
cerita sebelumnya:
Mereka semua berhasil melewati gerbang dan dikumpulkan di ruangan yang aneh. Lalu mereka perlu duduk di kursi kosong untuk memulai permainan balapan virtual menggunakan mana mereka.
Pertandingan balapan itu dimulai. Denis gugur lebih dulu, disusul oleh Sayn dan Robert. Meninggalkan Reina dan Eva. Kedua gadis itu bertarung dengan sengit.
***
"Aku tidak bisa membantumu lagi. Aku sudah mengeluarkan banyak mana untuk membantumu membuka gerbang itu" ular kecil itu mengeluh. Dia juga cukup kesal saat gadis itu membentaknya. Tapi dia menahannya karena dia hanya binatang sihir tidak berdaya saat ini. Dia masih membutuhkan bantuan gadis kasar itu.
"...."
Reina terdiam. Dia lupa tentang hal itu sejenak.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Dia ingin mengeluarkan semua mananya, tapi dia tidak mau mengorbankan dirinya.
Hanya tersisa sedikit mana di dalam tubuhnya. Itu hanya sebesar biji jagung. Akhirnya, dia menyerah dengan memendam semua kemarahan di dalam hatinya.
"Jangan terlalu marah gadis kecil. Aku sebenarnya tidak mau terlibat konflik antara manusia. Aku tahu kau membenci gadis kecil manusia itu. Aku akan membantumu"
"Bagaimana kau membantuku?"
"Keluarkan aku dari ruang dimensi. Aku akan memakan artefak kuno itu. Artefak itu juga berguna untuk memulihkan kekuatanku" kata si ular sambil menjulurkan lidahnya senang.
"Jangan biarkan dia mendapat kannya!" Reina menggertakan gigi. Dia secara perlahan membuka ruang dimensinya diam-diam. Ular kecil itu melompat keluar dan merayap di bawah kursinya.
Ukuran ular itu sangat kecil, jadi tidak ada yang memperhatikan gerakannya.
***
Aku perlahan berhenti menyalurkan manaku. semua orang sudah menyerah. Hanya tersisa pionku yang berjalan seperti kura-kura, tanpa ada lawan yang melintas.
Reina, gadis itu akhirnya menyerah.
Lagipula kondisinya sangat tidak baik. Wajahnya pucat dan kelelahan. Walau pun dia tidak ingin kalah, dia tetap harus menyerah.
"Permainan selesai"
"Selamat kepada kursi nomor 3"
Kata-kata aneh mulai bergerak di depan layar.
Lalu, layar monitor itu tiba-tiba bersinar. Dan sebuah benda muncul secara perlahan.
Aku sangat antusias saat menyaksikan nya. Ini adalah artefak kuno yang dapat meningkatkan efek meditasi! Harta yang sangat berharga!
__ADS_1
Benda itu akhirnya sepenuhnya muncul. Itu adalah piala emas kecil sebesar cawan minum.
"..."
Aku terdiam. semua antusiasku menghilang dalam sekejap. Jujur saja aku mengira itu artefak yang sangat indah dan berbentuk perhiasan. Jadi aku bisa memakai nya kemanapun. Tapi ternyata itu hanyalah gelas biasa, walaupun itu emas, tetap saja itu gelas. Aku tidak mungkin menjadikannya kalung atau gelang lalu berkeliaran dimana-mana dengan penampilan aneh seperti itu. Membayangkan nya saja membuat ku merinding.
Seakan-akan mengerti pikiran Eva, tulisan lainnya muncul di depan monitor.
"Gunakan piala ini sebagai tempat minum sebelum kalian mulai bermeditasi. Itu akan mempercepat efek meditasi kalian 10x lipat"
Setelah mendengar nya, mungkin semua orang akan berdecak kagum. Tapi Eva masih mengerjap bingung. Tapi setidaknya dia lega tidak perlu merombaknya menjadi perhiasan dan membawanya kemana-mana.
"Apakah aku bisa mengisi es, sirup atau mungkin cemilan di dalamnya" tanya Eva langsung.
"...."
Monitor itu terdiam. Dia mungkin benda mati. Tapi dia diprogram seperti mahluk hidup. Dia sangat kesal dengan gadis manusia di depannya. Sejak mata gadis itu tidak menunjukkan ketertarikan apa pun, dia sudah merasa kesal. Seakan-akan artefak kuno yang dijaganya selama ini tidak berguna sama sekali! Dia merasa kehilangan harga dirinya sebagai penjaga reruntuhan.
"Hanya bisa menggunakan air biasa. Jangan lupa tuangkan darahmu untuk membuat kontrak sebelum menggunakan nya" Tulisan lainnya muncul.
Jujur saja aku tidak puas. Aku kira piala itu akan mempunyai efek ajaib lainnya. Tapi ternyata tidak. Tapi sudahlah, tetap saja itu artefak kuno. Artefak itu sangat berharga.
"Untuk apa membuat kontrak darah?" aku bertanya lagi.
Aku mengerti. Jadi seperti itu. Sistem keamanan yang sangat bagus.
"Aku mengerti"
Sistem monitor itu mengetahui bahwa Eva sudah memahami segalanya. Dia oun menerbangkan piala emas itu secara perlahan di depan Eva. Menyuruhnya untuk membuat kontrak darah.
Sebelum Eva melukai jarinya untuk meneteskan darahnya, ular hitam merayap dengan cepat dan masuk ke dalam piala itu. Semua itu berlangsung cepat dan tidak ada yang memperhatikannya. Tubuh kecil ular itu langsung menyelam ke dalam piala.
Aku mengigit jariku sedikit dan bersiap menetes kan darah. Satu tetes kukira cukup.
Darah itu sudah menetes, bukankah itu berarti kontraknya sudah selesai?
Sayangnya Eva salah, darahnya tidak mengenaik artefak tapi tubuh ular itu.
Ular itu awalnya ingin melahap artefak itu. Tapi tiba-tiba darah asing mengenai kepalanya. Darah itu secara perlahan terserap di dalam tubuhnya.
Matanya langsung berbinar.
"Apa ini? Mana yang sangat kuat! Sial! Darah ini lebih baik dari artefak kuno ini!" pekik ular itu kegirangan. Dia tidak menyangka ada seorang manusia dengan darah seenak ini. Pantas saja dia bisa menyimpan begitu banyak mana dalam tubuhnya.
Ular itu tersenyum penuh semangat. Dia menatap gadis kecil di depannya dengan tatapan predator. Dia ingin memakan manusia itu. Manusia itu adalah bahan yang sangat ajaib untuknya.
__ADS_1
"Aku harus memakannya. Ini kesempatan yang bagus!" Jarak mereka hanya beberapa jengkal, ular itu langsung melompat ke arah Eva. Dia ingin menghisap habis seluruh darahnya.
Eva sadar bahwa ada binatang kecil yang melompat ke arah wajahnya.
"Eh?" dia tersentak kaget. Ingin menghindar. Tapi terlambat, jaraknya sudah dekat.
Tapi siapa yang menyangka, Rexus kecil akan terbangun dari tidur panjangnya. Rexus dengan cepat terbang keluar dari tas rotan Eva dan melahap si ular dalam sekejap.
"...."
Suasana menjadi hening.
Hanya terdengar bunyi sendawa Rexus saat dia menelan binatang kecil itu.
Aku kaget saat melihat Rexus tiba-tiba muncul lalu menatap serangga aneh yang melompat ke arahku.
Umu? Apa itu serangga? Tapi terlihat seperti cacing. Aku tidak tahu apa itu. Tapi bentuknya lebih seperti cacing daripada serangga.
Aku mengambil Rexus dan memukul punggungnya.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa memakan cacing aneh?"
PUK! PUK! PUK!
Aku memukul punggung kecil Rexus berkali-kali. "Keluarkan! Kau akan sakit perut!" kataku panik. Aku takut benda itu beracun
Bagaimana dia bisa selalu memakan sesuatu secara acak?
Naga rakus ini!
"Itu sudah masuk ke dalam perutku. Sarapan yang enak" jawab Rexus santai.
"Sarapan kepalamu! Jangan makan benda aneh secara acak lagi! Tidak masalah kalau itu hanya esensi ramuan. Tapi itu cacing! Astaga! Sejak kapan rasa cacing sangat enak! Kau bertindak seperti ayam sekarang. Bukan kadal lagi" aku mengomelinya. Lagipula dia masih anak-anak. Mengingat kanku pada bayi yang suka memakan pasir kalau kita tidak menjaganya dengan baik.
"Itu bukan cacing!" Rexus bersikeras. Tapi sejenak dia ragu. Dia hanya merasakan bahwa ada musuh berbahaya di dekat nya. Dia tidak tahu apa itu, hanya insting miliknya. Musuh itu adalah binatang sihir sepertinya dan mengeluarkan aura haus darah. Jadi dia langsung memakannya tanpa pamrih saat tahu bentuknya sangat kecil. Tapi dia tidak melihat nya dengan jelas.
Saat dia memakannya, dia merasakan mana yang sangat kuat dan membuat perutnya merasa nyaman. Seakan-akan dia memakan daging bakar. Dia tidak tahu itu cacing. Tapi teksturnya panjang seperti cacing.
"Apa itu benar-benar cacing" teriak Rexus panik. Walaupun itu sangat enak tetap saja dia tidak akan mau memangsa cacing. Dia tidak mau menjadi ayam. Sebutan kadal sudah cukup buruk untuknya. Sekarang dia menjadi ayam, lebih rendah dari kadal. Dia ingin memuntahkan nya, tapi perutnya sudah mencerna habis makanan itu.
"Aku tidak ingin jadi ayam." rintih Rexus dengan mata berkaca-kaca, hampir menangis.
"...."
Eva hanya terdiam dengan kebodohan dan kepolosan naga kecil itu. Tanpa dia sadari dia juga tidak akan pernah menemukan binatang kuno milik Reina karena Rexus memakannya ~
__ADS_1