
Cerita sebelumnya:
Eva mendapatkan banyak sekali tantangan dari para murid tingkat dua. Dia mendapatkan tantangan berturut-turut selama putaran kedua sampai kedelapan. Tapi semua lawannya adalah orang aneh.
Sampai akhirnya di putaran kesembilan, dia menemukan lawan yang cukup normal. Tapi sayang nya gadis itu adalah pendukung Reina. Dia mulai menyalahkan Eva karena berlaku tidak adil pada Reina.
Sampai akhirnya gadis itu mulai mengutuk Eva dan keluarga untuk mati karena kebencian yang sama sekali tidak berdasar.
Eva langsung murka karena gadis itu mengutuk keluarga nya untuk mati. Jadi tanpa sadar dia ingin membunuhnya. Walaupun pembunuhan itu gagal. Tetap saja sikap Eva membuat seluruh orang di aula itu menjadi gentar.
Eva kembali sadar dan merasa bersalah. Tapi itu sudah terlambat karena setiap orang sudah mencapnya sebagai gadis yang kejam.
***
Saat Eva kembali ke kursinya, Reina berdiri dari kursinya dan bergegas ke tepi arena. Dengan wajah cemas dan sedih dia menghampiri gadis yang terbakar itu.
"Jangan mati..." Reina mulai menangis sambil menggunakan sihir cahayanya untuk menyembuhkan gadis itu.
Dalam sekejap, dia menjadi pusat perhatian. Tapi tatapan yang di arahkan padanya berbeda dengan tatapan yang diterima oleh Eva. Tatapan yang diberikan pada Reina adalah tatapan kasihan dan prihatin.
Reina menggunakan seluruh kekuatan nya dengan mata berkaca-kaca, karena berusaha menahan tangisnya. Wajahnya pucat dan keringat perlahan turun di dahinya.
Karena sihir penyembuhan Reina, gadis itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Awalnya tubuhnya menghitam karena luka bakar. Tapi luka bakar itu perlahan menghilang dan mengembalikan warna kulit asli nya. Walaupun akan sangat sulit mengembalikan kakinya yang sudah terbakar habis.
"Nona, kau bisa kembali sekarang. Kami akan merawat nya" Wasit itu memberi tahu Reina dengan sedikit gugup, takut gadis itu benar-benar menagis.
"Em" Reina mengangguk patuh. Dia kembali ke kursinya sambil sesekali melihat gadis itu dengan tatapan cemas. Sementara sang gadis dipindahkan secara perlahan dari tepi arena oleh para penyihir penyembuh.
Ujian pertandingan pun terhambat karena arena yang dirusak oleh Eva. Tapi pihak akademi sudah mengantisipasi hal ini. Mereka dengan cepat memperbarui lapangan yang rusak walaupun hal itu memakan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Secara perlahan aula kembali ricuh dan kehilangan suasana dinginnya. Eva mengunci telinganya dengan sihir angin. Dia menghalau sekeliling nya dengan pelindung tidak terlihat, membuat sekelilingnya menjadi kedap suara.
Untuk saat ini, Eva benar-benar tidak mau mendengar kan semua perkataan orang-orang yang mengutuk dirinya. Baik itu sengaja atau tidak sengaja.
Lima belas menit kemudian, ujian pertandingan dimulai lagi. Saat putaran terakhir, tidak ada yang menantang Eva. Sehingga dia tetap melamun di tempat nya.
Tatapan Eva terasa kosong. Walaupun dia melihat ke depan, dia tidak memperhatikan pertandingan sama sekali. Dia sibuk melamun. Dan sihirnya juga masih aktif, sehingga dia tidak mendengar apapun dari luar.
Ujian pertandingan pun selesai. Tidak tahu ini beruntung atau tidak, tapi semua murid tingkat satu berhasil mempertahankan posisi mereka di seratus peringkat besar.
Eva masih melamun. Tapi dia sedikit sadar dan mulai meninggalkan kursinya, menuju keluar aula. Walaupun tatapannya masih kosong. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan akademi dan kembali ke rumah nya untuk menenangkan diri.
Tapi tak lama kemudian, Reina menghampiri nya saat mereka mulai keluar dari aula pertandingan.
"Kenapa kau melakukan semua itu?!" Reina berteriak dengan wajah sedih, hampir menangis, sehingga menarik perhatian semua orang yang berlalu lalang.
Aku mendengarnya dan aku langsung menoleh tanpa membuka mulutku. Aku benar-benar tidak mood untuk berdebat sekarang. Bisakah gadis bodoh ini membiarkan aku pergi?
Orang-orang mendengar perkataan Reina dan mulai melihat Eva. Beberapa dari mereka lalu bergosip di antara mereka sendiri.
Aku mengernyit kan kening tidak senang. "Apa kau ratu drama? Bukankah kau yang memulai semuanya? Kau menyebarkan rumor buruk tentang ku dan membuat semua orang membenciku!" aku menggertakan gigi ku, menahan amarahku untuk tidak menyerang Reina.
Reina memutar matanya gugup. "Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti maksudmu? Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti yang kau katakan. Apa kau sangat membenciku seperti itu? Hiks..." Reina mulai terisak.
Aku benar-benar muak sekarang. Aku ingin memukulnya sekarang. Siapa yang peduli kalau dia adalah tokoh utama? Persetan dengan tokoh utama!
Tapi Denis tiba-tiba datang dan menghentikan nya.
"Bisakah kau berhenti memukul orang lain?" Denis berkata.
__ADS_1
Denis sebenarnya agak tidak setuju dengan sikap kasar Eva. Walaupun dia sudah mengetahui nya sejak mereka masih kecil. Tapi tetap saja Denis berharap bahwa dia akan berubah karena dia akan menjadi ratu masa depan nanti nya. Tapi nyatanya gadis ini semakin menjadi tidak masuk akal. Bahkan hampir membunuh murid dari akademi.
Aku sadar bahwa Denis melihat ku dengan tatapan tidak senang. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"...."
Jadi aku hanya menatap semua orang dan memutuskan untuk berbalik pergi.
"Kau mau kemana? Aku menemuimu karena ingin kau meminta maaf pada Bel!" teriak Reina.
"Kenapa aku harus meminta maaf pada nya?" tanyaku sarkas.
"Lebih baik kau meminta maaf, Eva, karena kau sudah membuatnya kehilangan kaki" kata Denis kemudian. Dia berpikir meminta maaf karena bersalah adalah sesuatu yang harus Eva pelajari. Menurutnya Eva selalu dimanja sejak muda dan membuat nya menjadi egois. Lagipula meminta maaf bukanlah hal yang sulit.
Aku menatap Denis tak percaya. "Kenapa aku harus meminta maaf? Apa kau tahu apa yang terjadi sebelum menuduh ku seperti itu? Kau bahkan tidak tahu bahwa orang itu mengutukku dan seluruh keluargaku untuk mati! Aku bahkan tidak mengenalnya tapi dia yang membenciku dan memprovokasi ku duluan!" aku berbicara dengan cepat, Bahkan hampir kehabisan napasku.
Denis hanya menghela napas, lalu menatapku penuh arti. "Bukannya aku tidak ingin berpihak padamu. Bukan hanya kau saja yang merasakan hal seperti itu, semua bangsawan di dunia ini juga pernah" dia tersenyum masam. "Sejak kita adalah seorang bangsawan, kekuasaan kita menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Akan ada banyak orang yang menyukai dan membenci kita. Itu adalah resiko dari gelar yang sudah kita peroleh."
Denis mengernyitkan keningnya sedih "Aku hanya tidak ingin kau berakhir menjadi orang yang egois hanya karena bertemu dengan satu orang yang membencimu. Kau seharusnya mencari cara mencuri hati mereka daripada harus memusuhi mereka seperti itu. Lagipula mereka adalah rakyat. Dan tugas kita adalah melindungi para rakyat itu."
Denis berharap Eva mengerti akan gelar yang sudah diterimanya sejak lahir. Setidaknya gadis itu mengerti dan tidak akan bersikap di luar batas seperti ini.
Dia berharap Eva akan mengintropeksi dirinya dan berubah menjadi lebih baik. Tapi dugaannya salah. Gadis itu malah menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian.
Aku menggenggam tanganku erat-erat untuk menahan semua emosi ku yang hampir meledak. "Jadi maksud mu...aku harus memaafkan mereka dan bahkan berbuat baik pada mereka yang sudah mencelakai ku atau mencelakai keluargaku...?"
Aku menatap Denis dengan intens dan tersenyum sinis. "Yang Mulia, aku tidak sebaik itu. Hanya ada dua orang di dunia ini yang aku kenal. Musuh dan Sekutu. Aku akan menghancurkan musuhku dan aku akan melindungi sekutuku. Kalau kau ingin mencari orang yang baik seperti itu, aku adalah orang yang salah" kataku tajam.
Ekspresi wajah Denis menjadi tidak nyaman. "Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kau..."
__ADS_1
Eva langsung memotong pembicaraan Denis dengan cepat. "Persetan dengan kalian para tokoh utama! Aku tidak peduli lagi!" teriaknya sebelum akhirnya dia melarikan diri dengan cepat menggunakan sihirnya.