Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Kegilaan Marquis


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Duke Enell menghadapi beberapa prajurit dan jendral besar yang menjaga gerbang ibukota. Lalu Sayn, Eva dan Emerta menerobos ke ibukota. Mereka menghadapi beberapa penyihir yang memasang segel di seluruh ibukota kerajaan. Emerta tetap tinggal dan menghadapi seluruh penyihir. Eva dan Sayn menuju ke aula eksekusi.


***


Setelah Robert menjelaskan semuanya di depan umum, semua orang mulai mengarahkan tatapan mereka pada Marquis Zent. Hal ini membuat Marquis membeku di tempat tanpa dia sadari.


"Marquis" suara Denis memecah keheningan dan Marquis l;angsung tersentak. Dia menatap Denis tapi tidak masih membeku.


"Bagaimana kau akan menjelaskan semua ini?" Denis melanjutkan dengan suara dingin, membuat Marquis sedikit panik.


"Kalo begitu akan mengirim beberapa orang ke mansionmu untuk mengecek laboratorium bawah tanah itu" kata Denis cepat.


Mata Marquis Zent terbelalak. Kali ini dia berkeringat dan wajahnya menjadi sangat pucat. "Yang mulia..."


Sebelum Marquis Zent menyelesaikan omongannya, Denis memotong perkataannya "Aku akan memeriksa kediamanmu". Dia melihat kepada penjaga yang berdiri di sampingnya. Dia adalah Jean, salah satu tangan kanan kepercayaannya. Denis tidak mengatakan apapun, tapi Jean mengangguk kecil dan menghilang di tempat. Sepertinya mereka berkomunikasi dengan sihir telepati.


Marquis panik saat melihat salah satu bawahan Denis menghilang. Dia langsung menatap kedua penyihir yang selama ini mengikutinya dan mengirimkan sinyal telepati.


"Kalian berdua, hentikan orang itu! Kalau semuanya terbongkar kalian dan organisasi aneh kalian juga akan terseret" katanya panik. "Atau lakukan sesuatu yang mencegah orang itu menemukan semuanya!"

__ADS_1


Kedua sosok berjubah itu memandang satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk kecil dan menghilang di tempat. Marquis mendesah lega saat melihat keduanya kooperatif. Tapi rasa paniknya tidak hilang.


Robert mengawasi Marquis dengan mata elangnya. Dia bisa memperhatikan bahwa pria itu bertindak mencurigakan. Dan tiba-tiba dua orang aneh di sampingnya juga menghilang di tempat.


"ikuti mereka" Robert berkata kepada kedua Dean yang berada di dekatnya. Kedua Dean itu hanya mengedipkan matanya dan menghilang. Mereka sudah mengerti intruksi Robert.


Suasana di aula menjadi hening selama beberapa menit. Tapi tidak ada dari mereka yang kembali. Denis dan Marquis menunggu dalam diam. Dan semua penonton tidak berani membuka mulut mereka.


Tak lama kemudian,Jean kembali berdiri di samping Denis tiba-tiba. Kehadirannya membuat semua orang menelan liur mereka karena merasa tegang. Lalu kedua orang itu berkomunikasi dengan sihir telepati, sehingga membuat semua orang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Marquis melirik ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah kedua orang berjubah putih itu sudah kembali. Tapi dia tidak menemukan tanda-tanda kedatangan mereka. Dan membuatnya semakin panik.


Denis melihat semua orang di aula. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba BOM! CRACK! Penghalang yang menyelimuti seluruh ibukota pecah. Dan semua orang teralihkan dengan bunyi keras yang menghancurkan penghalang sihir.


"Para penjaga di depan gerbang melaporkan bahwa beberapa prajurit Duke menyerang kita"


"Jumlah mereka ada ribuan"


"Mereka juga memiliki penyihir dan saat ini para penyihir itu memasuki ibukota"


Setelah kata-kata "penyihir" disebutkan, semua orang mulai menoleh ke arah Dean Wason, yang duduk dengan santai sambil menyilangkan kakinya.

__ADS_1


Dean Wason memasang wajah bingung dan mengangkat kedua tangannya "Bukan kami" katanya singkat. Pernyataannya sudah mengklaim bahwa para penyihir itu bukan berasal dari Menara Sihir miliknya. Mereka pasti adalah beberapa penyihir luar yang membantu Duke.


Denis mengernyitkan keningnya. Sepertinya dia tahu darimana para penyihir luar itu berasal. Denis mengira bahwa mereka berasal dari kerajaan Kano karena melihat Sayn, sang pangeran, memimpin mereka. Jadi Denis menganggap bahwa Kerajaan Kano memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang kerajaan mereka.


Di saat semua orang kebingungan, Marquis berdiri sambil memasang wajah yang sangat dingin. kedua orang itu benar-benar tidak kembali. Perasaannya menjadi sangat buruk sekarang.


"Apa mereka melarikan diri dan meninggalkannya sendirian?" pikir Marquis. Kalau ini benar-benar terjadi, dia berada dalam bahaya. Kalau semua itu terbukti Denis akan menghukumnya. Karirnya sebagai bangsawan sudah pasti akan hancur.


"Kenapa jadi seperti ini?" dia bergumam frustasi sambil tertawa seperti orang gila. Kalau Denis menemukan fakta bahwa dia membunuh Raja, dia akan dieksekusi di tempat.


Orang-orang aneh itu berjanji padanya untuk membuatnya hidup dengan damai di kerajaan. Rencananya sudah sempurna. Bahkan mereka berjanji akan mengambil alih kerajaan dengan kekuatan mereka. Marquis percaya sepenuhnya karena dua orang itu adalah penyihir cahaya! Kalau organisasi itu memiliki banyak penyihir cahaya, bukankah itu sangat menakjubkan? Bahkan kerajaan Well tidak akan bisa menghadapi mereka. Mendapatkan support dari organisasi menakutkan seperti itu tentu saja Marquis percaya diri.


Tapi organisasi yang mendukungnya tiba-tiba menghilang tanpa menjelaskan apapun padanya. Kalau dia menyalahkan semuanya pada organisasi aneh itu. Dia tetap akan disalahkan.


Marquis hampir gila. Rencana miliknya seharusnya berjalan dengan sempurna. Tapi itu gagal karena insiden yang tidak terduga. Dia seharusnya bisa menyingkirkan Duke tanpa harus membunuh Raja dan melakukan hal lainnya. Tapi karena campur tangan orang aneh beserta Robert, rencananya hancur.


"Setidaknya aku tidak akan hancur sendiri..." kata Marwuis geram. Dia melihat semua orang dengan mata penuh kebencian. Seharusnya nasibnya tidak seperti ini. Semua ini salahnya! Dia terfokus pada Diana yang berada di tengah aula dan mulai menyalahkan Diana atas semuanya. Bukan. Dia menyalahkan Duke dan keluarganya. Setidaknya dia harus membuat mereka menderita atau menyingkirkan salah satu dari mereka.


Marquis langsung menuju ke tengah aula di saat semua orang mulai ricuh karena penyerangan di depan gerbang ibukota. Mereka khawatir dengan keamanan rumah mereka kalau pasukan itu berhasil menerobos gerbang. Jujur saja mereka tidak menyangka, Duke, sesosok yang mereka anggap sebagai pahlawan akan menyerang tanah airnya sendiri.


Sebenarnya semua orang terlalu berpikir berlebihan. Duke sama sekali tidak berniat untuk menerobos masuk. Dia hanya ingin memastikan bahwa anak dan istrinya akan keluar dengan selamat dari ibukota. Setelah itu mereka akan menarik diri. Lagipula Duke tidak akan pernah membahayakan para penduduk dan dia tidak berniat untuk membunuh warga yang tidak bersalah.

__ADS_1


Diana menatap ke arah Marquis dengan mata bingung. Sebenarnya dia juga kebingungan dengan situasi yang terjadi. Dia sudah bersiap mengorbankan dirinya untuk semua orang. Tapi dia tidak menyangka bahwa situasinya akan menjadi seperti ini.


Marquis menatap Diana dengan mata merah. "Mati" Dia bergumam pelan sambil mengeluarkan belati di pinggangnya dan menusuknya dengan cepat ke dada Diana yang saat itu masih berlutut dengan tangan terkunci.


__ADS_2