnya karena ledakan itu. Seluruh tubuhnya terluka dan dia hampir pingsan. Tapi dia merasakan cairan menyegarkan masuk ke dalam mulutnya. Seseorang meminumkan ramuan penyembuh untuknya.


Dia membuka matanya dan menemukan Vivian dengan wajah lusuh dan pakaian yang robek. Tetapi gadis itu tidak terluka terlalu parah. Hanya beberapa luka gores dan lebam di tubuhnya.


"Hati-hati Yang Mulia" Vivian membantunya bangkit.


"Terima kasih" Denis mengambil lima botol ramuan dalam ruang dimensi miliknya dan meminumnya sekaligus. Dia merasa lebih baik walaupun lukanya masih belum sembuh total.


Denis berdiri, dia ingin terbang dan mengamati situasinya. Tapi Vivian menghalanginya karena dia masih terluka.


"Yang mulia, tenanglah. Mereka semua baik-baik saja. Jangan terlalu panik. Sembuhkan dirimu terlebih dahulu"


Setelah berpikir cukup lama, Denis setuju. Dia beristirahat sebentar untuk memulihkan dirinya dengan ramuan yang tersisa. Vivian juga melakukan hal yang sama untuk memulihkan dirinya.


"Bagaimana dia?" tanya Denis tiba-tiba.


"Eh?" Vivian tersentak kaget. "Siapa?" dia mengernyitkan keningnya.


"Gadis itu" kata Denis lesu. Wajahnya terlihat sedih dan tatapan matanya kosong. Dia masih memiliki penyesalan mendalam tentang Eva.


"Dia baik-baik saja" jawab Vivian. "Anak itu sekarang menjadi maniak peneliti hal-hal aneh. Dan dia juga hidup dengan bahagia di Albion"


Vivian memberitahu Denis tentang Eva yang sama sekali tidak diketahui oleh publik. Dia memberitahu apa yang Eva lakukan selama ini. Dia menceritakan semuanya dengan antusias. Denis hanya tersenyum kecil saat mendengar ceritanya.


"Jadi Yang Mulia. Eva sama sekali tidak membencimu atau kerajaan Well. Jangan larut dalam penyesalan mendalam. Semuanya baik-baik saja. Dia mungkin merasa canggung saat itu dan bersembunyi. Tapi dia tidak membencimu" kata Vivian. "Kalau kau ingin kembali membangun hubungan baik dengannya, kau bisa melakukannya perlahan-lahan. Maksudku wanita akan takut kalau kau terlalu agresif"


"Bukan seperti itu" kata Denis langsung. "Tapi aku senang setelah mendengar semuanya. Terima kasih Vivian. Kau benar-benar dewasa, aku suka sifatmu"


"Tidak masalah Yang Mulia" Vivian menjawab dengan gugup sambil tersipu malu.


'Yang Mulia baru saja berkata suka padaku' hatinya memekik kegirangan.


***


Sementara Kelompok Sayn dan yang lainnya juga sudah tiba si tempat tujuan. Mereka juga menemukan lingkaran sihir itu di hutan yang aneh. Tetapi bukan hutan rindang yang diselubungi oleh kabut. Melainkan mereka menemukan lingkaran sihir itu berada di tengah danau raksasa. Dan sebuah pelindung tidak terlihat melindungi lingkaran sihir itu juga.


Xena dan Gord menggabungkan kekuatan mereka dan berhasil meruntuhkan pelindung sihir itu. Lalu Sayn dan penyihir lainnya bertugas untuk menghancurkan lingkaran sihir.


Saat mereka berhasil melenyapkan lingkaran sihir raksasa itu, sosok raksasa muncul dari dalam tanah. Membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Lalu kura-kura raksasa berwarna hijau menampakkan dirinya dan mulai menyerang mereka.


Kura-kura itu hampir sebesar naga. Mengejar mereka dengan kaki besarnya. Lalu mulai berguling dengan cangkang besarnya. Dua orang penyihir, sekutu Sayn terluka karena serangan tiba-tiba dari kura-kura itu.

__ADS_1


"Kembali!" Sayn berteriak ke arah mereka.


Keduanya mengerti dan akhirnya menggunakan alat sihir mereka untuk berteleportasi. Mereka menghilang sebelum binatang sihir itu berhasil menginjak mereka.


Xena, Gord, Sayn dan Ricko bekerja sama untuk melawan kura-kura itu. Sihir tingkat tinggi dikeluarkan bertubi-tubi. Tetapi serangan mereka tidak mempan sama sekali. Saat kura-kura itu bersembunyi dalam cangkangnya, serangan mereka tidak berefek apapun. Cangkang itu sangat keras.


"Kita butuh prajurit sihir dan pedang" kata Xena sambil menatap semua orang.


Lalu tatapan mereka mengarah ke Lilac, satu-satunya prajurit sihir yang mereka punya.


"Dia masih amatir" tanpa sengaja Gord langsung mengeluarkan pendapat sarkasmenya.


Lilac yang mendengarnya langsung merasa sedih. Dia benar-benar merasa sedih dan kesal karena harga dirinya diinjak-injak.


"Kita bisa membantunya. Seharusnya kita saling mendukung sekarang, jangan saling menjatuhkan" Sayn menatap tajam Gord.


Gord menjadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya.


"Ayo" Xena berkata dengan nada serius. "Nak, kami akan memancingnya. Saat dia mulai keluar dari cangkangnya, serang tubuhnya dengan kekuatan terkuatmu"


Lilac mengangguk.


"Sekarang!"


Lilac mengerahkan seluruh mananya. Dia membuat pedang api raksasa dalam sekejap. Lalu dia berlari menuju ke arah leher kura-kura itu dan menebasnya.


Teriakan kesakitan dari kura-kura itu bergema di seluruh hutan. Lalu dia berguling-guling di tanah, menyebabkan tanah bergetar lagi.


Semua orang berpikir mereka berhasil. Tapi kura-kura itu bangkit dengan luka gores kecil di lehernya. Dia menatap semua mahluk kecil di depannya dengan mata merah darah, kemarahannya memuncak.


Kura-kura itu masuk ke dalam cangkangnya lagi. Lalu cangkang raksasa itu berputar seperti gasing dan mulai menyerang ke arah musuh. Seperti bola boling yang siap menghancurkan pion-pion di depan matanya.


Para penyihir, memiliki fisik yang sangat lemah dan bertahan semampu mereka. Sehingga tubuh mereka menjadi penuh luka karena tidak sempat menghindar.


"Kita harus mundur" kata Gord.


"Tidak bisa. Kau ingin membuat monster berkeliaran dan menyerang orang lain? Kita harus memusnahkannya" kata Sayn tidak setuju.


Saat mereka sibuk berdebat, tiba-tiba tebasan angin yang kuat menyerang ke arah kura-kura itu. Kura-kura itu langsung terpelanting dan momentumnya langsung berhenti.


"Emerta" Xena berseru bahagia melihat sahabat baiknya itu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa bisa ada benda seperti itu?" tanya Emerta polos.


Dia menjentikkan jarinya dan binatang sihir itu terpelanting. Lalu binatang sihir itu keluar dari cangkangnya dan menatap Emerta dengan ganas.


"Bantu aku" Emerta maju ke depan. Semua orang mengikutinya. "Keluarkan semua sihir kalian dan tahan dia" semua orang mengikuti intruksinya.


Kura-kura itu bertahan dari semua orang sehingga fokusnya ke Emerta menjadi berkurang. Emerta tersenyum. Dia menjentikkan jarinya. Tebasan angin yang kuat mengenai leher kura-kura itu dan membuatnya terbelah dalam sekejap.


Semua orang terdiam. Sihir apa itu? Mereka kaget. Mereka tahu bahwa itu adalah sihir angin. Tapi bagaimana membuat sihir angin menjadi pisau yang sangat tajam seperti itu? Walaupun mereka merasa penasaran, mereka tidak berani bertanya pada Emerta untuk berbagi tentang sihir itu.


Xena menghampiri Emerta dan memujinya. Gord juga memujinya tapi dengan tatapan yang berbeda. Sejak pertama kali melihat Emerta, Gord jatuh cinta. Tapi tentu saja dia menyembunyikannya walaupun semua orang tahu itu karena sikapnya yang berlebihan. Terutama Ricko yang selalu mengejeknya.


Semua orang meninggalkan tempat itu. Saat Sayn ingin pergi, dia bisa melihat Lilac berjalan sendirian sambil menundukkan kepalanya.


"Kerja bagus" Sayn menepuk bahunya, berusaha memberinya semangat.


"Terima kasih Yang Mulia. Tapi aku sama sekali tidak berguna." Lilac tersenyum pahit. "Aku mengacaukan semuanya"


"Itu bukan salahmu" kata Sayn kemudian.


Hening sejenak sampai akhirnya Lilac membuka mulutnya. "Yang Mulia..."


"Iya?"


"Bagaimana kabar Eva?" katanya lirih.


Mata Sayn membelalak kaget. "Bukankah kau teman baiknya? Kenapa bertanya padaku?"


Lilac menatap Sayn dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia menceritakan semuanya. Bagaimana dia tidak mempercayai Eva dan hubungan mereka menjadi orang asing sekarang.


"Dia baik-baik saja" Sayn menceritakan yang dia tahu tentang gadis itu. Terutama aktivitasnya membuat golem.


"Aku ingin berteman kembali dengannya. Tapi aku takut dia membenciku..." kata Vivian sedih. Lalu dia mulai menangis. "Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak membantunya hari itu"


"Jangan menangis. Tidak apa-apa" Sayn mengusap kepala Lilac seakan-akan dia adalah anak kecil. "Dia tidak membencimu. Aku yakin dia akan sangat senang kalau kau menghubunginya sekarang."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Terima kasih Yang Mulia. Aku akan mencobanya kembali"

__ADS_1


__ADS_2