Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Asrama


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Robert tiba-tiba muncul di akademi. Eva menjadi penasaran dan menanyakan alasan kedatangannya. Ternyata Robert menjadi guru di akademi! Dan alasan dia menjadi guru karena ingin dekat dengannya dan uga karena pertandingan sihir itu. Dia ingin dirinya mengetahui info-info tentang pertandingan sihir yang akan diadakan.


Saat mereka berdua berada di mansion, mereka membicarakan banyak hal. Mereka membicarakan tentang pertandingan sihir, tentang ramuan mana itu dan juga tentang perkembangan kekuatan mereka. Lalu topik terakhir bealih ke pembicaraan tentang asrama.


Ah! Eva teringat lagi bahwa dia memang ingin mencari asrama. Dan dengan kecepatan angin, Robert membawanya ke asrama yang ingin dia tuju.


***


SHUUU!


Tanpa pikir panjang, Robert langsung membawaku ke tempat lainnya.


Aku menatapnya dengan iri "Menjadi guru memang sangat nyaman. kau bisa pergi kemana pun sesuka hatimu tanpa harus dihalangi oleh sihir-sihir penghalang"


Robert tersenyum dan mendekatkan wajahnya padaku. "Karena itulah kau harus sering datang padaku. Aku akan mengantarkan tuan putri ke tempat mana pun yang dia inginkan"


"Gratis?"


"Tentu saja tidak perlu bayar pakai uang. Kau hanya harus menciumku sekali untuk sekali transpor" katanya licik.


"....."


Aku mengabaikannya dan mengalihkan perhatianku pada tempat ini.


Tempat yang kami datangi ini adalah sebuah kamar. Kamar ini cukup besar dan mewah. Walaupun tidak sebesar kamarku, kamar ini cukup elegan dan luas. Fasilitasnya juga lengkap. Hmmm...ini mirip dengan konsep apartemen.


"Ini adalah kamar terbaik" Robert menjelaskan. "Bisa dibilang ini kamar VIP. Akademi hanya memiliki sedikit kamar VIP, sekarang semuanya sudah di tempati dan hanya tersisa satu"


"VIP? Berarti ada jenis kamar yang lainnya master?"


Robert mengangguk.


"Asrama di akademi ini dibagi menjadi beberapa grade sesuai lantainya. Sistem ini benar-benar mirip seperti Menara Sihir. Lantai dasar adalah under grade. Lantai ini untuk para rakyat biasa yang mendapatkan beasiswa dari akademi. Kamar level under grade bukan kamar tunggal. Ada empat orang yang tinggal dalam satu kamar. Kamar lantai dua adalah kamar normal. Kamar ini biasanya di tempati anak-anak pendagang atau pun bangsawan-bangsawan dari daerah kecil. Kamar ini bisa ditempati tiga orang murid. Kamar high tier adalah kamar khusus para bangsawan dan keluarga kerajaan. Kamar ini cukup mewah dan fasilitasnya cukup lengkap. Hmmm bisa dibilang dekorasinya tidak berbeda jauh dari kamar VIP. Yang membedakan kamar high tier dengan VIP hanyalah jumlah orang yang menempati kamar. Kamar high tier untuk dua orang murid sementara kamar VIP hanya untuk seorang murid”


Setelah mendengar penjelasan Robert, aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku lebih suka kamar dengan banyak orang karena itu lebih mengasyikan.


Tujuan utamaku untuk memasuki asrama adalah menikmati masa sekolah. Lalu tujuan kedua adalah memperbaiki rumor buruk tentangku.


Eva memiliki rumor yang sangat buruk. Sehingga dia benar-benar dihindari dalam pergaulan. Eva dalam novel mungkin tidak peduli tentang rumor buruk itu dan dia selalu bersikap berlebihan, sehingga rumor itu terbukti benar! Eva dalam novel sama sekali tidak mempunyai sahabat atau teman setia karena rumor itu. Sangat berbeda dengan Reina yang memiliki banyak teman dan pendukung. Ada beberapa anak bangsawan yang mendekati Eva. Tapi mereka hanya menginginkan pengaruh jabatannya sebagai putri Duke. Mereka ingin naik jabatan dalam politik.


Oleh karena itu, pergaulan itu sangat penting! Jadi aku menginap di asrama bukan hanya untuk bersenang-senang. Aku juga ingin mencari teman dan mengumpulkan banyak rekan. Lalu secara perlahan aku akan menghapus rumor buruk tentangku.

__ADS_1


Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Tapi yah, aku berharap ini berhasil. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Setidaknya aku harus bersikap ramah terhadap orang lain dan tidak berlebihan. Aku yakin mereka akan menerimaku kalau aku bersikap seperti itu.


Aku lebih suka kamar dengan banyak orang. Tapi aku tidak mungkin memilih sekamar dengan rakyat jelata atau pun para pendagang. Jadi kamar under grade dan kamar normal bisa dihapus dari list. Berarti hanya kamar high tier yang tersisa.


"Master, aku lebih menyukai kamar yang biasa saja. Aku memilih kamar high tier." kataku memutuskan.


"Tidak!" Robert langsung membantahnya.


"Aku tidak mengizinkanmu sekamar dengan orang lain. Bagaimana kalau orang itu adalah pembunuh, penyusup atau penjahat yang sedang menyamar. Bagaimana kalau mereka menyerangmu diam-diam saat kau tertidur?"


Haa~ aku menghela napas.


Robert ini terlalu over protektif. Benar-benar terlalu over protektif.


"Aku tidak apa-apa master. Kenapa kau tidak percaya padaku?" kataku kecewa.


"tapi..."


"Tenanglah. Sangat kecil kemungkinan bahwa itu orang yang menyamar. Karena mereka adalah bangsawan. Sekali mereka melakukan hal jahat, mereka akan dikenai hukuman. Aku jamin itu." aku berusaha meyakinkannya.


"Baiklah..." Robert menyetujuinya. "Tapi berhati-hatilah oke"


"Pasti" aku mengangguk yakin.


"Master, bagaimana kita bisa tahu teman sekamar kita?"


"Ah! Kau akan mengetahuinya besok. Besok adalah jadwal pindahannya. Kau harus bersiap-siap malam ini oke. Aku juga tidak tahu kamar ini ditempati siapa. Aku hanya tahu kamar-kamar yang masih kosong"


"Oke, terima kasih master" aku berjinjit dan mencium pipinya. "Ini imbalan karena sudah mengantarku"


"Ini kurang" kata Robert tak tahu malu. Dia mulai mengangkat jarinya dan menghitung. "Aku membantumu tiga kali, tidak empat kali kalau dihitung pulang"


"Hmph! Kalau begitu aku akan pulang sendiri!" kataku merajuk.


"Ayolah~ aku hanya bercanda." Robert kembali memegang tangan gadis kecil itu dan membawanya kembali ke mansion.


"Master kau tidak pulang?" aku bertanya padanya.


Tapi Robert tidak mendengarnya. Matanya fokus pada kecambah kecil yang berada di ruang tamu. Kecambah itu sedang asyik memakan cemilan dan bermain dengan salah satu maid.


'Aku pikir Eva tidak punya adik. Siapa bocah itu? Pelayan baru? Tidak mungkin pelayan dilayani oleh pelayan! Itu tidak masuk akal!'


"Siapa itu?"

__ADS_1


Aku mengikuti pandangan Robert. "Oh? Aku mengambinya" jawabku santai.


Robert langsung menebarkan aura dingin. Aku tersentak kaget.


"Ke...kenapa?"


"Bagaimana kau bisa membawa benda kotor itu kemari?" kata Robert kejam sambil melihat bocah itu. Walaupun bocah itu memakai alat sihir untuk menyamar, Robert bisa melihat penyamarannya. Dan dia mengetahui bahwa itu adalah elf gelap. Elf gelap sangat buruk dimatanya, karena dia mempunyai pengalaman yang buruk terhadap para elf itu.


"Ayolah master, dia hanya anak kecil. Umurnya masih enam tahun"


"Enam tahun, enam tahun" Robert mengertakkan giginya. "Anak enam tahun itu juga kelak akan menjadi ********!" teriaknya sambil menunjuk bocah elf.


Teriakannya mengalihkan perhatian si bocah dan Wiya, sehingga mereka melihat ke arah kami.


"Kau benar-benar berani menyelipkan pria asing di dalam mansionmu? Dan terlebih lagi itu adalah dark elf? Dia memang masih kecil sekarang. Tapi kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya di masa depan nanti. Dia bisa menjadi jahat"


"Master! Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu?" aku langsung membentaknya. "Dia hanya anak kecil! Walaupun dia elf gelap, lalu apa? Tidak semua elf itu jahat. Lagipula aku tidak bisa membiarkannya sendiri seperti itu. Anak itu diculik oleh pendagang budak bersama anak-anak dari ras lainnya. Aku tidak sengaja menyelamatkan mereka. Anak-anak yang lain mempunyai rumah untuk kembali tapi anak itu tidak punya. orang tuanya dibunuh dan dia menyamar menjadi ras elf lain agar bisa hidup." kataku panjang lebar.


Aura dingin Robert menghilang. Secara perlahan pria itu mulai menenangkan dirinya. "Maafkan aku...aku punya pengalaman yang buruk tentang mereka. Dan mereka yang berada disini itu tidak normal, aku kira mereka menyusup. Tapi aku tidak menyangka ceritanya seperti itu."


Setelah mendengar kata "pendagang budak", sikap Robert berubah.


"Anak itu memang cukup menyedihkan..." katanya sedih.


Dia jadi mengingat tentang dirinya dulu, yang berusaha melakukan apa pun untuk bertahan hidup.


'Yah, dia masih anak-anak. Dia masih bisa dibimbing di masa depan' pikir Robert.


Haa~ aku menghela napas lega melihat sikap Robert melunak.


"Baiklah master. Apa kau ingin menginap? kalau iya, aku akan menyiapkan kamar untukmu"


Robert mengangguk. "Tap aku tidak memerlukan kamar" katanya kemudian. "Aku ingin menginap di kamarmu"


Uhuk! Aku hampir tersedak.


"A...apa?"


"kau tidak senang?" tanya Robert cemberut. "Kau selalu menginap di kamarku saat kita masih di Menara Sihir. Dan sekarang kau menolakku? Ini benar-benar tidak adil"


"haa...baiklah" aku menyerah. Lagipula kasur di kamarku cukup untuk dua orang.


Tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut di masa depan. Tidak bisa!

__ADS_1


LIKE, LIKE, LIKE


__ADS_2