
Cerita sebelumnya:
Eva melihat masa lalu pasangan naga itu. Naga hitam dan naga emas itu ternyata pasangan yang hidup dengan sangat harmonis. Sampai akhirnya para manusia datang menyerang hutan mereka. Naga hitam itu murka dan mulai membalas para manusia itu. Walaupun akhirnya dia kalah saat berhadapan dengan para tetua manusia. Dan berakhir dengan melarikan diri dan menyembunyikan dirinya di dalam tanah.
Saat Eva menyelesaikan mimpinya, dia terbangun. Rexus sudah menunggunya dengan cemas. Karena takut Eva terluka karena racun itu untuk yang kedua kalinya, Rexus pun menghisap semua racun pada tulang raksasa. Setelah menghisap semuanya, secara perlahan retakan timbul pada cangkang telur miliknya.
***
KREK KREK KREK
Cangkang telur itu terus membentuk retakan-retakan. Sampai akhirnya itu menjadi hancur berantakan. Menampakan sesosok naga kecil yang menggemaskan.
Ukuran bayi Rexus benar-benar kecil bila dibandingkan dengan naga raksasa yang dilihatnya dalam mimpi. Rexus hanya sebesar telapak tangan kecil Eva. Dia memiliki sisik lembut berwarna hitam dengan list berwarna emas yang memanjang dari kepala hingga ujung ekornya. Dia juga memiliki dua tanduk kecil berwarna emas yang belum tumbuh, sehingga terlihat seperti bintilan kecil. Matanya besar dan terlihat sangat imut dengan bola mata emasnya. Kakinya kecil. Sayapnya juga sangat kecil, bahkan belum bisa digunakan untuk terbang.
Aku melihat Rexus di depanku. Apa bayi naga memang selalu terlihat seperti ini? Dia sama sekali tidak terlihat seperti naga...um...mungkin lebih mirip seperti kadal?
"Kau sangat kecil...apa kau kadal?" gumamku tanpa sadar.
Rexus mendengarnya. Wajahnya berbubah jelek.
"Aku bukan kadal!" teriaknya sambil berusaha mengeluarkan auman keras.
Tapi...itu bukan auman naga...Lebih seperti suara burung kecil yang sedang bernyanyi.
__ADS_1
"PI! PIIIIII! PIIIIIIIPIIIII!" Rexus mengaum dengan suara mencicit.
"Pft"
Eva tidak bisa menahan keimutan itu dan tanpa sadar dia tertawa. Membuat Rexus semakin murka. Tapi itu tidak membuatnya takut sama sekali karena auman kekanak-kanakan Rexus sangat lucu.
Emosi Rexus memuncak, dia bahkan menyemburkan api hitam dari mulutnya. Membuat Eva sedikit kaget.
"Puh! HAHAHAHAHA!"
Tapi Eva kembali tertawa terbahak-bahak saat dia tahu api yang dikeluarkan Rexus hanya seukuran api di lilin kecil.
Wajah Rexus memerah, dia tidak bisa menahan rasa malunya. Dia akhirnya menyerah.
"Berhenti teretawa manusia bodoh!" kata Rexus tidak senang dengan suara kecil.
Rexus berlari dengan kaki kecilnya lalu mengigit kristal itu dan menyerahkannya pada Eva.
"Ambil ini. Benda ini akan sangat berguna. Kau hanya perlu menggabungkannya dengan artefak milikmu. Maka artefak itu akan memiliki atribut dan semakin bertambah kuat" jelas Rexus kemudian.
Aku mengamati kristal hitam kecil yang sudah bepindah tangan padaku. Apa kristal ini benar-benar berguna? Tapi tidak ada yang tidak berguna kalau item ini dari naga. Pasti ini item yang sangat berharga! Sayangnya, aku tidak memiliki artefak yang bagus saat ini. Aku hanya membeli artefak secara acak di kota, dan mereka sama sekali bukan artefak langka. Akan sia-sia kalau aku menggabungkannya dengan kristal hitam ini. Jadi aku memutuskan untuk menyimpan kristal itu dalam ruang dimensi. Aku akan menggunakannya saat aku menemukan artefak yang tepat.
Rexus kecil terbang dengan sangat pelan dan duduk di kepalaku.
__ADS_1
"Eh? kau bisa terbang dengan sayap capung itu?" gumamku tanpa sadar.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Rexus. Dia mencangkar kepala Eva dengan cakar kecilnya. Sayangnya, itu sama sekali tidak memiliki efek. Hanya membuat Eva merasa geli karena benda kecil itu menggosok kepalanya.
"Oke, oke, aku minta maaf. Aku tidak akan mengatakanmu kadal lagi" kataku kemudian.
Eva tidak ingin binatang berbahaya ini marah padanya. Dia memang masih seukuran jagung sekarang. Tapi dia bisa menjadi monster saat dia tumbuh besar nanti. Bagaimana kalau monster ini membalas dendam padanya, aku sama sekali tidak bisa membayangkan masa depan yang buruk itu. Sudah mempunyai banyak nasib buruk karena dia adalah peran anatagonis saja sudah membuatnya pusing.
"tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin dirimu sangat unik Rexus" sahutku kemudian. "Kau memiliki corak!" kataku sedikit antusias. Aku pernah mendengar beberapa legenda. Naga hanya bisa memiliki satu warna dan satu kemampuan. Walaupun naga dengan jenis yang berbeda memiliki anak, anak mereka tetap akan mengikuti warna orang tua mereka, tergantung genetik yang dominan. Tapi Rexus mempunyai dua warna. Walaupun warna emasnya tidak mencolok, itu akan terlihat mencolok saat dia bertambah besar. Terutama tanduk emas itu. Dan lebih penting lagi, Rexus mempunyai dua kemampuan saat ini!
"Apa kau sudah mengetahui kekuatanmu?" tanyaku kemudian karena penasaran. Aku tahu kekuatan utama naga hitam adalah racun. Tapi aku tidak tahu kekuatan utama naga emas. Berdasarkan masa lalu yang kulihat naga emas itu menggunakan beberapa sihir dan menyemburkan api emas juga. Tapi aku sama sekali tidak tahu kemampuan spesifiknya.
"Kemampuanku..." gumam Rexus dengan wajah bingung.
Aku mengangguk antusias "Ya, ya. Sihir apa yang bisa kau gunakan? Dan api hitam kecil tadi. Apa itu api beracun?" tanyaku dengan mata berbinar.
"Umm...Kemampuanku....makan?" jawab Rexus kemudian dan hampir membuat Eva jatuh terpingkal.
Aku mulai kesal. Apa maksudnya kemmapuannya adalah "makan"? Aku tahu kadal kecil ini sangat rakus dan dia bisa memakan semua hal. Tapi apa itu termasuk kemampuan?
Aku menarik Rexus dari kepalaku dan mulai membawanya di pelukanku.
"Apa kau bercanda padaku kadal kecil!" kataku kesal sambil menguleni Rezus dengan kedua tanganku.
__ADS_1
"A...apa yang kau lakukan? Dasar tidak sopan! Aku ini naga yang perkasa! Bukan kadal! Dan berhenti menindihku dengan kedua tanganmu!" protes Rexus.
Tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Aku tetap menguleninya di dalam pelukan karena sangat kesal. Ya, aku benar-benar kesal. Tapi aku juga sangat antusias karena Rexus sangat imut. Benar-benar imut. Ini mengingatkanku saat aku menguleni kucing di bumi karena keimutan mereka. Aku juga memiliki keinginan terdalam. Aku ingin menguleni dewa kucing sialan itu! Bahkan kalau bisa aku ingin merobek tubuhnya menjadi dua bagian. Cih!