
Dean Wason berpikir.
"Sudah pasti kau akan ikut sebagai perrwakilan dari penatua kelima" jawabnya lirih. "Itu tidak bisa dibantah karena kau adalah murid satu-satunya. Hanya satu cara yang bisa dillakukan" Dia meyipit menatap Robert "Kau harus mengalah! Kalau kau tidak ingin Dean Caro mendapatkan keuntungan, kau harus mengalah"
Robert terdiam. Dia berpikir. Sebenarnya dia ragu-ragu. Jujur saja, dia juga sangat menginginkan hadiah dari domain sihir itu. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menginginkan keuntungan, tapi yang berbeda adalah bagaimana cara mereka menggunakan keuntungan itu.
"Tidak ada cara lain?" katanya penuh harap.
Dean Wason menggeleng. "Tidak ada"
"Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"kecuali....kau memutuskan hubungan guru dan murid dengannya. Lalu memilih salah satu dari kami sebagai gurumu yang baru" kata Dean Wason. Dia menatap dua penatua lainnya "Leon adalah penatua kedua dan Cristal adalah penatua ketiga. Mereka memiliki jabatan yang lebih tinggi tapi murid mereka tidak kompeten, haah" Dean Wason menghela napas. "kau bisa menjadi murid sementara mereka sampai pertandingan dimulai. Lalu untuk keputusan selanjutnya terserah dirimu"
"Tapi ini akan sulit" wajahnya tiba-tiba berubah serius "Caro tidak akan mengizinkannya. Dia tidak akan melakukan upacara itu. Kecuali kau berhasil melumpuhkannya dan membuatnya menandatangani perjanjian darah"
"Itu...sangat sulit" jawab Robert lirih. Walaupun Dean Caro jahat, dia adalah orang yang membesarkannya. Dia tidak mau memutuskan hubungan dengannya. Setidaknya pak tua itu sudah mengasuhnya selama beberapa tahun ini. Dia hanya ingin menghentikan pak tua itu atau pun melarikan diri agar tidak terlibat dalam rencana jahatnya.
"Biarkan aku memikirkannya dulu. Aku akan memberitahu anda nanti" kata Robert bingung. Dia belum bisa mengambil keputusan akan hal ini. Tanpa sadar, Robert sudah melepaskan pengekangannya padaku
"Master..." aku berusaha menyikut Robert.
"Jangan memikirkan hal nakal Eva!" kata Robert serius. "kalau kau memikirkan hal yang berbahaya aku tidak akan mengajarimu lagi..."
"Hiks..." aku mulai terisak. Aku merubah raut wajahku menjadi menyedihkan. "master tidak menginginkanku lagi huaaa...."
"B..bukan itu" Robert berusaha memelukku.
Aku langsung melempar lengannya dan lari dari pangkuannya. "Kenapa? Aku memang agak lincah, tapi aku bukana gadis nakal huaaa" mataku mulai berkaca-kaca dan tangannku mulai mengusap air mata yang keluar.
Jujur saja, aku sengaja tahu. Aku tahu ini berbahaya. Tapi tidak mungkin aku membiarkan Reina mendapatkan binatang sihir itu dan menjadi lebih kuat? Aku berusaha menyelamatkannya saat itu karena ingin membangun hubungan pertemanan, tapi nampaknya hubungan kami menjadi buruk. Dan akan menjadi lebih buruk lagi di masa depan....
Setidaknya aku harus mendapatkan binatang itu, mencegah Reina memperolehnya. Aku bisa saja menyuruh Robert agar memburunya untukku. Tapi dia tidak akan tahu bentuk binatangnya. Bagaimana kalau di salah ambil dan Reina memperolehnya kembali? Bukankah hidupku menjadi lebih terpuruk? Lebih baik berinvestasi sekarang untuk kenyamanan masa depan. Masalah bahaya atau tidak aku akan memikirkannya nanti.
"Masterr kau membenciku kenapaa??" kataku sambil terisak. "Hikss"
__ADS_1
Robert menjawab dengan sedih "Aku tidak membencimu". Dia mulai menghampiri Eva dan memeluknya "Jangan menangis oke. Aku tidak akan berbicara seperti itu lagi"
Huks, hiks. aku mulai cegukan karena menangis sungguh. "Sungguh? Lalu apa yang akan master lakukan untuk meminta maaf?"
"Aku akan melakukan segalanya. Kau tenang saja Eva. Asalkan kau senang, aku akan melakukan apa pun"jawab Robert percaya diri.
"Sungguh?" aku memastikan lagi sambil memiringkan kepalaku. Aku menatapnya dengan mata anjing, untuk memberi kesan imut.
Robert terpesona dengan tampilan gadis kecil di depannya. "Ya" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin ikut..."
Robert terdiam.
"Master aku ingin ikut."
Robert masih tidak menjawab.
"Master....hiks...hikss" aku mulai menangis lagi "Kau berbohong padakuuu?"
"Apakah karena berbahaya?" tanyaku lagi.
"Itu juga. Tapi itu bukan yang utama. Masalah bahaya aku bisa mengantipasinya. Aku akan selalu melindungimu" katanya percaya diri. "Tapi..."
"Tapi apa?"
"Gadis kecil kau tidak bisa ikut" sela Dean Wason tiba-tiba.
"Kenapa kakek?"
'Kakek??' Dean Wason entah kenapa tidak marah saat dipanggil seperti itu. Dia menatap gadis kecil cantik di depannya. 'Hm, tidak buruk juga menjadi kakek gadis kecil seperti itu' pikirnya.
Aku tersadar bahwa aku bertingkah tidak hormat lagi. Aku langsung bertingkah seperti ini saat aku emosi. Sama seperti saat aku melakukannya pada Denis, memanggilnya dengan tidak hormat. Tapi yang kukasari ini bukan bocah, itu adalah seorang kakek yang sudah berpengalaman sepuluh kehidupan. "Maafkan aku ketua..." kataku langsung.
"Tidak apa. Panggilan itu tidak buruk. Kau bisa memanggilku seperti itu"
"Sungguh?"
__ADS_1
Aku berpikir panggilan kakek lebih ringkas, padat dan jelas. Intinya panggilan itu lebih mudah disebut.
"Ya"
"Baiklah kakek. Ini agak tidak nyaman karena aku tidak memiliki seorang kakek sebelumnya, jadi maafkan aku kalau sedikit kasar" kataku langsung.
"Hahaha" Dean Wason tertawa kecil. "Tidak apa-apa, aku menyukaimu gadis kecil. Aku akan menganggapmu sebagai cucuku juga"
Tring.
Sebuah cahaya menyala di pikiranku.
Bukankah ini suasana yang bagus? Kalau Robert tidak mau membawaku, bukankah aku hanya harus bertinggah manja pada kakek ini? Tampaknya dia memang seorang kakek penyayang yang menyukai anak-anak. Aku mengetahui karakternya, karena itu dijelaskan di dalam novel. Kakek ini sangat baik pada Charlotte walaupun dia sudah berkelakuan jahat. Sebenarnya waktu itu Charlotte hampir berakhir tragis sepertiku, tapi Dean Wason menghentikan even itu dan membelanya. Sehingga Dean Wason hanya mengeluarkannya dari menara sihir dan mengirimnya ke perdesaan. Tapi dia juga melindunginya di perdesaan itu. Dia benar-benar kakek yang baik hati, walaupun sudah dikhianati dan dijahati, dia masih menyayanginya. Aku sedikit irii.
Kalau aku adalah Eva yang lama mungkin aku akan iri. Tapi, aku yang sekarang tidak perlu utnuk iri akan hal seperti itu. Aku mempunyai orang tua yang sayang padaku. Aku juga mempunyai pelayan dan penjaga yang loyal di mansion. Aku mempunyai master yang menganggapku berharga. Jadi aku tidak perlu iri.
"Jadi kenapa aku tidak bisa kakek?"
"Kemari dulu"
Aku secara perlahan menuju kea arahnya. Tapi tiba-tiba tubuhku terangkat ke udara. Aku melayang ke arahnya dan berakhir di pangkuan pak tua itu. "Hahaha...sekarang aku tahu kenapa Robert suka menggendongmu" Kata Dean Wason mengusap kepala Eva. "Kau sangat lembut" serunya. "Aku jadi takut, kalau aku terlalu keras menyentuhmu dan melukaimu"
Wajahku memerah malu dan aku menundukkan kepalaku.
'Hmm..begini kah rasanya memanjakan cucu perempuan' aku mendengar Dean Wason bergumam. Dan ada rasa sedikit kasihan yang tiba-tiba muncul.
Ya, Dean Wason hidup sendirian. Dia tidak punya keluarga. Dia menganggap Charlotte sebagai anaknya, tapi Charlotte hanya menganggapnya sebagai pak tua biasa. Bisakah ini disebut cinta bertepuk sebelah tangan? Hanya saja ini cinta keluarga, bukan cinta pria dan wanita.
***
Raut wajah Robert berubah jelek. Dia tidak suka Eva tiba-tiba melepaskan diri dari pelukannya dan tiba-tiba menghampiri pria tua itu. Lalu pria tua itu mulai menggendongnya dan mengusap kepalanya.
'Aku tidak akan membiarkan itu! Hanya aku yang boleh mengusap kepalanya, hanya aku yang boleh menyentuh rambutnya. Siapa pun yang berani menyentuhnya, aku akan memberikan mereka hukuman. Tidak peduli kalau mereka adalah pria tua atau pun wanita.' pikirnya sambil menatap Dean Caro. 'Aku tidak peduli dia ketua menara sihir, lihat saja nanti humph!'
Lalu, khayalan tak terduga terbayang dalam kepalanya. Bayangan saat Eva berpegangan tangan dan memeluk seorang pria (note:pria dalam khayalan Robert adalah pria misterius tanpa wajah, karena dia hanya membayangkan saja, ini biasa untuk seseorang yang dibakar api cemburu). Lalu mereka menikah dan kemudian anak-anak kecil lahir dan mengelilingnya. Lalu teriakan paman terdengar dimana-mana.
'Tidak!!' pikirannya berteriak. 'Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Khusus pria lajang, aku pasti akan membunuh mereka. Aku akan membunuh pria mana saja yang berani menyentuh Evaku' pikirnya sambil menyembunyikan niat membunuh di matanya.
__ADS_1