Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 19


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Penatua dari Jiwa Sihir menghalangi Denis untuk mengambil artefak miliknya. Karena penatua itu ingin memonopoli semuanya.


Akhirnya terjadi pertarungan karena Denis tidak setuju. Walaupun akhirnya Denis terluka dan babak belur.


Reina yang putus asa karena permohonannya tidak ditanggapi pun mulai mengatakan bahwa Eva memiliki ramuan berharga dan dia menawarkan pertukaran dengan artefak itu.


***


Aku menatap Reina tak percaya. Bagaimana dia bisa menjualku di saat-saat genting seperti ini? Bukankah sebelumnya dia bilang ramuan yang kudapat kan sama sekali tidak berguna? Tapi sekarang dia mulai mengadu domba dan mengatakan bahwa ramuan itu adalah ramuan kuno dan sangat berharga.


Apa-apaan ini?


"Jangan bicara omong kosong!" Denis menatap tajam Reina. Dia tidak menyangka gadis bodoh itu akan membuat Eva menjadi umpan agar mereka bisa lepas dari kelompok ini.


Bukankah dia yang mengundang mereka? Tapi setelah dia tidak bisa menangani nya, dia segera melarikan diri dan membuat orang lain menjadi target. Denis tahu gadis ini bodoh, tapi dia tidak tahu bahwa sifat gadis bodoh ini sama sekali tidak tahu malu!


"Kenapa kau melibatkan orang lain karena ulahmu!" teriak Denis sambil menatap Reina masam.


Tubuh Reina bergetar saat dia melihat Denis menatapnya dengan ekspresi seperti itu.


"Yang mulia!" Reina berteriak. "Yang kita butuhkan hanya mendapatkan artefak itu segera! Kenapa kau selalu menyalahkan ku? Dan selalu membela gadis itu! Padahal aku sedang membantumu sekarang! Gadis itu memang bersalah pada awalnya. Dia orang yang egois! Dia mengambil semuanya! Itu pantas untuknya! Dia harus mengembalikan semuanya pada kita!" teriak Reina.


"Diam!"


"Yang Mulia! Kita tidak perlu mempedulikan manusia seperti itu! Bukankah dia masih keluarga Court! Bisa saja dia yang merencanakan ini semua dari belakang layar dan menjebak kita!" Teriakan Reina semakin besar.


PLAK! Suara tamparan yang keras bergema di ruangan itu. Membuat suasana menjadi sunyi.


Ya, Denis menampar Reina. Menyebabkan gadis itu menjadi mematung. Ekspresi nya sangat kaget dan penuh ketidak percayaan.


Bukan hanya Reina yang terkejut, Eva juga mematung tak percaya dengan kejadian yang dilihatnya.


Apa-apaan ini?


Apa aku bermimpi?


Event fantastis apa yang kulihat saat ini?

__ADS_1


Aku benar-benar tak percaya Denis akan melakukan hal tersebut pada tokoh utama wanita. Menampar nya dengan keras seperti itu. Walaupun itu hanya tamparan, bukan pukulan, tetap saja Reina akan syok. Aku juga sangat syok. Denis yang awalnya menjadi budak cinta Reina berani menampar nya.


OMG!


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk diam?" keluh Denis. Tangan Denis bergetar hebat saat dia menampar Reina. Jujur saja Denis tidak suka memukul wanita, walaupun itu hanya tamparan. sehingga dia merasa sangat menyesal sekarang.


Tapi Denis tetap tidak terima dengan perkataan Reina. Reina mulai menuduh Eva dan mengatakan bahwa semua ini adalah rencana Eva. Denis tidak percaya. Dia juga tidak mau rumor lebih buruk tentang tunangannya tersebar karena ini. Denis memang ingin menghancurkan faksi Court, karena para bangsawan ini sangat kotor. Tapi di matanya, Eva sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Bahkan dengan semua bangsawan kotor itu. Jadi tanpa sengaja emosinya keluar dari batasan dan tangannya menampar Reina, refleks.


"..."


Reina mematung dan tidak menjawab apa pun.


"Baiklah, hentikan drama kalian" kata Penatua itu sambil menepuk tangannya. Dia berbalik menatap Eva. "Gadis kecil, keluarkan ramuan kuno itu. Maka aku akan membiarkan mu pergi" katanya.


Aku merasa bimbang. Aku hanya punya dua ramuan ilusi. Aku sudah memberikan satu botol untuk Rexus. Dan sekarang hanya sisa satu botol lagi. Kalau aku memberikan satu botol terakhir pada penatua jelek ini, bukankah aku tidak akan mendapatkan apa pun?


Lalu apa gunanya aku mengalami mimpi ilusi yang mengerikan itu dan mengalami kematian lagi? Aku sama sekali tidak rela.


"Eva, kau bisa memberikan dia satu botol dan menyimpan satu botol lainnya" Robert tiba-tiba berbisik di telinganya.


"Um...masta. Aku sudah memberikan satu botol untuk Rexus. Sekarang hanya sisa satu botol lagi" kataku canggung.


"Hahaha" aku hanya bisa terkekeh canggung. Kalau Rexus mendengar perkataan Sayn, mungkin dia akan mengamuk lagi.


"Gadis kecil, aku memberimu peringatan sekali lagi" kata Penatua itu kesal saat tahu Eva mengabaikan nya dan malah berbicara dengan dua bocah pria di samping nya.


"Aku tidak bisa memberikannya. Hanya ada satu ramuan. Kalau kau mengambilnya, aku tidak akan mendapatkan apa pun" kataku canggung.


"Apa kau tidak mematuhi ku?" katanya dengan tatapan mengancam.


"Ah~ bukannya begitu. Kalau aku punya banyak akan kuberikan satu. Aku bukan orang yang pelit. Tapi aku hanya punya satu. Kenapa kau ingin merebut barang seorang gadis kecil seperti ku."


Penatua itu semakin kesal. Dia langsung melancarkan serangan tanpa aba-aba.


Aku juga cukuo kaget dengan pergerakan nya yang tiba-tiba.


"Eh?"


Tapi Robert dan Sayn tiba-tiba maju lebih dulu dan menerima serangan itu.

__ADS_1


Ketiga pihak itu terpental ke belakang karena kekuatan mereka saling bertabrakan.


Wow~ menakjubkan...


setelah melihat pertarungan pak tua itu, aku yakin kekuatan nya rata-rata bila dibandingkan dengan para penatua lainnya. Bahkan para orang muda mampu melukainya. Kalau dia bertarung dengan Dean Wason, aku yakin dia akan kalah hanya dalam beberapa langkah.


'Kenapa banyak sekali monster di sini' penatua itu menggertakan giginya kesal saat menatap Sayn dan Robert. umur pemuda di depannya hanya sebesar kecambah, tapi kekuatan mereka sudah sebesar ini.


Denis juga melihat pertarungan yang terjadi dan ikut bergabung.


Sekarang menjadi tiga lawan satu.


Penatua itu menggepalkan tangan erat-erat. Dia menatap sekutunya.


"Apa yang kalian lakukan? Serang"


Sembilan orang yang sedari tadi menonton pun Langsung maju berkelompok.


Sekarang jadi tiga lawan sepuluh. Umu? Tidak. Kau harus membantu juga kan? Jadi empat lawan sepuluh.


Memikirkannya saja, sudah membuatku pusing karena kita kalah jumlah. Kita perlu dua orang untuk melawan penatua itu. Lawan dua orang lainnya melawan sembilan orang sisanya


Tidak masuk akla! Terlalu banyak!


Tapi bukan berarti kami akan kalah.


Aku melihat beberapa orang dari sembilan orang itum Orang-orang itu adalah orang-orang yang kami lawan sebelumnya di babak satum Mereka tidak terlalu kuat. Aku bisa melawan tiga atau empat. sisanya biar Denis yang mengurus.


Aku langsung menyampaikan rencanaku pada tiga orang itu. Mereka mengangguk setuju. Wah, aku tidak menyangka mereka akan menjadi penurut seperti ini.


Pertarungan pun terjadi.


Robert dan Sayn maju lebih dulu untuk menyerang sang penatua. Lalu Denis maju untuk menyerang sisanya. Dan aku berusaha membantu dengan sihirku di belakang formasi.


Pertarungan hampir dimulai, tapi tiba-tiba terdengar teriakan yang menggetarkan seluruh reruntuhan.


"Tunggu!"


suara itu hampir membuat gendang telinga kami pecah. Bahkan tanah di bawah kaki kami pun bergetar

__ADS_1


Oh gedung yang baik, kumohon jangan runtuh. Aku tidak mau kehilangan semua harta itu


__ADS_2