Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Peringkat Seratus Besar Akademi


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Ren memberikan beberapa tumpukan buku yang berisi pertanyaan pada Eva, menyuruh nya untuk menjawab semua pertanyaan itu.


Eva pun menghabiskan waktunya seharian untuk menyelesaikan nya. Saat dia sudah menyelesaikan semuanya, Ren datang kembali menemui nya dan memberikan nya sandwich hasil percobaan nya. Sandwich daging itu sangat enak dan bumbu yang digunakan sangat pas.


Lalu Ren memperbolehkan gadis kecil itu kembali ke mansionnya saat pagi dini hari.


***


Aku menguap beberapa kali. Masih sangat mengantuk karena aku hanya tidur sebentar hari ini.


Ini masih sangat pagi, tapi halaman depan akademi sudah dipenuhi dengan banyak sekali orang. Suasananya sangat berbeda dari kemarin. Pasalnya hari ini adalah ujian pertandingan untuk para murid tingkat dua. Dan semua orang tidak sabar menyaksikan semua itu.


Aku juga sangat gugup sebenarnya. Aku harus hadir dan duduk di kursi mencolok itu. Bagaimana pun aku berhasil mengalahkan senior peringkat lima. Tempat dudukku akan menjadi pusat perhatian semua orang. Dan aku akan menjadi target banyak orang karena aku murid tingkat satu.

__ADS_1


Sebenarnya tidak masalah. Tapi menghadapi banyak orang dalam waktu cukup lama itu cukup melelahkan. Apalagi harus melawan mereka satu per satu. Lebih mudah melawan mereka sekaligus untuk menghemat waktu. Tapi tentu saja hal seperti itu tidak diperbolehkan dalam ujian pertandingan.


"Eva, apa yang kau lakukan di sini? Ayo ke aula" Lilac muncul tiba-tiba dan langsung menepuk kedua bahu Eva.


Eva tersentak sedikit sebelum akhirnya dia tersenyum sambil mengangguk pelan. Lalu dia mengikuti Lilac menuju ke aula pertandingan.


Aku sedikit terperangah saat masuk ke dalam aula. Aku tidak akan mengira bahwa akan seramai ini. Seluruh kursi penonton hampir terisi penuh padahal sekarang masih sangat awal. Kelihatannya penonton yang berkumpul lebih banyak dari ujian pertandingan kami kemarin. Semua ini karena murid-murid akademi sangat penasaran dengan sosok murid-murid tingkat satu yang berhasil merebut kursi seratus peringkat besar.


Bagi mereka para murid-murid baru itu seperti anak ayam. Penonton sangat antusias untuk melihat anak-anak ayam itu dikalahkan oleh para senior yang akan menantang mereka nanti. Dan kehilangan tempat yang mereka duduki hanya dalam beberapa jam. Bagi mereka hal itu sangat memuaskan. Dan mengajarkan para anak ayam itu bahwa mereka masih perlu belajar dan pengalaman mereka sangat kurang.


Lilac menarik tanganku menuju kursi yang berlawanan arah dari kursi penonton. Kursi ini adalah kursi bagi para peringkat seratus besar.


Saat kami berdua tiba, kami langsung menjadi perhatian murid-murid lainnya. Mereka menatap kami dengan intens seakan-akan kami adalah benda asing.


Aku dan Lilac berjalan dengan santai, seakan-akan tidak mempedulikan semua hal itu. Tapi sebenarnya itu membuatku sangat gugup. Bahkan detak jantungku bisa terdengar saat aku melintasi kerumunan untuk menuju ke kursiku.

__ADS_1


Kursi bagi seratus peringkat besar disusun dengan bentuk piramida. Peringkat seratus dimulai dari lantai terbawah dan peringkat satu berada di lantai atas.


Ada sesuatu yang sangat mencolok dengan susunan kursi ini. Kursi peringkat satu berdiri sendiri di lantai paling atas tanpa kursi lain di sisi kiri dan kanannya. Menandakan kekuasaannya. Semua ini mengingatkan ku akan singgasana raja di istana. Kursi itu cocok untuk Denis, yang akan menjadi raja masa depan di kerajaan ini.


Setelah beberapa menit mencari, akhirnya aku menemukan kursi milikku. Kursi posisi lima hanya berjarak satu lantai di bawah kursi nomor 1. Lebih tepatnya kursiku berada di lantai dua dan berada di posisi paling pojok. Ada tiga kursi lainnya yang berderet rapi di sisi kananku, itu ada kursi untuk peringkat dua hingga empat.


Saat aku sampai semua orang di barisan kedua itu melirik ke arahku, membuatku tersipu malu. Bukannya aku tidak suka menjadi terkenal, hanya saja aku benar-benar merasa tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian.


Aku duduk dengan perlahan ke kursi nomor lima. Saat aku duduk dan melihat ke bawah, aku mengerjap kagum.


Suasana yang kurasakan sangat berbeda seperti saat aku duduk di kursi penonton. Aku bisa melihat lebih jelas dari posisi ini karena letaknya benar-benar strategis.


Tanpa sengaja, aku menoleh ke samping dan bertemu pandang dengan senior wanita di posisi keempat.


Aku tidak mengenal senior itu. Tapi dia mengarahkan tatapan yang sangat tajam padaku bercampur dengan rasa jijik. Terakhir, dia mendengus sebelum akhirnya membalikkan pandangannya ke depan lagi.

__ADS_1


Aku bingung kenapa dia melontarkan tatapan jijik itu padaku. Apa aku bau? Bahkan refleks aku mencium diriku sendiri. Sebenarnya aku melewatkan mandi pagi. Tapi aku sudah membersihkan diriku dengan sihir. Seharusnya baik-baik saja. Aku cukup percaya diri akan hal ini. Aku bahkan sudah memakai parfum.


__ADS_2