
Cerita sebelumnya:
Eva berhasil memenangkan pertandingan dan membuat semua orang yang berada di arena itu tercengang. Wasit mengumumkan hasil pertandingan dan ujian kenaikan tingkat pun berakhir.
***
Ujian kenaikan tingkat ini berakhir. Setelah mengkonfirmasi kemenangan ku, aku kembali menuju kursiku. Kita perlu menunggu pengumuman dari kepala sekolah, untuk menutup ujian pertandingan ini.
Saat aku duduk di sampingku, aku menatap pria peringkat sembilan yang selalu mencari masalah denganku itu. Aku sudah memperingati nya sebelumnya dengan melempar senjata sihirku ke arahnya. Aku tidak tahu dia mengerti peringatan ku atau tidak. Tapi saat aku berusaha menatapnya, pria itu langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Seakan-akan dia menghindariku. Aku tidak peduli kalau dia menghindari ku sekarang. Aku akan membiarkannya dulu dan berurusan dengannya nanti.
Kepala sekolah pun muncul tiba-tiba di tengah arena yang rusak parah itu. Saat wanita tua itu melihat seluruh arena, dia hanya bisa menggeleng lemah. Dia bersyukur ini terjadi di pertandingan terakhir. Jadi mereka tidak perlu menunda ujian karena harus memperbaiki arena.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Ujian peringkat untuk tingkat satu berakhir sekarang" dia mengumumkan. Ujian peringkat untuk tingkat satu memang berakhir. Tapi ujian untuk tingkat dua dan tingkat tiga sama sekali belum berakhir. Ujian kenaikan tingkat dilaksanakan secara berurutan. Besok adalah ujian untuk murid tingkat dua. Lalu ujian kelulusan untuk murid tingkat tiga dilaksanakan di hari terakhir.
Kepala sekolah menatap ke sepuluh anak baru terbaik itu. "Tahun ini semua anak baru berhasil menempati posisi seratus besar. Kerja bagus. Kerja bagus." dia memuji. "Kalian bisa turun sekarang. Aku akan mengganti lencana kalian dengan lencana baru".
Sepuluh besar murid tingkat satu itu turun secara perlahan ke tengah arena. Lalu mereka mulai berbaris dengan rapi.
Kepala sekolah mengganti lencana di baju mereka secara satu per satu diiringi dengan suara tepuk tangan.
Dulunya, mereka masih menggunakan lencana perak. Tapi sekarang lencana mereka berubah menjadi emas. Lencana ini menunjukkan bahwa mereka sudah menjadi murid senior tingkat dua. Sementara peringkat mereka tidak akan ditunjukkan secara nyata tetapi informasi itu tercatat di buku catatan siswa milik mereka.
Setelah pertandingan berakhir, semua murid pun bubar, baik itu peserta dan juga penonton. Mereka semua berhamburan keluar arena. Lebih tepatnya mereka diusir dengan cepat, karena pihak akademi ingin memperbaiki arena secepat mungkin.
Saat kami mulai dibubarkan dan berhamburan keluar arena, aku langsung mencari pria peringkat sembilan yang menyebalkan itu.
"?"
Tapi siapa yang mengira bahwa aku tidak perlu mencarinya. Pria itu berdiri di pinggiran halaman yang tidak jauh dari aula pertandingan, seakan-akan menunggu seseorang.
Aku mengernyit kan kening bingung. "Tidak mungkin dia menunggu ku kan?"
Aku pun menghampirinya dan dia menatapku dengan tajam. Cih! Apa peringatan itu sama sekali tidak menakutinya? Apa itu kurang? Aku mungkin tidak bisa membunuh di akademi. Tapi aku bisa membuat musuhku menjadi cacat, kau tahu!
"Kau....!"
Aku bersiap untuk mengoceh tapi tiba-tiba BAM! Pria itu langsung bersujud di depan kakiku
"?!" aku melonggo bingung dan tidak bisa berkata-kata.
"Maafkan aku!" katanya cepat. "Aku benar-benar bersalah karena sudah menghinamu padahal kita tidak saling kenal. Ini salahku yang memulai konflik ini duluan. Jangan pukul aku! Maafkan aku." katanya.
Kelihatannya dia benar-benar memohon sekarang, bahkan hampir menangis.
__ADS_1
Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Karena tempat ini masih tempat publik, orang-orang yang berlalu lalang menatapku dengan tatapan aneh seakan-akan aku melakukan pembulian terang-terangan di lingkungan sekolah. Seakan-akan aku adalah orang jahat disini. "Hei, bangunlah! Jangan bersikap seperti itu di tempat ini" kataku panik.
"Tidak. aku tidak akan bangun sampai kau memaafkanku" katanya tegas.
"Baiklah, aku memaafkanmu!" kataku langsung.
Pria itu langsung beranjak bangun dan membuat ku merasa lega. Tapi masalah tidak hanya berhenti sampai disitu.
Tiba-tiba sosok yang familiar muncul dengan cepat diantara kami. Dia merentangkan tangannya untuk melindungi pria yang sedang bersujud itu, lalu menatapku dengan tatapan intens. Dia adalah si menyebalkan Reina.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau membuli seseorang di sekolah. Itu bukan sikap yang baik! Kau tidak boleh menyalahgunakan kekuatan dan kekuasaanmu pada orang yang lemah!" teriakannya penuh dengan keadilan. Dan tanpa sadar teriakan Reina menarik perhatian semua orang yang berlalu-lalang. Dan kami pun dikelilingi orang-orang yang ingin menonton kejadian ini karena penasaran.
"Apa maksudmu?" aku mengernyit tidak senang. Aku tidak tahu keberuntungan apa yang menyertai gadis bodoh dan menyebalkan ini. Dia selalu bisa menjadikanku sebagai orang jahat saat dia membuka mulutnya.
"Aku tahu kau kuat. Semua orang yang menonton pertandingan itu tahu. Aku juga mungkin tidak bisa mengalahkanmu. Tapi kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk menyiksa orang lain" katanya Heroik.
Hei!
Aku bahkan belum menyiksanya. Aku ingin mengomelinya dulu baru menyiksanya. Bahkan sebelum aku mulai mengoceh, dia sudah bersujud minta maaf padaku. Aku sama sekali tidak menyiksanya! Bagaimana dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu seakan-akan aku yang jahat disini?
"Aku tidak menyiksanya. Aku bahkan belum menyentuhnya. Jangan membuat rumor aneh tentangku!" kataku protes.
Semua orang yang menonton menatap pertengkaran itu dengan antusias. Mereka sangat tertarik dengan pertengkaran para gadis ini. Terlebih lagi dua orang ini bukan gadis biasa. Sehingga mereka bisa mendapatkan gosip yang sangat menakjubkan kalau menonton sampai akhir.
Aku menggertakan gigiku kesal. aku ingin memukulnya sekarang. Tapi aku bisa melihat semua orang mengarahkan tatapan mereka padaku. Kalau aku memukulnya sekarang, aku benar-benar tidak bisa membersihkan namaku. Aku hanya akan kembali ke pola awal karena semua orang mengira aku membuli Reina dan teman-temannya. Lalu mereka akan menganggapku sebagai gadis jahat kembali.
Aku sangat bingung sekarang. Walaupun aku mengatakan aku tidak membulinya, tidak ada yang percaya padaku. Karena pria itu memang bersujud dan memohon maaf padaku.
Kenapa jadi seperti ini?
TAP! Pria yang bersujud itu tiba-tiba berdiri dan memegang bahu Reina.
Reina tersentak dan menoleh dengan senyum manisnya. "Apa kau tidak apa-apa?"
"..."
Pria itu menundukkan kepalanya tidak menjawab.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan melindungi mu! Aku tidak akan membiarkan dia menyiksamu!" kata Reina percaya diri.
Tangan pria itu bergetar. Dan PLAK! Dia mengarahkan tamparan pada Reina.
Reina yang terkena tamparan langsung jatuh ke samping. Dia menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
Pria itu balas menatapnya dengan mata zombie. Pasalnya Dia ketakutan sekarang. Awalnya dia hanya ingin meminta maaf sehingga Eva tidak akan memburunya lagi. Tapi orang ini tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya! Dia hampir gila! Gadis ini bahkan mengatakan beberapa kata lelucon yang dapat membuat seseorang salah paham.
Walaupun Reina berkata dia akan melindungi nya. Dia tidak percaya hal itu. Siapa yang bisa melindungi nya dari monster seperti Eva. Dia hanya akan mati dengan mengenaskan! Reina memang populer tapi dia tidak akan bisa melindungi nya. Kalau suatu hari nanti dia berada dalam bahaya karena melindunginya, dia pasti akan meninggalkan nya di belakang. Tidak ada yang namanya orang baik seperti itu.
Dia mengingat-ingat kembali. Semuanya terjadi juga karena gadis ini. Kalau Reina tidak mengatakan banyak hal buruk tentang Eva, dia tidak akan berakhir menjadi musuhnya. Dan lebih lucunya lagi, semua hal buruk yang dibicarakan terbukti tidak benar sekarang.
Bukankah Reina menjelek-jelekkan Eva karena dia iri padanya. Ini hanyalah pertengkaran antara dua anak perempuan dan dia tidak mau terlibat di dalamnya.
Dia sudah bersusah payah memohon ampun. Tapi sekarang semuanya berantakan. Dia langsung bersujud lagi dan tiba-tiba memegang erat kaki Eva. "Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis itu!" Dia menunjuk Reina. "Dia yang tiba-tiba datang. Padahal aku sama sekali tidak akrab dengannya. Maafkan aku" dia merengek sambil memeluk kaki Eva dengan erat.
"...."
Eva dan para penonton membisu karena plot twist yang tiba-tiba ini.
Para penonton juga menatap Darn dengan pandangan jijik. Ini bukan pembulian sama sekali. Pria ini adalah tipe penguntit yang masokis. Mereka sudah biasa melihat orang seperti ini dimana pun. Para pria yang mengejar para gadis bangsawan, sampai rela disiksa oleh mereka. Bahkan kalau Eva memukulnya, mereka juga tidak akan peduli.
Dalam sekejap para penonton itu kehilangan minat mereka. Lingkaran manusia yang mengelilingi mereka pun hancur karena orang-orang itu mulai bubar.
Reina bangkit berdiri sambil menundukkan wajahnya. Pipinya cukup sakit tapi dia langsung menyembuhkannya dengan sihir cahaya. Gadis itu langsung berlari pergi tanpa mengatakan apapun.
Aku sama sekali tidak mengira bahwa kejadian nya akan seperti ini.
"Kumohon maafkan aku!" pria itu terus memeluk kakiku dan membuatku sedikit risih.
"Aku akan memaafkanmu. Jadi lepas" kataku dingin
"Benarkah?" pria itu menatapnya dengan mata berbinar. "Nona Eva, perkenalkan, namaku Darn. Bisakah aku menjadi pelayanmu? Tidak masalah kalau kau menggunakanku sebagai bantal pijakan atau apapun" katanya gila.
Dia terus memegang kakiku dan bergumam. "Kakimu sangat indah jadi tidak masalah"
"...."
Wajahku berkedut. Aku benar-benar kesal sekarang. Apa benar dia adalah tipe penguntit masokis yang dibicarakan orang-orang itu?
"Apa kau bisa terbang?"
Dia mengangguk cepat. "Aku bisa terbang dengan baik" katanya percaya diri.
Aku tidak bisa membendung rasa kesalku. Aku ingin menyingkirkan orang ini segera mungkin.
Jadi aku langsung menggerakkan kakiku ke depan sekuat tenaga. Membiarkan pria gila yang menggantung padaku itu terlepas dan terlempar.
Darn tidak menduga bahwa kekuatan Eva akan sekuat itu sehingga dia masih linglung. Dia terlempar jauh ke atas. Saat tersadar dia mulai teriak. Dan teriakannya cukup menggema di atas sana.
__ADS_1
"Ehhhhhhhhhhhh?!"