
Cerita sebelumnya:
Ren menunjukkan penemuan barunya pada Eva. Itu adalah alat sihir yang berbentuk pistol.
Eva dengan antusias menerima alat sihir itu dan mencobanya. Dan hasilnya sangat menganggumkan. Eva sangat menyukainya. Lalu ternyata Ren memberikan Pistol sihir itu padanya. Sehingga membuat nya semakin berbunga-bunga.
Tapi Ren mengatakan bahwa itu hanya percobaan pertama dan mempunyai banyak kekurangan. Karena itu dia menggunakan Eva untuk mengetes semua kekurangan nya. Mendengar hal itu, wajah Eva langsung berubah cemberut dalam seketika.
***
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu" aku mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin memperpanjang topik tentang manusia percobaan ini.
"Apa?" Ren berkata dengan santai, sambil memainkan jarinya.
"Apa aku bisa menemui nenekku, Emerta?" tanyaku penuh harap. Aku ingin kembali ke tujuan awalku, yaitu menanyakan keberadaan nenekku.
Ren mengernyitkan keningnya bingung. "Apa
urusan nenekmu dengan ku?" tanyanya.
Aku merenggut kesal. Apa dia ingin bermain-main denganku lagi? "Berhenti bermain-main. Aku serius sekarang" kataku kesal.
"Tapi aku benar-benar tidak mengenal nenekmu"
"Eh?"
__ADS_1
Melihat ekspresi Ren, seperti nya dia serius. Tapi itu tidak mungkin. Diana sudah menceritakan semuanya padaku. Emerta menetap di kastil miliknya sekarang karena sebuah penelitian. Aku juga penasaran, penelitian apa yang Emerta lakukan hingga di mengurung dirinya di dalam lab selama bertahun-tahun. Tapi Ren berkata dia tidak mengenalnya? Apa yanb terjadi?
"Tapi ibuku sudah menjelaskan semuanya. Kau ada raja elf gelap. Lalu kau memanggil nenekku Emerta, agatt dia membantu penelitian mu. Kau tidak ingat itu?" aku berusaha memastikan lagi.
Tapi, aku malah mendapat tatapan yang sangat tajam dari Ren.
Ren tersentak saat kata " Raja elf gelap " keluar dari mulut Eva. Dia langsung berdiri dan menghampiri gadis itu tanpa berkedip dengan ekspresi yang sangat serius.
Aku melihat Ren menghampiri ku dengan aura yang sangat dingin. Aku langsung ketakutan tanpa sadar. Dan menundukkan kepalaku dalam-dalam.
Apa aku salah bicara? Apanya yang salah? Kenapa dia marah?
Ren tiba-tiba memegang daguku dan mengangkat wajahku. Mata kami pun bertatapan. "Darimana kau dengar semua informasi itu?" katanya dingin.
"Ibuku..." jawabku gugup.
Dia tidak mungkin membunuhku kan?
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Harusnya aku tidak terang-terangan mengatakan bahwa aku mengetahui identitas nya. Identitas Ren adalah informasi yang sangat krusial. Kalau orang-orang di kerajaan ini mengetahui Raja elf bersembunyi dan menyamar menjadi manusia. Hal itu akan membuat kegemparan yang sangat besar.
"Aku tidak mengenal ibumu" jawab Ren kemudian.
"Eh?" Rasa takutku sekejap menghilang. Aku menatap Ren dengan tatapan aneh. Apa dia benar-benar tidak ingat tentang ibuku? Dia berbohong bukan? Bukankah dia sangat dekat dengan Diana di Masa lalu?
"Kau benar-benar tidak mengenali ibuku? Diana? Apa kau benar-benar tidak mengenali nya sama sekali? Itu tidak masuk akal!" aku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi padanya.
__ADS_1
Ren memutar matanya, berpikir. Dia pun mengernyitkan keningnya. Lalu matanya tiba-tiba melebar.
"Diana? Gadis kecil itu?"
"Ya, ya, ya" aku mengangguk antusias.
"Kau Putri nya?" kali ini dia mengerjap kaget.
"Kau sama sekali tidak tahu?" aku juga mengerjap kaget.
Siapa yang mengira dia sama sekali tidak mengenalku! Bukankah dia baru saja bertemu dengan ibuku baru-baru ini? Apa ibu dan nenekku benar-benar mudah dilupakan seperti itu?
Wajah Ren tiba-tiba berubah melankolis dan dia tersenyum sedih. "Aku tidak ingin melupakannya. Tapi aku bertemu terlalu banyak manusia selama ribuan tahun. Dan mereka meninggal dengan cepat. Jadi aku memutuskan untuk tidak terlalu mengenang mereka karena mereka akan menghilang suatu saat nanti. Aku bahkan tidak mengingat manusia yang ada di kastilku, para pelayan bahkan manusia yang ada di tempat ini" saat dia mengatakan nya, matanya terlihat sangat kesepian. "Tapi setidaknya aku mengingat sedikit kenangan kecil tentang Diana."
Ren memilikinya umur yang lebih panjang dari elf biasa. Dia sudah menemui banyak sekali manusia di dalam hidupnya. Tapi manusia itu berumur pendek. Mereka akan menua dan pergi dari dunia ini dengan cepat. Ren merasakan kesedihan yang amat sangat saat hal itu terjadi. Saat orang-orang yang penting baginya meninggalkan nya. Jadi dia membuat keputusan di dalam hatinya. Dia tidak akan mengingat mereka dan hanya menganggap mereka sebagai angin. Walaupun beberapa orang yang penting baginya masih meninggalkan sedikit kenangan di dalam hatinya. Tapi setidaknya itu hanya "sedikit". Sehingga kalau mereka menghilang suatu saat nanti. Dia tidak akan merasakan kesedihan yang menyesakkan itu.
Aku tanpa sadar melongo melihat tatapan mata Ren yang sangat kesepian. Refleks, aku mengangkat tangan kananku dan PUK, mulai mengelus kepalanya.
"Aku tahu kau sudah melalui banyak sekali kesulitan. Kau sudah bekerja keras. Jangan sedih" Aku tidak memikirkan apapun saat kata-kata ini keluar dari mulutku. Semuanya benar-benar refleks.
Mata Ren melebar. Dia menatap gadis kecil di depannya dengan tatapan terpesona. Lalu tanpa sadar dia tersenyum kecil dengan pipi memerah.
"Terima kasih..."
Suasana yang awalnya dingin tiba-tiba berubah menjadi sangat hangat.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian aku kembali tersadar. Aku cepat-cepat menarik tanganku kembali.
Apa yang sudah kulakukan? Bagaimana aku bisa bersikap tidak sopan dan menyentuh kepala orang tua seperti itu? Aku hanya berharap Ren benar-benar tidak menambah list kebencian nya padaku karena bersikap terlalu berani seperti itu, hiks...