
Cerita sebelumnya:
Denis kembali ke ibukota. Dia bertemu dengan Raja dan mengetahui semua yang terjadi. Denis menyerah dengan Diana. Tapi dia berharap Duke dan kedua anaknya tidak akan terkena imbasnya karena mereka tidak bersalah. Dan Denis tidak akan membatalkan pertunangannya. Dia bertikai dengan Raja karena hal itu. Tapi akhirnya Raja menyerah. Denis tetap bisa melanjutkan pertunangannya dengan Eva. Tapi Denis tidak tahu walaupun mereka tetap bertunangan, Raja tidak akan membiarkan Eva menjadi Ratu negeri itu. Dia akan memilih kandidat lainnya sebagai Ratu dan menurutnya, Reina sangat cocok untuk posisi itu.
***
Duke dipenjara di ruang bawah tanah sendirian. Tangan dan kakinya diikat lalu mereka memasang alat sihir agar Duke tidak bisa menggunakan mananya untuk memberontak. Beberapa pengawal dan pelayan juga di tempatkan dipenjara bawah tanah, tapi mereka tidak mendapatkan ruang privat seperti Duke. Mereka dipenjarakan secara berkelompok.
Sementara Diana ditempatkan di penjara khusus. Itu adalah tempat untuk para penjahat tingkat tinggi yang akan dieksekusi. Penjara itu terlihat lebih buruk dari penjara bawah tanah. Lantainya kotor dan tercium beberapa bau menyengat. Ada beberapa mayat yang tertinggal di beberapa sel dan tidak dibersihkan oleh penjaga penjara karena malas.
Diana sudah bisa membuka matanya, tapi kondisinya sangat buruk. Dia terlihat seperti mayat hidup. Dia tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya karena mananya sudah habis. Dan dia merasa sangat lelah. Bahkan pandangannya kabur. Dia membuka matanya. Tapi karena dia merasa sangat lelah, dia menutup matanya lagi, tertidur.
Sementara Evan ditempatkan di ruangan yang lebih baik walaupun itu masihlah penjara. Mereka tidak bisa menempatkan seorang bayi di penjara. Jadi mereka memilih ruangan kosong dan menempatkan Evan disana. Wiya ada disana untuk menjaganya. Sebenarnya, Raja memerintah pelayan kerajaan untuk merawat Evan. Tapi Wiya berlutut dan memohon kepada Raja, agar dirinya bisa merawat bayi itu sendiri. Raja pun mengizinkannya.
Wiya membelai rambut Evan. Setelah beberapa jam menangis, akhirnya bayi itu tertidur pulas. Mata Wiya berkaca-kaca dan akhirnya dia tidak bisa menahannya. Air mata menetes dari matanya dan jatuh mengenai pipi Evan.
"Semoga mereka baik-baik saja..." Wiya bergumam pelan.
Kesetiaannya benar-benar tulus untuk Duke dan istrinya. Walaupun dia tahu bahwa Diana adalah penyihir gelap, dia tidak memiliki perasaan benci atau jijik pada wanita itu. Dia menyanyangi Diana.
Wiya adalah seorang gadis yatim piatu yang hidup di desa kecil. Saat itu dia bertemu Duke dan istrinya dalam keadaan terpuruk. Dan Diana membawanya bersama mereka. Melatihnya menjadi seorang pelayan. Wiya merasa sangat senang. Dia tidak perlu hidup kelaparan dan mencuri lagi. Dia benar-benar hidup bahagia dengan pasangan bangsawan itu dan tidak ingin meninggalkan mereka. Bahkan setelah Eva dan Evan lahir, dia menjadi lebih senang. Karena dia merasa lebih berguna untuk merawat mereka. Selain melakukan pekerjaan rumah yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Sementara Sayn sudah memulai aksinya. Dia menempatkan bawahannya di beberapa titik untuk menyelediki posisi semua orang. Dalam satu jam, dia sudah mendapatkan beberapa informasi tentang keberadaan mereka semua. Walaupun begitu dia harus menyusun rencana yang cukup rumit karena dia harus memastikan semua orang di kediaman Duke melarikan diri dengan selamat.
Vivian juga mendengar berita itu dengan cepat. Dia benar-benar panik. Seharian ini dia bolak-balik di ruangannya hanya untuk memikirkan rencana untuk membantu mereka. Tapi dia tidak tahu. Dia juga sudah menghubungi beberapa orang yang akrab dengan mereka, tapi mereka menolak panggilannya. Bahkan Menara Sihir berkata bahwa dia hanya bisa menunggu.
Tapi Vivian tidak bisa menunggu. Akhirnya dia membuat keputusan. Dia menuju ke istana dengan kereta. Semua orang membiarkannya masuk dengan mudah. Dia ingin menemui Raja untuk memohon keringanan untuk Duke dan istrinya. Tapi Raja sedang sangat sibuk dan tidak ingin diganggu. Jadi Vivian diabaikan sendirian di istana.
Sampai akhirnya dia melihat segerombolan pelayan bergegas melewati pandangannya. Vivian pun mengikuti mereka diam-diam dengan sihirnya. Dia tiba di sebuah ruangan yang berada di belakang istana. Ada beberapa penjaga di depan ruangan itu, jadi Vivian tidak bisa masuk. Dia hanya mengamati disana sampai akhirnya para pelayan meninggalkan tempat itu. Saat itu Vivian merasa bahwa ada seseorang di tempat itu. Mungkin tahanan karena tempat itu dijaga dengan sangat ketat.
Vivian pun menggunakan alat sihirnya. Membuat empat penjaga gerbang itu tertidur dan dia masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu terlihat seperti kamar bangsawan tapi ornamennya sangat lusuh. Lalu tiba-tiba dia mendengar teriakan dan suara piring jatuh. Vivian refleks menoleh dan bersiap menyerang. Tapi dia menemukan wajah yang sangat familiar.
"kau...?"
"Nona Vivian!" Wiya berteriak bahagia dan memeluk Vivian langsung.
Vivian bertanya tentang situasinya. Wiya menjelaskan semuanya. Dia menjelaskan bagaimana Raja tiba-tiba datang ke tempat mereka. Lalu identitas Diana sebagai penyihir gelap. Dan bagaimana Duke dan Diana bertarung. Lalu bagaimana mereka digiring ke ibukota dan ditempatkan di penjara yang berbeda.
"Evan ada disini..." Vivian melihat keranjang bayi yang ada di sampingnya.
Wiya mengangguk.
"Apa bayi kecil itu baik-baik saja?" Vivian bertanya.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja"
"Apa Eva ada menghubungimu?"
Wiya menggeleng.
Vivian ingin menghubungi Eva tapi entah kenapa sesuatu menahannya. Dia merasa dia hanya akan membuat Eva semakin tertekan dan dia juga tidak bisa membantu apapun. Tapi, Vivian menguatkan tekadnya dan menghubungi Eva. Eva menjawabnya dengan cepat.
"Eva..."
"Aku tahu apa yang terjadi" jawab Eva cepat.
"Aku minta maaf karena aku tidak bisa membantu apapun" kata Vivian sedih.
"Tidak perlu meminta maaf. Ini bahkan bukan salahmu sama sekali" kata Eva panik. "Aku baik-baik saja oke. Aku akan mengurusnya. Bagaimana keadaan disana?" Eva langsung mengganti pertanyaanya.
Vivian mulai menjelaskan situasinya kepada Eva. Termasuk kronologis kejadiannya yang didengarnya dari Wiya. Saat Eva mendengar semuanya, dia menahan rasa marahnya dengan mengepalkan tangannya erat-erat. Dia benar-benar ingin menyelamatkan mereka, tapi dia harus bersabar sekarang. Lalu, percakapan kedua gadis itu selesai dengan cepat.
"Jaga dirimu. Jangan terlalu terlibat dengan masalah ini oke" Eva memperingati Vivian karena dia tidak mau Vivian terlibat dengan masalah ini.
"Tapi.." Vivian ingin mengatakan sesuatu, tapi Eva sudah memutuskan sinyal telepatinya.
__ADS_1
Perkataan Eva membuat Vivian semaikin terpuruk. Dia merasa semakin tidak berguna sekarang. Wiya yang melihat wajah sedihnya berusaha menenangkannya. Lalu tiba-tiba Vivian memikirkan sesuatu saat dia melihat keranjang bayi milik Evan. Dia ingin melakukan sesuatu. Dia tidak bisa berdiam diri disaat dia bisa membantu. Dan kali ini dia merasa bisa membantu walaupun itu hanya kontribusi kecil.
"Aku akan melakukannya" Vivian menatap keranjang bayi Evan dengan penuh tekad. Walaupun Eva melarangnya ikut campur, dia tetap akan melakukannya. Dia sudah membuat keputusan.