Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 4. Kerajaan Kano: Menyelinap


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


mereka tiba di istana dan disambut oleh Perdana Mentri Hendrick. Saat mereka bertemu dengan keluarga kerajaan dan para bangsawan, Eva sangat bingung. Dia sama sekali tidak melihat sosok Sayn. Saat para pangeran itu memperkenalkan diri, dia bahkan menjadi lebih kaget! Sayn dihadapannya bukanlah Sayn yang dikenalnya! Bahkan ciri-ciri mereka berbeda. Jadi Eva mulai memutuskan untuk menyelidiki ini karena dia merasa penasaran. Dia memutuskan untuk menjelajahi istana dan mencari tempat kediaman Sayn disaat murid-murid lainnya ingin berjalan-jalan di ibu kota kerajaan.


***


Robert berdiri berhadapan dengan Raja Kerajaan Kano. Saat itu semua orang sudah pergi dan hanya meninggalkan mereka berdua di tengah-tengah aula.


"Baiklah, langsung saja. Aku mendengar bahwa ada sebuah organisasi aneh mengunjungi Menara Sihir?" tanya Raja Kano dengan nada penuh selidik.


"...." Robert terdiam, tidak mau menjawab.


Haa~ Raja Kano menghela napas saat memperhatikan respon Robert. "Kau mungkin tidak tahu bahwa organisasi itu berasal dari negara kami. Aku tidak tahu kenapa mereka mengunjungi Kerajaan Well. Tapi aku mendengar rumor bahwa organisasi itu cukup akrab dengan Dean kalian"


"...." Robert masih tidak menjawabnya.


Raut wajah Raja Kano berubah serius saat melihat Robert tidak meresponnya. "Kau tahu kalau mereka sangat berbahaya. Aku mendengar bahwa mereka membunuh para bangsawan dari negara lain. Aku takut itu akan berdampak buruk bagi kerajaan kita. Tapi kenapa Menara Sihir masih bersikeras menyembunyikan mereka?" kata Raja dengan nada bicara yang menekan. "Kalian ingin menyembunyikan para pembunuh?' aura kemarahan mulai keluar dari tubuhnya.


Robert melihat Raja di depannya. Tentu saja aura raja itu tidak mempengaruhinya sama sekali. Tapi dia memutuskan untuk membungkuk dan tersenyum "Saya minta maaf yang mulia. Saya hanya orang kecil di Menara SIhir, bahkan tidak setara dengan para penatua" kata Robert merendah. "Saya tidak tahu tentang hal itu. Jika yang mulia penasaran, yang mulia bisa langsung menanyakannya pada Dean" Robert menjawab datar seperti dia menjawab pertanyaan kepala sekolah akademi itu.


Raja Kano memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi tahta. "Kerajaan Well membuatku kecewa" katanya lirih. "Bagaimana raja itu bisa mengirimkan beberapa bocah untuk mengawal keselamatan anak-anakku? Kalian benar-benar mengejek martabat kami" katanya dengan nada menyindir.


"yang Mulia jangan salah paham" jawab Robert langsung tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. "Mereka adalah murid-murid terbaik yang dimiliki oleh akademi. Kami bahkan membawa pangeran kedua. Jangan terlalu meremehkan anak-anak itu. Mereka bahkan lebih kuat dari prajurit kerajaan. Dan juga ada saya disini. Yang Mulia tidak mungkin meremehkan kekuatan Menara Sihir kami kan?"


"...."


Raja dan Robert saling bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


Haa~ Raja Kano menghela napas lagi. "Baiklah, kau boleh pergi. Kalian mungkin akan berangkat lusa. Anak-anakku perlu menyiapkan banyak keperluan untuk tinggal jadi jam keberangkatan kalian mungkin terhambat." katanya malas sambil melambaikan tangannya.


"Kami tidak masalah yang mulia" jawab Robert sopan. "Kalau begitu hamba permisi dulu" Dalam sekejap sosoknya langsung menghilang.


Raja masih duduk di kursi tahtanya dan merenung.


Dia memikirkan tentang organisasi pembunuh itu. Ada banyak kabar tentang organisasi terkenal itu. Dan dia sangat senang saat mengetahu bahwa mereka berasal dari Kano. Dia mulai menyelidiki mereka tapi tidak menemukan apa pun. Organisasi itu sama sekali tidak meninggalkan jejak mereka di negara ini. Raja jadi khawatir. Dia ingin membawa organisasi itu dibawah kekuasaannya sehingga kerajaannya semakin kuat. Tapi kalau organisasi itu memberontak, dia harus dengan cepat memusnahkannya. Karena dia takut nyawa mereka akan terancam. Dia bahkan menjadi lebih waspada dengan organisasi ini saat mengetahui bahwa mereka berhubungan baik dengan Menara Sihir.


"Aku harus menemukan mereka..."


***


Aku memfokuskan sihirku untuk memgamati sekeliling. Saat aku mendengar langkah kaki bocah-bocah itu tidak ada lagi, aku langsung keluar dari kamarku.


Aku langsung menggunakan beberapa sihir untuk menghilangkan hawa keberadaanku. Lalu menggunakan sihir angin untuk mempercepat gerakanku dan terbang ke atas.


Aku melihat bangunan di bawahku. Ternyata area penginapan ini cukup luas dibandingkan area lainnya. Saat aku melihat bangunan lain di sisi kiri dan kanan penginapan, bangunan itu cukup kecil dan penuh dengan kendi-kendi air. Dalam sekejap aku bisa tahu bahwa ini adalah dapur kerajaan.


Aku menggeser tubuhku maju untuk mengamati bangunan lainnya. Aku melihat area sangat besar yang dipenuhi dengan mansion mewah. Ah! Aku yakin pangeran dan putri itu tinggal disini. Tapi aku tidak tahu tempat tinggal siapa saja ini, karena mansionnya terlalu banyak.


Menurut cerita di dalam novel, Sayn tinggal di sebuah istana kumuh yang ditinggal kan. Aku berusaha melihat bangunan yang mempunyai ciri-ciri seperti itu. Dan yahoo! Aku melihat sebuah bangunan kumuh di sudut. Bangunan ini benar-benar berada di daerah ujung. Karena tidak kontras dengan mansion-mansion disekelilingnya, bangunan ini tidak terlihat seperti istana tapi seperti gudang.


"Benar-benar istana yang ditinggalkan..."


Aku turun secara perlahan. Aku segera mencari tempat strategis untuk menyembunyikan diri dan menemukan pepohonan rindang di halaman. Dengan gerakan cepat aku menyembunyikan diriku sambil mengamati bangunan di depanku.


Bangunan ini sangat tua. Walaupun mempunyai dua lantai, tidak terlihat mewah sama sekali. Dinding bata kotor yang dipenuhi oleh lumut dan parasit yang menjalar. Lalu sebuah pintu dan jendela tua. Penerangan di area ini juga sangat minim. Aku mengamati halamannya. Sangat gelap dan menyeramkan. Dipenuhi dengan rerumputan tinggi dan pepohonan.

__ADS_1


Entah kenapa aku merasa merinding. Bangunan ini memberikanku kesan seperti bangunan-bangunan tua yang ada di film horror. Kau merasa de javu pernah melihat pemandangan ini di film. Ah! Ini mirip dengan filn horor vampir yang kutonton. Bahkan film horor pembunuhan juga memiliki setting tempat seperti ini.


"Apanya yang kumuh...Tempat ini lebih cocok dijuluki sebagai sarang hantu daripada tempat kumuh" gerutuku. Novel itu benar-benar bodoh! Kalau dilihat dengan mata kepala sendiri, ini sangat berbeda dari deskripsi novel.


"Tempat ini memang jelek, tapi tidak kumuh sama sekali."


Kalau bangunan ini dibersihkan, aku yakin akan kelihatan lebih mewah.


"Jelek katamu?" suara dengan nada dingin tiba-tiba terdengar di gendang telingaku. Aku bahkan merasakan hembusan napas seseorang yang menggelitik daun telingaku.


"Ah!" Karena kaget, aku tanpa sadar menghindar dan tidak memperhatikan sekelilingku. Dan Buk! Kakiku tersandung tanaman merambat yang ada di tanah.


Aku sudah siap menggunakan sihir terbang ku agar tidak tersentak ke tanah. Tapi ternyata sebuah tangan besar lebih dulu memegang pinggangku dan membuatku jatuh ke dalam pelukan seseorang.


"Bagaimana bisa kau terjatuh hanya gara-gara sesuatu seperti ini?" ejek orang itu.


"Sayn...." gerutu ku kesal sambil menatap pria yang memelukku. "Bagaimana kau bisa menyelinap diam-diam seperti ini? Dasar tidam tahu malu!"


"Pft!" Sayn berusaha menahan tawanya. Dia menekan jari telunjuknya ke kening Eva. "Kau harusnya sadar diri. Siapa yang menyelinap dan tidak tahu malu? Ini rumahku kau tahu? Kau yang menyelinap ke tempat ini..."


"Uhh..." aku tidam bisa berkata-kata lagi. Harga diriku benar-benar sudah jatuh kali ini. Perkataan nya sangat benar.


"Itu tidak penting" kataku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ada yang ingin kutanyakan padamu...."


"Jangan bicara disini oke. Berbahaya....Kita tidak tahu siapa yang akan menguping kalau berbicara di tempat terbuka seperti ini. Kita masuk saja"


SYuu! Tanpa mengatakan apa pun, Sayn langsung membawa gadis dalam pelukannya berteleportasi ke kediamannya. Dalam sekejap dua sosok yang berada di tempat itu langsung menghilang.

__ADS_1


LIKE


__ADS_2