
cerita sebelumnya:
Saat tengah malam, Fram dan Rexus mengunjungi nya. Fram menceritakan cerita tentang ibunya. Ibunya adalah satu murid David. Serta kedua orang tuanya meninggal karena terbunuh oleh penyihir cahaya saat mereka ingin mempertahankan peninggalan dari David. Lalu ternyata Ren berada di ibukota karena dia ingin menyelidiki kasus pembunuhan ini.
***
Keesokan harinya, aku bangun sambil merenggangkan kedua tanganku di atas. Tidurku tadi malam benar-benar nyenyak karena aku merasa kelelahan. Saat bangun, aku tidak melihat Rexus di kasur. Aku kira naga kecil itu sudah bangun lebih dulu dan pergi bermain.
Hari ini aku bangun agak telat. Walaupun hari ini libur, tetap saja aku harus pergi ke akademi untuk mengisi absen. Aturan yang sangat menyebalkan sebenarnya.
Akademi diliburkan selama seminggu dari semua kegiatan pembelajaran karena ujian kenaikan tingkat untuk semua siswa.
Tiga hari pertama adalah ujian tingkat untuk murid tingkat satu. Lalu seterusnya adalah ujian untuk murid tingkat dua dan tingkat tiga.
Murid tingkat satu memiliki waktu tiga hari untuk menghadapi ujian. Hari pertama adalah ujian tertulis. Hari kedua adalah ujian pertandingan dengan basis survival. Dan yang ketiga adalah ujian pertandingan untuk menduduki peringkat seratus besar.
Sementara anak tingkat dua dan tingkat tiga hanya memiliki dua hari ujian. Hari pertama adalah ujian tertulis dan hari kedua adalah ujian pertandingan.
Ujian pertandingan untuk murid tingkat dua dan tiga berbeda dari murid tingkat satu, tidak ada sistem survival untuk menentukan peringkat sepuluh besar. Bagi murid tingkat dua, Semua orang yang berhasil melewati ujian tertulis dianggap lulus dan bisa naik ke tingkat tiga. Mereka memiliki kebebasan untuk memperoleh menantang peringkat seratus besar atau tidak. Ada beberapa orang yang memilih untuk melewati ujian pertandingan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak tertarik dengan Pertarungan. Di masa depan mereka akan memilih menjadi pustakawan, sarjana, peneliti, ibu rumah tangga ataupun pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan kekuatan fisik, tetapi kekuatan otak. Dengan satu syarat, mereka harus berhasil mendapatkan skor yang tinggi pada ujian tertulis. Kalai skor mereka rendah, merek tetap harus bertanding melawan peringkat seratus besar.
Sementara bagi murid tingkat tiga, ujian pertandingan mereka adalah ujian kelulusan. Mereka harus melawan instruktur sampai mereka mengalah dan mereka dinyatakan menang.
Hari ini adalah hari keempat ujian kenaikan tingkat. Murid kelas satu sudah menyelesaikan ujian mereka, jadi mereka tidak memiliki kegiatan apapun. Tapi bukan berarti mereka libur. Mereka tetap harus pergi ke akademi untuk menghabiskan waktu mereka. Mereka bisa berlatih, pergi ke perpustakaan, memiliki kegiatan di klub ataupun menonton pertandingan para senior.
Aku ingin menonton pertandingan para senior, tapi pertandingannya diadakan besok, tepat di hari kelima. Jadi aku tidak memiliki kegiatan apapun hari ini.
Aku hanya bisa uring-uringan di akademi. Aku bosan ke perpustakaan. Aku juga tidak masuk klub apapun. Sehingga aku benar-benar tidak bersemangat untuk pergi ke akademi.
Untung saja, waktu itu aku melihat Lilac dan yang lainnya sedang bermain di halaman belakang akademi. Jadi aku langsung menghampiri mereka dengan langkah bersemangat.
__ADS_1
Saat aku semakin mendekat, aku melihat seseorang yang paling tidak ingin kutemui. Dia tidak lain adalah Reina. Awalnya Reina tertutup oleh anak-anak lainnya karena mereka duduk berkelompok. Sehingga aku tidak melihatnya.
Semangat ku menghilang dalam sekejap. Jujur saja bukannya aku takut. Tapi aku sedang tidak mood untuk bertengkar dengan orang lain. Jadi aku menghentikan langkahku dan memilih untuk memutar.
"Eva!"
Tapi tiba-tiba Lilac melihat ku dan memanggilku. Dengan cekatan gadis itu menghampiri ku lalu menarik tanganku untuk bergabung dalam kelompok.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti? Ayo bergabung! katanya ramah.
Aku hanya bisa mengangguk dengan ekspresi canggung.
Saat aku masuk ke dalam kelompok itu, suasana menjadi berubah. Padahal sebelumnya suasana mereka sangat harmonis. Mereka berbincang dengan riang. Tapi saat aku datang, suasana langsung menjadi sunyi. Mereka berhenti berbicara satu sama lain dan menatapku dengan wajah "kenapa orang ini bisa ada disini".
Aku merasa sangat canggung. Beberapa dari mereka adalah teman sekelasku dan tentu saja kami saling kenal. Tapi aku hanya dekat dengan Lilac dan tidak pernah memiliki percakapan lebih jauh dengan yang lainnya.
"Eva. Aku mendapatkan kabar bahwa kita harus hadir besok di pertandingan murid tingkat dua sebagai murid terbaik. Kau tahu, kita harus duduk di kursi terhormat itu. Bukankah sangat menyenangkan" kata Lilac semangat.
"Eh? Aku kira kita hanya menonton?" kataku mengerjap kaget. Aku tidak tahu bahwa kita harus duduk di kursi milik seratus peringkat umum. Sejenak aku melupakan hal itu.
"Tentu saja kita juga menonton! Tapi lebih tepatnya kita harus mempersiapkan diri untuk menerima tantangan dari senior! Aku benar-benar tidak sabar menantang mereka dan menunjuk kan kemampuan ku!"
"Kau benar"
Kataku datar sambil mengangguk kecil. Karena sepuluh dari kami berhasil duduk di seratus peringkat umum. Kami harus bersiap untuk menerima tantangan murid-murid yang menginginkan peringkat kami.
"Bukankah kau akan menghadapi masalah paling serius?" Lilac menepuk bahu Eva "Kau memiliki peringkat tertinggi di antara murid baru. Aku saja bahkan tidak bisa membayangkan untuk merebut peringkat seratus besar. Kau benar-benar hebat~"
Pujian Lilac membuka mata semua orang yang ada di situ. Mereka langsung ingat prestasi yang sudah Eva capai.
__ADS_1
"Bukankah Nona Eva sangat hebat? Aku ingin mengundang nona ke rumahku untuk pesta teh nanti"
"Aku juga ingin berlatih dengan nona. Bisakah kita berteman?"
"Aku ingin nona bergabung dalam tim kami~"
Beberapa dari mereka langsung mengerumuni Eva dan melihat nya dengan mata antusias. Suasana canggung itu langsung berubah dalam sekejap.
Lilac hanya tersenyum kecil. Dan Wajah Eva hanya berkedut saat dia harus menghadapi kerumunan anak-anak yang mengelilinginya.
"Bukankah Nona Eva menyembunyikan kekuatannya selama ini? Apa yang ingin nona lakukan? Apa nona merencanakan sesuatu?" suara sarkas tiba-tiba terdengar. Sumbernya adalah seorang anak perempuan yang berada di samping Reina. Dia adalah sahabat Reina. Salah satu murid kelas B yang selalu mengikutinya. Mereka pernah bertemu satu sama lain saat kejadian di cafe sekolah.
Aku sebenarnya sangat kesal, tapi aku menahannya. Tidak menguntungkan untuk bergabung dalam perkelahian saling mengejek seperti ini. "Bukan urusanmu" jawabku dengan nada datar.
Semua orang kembali diam dan menatap Eva dengan berbagai macam tatapan.
"Aku sama sekali tidak pernah menyembunyikan kekuatanku. Tapi mata kalian semua yang buta dan tidak melihat semua itu. Bukankah kalian menganggapku sama seperti rumor?" aku menatap ke semua orang dengan tatapan tajam. "Tapi itu bukan urusanku. aku juga tidak peduli." kataku santai sambil melangkah pergi.
"Eva, tunggu!" Lilac langsung menyusulnya.
"Bukankah dia terlalu sombong!" anak perempuan itu mengeluh. "Dia selalu membuat masalah padamu! Aku yakin dia iri padamu Reina! Dia benar-benar gadis yang jahat!"
Reina menggeleng lemah.
"Aku tidak mau berkomentar apapun" katanya lemah. "Tapi Eva tidak salah. Itu semua salahku..." dia berkata sedih.
"Apa maksudmu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Putra Mahkota dari kerajaan Kano itu.
Melihat dirinya menjadi pusat perhatian kembali, mata Reina langsung berubah antusias. Dengan mata berkaca-kaca dia menceritakan perlakuan Eva. Tapi diming-imingi dengan kata "Eva tidak salah. Semuanya salahku". Dan membuat semua orang kembali salah paham, serta terbentuk nya gosip baru.
__ADS_1