
"Waktu kecil kau pernah menyelamatkan seorang gadis kecil seumuran dengan mu dari pedagang budak. Apa kau mengingatnya?" desak pemuda itu.
Diana memiringkan kepalanya bingung.
"Kau tidak pernah menyelamatkan siapapun" responnya.
Wajah pemuda itu berubah kecewa. Tapi dia tidak menyerah. "Kau tidak benar-benar menyelamatkan nya. Kau berganti posisi dengan nya. Apa kau ingat?"
"Aku ingat..." jawab Diana tidak yakin. "Kukira aku ingat. Gadis kecil itu bersama dengan kakak sepupu nya dan dia terlalu cengeng"
Mata pemuda itu berbinar. "Aku anak laki-laki itu" katanya percaya diri.
"Eh?"
"Aku adalah sepupu dari gadis kecil itu"
"Kau adalah anak laki-laki yang galak itu?" Diana mengerjap. "Sangat masuk akal kau seperti ini saat dewasa" katanya sambil mengangguk pelan. Diana ingin mengatakan 'kau memperlakukan ku dengan kejam'. Tapi dia mengurungkan niatnya.
Wajah pemuda itu berkedut. "Aku tidak bermaksud untuk memperlakukan mu dengan kasar. Aku perlu hati-hati dengan orang asing." jelasnya sambil terbatuk kecil.
"Baiklah~" Diana memakluminya. "Bagaimana kabarmu? Bagaimana caramu keluar dari tempat itu?"
Pemuda itu menjelaskan apa yang terjadi. Tentang penyerangan sejumlah kavaleri berkuda. Kavaleri itu berhasil mengambil alih kota dan mereka diselamatkan. Tapi tentu saja dia menyembunyikan bahwa semua itu adalah bagian dari rencananya.
"Dan bagaimana denganmu?" Pemuda itu bertanya balik.
Diana menjelaskan bahwa seseorang pemuda kuat menyelamatkan nya. Jadi dia menginap di tempat orang itu selama beberapa hari sampai ibunya menjemput.
"Syukurlah kau baik-baik saja"
"Kau juga~"
"Perkenalkan, namaku Enell" dia melakukan perkenalan formal yang dilakukan oleh para bangsawan. Yaitu meletakkan tangan kananmu di dada lalu membungkuk.
Diana tidak tahu arti dari salam itu. Diana mengikuti gaya Enell dan memperkenalkan dirinya juga. "Namaku Diana~"
Setelah berkenalan, kedua anak muda itu saling melempar senyum satu sama lain.
Mereka pun menghabiskan waktu untuk berbicara. Mereka saling berbagi rahasia tentang diri mereka. Diana menceritakan bahwa dia dan ibunya adalah seorang pengembara. Tapi dia tetap menjaga rahasia bahwa dia seorang penyihir gelap. Sementara Enell bercerita bahwa dirinya adalah Bangsawan dari sebuah kerajaan. Tapi Dia juga merahasiakan dirinya yang sudah mendapatkan gelar duke di usia muda. Mereka menyembunyikan rahasia mereka masing-masing tapi Mereka menikmati obrolan satu sama lain.
__ADS_1
Awalnya Diana mengira, Enell adalah pemuda yang dingin dan kasar. Tapi tidak seperti itu. Pria itu mengobrol dengan baik tanpa mengeluarkan aura dingin apapun, bahkan beberapa kali tersenyum padanya.
Enell mengira Diana adalah seorang gadis yang cukup bodoh. Tapi dugaannya sedikit salah. Gadis itu tidak terlalu bodoh. Dia bisa membaca isi pikiran seseorang dengan tepat. Mereka bahkan saling terhubung ketika dia membicarakan strategi perang. Hanya saja gadis itu sedikit polos. Jadi Enell harus berusaha menahan emosi untuk berbicara dengannya. Tapi dia pikir, dia sudah terbiasa dengan sifat Diana yang seperti itu.
"Jadi kau sedang berperang saat ini?" tanya Diana. "Apa kehadiran ku menganggumu?"
"Tidak" bantah Enell langsung. "Kami sudah selesai. Itu perang kecil bukan perang besar. Kami hanya harus menghabisi sarang bandit di hutan ini. Para bandit itu hanya kecoa. Aku mendengar reputasi mereka yang sangat terkenal dan membawa banyak prajurit. Tapi ternyata mereka hanya kacang" kata Enell percaya diri.
"Jadi kau ingin kembali sekarang?"
"Ya. Apa kau ingin ikut denganku?" tanya Enell dengan nada antusias.
"...."
Diana tidak menjawab dan tampak ragu.
"Kau bilang ibumu sedang ada urusan di suatu tempat bukan? Sehingga kau harus sendirian sekarang. Kau bisa menunggu di tempat ku sampai pekerjaan ibumu selesai. Kau bisa tinggal dengan nyaman disana. Makanan enak. Kasur empuk. Aku akan menyambutmu sebagai tamu" Enell berusaha menyakinkan nya.
Diana tampak tertarik. Dia berpikir perkataan Enell benar. Kalau dia berkelana sendirian, ada kemungkinan dia akan kelaparan atau diculik lagi. Jadi dia mengangguk setuju.
Akhirnya Diana setuju untuk menginap di kediaman Enell. Mereka pun menempuh waktu dua hari untuk kembali ke Kerajaan Well. Selama di perjalanan, Diana dan Enell menghabiskan waktu mereka bersama untuk bercerita satu sama lain. Para prajurit bahkan bingung dengan sikap tuan muda mereka.
Biasanya tuan muda mereka akan mengeluarkan aura dingin dan tidak mau diganggu oleh orang lain. Tapi selama dua hari belakangan ini, tuan muda mereka selalu pergi ke gerbong kereta paling belakang dengan wajah bahagia dan senyum di bibirnya. Jujur saja para prajurit itu sedikit merinding saat melihat senyum tuan muda mereka. Karena itu adalah hal yang sangat jarang terjadi.
Akhirnya mereka tiba di kerajaan Well. Saat rombongan mereka memasuki ibu kota. Para rakyat menyambut mereka seolah-olah mereka adalah seorang pahlawan.
Diana melihat keluar jendela dengan wajah melonggo. "Apa kau sangat terkenal? Bagaimana bisa melawan bandit bisa seterkenal ini?" kata Diana tak percaya.
"Bandit itu cukup terkenal di tempat ini" jawab Enell percaya diri.
Diana di bawa ke sebuah mansion besar yang ada di kota itu. Walaupun mansion itu tidak sebesar istana elf gelap. Tetap saja itu sangat besar dan terlihat lebih mewah.
Semua pelayan melonggo kaget saat melihat tuan muda mereka membawa seorang wanita asing. Mereka sangat penasaran dengan wanita asing itu. Jadi mereka mulai mengamati Diana dari kepala sampai ujung kaki dan menarik kesimpulan. Tidak ada yang spesial dari gadis yang dibawa oleh tuan muda. Dia bukanlah gadis bangsawan atau pun orang penting. Hanya seorang gadis dengan pakaian lusuh dan tidak layak pakai.
Mereka berpikir apakah Tuan muda mereka ingin menjadikan wanita itu mainannya. Tapi hal itu juga tidak mungkin. Mereka tahu bahwa tuan muda mereka bukan orang seperti itu. Dia tidak suka wanita, dia lebih menyukai melakukan pelatihan pedang dan sihir.
Diana tinggal di salah satu kamar. Enell berkata bahwa dia tidak perlu melakukan apapun. Hanya menemani dirinya mengobrol saja. Dia akan mendapatkan perlakuan yang layak seperti tamu.
Beberapa hari berlalu, Diana menikmati kehidupannya yang di mansion itu. Dia hanya perlu makan, tidur dan bermain. Kehidupan yang dijalani nya terlihat lebih mudah daripada harus menjadi pengembara.
__ADS_1
Sebagai pengembara Diana dan ibunya tidak bisa bersantai. Mereka harus berhati-hati terhadap binatang sihir dan juga orang jahat demi bertahan hidup. Untung saja ibunya sangat kuat, sehingga mereka tetap selamat sampai saat ini. Dan hal itulah yang membuat Diana sangat malas melakukan pelatihan sihirnya, karena dia berpikir hal seperti itu tidak perlu dilakukan.
Setahun pun berlalu. Diana sudah berumur 18 tahun. Semua orang di mansion itu sudah memperlakukan nya sebagai nona muda.
Diana juga bergaul baik dengan semua orang. Karena sikapnya yang ceria dan lembut, para pelayan dan prajurit menyukainya. Bahkan nona Diana mereka bisa menenangkan amarah tuan muda mereka. Mereka tak percaya sekaligus senang akan hal itu. Seakan-akan Diana dapat mengontrol emosi duke dengan sangat mudah.
Hubungan Diana dan Enell juga semakin dekat. Membuatkan cemilan untuk Enell dan menjadi teman mengobrol nya sudah menjadi pekerjaan seharian Diana. Dan tanpa sadar mereka juga melewati batas, walaupun itu hanyalah pertemuan antara dua bibir. Diana tetap gugup saat pertama kali melakukan hal itu.
Tapi walaupun merasa senang dengan kehidupannya, Diana juga merasa cemas. Pasalnya dia belum mendapatkan kabar apapun tentang ibunya. Ren juga tidak pernah mengabarinya apapun.
Enell mengetahui kecemasan Diana dan dia membuat solusi untuk itu. Dia mengajarkan Diana untuk melakukan telepati dengan Ren atau ibunya.
Diana tidak bisa menjangkau ibunya, seakan-akan wanita itu berada di tempat byang sangat jauh. Tapi Diana bisa menjangkau Ren dengan mudah. Hanya saja sinyal telepati miliknya ditolak oleh Ren berkali-kali, membuatnya merasa sangat kesal.
Ini adalah ke seratus kalinya Diana menghubungi Ren dan pria itu menjawabnya.
"Kakak Ren! Kau mendengarkanku?"
"Oh? Kau?" kali ini Ren masih mengingat suaranya.
"Kenapa kau selalu menolak sinyal ku! Aku ingin menanyakan kabar tentang ibuku. Sudah setahun, apakah penelitian nya sudah selesai?"
"Ada terlalu banyak orang yang menghubungi ku. Aku hanya menerapkan sistem anti gangguan, supaya sinyal-sinyal asing itu tidak masuk ke dalam pikiranku. Penelitian ibumu sudah selesai. Tapi dia masih tetap ingin tinggal di laboratorium penelitian ku." Ren berhenti sebentar. "Tapi apa kau yakin, kau ingin kembali menjadi pengembara bersama ibumu?" tanya Ren serius. "Aku melihat kau sudah hidup dengan nyaman bersama bangsawan itu."
Deg!
"Kau tahu semuanya?"
Diana tersentak.
"Aku tidak tahu. Tapi aku merindukan ibuku. Aku akan membawa ibuku kemari sehingga kita tidak perlu menjadi pengembara lagi"
"pfftt" Ren berusaha menahan tawanya. "Ibumu tidak akan mau tinggal dengan bangsawan itu. Sebaiknya kau berdoa supaya ibumu tidak membunuh kekasihmu itu karena dendam"
"Siapa yang kekasihku!" Diana mengelak. Tapi kemudian keningnya berkerut bingung. "Membunuh? Kenapa ibu ingin membunuhnya? Dia tidak melakukan kesalahan apapun! Ibu bukan orang sejahat itu" bentak Diana kesal.
Ren tersenyum. walaupun Diana tidak bisa melihatnya. "Ibumu membenci bangsawan. Aku tidak akan menceritakan apapun, lebih baik tanyakan saja pada ibumu. Sudah, selamat tinggal. Aku sangat sibuk" Ren langsung memutuskan sinyal telepati nya.
"Tunggu!" Tapi Diana hanya berteriak di udara kosong. Ekspresi Diana sangat kebingungan sekarang. Dia tidak tahu maksud dari perkataan Ren.
__ADS_1
Dia juga tidak tahu caranya mengubungi ibunya. Dia belum sempat bertanya, tapi Ren sudah memutuskan panggilan nya.
"apa mungkin ibu akan kemari?" pikir Diana. Dia berpikir secara positif bahwa Ren akan memberitahu keberadaannya dan ibunya akab datang ke tempat ini.