Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Pernyataan Denis


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva melanjutkan perjalanan bersama dengan rombongannya ke ibu kota. Mereka sampai saat hari sudah menjelang sore.


Keesokan harinya, Eva mengikuti tes ujian masuk. Dan hal tak terduga terjadi. Alat sihir yang digunakan untuk mengukur kekuatan mananya menjadi hancur berkeping-keping, Eva sangat takut itu terjadi karena kekuatan mananya yang berlebihan dan dia tidak mau kekuatannya yang sebenarnya terungkap. Tapi, untungnya hasil tes Reina, sang tokoh utama membuat kegemparan. Sehingga perhatian pengawas itu terhadap Eva benar-benar berkurang.


***


Setelah melalui tes ujian masuk yang kacau itu, aku segera pulang ke mansion. Karena ingin bergerak lebih cepat, aku menggunakan sihir terbang untuk kembali. Aku sangat suka sihir ini! Aku benar-benar suka terbang~


Saat tiba di mansion, aku melihat pemandangan yang lucu. Bocah elf itu sedang terduduk di ruang tamu, menikmati cemilan. Berbagai cream dan coklat sangat belepotan di bibirnya. Bocah ini benar-benar lucu ah~


Dalam sekejap, perasaan cemas dan khawatir langsung lenyap saat melihat bocah menggemaskan ini.


"Kakak~" bocah itu melihatku dan menghampiriku dengan garpu di tangannya.


Sangat lucu, benar- benar lucu~


"Apa kuenya enak?" aku bertanya sambil mengelus-elus rambutnya.


Dia mengangguk antusias.


"Makan yang banyak oke. makanan buatan Wiya memang selalu enak.


"Nona, kau sudah kembali?" Wiya tiba-tiba muncul sambil memegang kotak aneh.


"iya" aku mengangguk dan tatapanku berpindah ke kotak yang dipegang Wiya. "Apa itu?"


"Ah! Ini kiriman dari Akademi. Ini seragam milik nona" jawab Wiya sambil menyerahkan kotak itu padaku.


Aku langsung mengambilnya. "Baiklah"


"Wiya jangan lupa mandikan dia oke" aku menunjuk bocak kecil dengan mulut belepotan itu.


"Baik nona"


Setelah itu, aku langung menuju ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarku. Aku meletakkan kotak itu di atas kasur.


Seragamku? Ah~ aku sangat antusias. Seperti apa seragamnya ya?


Aku membuka kotak itu secara perlahan dan mengeluarkan isinya.


"Gaun yang sangat imut" aku membentangkan gaun itu di depanku. Gaun ini polos tapi elegan. Tidak seperti gaun bangsawan yang penuh renda dan permata, gaun ini hanya berhias bordiran cantik di sudut-sudut bajunya, yang membuatnya tampak lebih elegan.


Baju ini memang cocok untuk akademisi. Berwarna coklat polos dengan hiasan bordiran berwarna perak. Kualitas bajunya juga sangat tinggi.


Karena bentuknya yang terlalu polos, para gadis bangsawan itu biasanya akan menambahkan bros dari permata ataupun kalung, gelang dan jepit rambut yang berkilau.


"Ah, sepatu yang lucu"


Aku mengeluarkan benda kedua. Itu adalah sepatu bot mungil yang sangat sederhana. Tapi ada permata yang menghiasi sudut sepatu, membuatnya tidak terlalu polos.


"Ah? Ini apa? Lencana?"


Aku mengeluarkan benda ketiga. Ada sebuah lencana berwarna silver. Lencana itu berukir lambang akademi. Aku kira ini bentuk identitas bahwa aku murid akademi. Lencana ini dipasang di dada kanan. Lalu tidak lupa lencana keluarga dipasang di bagian lengan. Lencana keluarga ini sangat penting karena membawa nama baik dari maisng-masing keluarga.


Karena inilah murid bangsawan dan bukan bangsawan dapat dibedakan dengan mudah. karena para bangsawan memakai lencana dari keluarga mereka masing-masing.


Setelah mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kotak, aku menyusun benda itu dengan lemari di dalam lemari.


Besok adalah hari pertama sekolah. Akan ada acara penyambutan mahasiswa baru. Acara ini sangat membosankan. Para murid belum memulai pelajaran. Pelajaran akan dimulai saat hari kedua.


Aku sangat menantikan hari pertamaku bersekolah~


***


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari pertama aku masuk ke akademi. Aku melihat diriku di cermin dengan seragam baru itu. Tidak buruk, tidak buruk. Aku benar-benar cantik hehehe


Setelah berpakaian, aku siap untuk pergi dengan sihir terbang.


Tapi Wiya langsung menghentikanku.


"Tidak boleh nona!" dia bersikeras menyuruhku untuk pergi dengan kereta bersama pengawal.


"Tidak sopan kalau tidak pergi dengan kereta lambang keluarga. Apa nona ingin mempermalukan kediaman Duke Court?"


Perkataannya yang tajam langsung benar-benar menusuk perasaanku. Aku langsung terdiam.


"Baiklah" kataku pasrah.


"Kakak~ikut" bocah elf itu tiba-tiba muncul dan memelukku.


"Eh?"


"Ikut~"

__ADS_1


"Tidak boleh!" Wiya langsung menariknya.


"Uhummm....bibi jahat~" kata bocah itu sedih.


Bibi? Sejak kapan bocah ini benar-benar akrab dengan Wiya?


"Baiklah, tidak apa-apa Wiya" kataku langsung. "Dia hanya mengantarku saja. Nanti aku akan membiarkannya kembali dengan pengawal"


"Baiklah nona"


Wiya menatap bocah elf itu dengan tatapan tajam "Dasar bocah nakal! AKu tidak akan membuatkanmu makanan lagi!"


"Uhhh..." mata bocah itu langsung berair. Dan dia langsung merenggut sedih.


"Baiklah, aku hanya bercanda" kata Wiya kemudian sambil mengelus kepala si bocah. "Tapi tidak boleh begitu lagi oke. Itu sangat tidak sopan. Dia adalah nona mu" Wiya menasehati.


Bocah elf itu mengangguk patuh.


Akhirnya aku naik benda terkutuk ini lagi. Sebenarnya aku tidak ingin naik kereta mencolok ini.


Aku masih mengingat dengan jelas kisah Eva. Saat hari pertama masuk, dia datang dengan kereta mewah dan juga menghias pakaiannya dengan banyak benda berkilau. Saat kereta itu masuk dia sudah menjadi pusat perhatian. Dan saat dia turun dari kereta, dia menjadi pusat perhatian yang lebih mencolok. Rumor buruk tentangnya dikonfirmasi menjadi kebenaran.


Dengan gaya sombongnya, Eva masuk ke dalam akademi. Tebak apa yang pertama dia lakukan? Dia langsung mencari putra mahkota! Walaupun Denis selalu mengabaikannya saat dia terus mengikutinya dan berceloteh, Eva masih tidak menyerah. Pemandangan ini membuat rasa tidak nyaman. Semua orang pasti berpikir. "Kenapa wanita jelek ini terus menganggu pangeran kami"


Dan membuat Eva lebih banyak dibenci.


Terlebih lagi, dia langsung mendeklarasikan pertunangannya di depan umum sebelum dekrit kekaisaran mengumumkannya. Hal ini menyebabkan lebih banyak kegemparan. Sehingga lebih banyak mata penuh kecemburuan dan keirian menatapnya. Tapi Eva menyukai kondisi itu. Dalam benak bodohnya, lebih banyak yang iri padanya, maka semakin hebat dia.


Benar-benar gadis yang bodoh!


Tapi sekarang kejadian itu terulang lagi. Aku datang dengan kereta mewah dan lencana duke ini. Walaupun aku tidak menambahkan aksesoris berkilau, tetap saja ini masih mencolok.


"Apa aku akan mengulangi kejadian yang sama?" aku bergumam tanpa sadar.


Haa~ aku hanya bisa menghela napas.


Aku melihat bocah kecil yang duduk di sampingku. Bocah itu benar-benar antusias. Dia selalu mengangkat kepalanya diam-diam ke arah jendela untuk melihat pemandangan di luar. Melihat tingkah lucunya ini, rasa khawatirku menjadi berkurang.


"Nona kita sudah sampai"


Saat kusir kuda itu memberitahukan bahwa aku sudah sampa di akademi, wajah bocah itu langsung merenggut kecewa. Kelihatannya bocah ini belum cukup puas melihat pemandangan di sekitar sini. Ah, bocah ini menggemaskan ~


Sebelum turun, aku memberitahu pada kusir untuk mengajak bocah itu berkeliling. Setelah mendengar perkataanku, mata bocah itu kembali berbinar dengan antusias.


"Terima kasih kakak~" katanya dengan suara yang menggemaskan.


Aku mengacak-acak rambutnya. "jangan berkeliarkan oke. Tetap duduk dengan baik di kereta."


"Sampai jumpa nanti."


Aku pun secara perlahan turun dari kereta.


Saat aku turun, aku tahu keretaku sudah menjadi pusat perhatian karena para murid yang berlalu-lalang itu terus menatapku. Saat aku menatap mereka balik, mereka langsung mengalihkan perhatian mereka.


Cih! Situasi ini benar-benar menyebalkan.


Aku tidak mempedulikan tatapan yang diarahkan padaku. Dan aku terus berjalan masuk, melewati gerbang.


Tapi, di depan, ada kegaduhan yang terjadi. Perhatian para murid itu teralih, dan mereka terus melihat ke depan.


Apa yang terjadi di depan?


Tiba-tiba dari balik kerumunan orang, seseorang yang tak terduga muncul!


Itu adalah Denis!


Aku melonggo kaget. Apa yang dilakukan orang itu kemari? Kenapa dia ada disini? Apa dia ingin pergi ke suatu tempat?


Kelihatannya semua dugaan itu salah karena Denis terus maju mendekatiku dengan senyum percaya diri.


"Apa yang direncanakan orang ini" aku menggertakan gigi gugup.


TAP! Denis berhenti tepat di depanku.


Aku masih diam mematung karena kaget. Tapi aku berusaha mengembalikan ekspresiku menjadi normal lagi.


"Salam yang mulia" kataku sambil memberi hormat. Ini adalah sikap yang umum saat kau bertemu keluarga kerajaan.


Para murid yang berada di sekitar juga mengikuti salamku dan memberi hormat pada Denis.


Denis tersenyum.


Aku bergidik saat melihat senyumnya.


Dia tiba-tiba memegang tanganku dan berlutut. "Selamat datang tunanganku~" katanya lembut sambil mencium punggung tanganku.


'Arghhhh! Apa yang terjadiii?' pikirku panik.

__ADS_1


Aku tidak bisa mengolah pikiranku sekarang. Kenapa Denis tiba-tiba mengumumkan pertunangan kami di depan publik seperti ini?


Aku memperhatikan sekelilingku. Wajah mereka semua tampak kaget, tidak percaya. Lalu wajah kaget itu berubah menjadi kecemburuan dan keirian.


Aku berusaha tidak menghiraukan tatapan mereka, tapi aku merasa beratus-ratus tatapan menusuk punggungku, yang membuatku sangat tidak nyaman.


Denis berdiri. "Maafkan aku tidak bisa menyambutmu saat kau tiba di ibu kota. Aku sedikit sibuk" katanya dengan wajah lelah.


Dalam sekejap aku mendengar banyak bisikan tidak senang. Walaupun bisikan itu hanya samar-samar, aku bisa mendengarnya karena pendengaranku cukup tajam ditambah dengan sihir angin. Intinya mereka mengeluhkan "Berani-beraninya dia meminta yang mulia untuk menemuinya padahal yang mulia punya banyak urusan. Dia benar-benar egois"


Tidak! Kalian salah paham! Aku tidak pernah meminta Denis untuk menemuiku!


Aku benar-benar ingin menyangkalnya dan berteriak pada mereka. Tapi suaraku tentu saja tidak keluar. Aku hanya bisa berteriak dalam pikiran.


"Tidak...tidak apa-apa...yang mulia...." jawabku gugup.


Mendengar gadis kecil di depannya menjawabnya dengan nada gugup dan suara mencicit seperti tikus kecil, Denis tersenyum. Dengan gerakan cepat dia memegang pipi gadis itu. "Kenapa? Kau kelihatan tidak enak badan badan? Kau sakit?"


DEG! Aku benar-benar tersentak kaget saat Denis tiba-tiba menyentuh pipiku. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Saat dia menyentuhku, aku merasa aliran listrik aneh menyerang jantungku dengan tiba-tiba, dan tubuhku tidak mau bergerak.


Mata kami saling bertatapan selama beberapa detik yang membuatku tidak bisa berpikir jernih. Ada apa dengan orang ini? Kenapa kepribadiannya tiba-tiba berubah seperti ini?


PSSHHH! Tanpa sadar wajahku memerah malu dan kepalaku terasa panas. "Aku tidak apa-apa, yang mulia..." kataku lirih.


"Jaga kesehatanmu oke" kata Denis lembut sambil mengecup keningku.


ARGGGHHH!!!


Aku bisa gila!! Kali ini jantungku benar-benar berdenyut dan berdegup dengan kencang. Aku tidak bisa menahannya lagi.


Kecupan Denis itu tiba-tiba membuat kerumunan yang melihatnya menjadi lebih gempar. Dan kali ini suara mereka benar terdengar jelas.


"Yang mulia menciumnya..."


"Ahhh! Aku patah hati!"


"Siapa orang ini? Tiba-tiba sudah mengambil pangeranku!!!"


"Dia putri duke bukan?"


"Berhentilah bermesraan di depan umum, kau membuatku menyedihkan"


"Bisakah mereka melakukan itu di tempat lain"


Mendegar keluhan-keluhan itu wajahku benar-benar seperti udang rebus. Walaupun komentar mereka tidak terlalu buruk, tetap saja ini berlebihan!


Aku menatap Denis tidak senang.


Denis melihat gadis kecil menatapnya cemberut dan dia tidak peduli. Karena semakin dia bereaksi semakin imut dia baginya. Dia menyukai reaksinya yang malu-malu seperti ini.


'Harusnya dari dulu aku bersikap seperti ini bukan?' Denis merenungkan perbuatannya. Harusnya dia bersikap manis pada gadis itu dari dulu. Tapi karena gadis ini cukup pemberontak dan pembuat ulah, dia takut mbersikap baik padanya hanya akan membuatnya semakin menjadi. Jadi dia mulai menetapkan sikap dingin dan tegas saat di depannya.


'Aku harus membimbingnya menjadi ratu yang baik' begitulah pikiran Denis kecil.


Tapi Denis yang sekarang sudah merenungkannya. Perbuatan yang dulu membuat jarak antara mereka lebih jauh, dia tidak suka itu. Jadi secara bertahap dia akan merubah sikapnya.


"Aku akan mengantarmu ke aula" Denis menawarkan.


"Tidak!" aku langsung menolaknya.


Ah! Gawat! Aku benar-benar terbawa suasana. Ahhh, wajahku pasti sangat memalukan sekarang! Aku tidak menyukai ini!


"Maksudku...yang mulia...masih harus bersiap untuk upacara penyambutan...aku bisa pergi sendiri..." kataku dengan suara yang mengecil.


"Kakak!" dari kejauhan terdengar suara yang tidak asing.


Itu pangeran kedua!


"Kakak! Kau dari mana saja? Kita perlu bersiap-siap, ayo kembali!" katanya sambil menatap Denis tidak senang.


"Ah...baiklah..." Denis terlihat kecewa.


"Yang mulia, aku pergi duluan!"


aku langsung melesat pergi tanpa melihat ke belakang.


'Denis sialan! Denis sialan! Denis sialan!' aku mengumpat dalam hati sambil mengehentakkan kakiku kesal. Berani-beraninya dia melakukan hal memalukan seperti itu.


***


Tidak jauh dari tempat kejadian, di lantai atas bangunan akademi.


Seseorang melihat semua kejadian dan melepaskan aura membunuh.


Dia mengamati semua kejadian dari lantai atas, dan aura membunuhnya semakin besar.


Kalau Eva melihatnya, dia akan mengenalinya. Itu adalah sesosok pria tampan dan dewasa dengan kemeja putih. Ya! Itu adalah Robert.

__ADS_1


Tapi apa yang dia lakukan di Akademi? Bukankah dia tidak melarikan diri dari Menara Sihir? Kenapa dia ada di akademi?


Pleaseee, like,like,like hehehe...


__ADS_2