Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Diana ( Final 2 )


__ADS_3

Ren sedang sibuk dengan penelitian nya seperti biasa. Dia akhirnya kembali ke laboratorium kesayangannya setelah keluar beberapa hari dari istananya.


Waktu itu, Emerta, ibu Diana meminta tolong padanya untuk melihat kondisi putrinya itu. Ren pun pergi ke kerajaan Well untuk melihat kondisi Diana. Dan gadis itu baik-baik saja.


Ren pun kembali ke istana nya untuk menyampaikan kabar baik itu. Dan Emerta merasa lega. Tentu saja Ren hanya berkata "Dia baik-baik saja". Dia tidak memberikan keterangan lain seperti dimana gadis itu tinggal dan apa saja yang dilakukannya.


Emerta juga tidak meminta banyak hal. Setelah tahu bahwa Diana baik-baik saja. Dia sudah merasa sangat lega.


"Aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Kenapa kau masih berada di dalam laboratorium ku?" tanya Ren.


"Maafkan saya tuan. Saya akan meneliti hal ini lebih lama" jawab Emerta. Emerta seharusnya bisa meninggal kan laboratorium ini setahun yang lalu karena tugasnya sudah selesai. Tapi dia meminta tambahan waktu karena dia sedang meneliti sesuatu. Itu adalah penelitian nya sendiri. Ren tidak tahu apa itu. Tapi Ren memberikan izin pada nya.


Emerta pun memulai penelitiannya hampir setahun lebih. Dia menambah waktu penelitian nya saat tahu kondisi Diana baik-baik saja. Diana dia hidup dengan sangat nyaman di sebuah kota, jadi Emerta tidak mengkhawatirkan nya.


Tapi tiba-tiba hari ini, Ren memberitahunya berita tidak terduga. "Pelindung yang kuberikan pada anakmu rusak sekarang. Dia berada dalam bahaya" kata Ren serius.


Emerta mengerjap panik. "Apa dia baik-baik saja sekarang?"


Ren menggeleng lemah. "Aku tidak tahu. Tapi aku memberikan pelacak padanya. Aku bisa mengirimmu kesana" Seharusnya Ren pergi menyelematkan nya. Tapi Ren berpikir lebih baik Emerta yang pergi menyelamatkan nya. Karena anak itu adalah putrinya. Dan juga mereka memiliki masalah keluarga yang perlu mereka bereskan sendiri.


Ren mengirim Emerta pergi menemui anaknya dengan lingkaran teleportasi. Emerta pun sampai di sebuah hutan yang tidak diketahuinya. Saat dia sampai dia mencium bau darah yang sangat kuat. Jantung Emerta langsung berdegup kencang.


"Diana...aku harap kau baik-baik saja" gumann Emerta sambil melangkah cepat menuju tempat pertempuran.


***


Enell menatap tajam ke musuh terakhirnya. Pria tua itu sudah kehilangan kakinya tetapi masih bisa berteriak keras untuk memohon hidupnya.


SWOOOSH


Enell melayangkan tebasan terakhirnya. Tapi tiba-tiba sesosok tidak dikenal muncul dan menarik mangsa terakhirnya ke samping. Sosok itu memakai jubah hitam.


"Siapa kau?" tanya Enell dingin.


Sosok itu tidak menjawab dan berusaha merebut Diana yang berada di dalam pelukan nya.


Enell tentu saja tidak membiarkannya. Kedua orang itu pun saling menghindar satu sama lain. Diana yang berada di pelukan Enell juga bisa melihat dengan bebas sekarang karena Enell sudah menyingkirkan tangannya dari matanya. Lalu, Diana mengenali sosok berjubah itu.


"Ibu!" Diana bersorak bahagia.

__ADS_1


"Ibu?" Enell mengernyitkan keningnya bingubg. Dan dia berhenti menghindar sehingga sosok itu berhasil mengambil Diana dari pelukan.


Diana langsung memeluk pinggang ibunya. "Ibu~" Diana membenamkan wajahnya dalam-dalam di dada ibunya. "Aku merindukanmu~"


Emerta menatao putrinya melankolis walaupun ekspresi nya masih sangat datar.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil mengelus lembut rambut Diana.


"Aku baik-baik saja~"


"Siapa itu?" tanya Emerta sambil memberi tatapan dingin pada Enell. Pasalnya pria asing itu dengan mudah memeluk putrinya seperti itu . Dia tidak suka!


Diana berhenti memeluk ibunya. Lalu dia menarik tangan Emerta dan mendekati Enell.


"Ibu, ini Enell. Selama dua tahun ini aku tinggal di rumahnya" jawab Diana polos.


Emerta mengernyitkan kening. Dia kaget. Ren tidak memberitahu nya bahwa Diana tinggal dengan pria asing. Masalah ini sangat krusial. Bagaimana kalau sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada putrinya?


"Menjauh dari Diana" kata Emerta dingin.


Ekspresi Enell masih datar. Dia menatap ibu dan anak itu dengan tatapan serius. "Tidak akan." katanya tegas. "Ibu, aku ingin membawa Diana sebagai istriku" katanya tiba-tiba, membuat Emerta mengeluarkan aura membunuh dari tubuhnya.


Hanya Enell yang masih berada di tempat nya tanpa bergeming. Seolah-olah kekuatan itu sama sekali tidak berpengaruh untuknya.


"Ibu!" Diana berusaha menenangkan ibunya.


Emerta pun akhirnya menenangkan dirinya dan menatap Enell lekat-lekat.


"Apa yang kau inginkan? Apa rencanamu pada putriku?"


"Aku ingin menikahinya" kata Enell tegas.


Wajah Emerta berubah jijik. Entah kenapa dia merasa sangat familiar dengan adegan di depannya. Itu semua hanya mengingatkannya pada masa lalu yang sangat menyakitkan.


Emerta sudah tahu identitas Enell. Hanya dengan melihat zirah perang dan juga pedang itu. Dia tahu bahwa pemuda ini seorang bangsawan. Lalu dia juga melihat pakaian yang dikenakan oleh putrinya. Pakaian itu sangat mirip dengan gaun-gaun mewah yang dipakai oleh putri bangsawan.


Seorang bangsawan di mata Emerta adalah sampah. Dia berpikir Enell pasti memanfaatkan Diana, sama seperti dirinya yang dimanfaatkan di masa lalu. Setelah selesai digunakan maka mereka akan di buang. Emerta tidak akan membiarkan hal yang sama juga terjadi pada putri tunggalnya.


"Apa yang kau inginkan dari putriku? Putriku sama sekalu tidak kuat dan tidak memiliki kekuasaan apapun. Apa kau ingin memanfaatkan nya untuk menghangatkan tempat tidurmu? Setelah bosan kau akan membuang nya?" Emerta berkata sambil menatap pemuda itu dengan tatapan jijik.

__ADS_1


Enell mengernyitkan kening nya tidak senabg. "Aku tidak akan melakukan hal tidak bermoral seperti itu. Aku memang ingin menikahinya dan menjadikan nya istri atas anak-anakku!" kata Enell sungguh-sungguh.


Wajah Diana memerah malu saat dia mendengar pernyataan pemuda itu.


Sementara Emerta berusaha menahan tawanya. "Jangan bercanda. Kau hanyalah seorang pemuda yang bahkan belum tahu gelapnya dunia. Kau memang mencintainya sekarang. Tapi saat kau tahu kau tidak bisa menentang keluargamu dan juga harga dirinu sebagai bangsawan, kau akan membuang nya"


"Aku tidak akan melakukan itu. Aku adalah kepala keluarga di keluarga ku sendiri. Aku tidak memiliki orang untuk mengaturku sejak orang tuaku meninggal. Kalau pun memang ada yang menentang keputusan ku, aku akan membunuh mereka di tempat" kata Enell sombong. "Seperti saat ini!" katanya dingin.


Emerta sadar bahwa ada beberapa mayat di tempat ini. Tapi dia tidak tahu semua orang ini adalah keluarga pemuda itu.


Emerta mengamati Enell dari atas hingga bawah. Dia masih muda. Tapi sudah sangat kuat dan sekejam ini. Sangat berbeda dengan orang lain berkarakter lemah yang pernah di temuinya di masa lalu.


Tapi dia tetap tidak menyukai kesombongan nya itu.


Emerta pun menarik pisaunya. Dia langsung mengarahkan nya ke leher Enell untuk menguji keseriusan nya. Dan ternyata Enell tidak bergerak dari tempatnya sama sekali. Walaupun lehernya mengeluarkan darah karena ujung pisau itu menggores kulitnya.


"Ibu! Jangan! Apa yang kau lakukan?" Diana berteriak khawatir dan ingin menghentikan ibunya. Tapi Emerta menahannya untuk tidak bergerak.


"Kenapa kau tidak bergerak? Apa kau tidak takut mati? Atau kau sebodoh itu, ingin mati hanya karena seorang wanita?" ejek Emerta.


"Kenapa aku harus bergerak? Kau tidak akan membunuh ku" jawab Enell santai.


Tatapan Emerta menajam. "Aku adalah penyihir gelap. Aku bisa membunuh mu dengan mudah"


Emerta mengungkapkan identitas nya karena dia ingin melihat reaksi pemuda itu. Kalau dia melawan, maka semuanya berakhir disini. Dia akan membawa Diana kembali ke istana elf. Mereka akan mengembara lagi setelah penelitian nya selesai.


"Aku sudah tahu itu" Kata Enell serius. "Tapi kau tidak akan membunuhku" jawabnya yakin.


Emerta merasa bimbang sekarang. Pemuda di depannya menjanjikan dan kuat. Tapi dia merasa tidak rela untuk melepaskan putri satu-satunya itu. Dia benar-benar takut putrinya akan dikhianati dan berakhir menyedihkan. Kalau itu terjadi, dia benar-benar merasa gagal menjadi seorang ibu.


"Diana, ayo pergi!" kata Emerta.


"Tidak, tunggu ibu!" Emerta tidak mempedulikannya.


Emerta hanya menatap Enell dengan tatapan tajam.


"Diana akan kembali kalau dia benar-benar serius mengikutimu" katanya.


Lalu kedua wanita itu menghilang dari matanya. Enell hanya menundukkan kepalanya kecewa. Dia berpikiran kedua ibu dan anak itu perlu waktu untuk berbicara empat mata. Dia akan membiarkan mereka. Lagipula Enell yakin Diana akan kembali padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2