
Cerita Sebelumnya:
Eva menemui Dean Cristal, gurunya. Dan berlatih beberapa sihir. Eva mempelajari sihir teleportasi. Kemudian Dean Cristal memberikannya buku mantra sihir lanjutan dari elemen udara, air dan bumi. Eva mempelajari salah satu mantra, yaitu 'Gravity'. Pada percobaan pertama Eva berhasil. Dan terakhir, Eva mempelajari sihir telepati.
***
Aku menunggu Denis selama setengah jam sambil menikmati teh yang dihidangkan oleh Dean Cristal.
Setelah Robert menjemputku, aku langsung mengucapkan selamat tinggal pada Dean Cristal.
"Sampai jumpa lagi guru"
"Sering-seringlah berkunjung. Kalau ada masalah dengan pelatihanmu, kau bisa menemuiku. Aku akan mencari jalan keluarnya"
"Baik, terima kasih"
"Sampai jumpa lagi, Dean" kata Robert sambil membungkuk memberi salam selamat tinggal.
Lalu, Robert segera memegang tanganku dan menarikku keluar ruangan.
***
Setelah Eva dan Robert pergi.
Dean Cristal menerima sinyal telepati dari Dean Wason.
"Ada apa pak tua?"
"Utusan dari kerajaan datang. Bersiaplah, kita akan menyambutnya" kata Dean Wason.
"Oh? Siapa?"
"Putra mahkota..."
"Kenapa bocah itu kemari?"
"Hubungan diplomasi, diperintahkan oleh orang tua dari akademi."
"Tampaknya Raja ingin membangun hubungan baik dengan kita. Bagaimana kau akan menanggapinya pak tua?" tanya Dean Cristal serius.
"...." Dean Wason terdiam sebentar.
"Aku tidak menyukainya...."
"Oh? Kau akan menolak hubungan diplomasi ini?"
"Aku tidak menyukai bocah itu....Aku tidak akan menyetujuinya...."
"....." Dean Cristal terdiam.
Entah mengapa dia merasa pembicaraan mereka agak menyimpang?
"Kau harus membantuku untuk mengusirnya"
"Kenapa?" kali ini Dean Cristal benar-benar bingung. Kenapa pembicaraannya menjadi aneh seperti ini. Kenapa tujuannya menjadi terbalik? Penyambutan tiba-tiba menjadi pengusiran?
"Bocah itu bilang dia tunangan cucuku! Aku tidak akan menyetujuinya!" timpal Dean Wason dengan nada sarkatis. "Hei, Eva adalah muridmu. Bantu aku mengusir pengacau ini. Aku benci melihat mata mesumnya. Aku harus membuatnya menjauh dari cucuku di masa depan"
__ADS_1
"......."
***
Robert bergandengan tangan dengan Eva. Dia membawanya ke salah satu pintu dunia virtual.
"Kau ingin ke pantai bukan?" tanya Robert.
Aku mengangguk. "Aku ingin berlibur. Aku tidak masalah dengan tempat tujuannya" kataku santai.
"Baiklah"
Kami memasuki salah satu dunia virtual. Itu adalah Dunia Virtual dengan tema 'pantai'. Tapi saat aku masuk, yang kulihat bukan langit yang biru. Tapi langit gelap gulita dengan beberapa bintang-bintang berkilau. Lalu ada sebuah bulan di ujung pemandangan. Ini benar-benar sangat indah dan cantik. Aku menyukainya.
"Sangat kerenn" kataku kagum. "Kenapa memilih malam?" tanyaku pada Robert.
"Kau sudah pernah melihat pemandangan siang hari bukan? Pemandangan malam sangat langka tahu. Apalagi melihat bintang dan bulan seperti itu" kata Robert sendu sambil mengamati langit-langit.
"Mau jalan-jalan?"
Aku menangguk pelan.
Robert tersenyum. Dia langsung mempererat pegangannya dan membawaku berjalan.
Kami menyusuri pesisir pantai. Sepanjang perjalanan aku akan melihat bintang-bintang mengikuti kami, lalu suara angin yang menderu yang melintas berlawanan arah. Suasananya sangat sejuk dan nyaman.
"Kau menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya."
"Tapi anak-anak tidak akan menyukai pemandangan seperti ini" kata Robert lugas.
DEG!
Jantungku langsung berdetak!
Huaaa! Aku tidak tahan! Apa-apaan pria inii? Kenapa dia bersikap seperti ini? Pikiran jombloku selama bertahun-tahun tidak bisa menahan godaan seperti ini. Oh, tuhann, ada pria tampan di depanku dan aku tidak bisa apa-apa.
Aku memandangi tubuh kecilku dan memejamkan mata kecewa. Aku masih belum bisa apa-apa dengan tubuh datar ini. Tubuh ini bahkan tidak bisa menggoda pria! Benar-benar sangat sia-sia. Aku kecewa!
Baiklah~ karena Robert sudah menggodaku seperti ini. Aku akan mengeluarkan jurus ampuhku hehehe
Aku menatap Robert dengan mata berbinar. "Master~~ kau sangat tampan~~" kataku lembut.
BLUSH! Wajah Robert langsung memerah. Seketika dia menjauhkan wajahnya dari wajahku. Lihat! Jurusku sangat ampuh hahaha
Aku bisa membalikkan keadaan canggung ini. Setidaknya aku yang menang karena membuat rasa malunya bertahan lebih lama.
"Mau kemana habis ini?" Robert langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak pilih-pilih. Aku menyukai semuanya. Jadi terserah master"
"Kau menyukai ladang bunga?"
"Ya" jawabku sambil mengangguk.
Robert membawaku keluar dari dunia virtual ini. Kemudian menuju pintu lain dan masuk ke dunia virtual lainnya.
__ADS_1
Kami memasuki dunia virtual dengan tema 'taman bunga'. Dunia yang ada di depan kami merupakan ladang yang luas. Ladang itu penuh dengan berbagai macam bunga dengan berbagai macam warna. Itu sangat indah! Aku menyukainya ~
Ladang itu sangat harum. Saat angin berhembus, kelopak-kelopak bunga ikut terbang terbawa angin. Benar-benar pemandangan yang cantik.
Melihat Eva yang sedang melonggo bahagia, Robert tersenyum senang. Dia langsung menggerakkan tangannya untuk memegang pinggang Eva dan mengangkatnya ke atas.
Aku sedikit kaget saat Robert tiba-tiba mengangkatku. Tapi, aku langsung terkesiap kagum, karena pemandangan yang dilihat dari atas lebih indah.
"Masterr ayo kita terbang" kataku sambil menggunakan sihir. Pegangan Robert langsung lepas dari pinggangku dan aku terbang ke atas.
Robert menyusulnya.
Kami terbang ke atas melewati ladang bunga itu. Aku benar-benar menyukainya. Pemandangan indah ini benar-benar menyegarkan pikiranku. Setidaknya aku sangat rileks saat ini, tidak memikirkan apa pun yang akan terjadi ke depannya. Aku benar-benar mengistirahatkan otakku.
Robert mengangkat tangan dan menggunakan sihirnya. Seketika kelopak bunga yang terbawa angin berkumpul di sekitarnya. Lalu membentuk mahkota bunga yang cantik.
Dia menerbangkan mahkota bunga itu langsung ke atas kepala Eva.
"Kau menyukainya?"
Aku meraba benda yang tiba-tiba terletak di kepalaku. Sebuah mahkota bunga, yang tidak pernah kupakai sebelumnya. Ini adalah mahkota bunga pertamaku.
"Aku sangat menyukainya ~"
Haaa.....andai saja dunia ini mempunyai kamera. Aku benar-benar ingin berfoto dan mengabdikan momen ini.
Benar-benar sangat disayangkan...
Pantai yang indah, ladang bunga yang cantik. Semua tempat seperti negeri dongeng ini tidak bisa diabadikan. Kamera, oh kamera, aku merindukanmu~
"Eva, kau ingin beristirahat?" tanya Robert sambil menunjuk salah satu bukit kecil yang berada di tengah-tengah ladang bunga.
"Boleh" jawabku sambil perlahan terbang menurun. Aku dan Robert menuju ke bukit. Setelah mendarat, aku langsung merebahkan diriku di bukit itu.
"Huwaaa..." aku bergumam nyaman.
"Ini benar-benar nyaman" sahutku sambil melihat langit-langit yang biru itu.
Tiba-tiba Robert mendekatkan wajahnya lagi, menghalangiku melihat langit biru. "Apa langitu itu lebih cantik dariku?" tanya Robert genit.
"Masterr kau menganggu khayalanku" kataku sambil mendorong dada Robert pelan.
"Kau sedang mengkhayal apa?" tanyanya curiga.
"Bukan apa-apa. Hanya pemandangan..." kataku santai. "Pemandangan seperti ini jarang dilihat."
"Aku tidak tahu apakah aku bisa melihat pemandangan seperti ini di masa depan. Aku juga tidak tahu apakah aku akan bisa merasakan suasana tenang dan nyaman ini nanti" kataku melankolis. Seketika aku memikirkan masa depanku yang suram dan penuh dengan darah. Aku tidak tahu apakah aku bisa selamat dari pembunuhan dan skema itu.
Robert mengernyitkan keningnya saat melihat wajah sedih Eva. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada tidak suka. "Aku bisa membawamu ke tempat ini kapan pun. Lagipula menara sihir tidak akan berpindah tempat."
"......"
Robert menatap Eva lekat-lelat.
"Eva.... ada yang ingin kutanyakan padamu..." kata Robert tiba-tiba.
Dia berencana menanyakan mimpi buruk yang dialaminya.
__ADS_1
"Ada apa master...?"