
Cerita sebelumnya:
Eva kembali ke mansionnya. Duke sudah menunggunya kembali dan memarahinya di tempat. Dia mengunjungi ibu kota dengan lingkaran sihir yang diletakkan di ruang kerja.
Tapi ibunya menghentikan nya. Ibunya juga membawa adik kecilnya yang membuat jiwa Eva bergolak karena dia tidak bisa menahan keimutan dari bayi itu. Bahkan Rexus juga sangat penasaran dengan adiknya, Evan.
***
"Bukankah kau memang menganggap ku sebagai makanan?" kataku cemberut. Apa dia pura-pura lupa kalau dia setiap hari menyerap manaku?
"Ehem, itu berbeda ~" Rexus langsung membalikkan tubuhnya dan bersiul.
Aku sama sekali tidak mengerti mengapa Rexus menganggap bau ku sangat enak. Tapi aku tidak memikirkan omongan Rexus dan hanya menganggap nya sebagai angin lalu.
Aku kembali menatap bayi kecil di pelukanku, bahkan lupa kalau ayah dan ibuku menatap punggung ku dengan tajam karena penasaran dengan kehadiran Rexus.
"Apa itu?" Diana bertanya lebih dulu sambil menusuk Rexus dengan telunjuknya.
Aku sebenarnya bingung bagaimana menjelaskan tentang keberadaan Rexus. Tapi aku tetap memberitahu mereka kebenaran bagaimana aku menemukan Rexus.
Aku berkata dengan heroik bahwa Rexus adalah naga yang kutemukan dari reruntuhan yang ada di Kota Sihir. Aku juga menceritakan pengalaman ku tentang telur emas yang menetas menjadi Rexus kecil. Serta kemampuan Rexus untuk berkomunikasi denganku. Rexus masih bayi sekarang, jadi kami hanya bisa berbicara lewat telepati. Tapi Rexus akan bisa berbicara bahasa manusia saat dia lebih besar nanti.
Duke Court dan Diana mendengar cerita putri mereka dengan kepala berkedut. Tentu saja mereka tidak percaya bahwa Rexus adalah naga. Mereka mengangguk pelan saat Eva berbicara seakan-akan mereka percaya. Tapi di dalam hati mereka menganggap bahwa cerita Eva hanyalah khayalan fantasi miliknya.
"Baiklah~" kata Diana pengertian sambil mengusap kepala Eva. "Jadi benda kecil ini adalah binatang sihir ya~" katanya sambil membelai wajah Rexus. Rexus menikmati belaian itu seperti kucing kecil.
"Jelas-jelas itu hanya kadal kecil" sindir Duke Court sambil mengamati binatang sihir dengan suara imut itu.
__ADS_1
"Pi pi pi pi!" Rexus mulai berbalik menghadap Duke Court untuk menyatakan protesnya. Seperti biasa, kalimatnya adalah "Aku bukan kadal!"
"Jangan dengarkan pria tua itu Rexus kecil ~" kata Diana sambil membawa Rexus dalam pelukannya. Diana menerima Rexus dengan penuh kasih sayang hanya dalam sekejap mata.
"Pi~" kata Rexus senang.
Terjemahan yang di dengar Eva : Tentu saja ~
Keempat orang keluarga bahagia itu tidak tahu bahwa seseorang mengawasi mereka dari balik dinding dengan menjulurkan kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Fram. Bocah elf itu penasaran dengan kehadiran aneh Rexus dan mulai mengawasi secara diam-diam.
Walaupun bukan pengawasan diam-diam juga karena Wiya menyadari kehadiran anak itu dan tersenyum melihat tingkahnya yang bersembunyi dengan malu-malu. Dalam pikiran Wiya, bocah itu malu menunjukkan dirinya karena kehadiran Duke dan istrinya.
Rexus juga sadar bahwa ada kehadiran kuat yang mengawasinya. Dia langsung menatap Fram yang berada di balik dinding dan mata mereka bertemu.
Rexus tidak tahu kenapa. Dia tahu anak itu bukan manusia. Tapi ada juga perasaan aneh dan terasa familiar di tubuhnya. Dengan mata penasaran dia menghampiri Fram. Bertanya-tanya mahluk apa itu.
Saat Eva ingin melangkah pergi, Duke Court menyadari nya. "Kau mau kemana? Kita belum membicarakan tentang hukumannya" katanya tajam. Dia tidak menyerah untuk menghukum Eva untuk masuk ke kelas kedisplinan intensif.
"Sayang~" suara lembut dan tajam Diana melayang. "Eva akan beristirahat di kamarnya. Dia baru saja kembali, jangan menyulitkannya. Bukankah aku menyuruhmu untuk menyiapkan air mandi Evan? Kenapa kau tiba-tiba duduk dengan santai di sini?"
Duke Court terdiam.
SYUUU~ dengan cepat dia meninggal kan ruang tamu untuk melaksanakan perintah istrinya.
Aku hanya melihat ayahku yang bodoh itu dengan mata kasihan.
Akhirnya aku bisa melihat kamarku setelah sekian lama. Aku ingin menyortir semua barang dalam ruang dimensiku karena aku mendapat banyak sekali harta di Domain Sihir. Aku benar-benar tidak sabar untuk menyortir mereka semua.
__ADS_1
Aku membuka ruang dimensiku. Ruang dimensi yang awalnya lapang, terlihat penuh dengan barang sekarang. Aku mengeluarkan nya dan tumpukan barang itu langsung memenuhi kamarku.
Ada sekitar ratusan harta yang kudapat dari reruntuhan. Ada ramuan, artefak dan senjata sihir. semuanya tercampur dalam satu tumpukan.
Aku memisahkan tumpukan itu menjadi tiga, sesuai dengan jenis-jenis mereka. Setelah dipisah ternyata tumpukan botol ramuan lebih besar dari yang lainnya.
Oke, pertama-tama aku akan Menyortir ramuan terlebih dahulu. Aku menggabungkan semua ramuan yang kumiliki di tumpukan ramuan itu, kecuali ramuan ilusi dan ramuan kebangkitan yang sangat berharga.
"Eh? Apa ini?" aku juga menemukan ramuan yang sudah lama kulupakan di sudut ruang dimensi. Ramuan yang kuperoleh dari seorang nenek di Menara Sihir. Ramuan untuk membuat orang jatuh cinta padamu. Aku tidak menyangka akan menyimpannya ramuan konyol itu selama ini.
Tapi aku tetap memisahkan ramuan itu dari ramuan lainnya. Siapa tahu itu akan berharga di kemudian hari. Lagipula efeknya sangat unik.
Kemudian aku mulai memisahkan tumpukan ramuan itu menjadi dua bagian. Beberapa ramuan yang berharga aku simpan kembali di dalam ruang dimensi. Sementara ramuan lainnya akan menjadi stok untuk makanan Rexus.
Setelah itu aku melihat tumpukan artefak. Aku mengeluarkan semua artefak kecuali artefak piala itu. Lalu memisahkan nya menjadi dua bagian. Artefak yang berharga akan kusimpan dalam ruang dimensi. Selain untuk pemakaian pribadi, aku akan memberikan artefak ini sebagai hadiah juga ke teman-teman ku. Aku sontak mengingat Vivian dan Lilac. Sisanya akan kutukarkan dengan ramuan untuk stok makanan Rexus. Aku melakukan hal yang sama dengan semua senjata sihir itu.
Aku menggeleng lemah melihat tumpukan barang yang akan kutukarkan dengan ramuan. Membesarkan Rexus tidak mudah. Kau harus punya cukup uang untuk memberikannya makan. Apalagi dia sangat rakus. Walaupun dia tidak terlalu sering makan. Kalau dia kenyang, dia bisa tidak makan selama tiga hari.
Aku melihat senjata sihir yang akan kugunakan. Aku mengganti senjata sihir lama di pinggangku, sebuah belati kecil, dengan senjata sihir berbentuk pisau kecil. Senjata baruku lebih kecil dari sebelumnya, tapi kekuatan nya juga lebih hebat.
Jangan meremehkan pisau kecil ini. Walaupun bentuknya kecil, itu bisa membelah sebuah ruko dalam satu tebasan. Dan kau belum menghitung racun mematikan yang ada di bilahnya. Pisau ini benar-benar penting sebagai alat pertahanan diri, mengingat kalau aku sering berhadapan dengan bahaya tidak terduga.
Lalu untuk artefak, aku memilih beberapa yang tidak mencolok. Aku menemukan artefak gelang yang dapat melepaskan perisai pertahanan selama sepuluh menit. Lalu artefak kalung yang dapat meningkatkan kekuatan fisik. Serta anting-anting kecil yang bisa mempercepat kekuatan terbang. Artefak perhiasan yanh kugunakan terlihat tidak mencolok kalau dibandingkan dengan semua perhiasan wanita bangsawan. Jadi aku kira baik-baik saja untuk memakainya.
Aku juga menemukan sepatu kulit aneh yang bisa memperkuat kekuatan kaki. Walaupun aku tidak bisa memakainya karena tampilan sepatu itu seperti sepatu berburu yang lusuh, tidak cocok kalah digunakan bersama dengan gaun bangsawan atau pun seragam akademi. Tapi aku bisa memakainya kalau aku ingin berpetualang atau pergi keluar. Seperti menjalankan misi atau pun pergi berburu.
Baiklah, aku kira persiapan untuk semakin kuat sudah lengkap sekarang. Lalu aku hanya perlu bermeditasi dengan artefak itu. Aku juga perlu berlatih untuk memperkuat manaku.
__ADS_1
Melatih banyak sihir tingkat tinggi tidak akan berguna kalau kau tidak memperkuat manamu. Kau hanya membuang-buang mana saat kau menggunakan nya. Aku merasakannya saat melawan musuh yang lebih berpengalaman dan kuat. Sihir tingkat tinggi yang ku keluarkan tidak bisa melukai musuh karena kekuatan mananya sangat rendah.