
Elf adalah ras yang paling membenci manusia. Mereka tidak menyukai para manusia, sejak para manusia mulai menjual mereka sebagai budak dan memperlakukan mereka seperti binatang.
Walaupun kaum mereka selalu diperlakukan tidak adil oleh ras manusia, mereka tidak pernah menuntut balas apalagi menyatakan perang. Kenapa? Karena mereka sadar akan ada banyak orang yang mati di medan perang. Kalau hal itu terjadi, kaum mereka akan semakin sedikit. Sementara manusia hanya terus beranak-pinak. Akhirnya, kaum elf pun punah karena kebodohan mereka sendiri. Karena itulah, ras elf tetap menjaga kenetralan mereka dan tidak memutuskan untuk berperang sama sekali.
Tapi tidak semua elf memiliki pikiran damai untuk tidak berperang sebagai balas dendam. Ada beberapa elf, terutama korban dari para manusia, yang sangat ingin menyatakan perang dengan para manusia. Tapi jumlah mereka sangat sedikit. Sehingga mereka hanya bisa bersembunyi di kegelapan.
Sampai suatu hari, Seorang elf membuat organisasi untuk orang-orang seperti itu. Dia mengumpulkan semua elf yang membenci manusia, tidak membedakan ras antar elf, dalam satu atap. Dan organisasi pembunuh manusia pun terbentuk.
Organisasi ini merupakan organisasi pembunuh khusus. Hanya manusia yang bisa digunakan sebagai target. Dan ini adalah organisasi gabungan antara elf cahaya dan elf gelap.
"Salah satu anggota kita menghilang" kata seorang elf, memberikan laporan kepada elf lainnya yang duduk di kursi singgasana.
"Bagaimana bisa? Bukankah dia sedang menyusup ke dalam kerajaan manusia. Apa manusia itu mengkhianatinya?" suara elf pemimpin itu bergetar. Dia bernama Poupitas. Dia adalah elf berumur ribuan tahun, sama seperti Ren dan Vien, dan juga pendiri organisasi.
"Aku tidak yakin tuan"
"Berikan aku laporannya"
Elf itu memberikan segulung kertas kepada Poupitas. Poupitas membuka kertas itu dsn melihat isinya. Di sana ada data identitas elf yang menghilang itu. Nama, ras, umur, misi dan bahkan fotonya.
Kalau Sayn melihat foto ini, mungkin dia akan tersentak kaget. Ini adalah elf gila yang dia lihat di ruang bawah tanah milik Marquis dan menghilang tanpa sejak laboratorium bawah tanah itu hancur.
Saat Poupitas sedang membaca laporannya, tiba-tiba seseorang menghubungi nya lewat telepati. Poupitas langsung berbinar bahagia saat dia tahu siapa yang mengirim nya pesan.
"Halo, putriku..." katanya dengan nada menggoda.
"Hentikan omong kosongmu! Aku ingin kau menghilang seorang serangga untukku!" suara lainnya mengomel.
__ADS_1
"Uh...apa ini berhubungan dengan Ren lagi? Kenapa kau begitu menyukai elf tua penyendiri itu? Dia tidak menyukaimu. Bukankah aku lebih baik darinya?" kata Poupitas sedih. Orang yang menghubungi nya adalah wanita yang disukainya. Tetapi wanita itu menyukai elf lain dan itu adalah seorang raja. Padahal Poupitas berpikir mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok. Tujuan dan keinginan mereka sama sehingga mereka bisa membangun kerajaan elf yang ideal.
"Bukankah aku menyuruhmu berhenti?" suara itu terdengar lebih marah.
"Baik, baik, aku minta maaf" Poupitas menjawab dengan pasrah. "Jadi, siapa yang membuat matamu sakit kali ini?"
"Seorang manusia kecil. Ren baru saja membawanya ke kerajaan kami. Manusia ini benar-benar merusak mataku. Hilang kan dia dalam sekejap! Ini kesempatan yang bagus karena dia sedang tidak berada di istana sekarang. Bekerja sehalus mungkin tanpa diketahui Ren dan bakar mayatnya" kata Lena kejam. Dia menggertakkan giginya benci. Dia ingin gadis manusia itu mati dengan menyedihkan.
"Baiklah, aku akan selalu menuruti permintaan putriku" Poupitas menjawab. "Aku harap putri juga bisa menerima perasaan ku" katanya lagi dengan nada sedikit menggoda.
"Dalam mimpimu, humph!" Lena langsung memutuskan telepati nya sepihak dengan cepat.
Poupitas tersenyum kecil saat melihat sikap Lena yang seperti kucing. "Siapkan beberapa orang. Kita mendapatkan misi baru dari putri kecil" katanya penuh makna. Lagipula misi ini terlihat mudah. Hanya gadis manusia. Dia bisa melenyapkan nya dalam sekejap mata.
***
Harusnya seperti itu. Ini adalah hari bahagianya. Tapi Ren melakukan sesuatu yang aneh di istana. Dia mulai mengumpulkan semua staff dan juga para prajurit. Bahkan memanggil prajuritnya. membuat rasa bahagianya runtuh.
Lena merasa tidak senang dengan situasi ini. Dia butuh para prajurit itu untuk pergi bermain. Dia langsung pergi menghampiri Ren, untuk membebaskan pengawal-pengawal kecilnya itu.
"Kakak, bisakah kau melepaskan para pengawalku?" katanya manja dengan wajah cemberut.
Ren menatap nya. Tatapan mata Ren sangat aneh dan mengerikan. Perasaannya menjadi tidak nyaman karena hal ini.
"Lena!" suara Ren bergema.
"I...iya...." Lena menjawab dengan gugup.
__ADS_1
"Apa kau selalu menyalahgunakan kekuasaan yang kuberikan padamu?" tanya Ren dingin. Dia mendapatkan laporan dari Fram dan beberapa elf pelayan, bahwa Lena selalu menggunakan pengawal yang dia berikan untuk memukul orang lain, termasuk warga desa.
"Tidak" Lena langsung membantah. "Aku tidak akan melakukan itu kalau mereka tidak membuat masalah lebih dulu!" Lena berusaha membela dirinya. Melihat tatapan tajam Ren, matanya memerah, hampir menangis. Ini pertama kalinya Ren memarahinya dan dia benar-benar takut.
"Aku akan menarik semua pengawalmu" kata Ren dingin. Dia sudah membuat keputusan. Awalnya dia memberi Lena beberapa pengawal adalah agar gadis itu tetap terlindungi. Tapi Lena menghabiskan waktunya di istana. Jadi dia tidak terancam bahaya apapun dan tidak membutuhkan pengawal.
"Kakak, ini tidak adil! Beberapa orang pasti memfitnahku karena mereka tidak suka padaku." kata Lena. Kali ini dia mulai terisak dan menangis karena Ren menarik semua pengawalnya.
"Sudahlah" kata Ren lelah. "Kembali ke kamarmu. Aku sangat lelah hari ini. Jangan menagis di hadapanku" sebenarnya perkataan Ren ini cukup kejam dan dingin. Tapi begitulah Ren, dia tidak akan bisa berkata manis untuk menghibur siapapun.
Lena terisak. Dia menatap Ren cemberut. Tapi dia tetap berbalik untuk kembali ke kamarnya.
Tapi saat itu, dia bertemu dengan Fram dan Caca yang akan menuju ke arah Ren. Mereka saling melintas.
Caca baru saja tiba hari ini untuk bermain. Tapi siapa yang menduga bahwa dia akan menemukan pemandangan menyenangkan saat dia sampai. Gadis jelek itu, orang yang paling tidak disukainya, menangis! Apa Ren memarahinya? Ini sangat bagus!
"Hei, gadis penyihir jelek dengan mata merah. Diumur setua itu kau masih menangis? Apa kau tidak tahu malu?" kata Caca dengan nada mengejek.
Lena menggertakan giginya marah. "Diam kau, jalang!" Lena berteriak marah. Kalau bisa, dia juga ingin melenyapkan gadis elf jelek di depannya.
Caca tidak peduli dengan amarahnya. Dia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Lena. "Aioo, mungkin Ren akan mengusirmu juga suatu saat nanti. Lagipula ini bukan tempat mu. Bagaimana bisa seorang rakyat jelata tinggal di istana sebagai seorang putri? Kau bahkan tidak punya darah bangsawan di tubuhmu" Caca semakin menjadi. Dia merasa dirinya di atas awan kali ini dan musuhnya berada di titik terendah.
Lena mematung. Wajahnya menghitam.
Fram, yang melihat pertengkaran kedua gadis itu hanya menggeleng kan kepalanya lemah. Dia langsung menarik tangan Caca. "Ayo pergi"
Melihat tangannya dipegang, wajah Caca memerah. Sejenak ekspresi mengejek hilang dari wajahnya dan dia bersikap seperti gadis lembut pemalu. "Um..." gumamnya.
__ADS_1