Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Guru Robert


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Acara penyambutan sudah selesai. Eva belum kembali ke mansionnya dan dia ingin melihat asrama. Setelah berpamitan dengan si kembar api, dia melangkahkan kakinya dengan mantap untuk mengecek asrama.


Tapi di tengah jalan, terjadi event yang tidak diinginkan!


Reina tiba-tiba muncul, menabraknya dan jatuh. Lalu Denis mulai muncul dan menyalahkan Eva, menyuruhnya untuk memintaa maaf pada Eva. Tapi tentu saja Eva tidak mau. Akhirnya Eva dan Denis bertengkar lagi.


Saat Eva mulai jenuh dan ingin pergi, Robert tiba-tiba menegurnya. Robert melihat bahwa baju Eva sedikit robek dan kotor, lalu kesalah pahaman itu terungkap. Denis mulai merasa bersalah tapi Eva mengabaikannya.


***


SHUUU!


Saat Robert memegang tanganku, kami tiba-tiba sudah sampai di depan mansion. Eh? Kenapa Robert bisa berteleportasi dengan membawa manusia? Ini mengingatkanku pada Sayn...


Dan yang paling penting, kenapa Robert bisa berteleportasi saat kita masih di area akademi? Bukannya sihir teleportasi itu dilarang?


Robert sepertinya mengerti apa yang dipikirkan oleh Eva saat dia melihat wajah bingungnya. "Aku menjadi guru" katanya sambil menunjukkan lencana dengan lambang akademi/


Jawaban singkat itu membuatku seperti tersambar petir.


Guru?


Pantas saja Robert bisa menggunakan sihir teleportasi saat masih di area akademi.


Hanya kepala sekolah dan staff pengajar yang bisa dengan bebas menggunakan sihir apa pun. Ini menjadi masuk akal.


"Guru? Bukankah master sudah kembali ke Menara Sihir? Kenapa ingin menjadi guru di akademi?"


Robert tidak menjawab pertanyaannya. Dia langsung merentangkan tangannya dan memeluk gadis kecil di depannya. "Aku merindukanmu~" katanya dengan nada manja.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Eva. "Hentikan master. Kita baru saja bertemu seminggu yang lalu." kataku tidak senang sambil melepas pelukannya.


"Ah~ Eva benar-benar tidak suka melihatku" katanya sedih.


Ucapannya benar-benar membuatku kesal. Kenapa semakin hari Robert selalu bertingkah manja seperti anak-anak? Apa otaknya bermasalah.


"Kapan aku bilang tidak suka!" aku melototinya.


Robert hanya memegang dagunya dan tersenyum nakal. "Gadis kecil, kau tidak menyambutku? Kau benar-benar tidak ingin aku datang?"


"Master!" aku meghentakkan kakiku kesal.


"Hahaha" dia tertawa kecil. "Maaf, maaf, aku akan serius. Tapi aku lapar. Mana makanannya?"


"...."


Aku langsung menarik pria itu untuk masuk dan duduk. Lalu memerintahkan para pelayan untuk membawa makanan dan juga minuman.


"Ahh~ menyegarkan" kata Robert sambil menyesap air es di gelasnya.


"Nah, sekarang jelaskan. Kenapa kau ingin menjadi guru?"


Robert mengangkat tangannya. "Tunggu sebentar. Biarkan aku menghabiskan makanan dulu"


"..."

__ADS_1


"Ehem!"


"Baiklah, aku akan serius. Semuanya berhubungan dengan pertandingan sihir"


"Pertandingan sihir? Apa hubungannya?"


"Pertandingan sihir akan diadakan beberapa bulan ke depan. Tapi kau akan sibuk dengan tugas di akademi. Itu bisa menjadi halanganmu untuk ikut. Jadi aku memutuskan untuk menjadi guru di akademi bodoh itu agar aku dapat membantumu." jelas Robert percaya diri sambil membusungkan dadanya. "Serahkan saja semua masalah padaku."


Tentu saja pernyataan ini hanya kebohongan.


Sebenarnya, di dalam hati kecil Robert, dia memiliki tujuan tersembunyi. Dia ingin menjadi guru di akademi agar dia bisa membatasi interaksi antara Eva dan tunangannya. Untuk sekarang dia masih percaya diri karena dia melihat bahwa Eva tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pangeran bodoh itu. Jadi dia memutuskan untuk mengejarnya! Dia sudah mendekatinya selama bertahun-tahun, tapi sikap gadis kecil itu belum berubah.


'Apa karena umurku lebih tua?'


'Dia lebih suka pria yang sebaya dengannya?'


'Atau dia hanya menganggapku sekeda "master" saja?'


Yah, walaupun gadis kecil itu menyukai orang lain. Asalkan orang itu layak untuknya dan gadis itu mencintainya, dia akan membiarkannya. Dia akan mengawasi gadis kecil dari jauh dan selalu melindunginya.


"Hoo...begitu?"


"Tentu saja!" kata Robert yakin sambil mengangguk. Lalu wajahnya berubah serius. "Jangan terlalu meremehkan pertandingan sihir. Aku berusaha membantumu agar kau bisa ikut dan lolos seleksi"


"Ah, terima kasih master"


"Oh? Aku lupa menanyakan ini. Apa kau sudah meminum ramuannya master?"


Mendengar kata ramuan raut wajah Robert berubah menjadi tidak nyaman.


Aku tahu Robert merasa tidak enak saat membicarakan ramuan itu. Lagipula itu ramuan yang diperoleh dengan cara-cara yang jahat. Tentu saja Robert merasa tidak nyaman.


"Tidak apa-apa master. Ramuan itu tidak bersalah" Kataku berusaha menenangkannya.


Robert hanya mengangguk diam.


"Jadi bagaimana? Apa kau merasakan perubahan pada tubuhmu master?" aku bertanya penasaran dengan mata berbinar.


Robert tersenyum nakal. "Kau bisa memeriksanya sendiri"


Aku langsung cemberut "Bagaimana aku bisa memeriksanya?"


Bagimana caranya mengukur kekuatan mana seseorang? Aku benar-benar tidak tahu.


Robert menarik tangan Eva lalu meletakan tangan itu di dadanya. "Dadaku semakin bidang dan aku semakin tampan. Bukankah itu bagus? Kau bisa menyentuhnya sesukamu" katanya nakal.


Urat-urat kekesalan muncul di kepalaku. Tanpa ampun aku langsung menginjak kakinya.


Dasar pria tak tahu malu.


"Aku bertanya dengan serius master!!" kataku kesal.


"Oke, oke, jangan mengamuk" kata Robert sambil tertawa kecil.


Wajahku sangat serius. "Jadi bagaimana? Apa ada sesuatu yang rasanya tidak enak? Seperti penyimpangan mana dan sebagainya?"


Robert menggeleng. "Aku baik-baik saja. Ramuan itu benar-benar menguatkan mana milikku"

__ADS_1


Ah! Aku mengangguk mengerti. Ternyata ramuannya berhasil. Berarti poin ini tidak berubah dari cerita asalanya.


"Bagaimana denganmu? Apa manamu masih sering mengalami kebocoran?" Robert bertanya balik. "Kau sudah bisa mengendalikannya?"


Aku mengangguk. "Ya! Ini tidak seburuk sebelumnya. Aku bisa mengendalikan semua elemen. Bahkan elemen gelap itu."


"Baguslah!" kata robert bangga sambil mengacak-acak rambutnya. "kau harus bekerja keras untuk menyusulku oke. Bahkan pak tua itu sudah bukan tandinganku" kata Robert sombong.


"Ah!" aku terkejut. "Kau mengalahkan kakek, master? Benarkah?!" aku berteriak antusias.


"Hmm...masih belum sepenuhnya karena aku masih belum bisa mengendalikan secara penuh kekuatan yang kudapat. Tapi aku membuat kakek itu menjadi lusuh hahaha" kata Robert bahagia.


"Ah! Kau benar-benar hebat master"


Dia memang layak disebut sebagai "penyihir jenius" yang menghentikan peperangan. Dia bisa melawan ribuan orang dengan kekuatannya.


"Karena itu kau harus berusaha lebih keras oke"


"Tentu saja! Tapi aku juga sangat tenang, karena tanpa menjadi kuat pun, bukankah master dan kakek akan selalu melindungiku hehehe"


Wajah Robert memerah. Tapi dia langsung menjitak kening gadis kecil itu "jangan terlalu naif. Kami tidak bisa selalu menolongmu" katanya bijaksana.


"Itu tentu saja. Aku kan hanya bercanda humph!"


"Nah, aku perlu memberitahumu tentang pertandingan sihir itu" kata Robert kemudian.


"Pertandingannya akan diadakan enam bulan kemudian, kau harus bersiap-siap oke. Sebulan sebelumnya, kau sudah harus pergi ke Menara SIhir dan meminta Dean Cristal untuk mendaftarkanmu. Kalau terlambat mendaftar kau tidak akan bisa mengikutinya lagi."


Aku mengangguk mengerti.


"Dan ini yang paling penting" kata Robert serius. "Pertandingan ini berbahaya. Kau bisa saja kehilangan nyawamu. Kau masih yakin ingin ikut?"


"Aku sangat yakin master"


"Kalau begitu berlatihlah lebih keras oke. Aku benar-benar tidak tenang membiarkanmu mengikuti pertandingan berdarah seperti itu. Walaupun aku berada di sampingmu, aku sangat cemas sesuatu yang tidak terduga terjadi"


"Tidak apa-apa master. Percayalah padaku. Aku tidak lemah!" kataku yakin.


Robert tersenyum dengan penuh perhatian. "Kau memang tidak lemah. Aku yakin itu."


Lalu wajahnya menjadi cemberut "Tapi kau cukup ceroboh. Sehingga menyebabkan banyak masalah"


"Uh...hahaha..."


"kudengar kau ingin mencari asrama?" Robert mengalihkan topik pembicaraan.


AH! Aku benar-benar lupa tentang asrama itu!


"iya" aku mengangguk.


"Aku tahu asrama yang bagus. Kau ingin melihatnya?"


"Ha! Tentu saja!"


Robert memegang tanganku dan SHUUU!! Kami langsung berteleportasi lagi ke tempat lainnya. Aku benar-benar berpindah seperti ini. Dia sama sekali tidak memberiku waktu untuk berpikir.


Haa~

__ADS_1


__ADS_2