
Cerita sebelumnya:
Ren menunjukkan lingkaran sihir teleportasi rahasia pada Eva. Lingkaran sihir teleportasi itu terhubung ke kastil Elf miliknya. Jadi mereka tidak perlu menempuh waktu yang cukup lama kesana.
Tapi ada satu kekurangan. Ren tidak memperbolehkan siapapun menggunakan lingkaran sihir itu kecuali Eva. Eva dikecualikan karena gadis kecil itu sudah tahu keberadaan rumah pohon milik nya.
Akibatnya Eva harus memohon agar ibu dan adiknya diperbolehkan menggunakan lingkaran sihir itu. Awalnya Ren menolak sehingga Eva berpikir akan sulit membujuknya. Tapi itu tidak benar. Ren langsung menyetujui permintaan nya.
Ren juga menunjukkan beberapa sikap aneh. Seperti kehilangan kontrol pada sihirnya. Padahal itu hanya sihir tingkat rendah. Hal ini benar-benar membingungkan untuk Eva.
***
"Aku akan memberitahumu saat aku membawa ibu dan adikku kemari" kataku setelah kami berdua meninggalkan ruang kerja yang berantakan itu.
Ren hanya menatapku dengan ekspresi datar dan mengangguk pelan.
Lalu tiba-tiba dia membuka ruang dimensinya dan mengeluarkan beberapa tumpuk buku kosong.
Buku itu melayang ke arahku. Aku mengernyitkan kening, bingung. Untuk apa dia menerbangkan buku ke arahku?
"Tugas mu" kata Ren kemudian saat dia sadar bahwa Eva membeku.
"Hah?"
"Apa kau lupa alasanmu kemari?" Ren meletakan tumpukan buku di tangan Eva. Lalu dia mendekat dan menyodok kening nya dengan jari telunjuk. "Manusia percobaan?" tambahnya dengan nada mengejek.
Wajah Eva langsung berubah jelek. Urat-urat kekesalan muncul di kepalanya. Dia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi Ren memotong nya.
"Lakukan tugasmu dengan benar. Aku akan menemuimu lagi nanti" katanya. Lalu sosoknya menghilang dengan cepat.
Mataku melotot kesal. Aku langsung menghempaskan tumpukan buku itu ke lantai sambil mengutuk "Dasar kakek sialan!"
tentu saja aku tidak berani melakukannya kalau Ren berada di sini. Tapi sekarang pria itu telah menghilang entah kemana, jadi aku benar-benar bebas meluapkan kekesalan ku.
Jujur saja menjadi manusia percobaan ini tidak terlalu buruk. Hal-hal yang Ren perintahkan padaku sama sekali tidak berbahaya, kecuali menjadi uji coba pistol sihir baru itu. Jadi aku tidak terlalu membencinya.
Aku berusaha menenangkan diri. Lalu aku mulai duduk dan membuka tumpukan buku itu. Ada lima buah buku di depanku.
Saat aku membukanya, aku sedikit bingung. Di halaman depan, hanya ada satu kalimat pertanyaan. Aku pun membuka halaman lainnya untuk memastikan. Dan setiap halaman hanya ada satu kalimat pertanyaan, sehingga menyisakan banyak sekali ruang kosong pada kertas.
__ADS_1
Lalu aku menemukan sebuah note yang ditempel di balik sampul buku.
"Jawab semua pertanyaan nya, karena aku membutuhkan kannya untuk penelitian"
Ini pasti note dari kakek jelek itu! Ini benar-benar mengingatkan ku pada suasana ujian. Aku harus menjawab banyak sekali pertanyaan. Dan buku-buku ini bertindak seperti kertas ujian.
Apa dia menginginkan aku mengerjakan soal ujian di sini?
Dia benar-benar seorang guru sejati dan hal itu sangat menyebalkan!
Walaupun aku terus mengeluh, aku tetap menulis jawaban pada ruang kosong yang disediakan. Pertanyaan yang diberikan Ren sama sekali tidak sulit sebenarnya. Tapi itu cukup banyak. Dan aku harus menjawab semua pertanyaan di lima buku itu!
Jarum jam terus bergerak dan waktu terus berlalu. Aku sama sekali tidak tahu sekarang sudah jam berapa tapi langit sudah gelap sejak tadi dan aku sudah mulai mengantuk.
"Ini pertanyaan terakhir..." kataku sambil menulis jawaban dengan gerakan jari yang lemas.
Wajah ku sudah seperti zombie sekarang. Aku menghabiskan beberapa jam hanya untuk mengisi semua pertanyaan. Bahkan aku tidak makan dan minum. Aku hanya berusaha mengisi kembali staminaku menggunakan sihir cahayaku. Tapi itu bersifat sementara dan aku kembali menjadi lemas lagi.
"Bagaimanapun juga aku butuh makan...." aku merintih sedih sambil merebahkan tubuhku di atas lantai.
Aku sudah membersihkan ruang dimensi ku sebelumnya. Aku memindahkan semua makanan di dalamnya karena aku tidak berencana untuk berpergian jauh. Tapi siapa yang mengira aku akan menjadi kelaparan karena hal itu. Untuk selanjutnya aku akan memastikan menyimpan beberapa makanan di dalam ruang dimensi untuk jaga-jaga kalau hal seperti ini terjadi lagi.
TAK!
Ternyata Ren sudah kembali!
"Kau sudah selesai?" dia bertanya dengan polos. Seolah-olah dia tidak melakukan hal yang salah sama sekali.
Aku masih menahan rasa kesalku dan menjawab dengan sopan. "Sudah" sambil mengangguk kan kepalaku.
Ren tersenyum. Aku sedikit terpesona lagi saat melihat senyumnya. Ren sangat jarang tersenyum. Dia selalu memasang ekspresi dingin dan menyeramkan. Jadi ini memberikan sensasi aneh untukku, sehingga langsung membuatku membeku.
Ren duduk di depanku lalu dia mengeluarkan sebuah keranjang dari udara kosong. Dan meletakkannya di tengah-tengah.
Dia bahkan tidak mengecek tumpukan buku di samping ku. Padahal bisa saja aku berbohong kalau aku sudah selesai bukan?
"Makan" dia memerintahkan dengan ekspresi datar. Lalu tiba-tiba dia mulai mengusap kepalaku "Kerja bagus"
Aku melonggo bingung. Bahkan tanpa sadar ada sedikit perasaan aneh yang timbul tiba-tiba. Dan tanpa sadar wajahku memerah. "Em" aku bahkan mengeluarkan gumaman tidak jelas.
__ADS_1
Aku dengan cepat membuka keranjang itu sambil menundukkan wajahku. Ada dua potong sandwich daging di dalamnya.
Aku kembali melonggo bingung. Ini adalah pertama kalinya aku melihat sandwich di dunia ini.
"Itu adalah eksperimen ketiga" jawab Ren, seakan-akan dia tahu alasan wajah bingung yang dibuat Eva.
"Eh? Kau benar-benar membuatnya?" kataku tak percaya. Dia benar-benar mengingat semua hal aneh yang kukatakan. Hari ini aku sudah melihat tiga benda dari kehidupan masa laluku. Minuman Soda, pistol dan sandwich daging! Ini membuat ku merasa sedikit nostalgia.
Aku langsung mengigit nya tanpa berpikir. Dan rasanya enak. Aku juga merasakan mayo dan saus di dalamnya. Apa dia juga membuat bumbu-bumbu ini?
Aku menatap Ren tak percaya. "Rasanya enak. Apa kau membuat saus mayo dan saus sambal juga?"
Ren tersenyum penuh percaya diri. "Itu hal yang mudah" Dia juga mengigit sandwich miliknya. "Tapi rasanya memang seenak ini" katanya kagum.
"Tentu saja! Aku tahu banyak sekali makanan enak. Bahkan lebih enak dari makanan bangsawan di dunia ini" kataku tanpa sadar.
Ren menatap Eva lekat-lekat, lalu dia bertanya dengan nada serius. "Darimana kau tahu semua hal ini? Apa kau mahluk asing dari dunia lain?"
Uhuk! Aku tersedak dengan sangat kuat kali ini. Tapi untung saja ada teko air di samping, jadi aku selamat.
"Aku hanya bercanda" kata Ren kemudian. Tapi di dalam pikirannya, dia memikirkan sesuatu.
Saat dia mengetahui isi pikiran Eva, entah kenapa hal itu mengingat kannya dengan mahluk asing yang datang ke dunia ini beberapa ribu tahun yang lalu. Karena gadis ini selalu membawa hal-hal asing yang sangat menarik di kepalanya. Walaupun Ren belum pernah bertemu dengan satu pun mahluk asing sebelumnya.
Tapi Ren langsung menyingkirkan pemikiran itu. Lagipula kelahiran Eva di dunia ini terklarifikasi. Dia sama sekali bukan mahluk asing yang datang ke dunia ini dengan lubang dimensi.
"Darimana kau memikirkan semua hal-hal asing yang menakjubkan ini?" Ren akhirnya bertanya.
Jantungku berdetak dengan cepat sekarang karena terlalu gugup. Rasanya seolah-olah kebohonganmu terbongkar di depan umum, walaupun aku sama sekali tidak berbohong sekarang.
"Aku hanya memikirkannya saat aku menjelajah" jawabku absurd. "Maksudku...aku pernah mengelilingi Menara Sihir, Kerajaan Kano, Kota Sihir dan tempat lainnya. Jadi inspirasi itu muncul tiba-tiba" aku menambahkan. Oke, aku berbohong sekarang. Tapi tidak mungkin aku bilang semua itu berasal dari kehidupan masa laluku. Jadi jawaban inilah yang paling aman.
"Aku mengerti" jawab Ren sambil mengangguk kan kepalanya. Dia tidak bertanya lebih jauh dan melanjutkan menghabiskan makanannya. Sehingga membuat ku sedikit lega.
Kami pun menyelesaikan makan malam kami tanpa percakapan apapun lagi.
"Guru, sekarang aku boleh pulang?" aku bertanya takut-takut.
"Tentu saja. tugasmu sudah selesai" jawab Ren positif. "Aku akan mengantarmu pulang"
__ADS_1
Ren pun mengantar ku sampai di depan mansion, sebelum akhirnya dia berbalik pergi. Saat aku masuk ke dalam mansion, jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Sementara besok, aku harus bangun pagi untuk hadir di ujian pertandingan.
"Semoga saja aku tidak terlambat..." aku mengeluh dengan nada lemah. "Hari yang sangat melelahkan haaah..."