
Cerita sebelumnya:
Sayn berhasil menyelinap ke dalam ruang bawah tanah di mansion Marquis. Awalnya dia mengikuti orang mencurigakan sebelum tiba di tempat itu. Ruang bawah tanah itu pun membuat nya sangat kaget. Penuh dengan anak manusia yang dimasukkan ke dalam tabung untuk dieksploitasi mananya.
Dia juga bertemu dengan elf mencurigakan dan bertarung dengannya. Sampai akhirnya marquis dan seluruh pengawal mengejarnya. Tapi dia berpura-pura kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak untuk menghindari kecurigaan pihak lain.
***
"Hmm, baiklah..." Sayn menjawab malas. Tapi wajahnya cemberut karena tidak senang dengan perlakuan mereka. Dia bangkit dari tempat tidurnya untuk menyingkir.
Saat Sayn mulai pindah, para prajurit mulai menyebar dan menggeledah seluruh ruangan. Elf itu juga ikut serta. Hanya Marquis Zent yang mengawasi di pintu depan.
"Sebenarnya ada apa Marquis?" Sayn bertanya dengan wajah mengantuk.
Ehem! Marquis terbatuk kecil.
"Aku mendengar ada penyusup di mansion ini. Aku takut keselamatan Yang Mulia terancam karena itu aku ingin memeriksa seluruhnya" pria itu mencoba menjelaskan.
"Oh..." Sayn hanya merespon dengan malas. Tapi dia tertawa dalam hati. Orang-orang ini terlihat cukup bodoh di matanya. Apa mereka mengira dia akan meninggalkan jejak saat dia menyusup?
Akhirnya, mereka tidak menemukan apapun. Bahkan elf itu mengernyitkan kening bingung. Lalu menatap Sayn dengan sangat tajam. Sayn menyadari tatapan itu dan menatap balik dengan wajah bingung. Hingga akhirnya elf itu mengalihkan pandangannya.
Kemudian elf itu berbisik pada Marquis. Marquis pun menarik pasukannya dan memohon maaf pada Sayn karena telah menganggu waktu tidurnya. Sayn hanya menanggapi dengan wajah cemberut sambil mengangguk pelan.
Sayn kembali ke kasurnya dan berbaring dengan nyaman saat orang-orang itu mulai pergi dari kamarnya.
"Kelihatannya aku akan bangun terlambat besok" kata Sayn sambil secara perlahan menutup matanya.
Hari berlalu dengan cepat. Keesokan paginya, para pelayan sudah membangunkan nya dan membantunya bersiap-siap. Setelah itu Reina juga mengunjungi nya.
Saat itu Sayn sedang berganti baju dan gadis itu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Ayahku ingin berbicara denganmu..." kata Reina sambil menyembunyikan wajah malunya. Dia tanpa sengaja melihat pria di depannya bertelanjang dada, jadi itu adalah reaksi refleks nya.
Sayn dengan cepat memasang kemejanya. "Sekarang?" Dia bertanya.
"Ya"
__ADS_1
Reina pun mengantar nya menemui Marquis. Jujur saja Sayn tidak tahu bahwa Marquis ingin berbicara dengannya. Apa Marquis tahu bahwa dialah penyusup itu? Tapi hal itu sama sekali tidak mungkin. Dia tidak pernah ketahuan saat menjalankan misinya. Dia adalah pembunuh profesional.
Reina mengantarkan nya ke ruang kerja milik Marquis. Saat itu mereka akan berbicara empat mata karena Reina langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Duduklah, Yang Mulia. Apa anda ingin kembali hari ini?" tanya Marquis.
Sayn duduk dengan elegan di sofa mewah itu. Sementara Marquis menuangkan teh ke dalam cangkir di depannya.
"Ya, hari ini aku akan kembali ke Kano dengan lingkaran teleportasi. Aku akan kembali ke akademi setelah liburan berakhir " Sayn menjawab sambil menyesap tehnya.
Marquis tersenyum sopan. "Saya sangat senang bahwa Yang Mulia bisa berteman baik dengan putri saya. Ini adalah sebuah kehormatan."
"..."
Sayn mengerjapkan matanya, dia tidak merespon.
Melihat Sayn tidak merespon, Marquis melanjutkan dengan tatapan sedih. "Putri saya hidup cukup sulit di Kerajaan ini sejak ibunya hanya rakyat biasa. Para bangsawan sering mengejek dan menganggunya karena hal itu. Karena itu saya mohon kepada Yang Mulia untuk bisa menjaga nya di masa depan karena kalian berteman baik" Marquis menatap Sayn dengan mata penuh permohonan.
"Tidak masalah" Sayn menjawab dengan santai.
Marquis tersenyum bahagia setelah mendengar jawabannya. "Karena kondisi rumah kami tidak terlalu baik karena tekanan bangsawan lainnya. Saya benar-benar mengkhawatirkanmu keselamatan gadis kecil itu. Dia gadis kecil yang baik. Saya benar-benar tidak berniat untuk membuat nya terlibat dalam masalah politik seperti ini" dia melanjutkan perkataannya dengan nada sedih.
Mata Marquis berbinar, seakan-akan dia sudah menunggu momen ini. "Ya, Yang Mulia. Kondisi politik di kerajaan Well benar-benar tidak baik. Faksi kerajaan dan Faksi Duke saling bertarung satu sama lain sehingga merugikan bangsawan kecil seperti kami." dia menjelaskan.
Bagi Marquis, Sayn adalah ban cadangan. Sayn akan menjadi tempat berlindung terakhirnya kalau faksi kerajaan benar-benar kalah dalam konflik ini. Jadi dia bersikap seolah-olah dia tidak terlibat konflik antara kedua faksi itu..
Walaupun tentu saja, di dalam hatinya dia ingin faksi kerajaan menang. Dan Reina merebut kirsi ratu sehingga dia bisa menjadi mertua raja dan memperoleh kekuasaan lebih. Kalaupun rencananya gagal dan raja jatuh. Dia bisa meminta bantuan Sayn.
Walaupun Sayn masih seorang pangeran saat ini. Dia akan membimbingnya menjadi seorang raja. Dan tentunya putrinya akan menjadi ratu. Jadi dia tidak akan dirugikan walaupun dia kalah atau menang. Dia merasa sangat senang dengan keberuntungannya.
"Raja dan Duke ya..." Sayn memainkan jarinya seolah-olah seperti dia sedang berpikir. "Bukankah kau berada di faksi kerajaan?" dia menatap Marquis lekat-lekat.
"Ya, Yang Mulia..." Marquis menjawab canggung. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Apa kau yakin bahwa faksi kerajaan akan menang?" Sayn bertanya.
"Saya... saya tidak bisa menyimpulkan hal itu. Tapi saya berharap raja dapat menstabilkan kerajaan ini dari para pemberontak. Saya bahkan mendengar bahwa faksi Duke benar-benar menyalahgunakan posisi mereka untuk merugikan orang lain. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak pantas untuk hidup nyaman di kerajaan ini..." katanya benci.
__ADS_1
Sayn mengerjap. "Kau memberitahu semua informasi ini padaku. Kau tahu bahwa aku adalah bangsawan dari kerajaan musuh bukan? Apa kau ingin mengkhianati kerajaan Well?" tanya Sayn sambil tersenyum kecil.
Marquis tersentak kaget. "Tidak! Tidak! saya tidak berani!" dia mengelak dengan wajah panik. "Saya memberitahu Yang Mulia karena Reina. Saya hanya ingin Yang Mulia sadar bahwa kondisi di kerajaan ini sedang tidak baik. Jadi saya hanya ingin Yang Mulia menjaga putri saya. Tidak ada maksud apapun" dia berkata dengan tulus.
"Oh, aku mengerti" Jawab Sayn santai sambil menyesap tehnya lagi. Sebenarnya dia mendapat kan beberapa informasi baru dari Marquis ini. Dia tidak tahu bahwa kedua faksi utama di Kerajaan Well benar-benar dalam kondisi yang sangat tidak baik sekarang. Kalau ayahnya, sang raja tahu, dia akan senang dan menggunakan kesempatan ini untuk berperang. Tapi sayang nya Sayn tidak tertarik dengan hal ini. Dia juga tidak ingin memberitahu ayahnya tentang informasi apapun yang dia ketahui.
Perbincangan serius mereka berhenti sampai disini. Setelah itu Marquis hanya memujinya dan saat dia akan pergi, Marquis menitipkan salamnya untuk Raja Kano. Tapi tentu saja Sayn tidak akan pernah menyampaikan pesan itu.
"Kau akan kembali?" Reina mengantarkan nya sampai di depan mansion. Dia sedikit kecewa saat melihat Sayn akan pergi.
"Ya" jawab Sayn datar. Dia segera naik ke kereta kudanya.
"Sayn, hati-hati. Aku akan berkunjung ke Kano kalau aku punya waktu" kata Reina sambil melambaikan tangannya.
"Baik"
Dan kereta kuda mewah itu pergi meninggalkan mansion Marquis.
"Tuan, apa kau ingin kembali ke Kano? Aku akan mengantarmu untuk berkumpul dengan pangeran dan putri. Mereka juga akan kembali hari ini" kusir kereta itu berkata.
"Baik, antar aku" jawab Sayn malas. Dia dengan cepat memakai jubah hitamnya. Setelah itu dia mengeluarkan boneka sihir dari ruang dimensi dan menghilang dari dalam kereta dengan cepat.
Sayn berteleportasi ke markas terdekat nya di ibukota. Semua orang menyambut nya saat dia tiba-tiba muncul di dalam ruangan.
"Tuan, bagaimana dengan misimu?" penatua itu bertanya tentang misi pembunuhan yang harus dijalaninya.
"Aku akan mengurus misi itu nanti. Untuk sekarang, kita punya misi yang lebih penting." kata Sayn serius
Semua orang menatapnya dengan bingung.
"Panggilkan semua orang. Kita akan menyerang mansion Marquis Zent dan menghancurkan sesuatu" kata Sayn sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Baik, Tuan" jawab semua penatua itu patuh. Walaupun mereka bingung kenapa mereka harus menghancurkan mansion milik Marquis. Ini adalah misi teraneh yang pernah mereka jalankan.
Dua hari kemudian, terdengar kabar bahwa sekelompok penyusup menghancurkan mansion milik Marquis. Mansion itu tidak hancur sepenuhnya. Hanya saja bagian belakang mansion meledak dan juga semua kaca dan pintu di tempat itu benar-benar hancur. Perlu biaya yang sangat besar untuk melakukan renovasi bangunan sebesar itu.
Tidak ada korban jiwa saat hal itu terjadi. Tapi para penyusup mencuri beberapa barang berharga. Begitulah penjelasan Marquis saat dia melaporkan kondisinya kepada Raja. Raja pun membantu nya dengan meminjam kan beberapa ksatria dan bahkan Denis untuk melakukan penyelidikan, dan mengejar para penyusup itu.
__ADS_1
Tapi itu sebenernya hanya sebagian kecil hal yang diberitahu Marquis. Karena dia tidak mungkin berkata bahwa ruang bawah tanah miliknya hancur. Dan semua anak-anak itu menghilang dari tabung. Bahkan orang misterius itu juga menghilang dan meninggalkan semua tanggung jawab ini padanya. Marquis sangat frustasi saat dia mengetahui semua hal itu.
Warning: penuh typo