
Cerita sebelumnya:
Para prajurit Duke menjadi pecah belah, terbagi menjadi dua sisi karena kasus ini. Dua jendral Duke memilih dua jalan hidup yang berbeda. Satunya memilih untuk bertarung bersama Duke sementara Jendral termuda memilih untuk meninggalkan Duke dan membela kerajaan mereka. Di sisi lain, Raja menemui Diana. Raja berniat untuk mengintrogasi wanita itu. Tapi Diana tetap menolak untuk mengakui dirinya sebagai mata-mata. Raja merasa lelah dan dia mulai menggunakan bayi Diana sebagai umpan.
***
Denis mengejar Sayn dengan mengikuti jejak sihir yang ditinggalkan oleh pria itu. Tapi sulit bagi Denis untuk mendeteksinya karena pria itu mempermainkannya dengan berpindah-pindah di banyak tempat hanya dalam semenit. Urat-urat kekesalan muncul di kepalanya, dia benar-benar kesal. Sampai akhirnya dia melintasi halaman belakang kerajaan dan melihat dua sosok tubuh manusia yang tergeletak di tanah.
Denis tersentak kaget dan menghampiri kedua sosok itu. Mereka adalah dua orang wanita dan Denis mengenal salah satu dari wanita itu. Itu adalah Vivian, putri dari Marquis Zent dan juga sahabatnya Eva. Denis sangat familiar dengan gadis ini karena Vivian selalu mengekor di dekat Eva. Sementara gadis lainnya, Denis tidak terlalu mengenalnya walaupun wajahnya terlihat sangat familiar. Denis tidak mengenal Wiya, pelayan dari rumah Duke walaupun dia sudah mengunjungi kediaman Duke beberapa kali.
Denis memeriksa kondisi Vivian dan tersentak kaget lagi. "Dia hampir mati". Dia mengeluarkan ramuan penyembuh dan meminumkannya langsung ke bibir Vivian.
"Uhuk! Uhuk!" Vivian batuk darah.
Tapi kondisi tubuhnya yang pucat kembali normal. Luka di perutnya juga perlahan pulih. Tapi luka dalam di organnya perlu waktu yang cukup lama untuk pulih dan dia harus mendapatkan perawatan rutin.
Vivian mengira dia akan mati. Dia berharap bisa bertemu dengan ibunya kalau dia memang mati. Tapi secara perlahan dia membuka matanya dan dia melihat sosok pria di depannya. Tapi penglihatannya kabur sehingga dia tidak mengenali sosok itu. Dia hanya membuka matanya selama sedetik dan kembali pingsan.
Denis memeriksa sosok lainnya. Dan dia mendesah lega karena wanita itu hanya pingsan. Dia segera membawa mereka berdua ke klinik kerajaan untuk mendapatkan perawatan. Sebenarnya dia sedikit kesal karena misi pengejarannya terganggu karena hal ini. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan mereka dalam kondisi sekarat di tempat ini. Dan miungkin, kalau dia terlambat menemui mereka selama beberapa detik, Vivian tidak akan hidup karena lukanya benar-benar parah.
Denis tidak tahu kenapa mereka berdua bisa berakhir dalam kondisi seperti itu. Dia akan bertanya pada mereka saat kondisi kerajaan sudah kondusif. Saat ini kondisi kerajaan benar-benar kacau. Denis menggelengkan kepalanya, frustasi.
***
__ADS_1
Raja menatap Diana dengan mata menyipit. Dia benar-benar serius dengan ancamannya. Dan dia menatap Raja benci sambil menggertakkan giginya. Sekarang, dia benar-benar benci menjadi lemah. Dia benar-benar benci menjadi sangat lemah sejak dia lahir. Walaupun ibunya, suaminya dan putrinya sangat bisa diandalkan. Dan dia hanyalah beban bagi mereka.
Diana masih ingat, dia memohon pada Emerta dan juga Ren untuk mengajarkannya sihir. Tapi kedua orang itu menolak. Mereka berkata dia terlahir dengan kondisi tidak bisa belajar sihir. Semua karena kondisi fisiknya yang sangat lemah. Emerta berpikir bahwa ini adalah efek samping dari bayi yang lahir dari manusia buatan. Emerta juga merasa bersalah. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun tentang kondisi fisik Diana.
"Aku tidak akan bertanya lagi" Raja memecahkan lamunan Diana. "Ceritakan semua informasi yang kau tahu. Maka aku tidak akan menyentuh keluargamu.
Diana terkulai lemah. "Aku bukan mata-mata..." dia berkata dengan nada lemah. Lalu dia mulai mencertiakan masa lalunya. Bahwa ibunya seorang penyihir gelap dan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Enell. DIa juga bercerita bagaimana Enell membawanya dan menikahinya. Dia hanya menceritakan riwayat hidupnya, tapi dia tidak mengatakan apapun tentang Ren. Seakan-akan elf gelap itu hilang dari hidupnya.
BRAK! Raja berdiri dan menghantam kursi di dekatnya. "Cukup!" dia berteriak marah. "Apa menurutmu aku disini untuk mendengar cerita romantis?" Dia benar-benar kesal karena Diana masih berbohong padanya dan menceritakan cerita tidak berguna.
"Apa kau merekam perkataannya?" Raja melirik penyihir yang ada disampingnya. "Karena dia benar-benar tidak mau mengaku. Kita akan membawa bayi itu kesini dan besok kita akan menjalankan eksekusi publik"
"Raja..." penyihir itu ingin mengatakan sesuatu tapi Raja langsung memotongnya.
"Raja..." penyihr itu berkata lagi dengan suara mencicit.
Kali ini raja mendengarnya dan bergumam kesal "Apa?"
"Dia tidak berbohong..." kata penyihir itu kemudian.
"Hah?" Raja melonggo bingung.
Penyihir itu menunjukkan alat sihir yang ada di tangannya. Itu adalah alat sihir untuk mendeteksi kebohongan dan mereka selalu menggunakannya saat ingin mengintrogasi penjahat. Tapi, dari awal, alat ini sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun selama Diana berbicara. Yang berarti Diana sama sekali tidak berbohong.
__ADS_1
Mereka juga membawa alat itu saat mengintrogasi Duke. Tapi alat itu tjuga tidak bereaksi. Tapi Raja berasumsi alat itu tidak bereaksi karena Duke selalu mengelak untuk memberikan informasi. Dan Duke sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Alat ini sama sekali tidak bereaksi sama sekali. Wanita itu tidak berbohong" kata penyihir itu lagi. Penyihir itu ingin memberitahu Raja, tapi dia ketakutan melihat Raja semakin emosi. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mengatakannya.
Raja yang sudah emosi dan marah benar-benar lupa tentang alat sihir itu. Dia benar-benar tidak tahu mengapa dia merasa marah saat melihat Duke dan istrinya. Padahal biasanya dia selalu bisa menganalisis situasi dengan sangat rasional. Tapi entah kenapa sekarang logikanya benar-benar terbelakang.
"Apa kau mata-mata?" Raja bertanya lagi.
"Bukan" jawab Diana lemah.
Alat sihir itu tidak bereaksi. Raja linglung. Dia benar-benar bingung sekarang. Dia benar-benar tidak tahu mengapa dia kehilangan kerasionalannya.
"Tapi kau penyihir gelap..." raja bergumam.
"iya" jawab Diana. Dan alat sihir itu langsung bereaksi. Raja dan semua orang tersentak. "Tapi aku bukan mata-mata..." lanjut Diana.
Raja menatap Diana dan mengernyitkan keningnya. Kalau yang diceritakan Diana itu benar. Bahwa dia menikah dengan Duke hanya karena mereka saling jatuh cinta, bukankah dirinya benar-benar membuat kesalahan kali ini? Dia seharusnya memastikan bahwa mereka bukan mata-mata dari awal dengan alat sihir itu. Tapi kenapa dia terpengaruh asutan Marquis dan bertindak arogan seperti itu?
Raja merasa kepalanya pecah sekarang. Tapi Diana adalah penyihir gelap. Itu tidak masuk logikanya bahwa ada penyihir gelap yang baik. Mereka semua adalah iblis dan kriminal yang ingin menghancurkan dunia ini. Bahkan dewa mengkonfirmasi keberadaan mereka sebagai eksistensi jahat.
"Emmm, ini.." Raja ingin mengatakan sesuatu pada Diana tapi tiba-tiba, BAM! Dinding penjara di belakang mereka hancur dan dua orang berjubah hitam muncul.
"Lindungi Raja!" para penyihir dan prajurit segera melindungi sang Raja di belakang mereka.
__ADS_1