Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 10


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Mereka akhirnya menemukan sebuah lorong gua yang tertutup batu raksasa. Denis menggeser baru raksasa itu dengan kekuatan nya dengan bantuan Reina.


***


Kami pun memasuki lorong gua. Gua itu sangat gelap sehingga Robert perlu menggunakan bola apinya lagi sebagai penerangan.


Saat bola api itu mulai menerangi lorong, kami bisa melihat bahwa di sepanjang lorong terdapat ukiran yang sangat aneh. Ukiran itu mempunyai bentuk yang tidak beraturan dan saling terhubung di sepanjang lorong. Mengingatkanku pada bentuk rune yang ada di atas batu.


'Sebenarnya tempat apa ini? Apa kau tahu sesuatu?' aku mengirimkan telepatiku pada Rexus.


"Tidak tahu. Tapi aku tahu itu sesuatu yang enak untuk dimakan" dia menjawab antusias.


Jawaban Rexus sama sekali tidak berguna untukku. Kami hanya bisa meneruskan perjalanan. Karena Rexus bilang itu enak dimakan, mungkin sebuah ramuan kuno? Tapi Rexus adalah pemakan segala nya, aku tidak yakin...


Kita terus menelusuri lorong selama berjam-jam.


Kenapa terasa sangat jauh? Padahal tempat ini sangat kecil. Sama sekali tidak masuk akal! Apa kita terjebak lagi dan terus mengulang di tempat yang sama?


"Kita tidak menemukan apa pun? Apa kalian yakin kita tidak terjebak?" aku mulai mengatakan pendapat ku.


Semua orang langsung berhenti melangkah dan menatapku. Membuatku sedikit tidak nyaman.


"Maksudku ini mengingatkan ku kejadian di rawa itu..." aku bergumam. Tapi mungkin hanya Robert yang memahami ocehanku karena yang lainnya berasal dari tim yang berbeda.


"Mungkin saja kita terjebak" Robert menyetujuinya. Dia langsung menutup matanya dan mengedarkan mananya. Dia ingin mendeteksi seluruh lorong ini. Dan benar saja, dia sama sekali tidak melihat ujung dari lorong ini! Mereka benar-benar tidak akan pernah keluar dari tempat ini.


Semua orang mulai mengikuti Robert dan mengedarkan mana mereka.


Aku juga melakukan nya. Saat aku mengedarkan manaku, aku tidak melihat kejanggalan apa pun. Tidak ada elemen gelap juga seperti sebelumnya.


Tapi aku menemukan satu keanehan. Entah kenapa ukiran yang ada di dinding lorong mengeluarkan aura yang berbeda. Aku bisa merasakan samar-samar bekas sihir cahaya.


"Ada bekas sihir cahaya di dinding ini" Reina juga menyadarinya. Dalam sekejap dia menjadi pusat perhatian.


"Mungkin ini kuncinya?"


"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Robert kemudian.


"Aku merasakan sihir cahaya di bekas ukiran aneh yang ada di dinding goa. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu. Tunggu sebentar." dia mulai mendekati dinding dan mengedarkan mana cahayanya.


Ukiran di dinding tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih keperakan. Reina mengerjap senang. Ternyata dia benar, dia hanya perlu mengaktifkan pintunya dengan sihir cahaya. Reina sangat percaya diri sekarang. Dia yakin semua orang memujinya karena jasanya ini.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, saat ukiran itu mulai bercahaya, aura hitam aneh mulai terpancar keluar dari dinding. Aura hitam itu menyatu dengan cahaya putih dan mengenai Reina.


Uhuk! Uhuk!


Reina mengeluarkan batuk darah karena aura hitam itu menyerang tubuhnya. Dan dia terjatuh lagi sambil memegang perutnya.


"Tidak mungkin. Ada sihir gelap" katanya tajam.


"Jadi gagal?" Robert memastikan.


"..."


Reina tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.


Aku memperhatikan semua proses yang dilakukan Reina dan mendapat sebuah kesimpulan.


Haruskah kita menggunakan sihir cahaya dan sihir gelap secara bersamaan?


Tapi apa itu mungkin?


Dengan hati-hati aku mendekati dinding. Lalu menyentuh nya dengan kedua tanganku. Aku mengalirkan sihir cahaya di tangan kananku dan sihir gelap di tangan kiri. Sebenarnya agak susah menggunakan dua sihir secara bersamaan. Kau perlu konsentrasi yang tinggi untuk mengkonversi kedua mana yang kau keluar kan di kedua tanganmu.


Aku kira itu berhasil karena tiba-tiba dinding itu mulai bergetar dan runtuh.


Tapi yang benar saja! Saat dinding batu itu runtuh, itu sama sekali tidak menghasilkan reruntuhan apa pun. Itu menghilang di udara, seakan-akan itu sama sekali bukan batu asli melainkan batu virtual.


Setelah itu kami melihat ruangan lain dari balik dinding itu. Ruangan itu berwarna putih bersih dan kami tidak bisa melihat apa pun dari luar.


"Aku kira aku berhasil" kataku sambil menatap semua orang.


"Kerja bagus" kata Robert sambil mengacak-acak rambut Eva.


"Ayo masuk" kataku.


Empat orang itu melangkah masuk. Reina masih berdiri dan menunduk kan kepalanya. Kedua tangannya terkepal erat sebelum akhirnya dia menyusul mereka.


Kami memasuki ruangan yang serba putih. Saat mencapai posisi tengah kami menemukan sebuah altar. Altar dengan sebuah peti hitam di atasnya.


Robert mencoba maju untuk mendekatinya tapi tiba-tiba tubuhnya terpental. Sesuatu yang transparan menghalanginya.


"Ada penghalang" kata Sayn sambil menempelkan tangannya di udara.


"Penghalang lagi?" aku mengeluh dengan frustasi.

__ADS_1


Aku mencoba mendekati altar, tapi anehnya aku tidak merasakan penghalang apa pun. Setelah beberapa langkah, peti hitam itu ada di depan mataku.


Eh? Apa yang terjadi?


Semua orang kebingungan. Aku malahan lebih bingung.


Kenapa aku bisa masuk ke dalam sementara Robert dan Sayn merasakan penghalang?


Denis dan Reina pun mencoba masuk tapi mereka juga terpental keluar.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa masuk?" aku berteriak bingung.


"Apa kalian sama sekali tidak bisa masuk?" aku bertanya pada mereka.


Tapi tidak ada yang meresponku.


"Hei? Halo? Apa kalian mendengarku?" kataku memastikan. Aku mendekati mereka tapi sebuah penghalang tak terlihat menahanku.


"Aku sekarang tidak bisa keluar...?"


Aku menatap mereka lagi. "Hei! Apa kalian tidak mendengar ku?"


Tapi tidak ada yang meresponku. Keempat orang itu tetap berdiri bingung sambil mengamati penghalang.


***


Awalnya Robert berusaha masuk, lalu tidak bisa. Kemudian bocah bodoh lemah itu jjga tidak bisa. Tapi gadis kecilnya bisa melangkah masuk!


Bocah bodoh kerajaan dan gadis asing itu mencoba juga. Tapi sia-sia. Mereka berdua tidak bisa masuk.


Kemudian pandangan di depan mereka memudar. Eva dan juga altar itu tiba-tiba terhapus dari depan mata mereka.


"Eva?!"


Tiga orang pria itu panik dan mencoba mendekat tapi terpental lagi.


Seakan-akan itu ruang rahasia yang tidak menginginkan orang dari luar dan hanya mengizinkan tuannya untuk masuk.


"Kita akan menunggu di sini" kata Robert tenang.


Dia berharap tidak akan ada bahaya. Walaupun ada bahaya, dia yakin gadis kecilnya bisa melindungi diri sebelum mereka membantu.


Dua orang pria itu mengangguk. Sementara Reina menatap ruang di depan nya dengan mata menyipit. Jantungnya berdetak kencang karena dia berusaha menahan amarahnya. Dia ingin berteriak tapi tidak bisa.

__ADS_1


"Kenapa hanya dia yang bisa....kenapa...kenapa...." Reina berteriak dalam hati. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Tubuhnya bergetar. Tidak ada yang memperhatikan ekspresi nya saat ini. Tapi kalau orang lain melihatnya. Ekspresimya sangat menyeramkan. Seakan-akan dia ingin memakan seseorang. Mereka juga akan kaget karena bagi mereka tidak mungkin gadis sepolos Reina akan memiliki ekspresi jahat seperti itu.


__ADS_2