Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Kamar Robert


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva teringat akan kisah pangeran Sayn di dalam novel....


***


Dean Wason menatap gadis kecil di sampingnya. Gadis itu melamun dan beberapa kali mengeluarkan gumaman aneh. Dia tidak bisa mendengarkan gumaman itu karena suaranya terlalu kecil. "Eva, ada apa?" tanyanya sambil mengernyitkan kening. Apa yang sedang dipikirkan gadis ini sehingga dia tiba-tiba berteriak, terdiam di tempat dan mengeluarkan gerutuan aneh?


Ah? Aku sadar kalau reaksiku berlebihan!


Aku menatap Dean wason "Tidak apa-apa kakek"


"Kenapa kau kelihatannya panik begitu? Tidak mungkin tidak apa-apa" Dean Wason bersikeras.


Aku langsung menggeleng cepat. "Benar tidak apa-apa. Aku hanya kelupaan sesuatu"


"Baiklah" jawab Dean Wason pasrah.


"Ayo" dia langsung memegang lengan Eva dan menuntunnya menyusuri lorong.


"Kakek, dimana master?" tanyaku saat kami tiba di pintu dimensi.


"Master? Robert?"


Aku mengangguk.


"Dia sedang ada urusan. Dia tidak ada disini"


"Oh?"


"Pantasan saja telepatiku tidak tersambung. Apa yang sedang dia lakukan?" aku menggerutu.


"Apa?" tanya Dean Wason dengan nada kaget. "Telepatimu tidak tersambung?"


"iya" aku mengangguk "Memangnya kenapa kakek?"


Dean Wason terdiam. Dia langsung mencoba untuk menghubungkan sinyal telepati dengan Robert. Dan ternyata benar, sinyal telepati itu tidak tersambung.


"....." Dean Wason membisu sambil melamun.


"Kakek! Kakek! Apa yang terjadi? Apa ini sesuatu yang berbahaya?" tanyaku panik. Aku juga tidak tahu apa penyebab dari sinyal telepati tidak bisa tersambung. Entah kenapa perasaanku tidak enak setelah melihat ekspresi diam Dean Wason.


"Tidak apa-apa" jawab Dean Wason kemudian dengan nada lirih. "Dia tidak apa-apa. Dia pasti bisa mengatasinya. Jangan cemas oke?"


AKu mengangguk pelan, tapi pikiranku masih berantakan. Aku yakin Robert pasti melakukan sesuatu yang berbahaya bukan? Tapi aku tidak tahu apa itu. Pasti sesuatu yang rahasia karena Dean Wason bahkan tidak mau memberitahuku.


Kami berdua diam sampai kami memasuki ruang makan. Aku bahkan sesekali memperhatikan Dean Wason, dia melamun, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Ah, aku rindu makanan disini" kataku berusaha memecah keheningan.


Dean Wason tersenyum. "Baiklah, kau bisa makan dengan puas disini" katanya dengan  lembut.


Aku hanya mengangguk pelan.


Kami memelih kursi untuk duduk lalu memesan makanan. Saat semua makanan yang dipesan datang, kami mulai makan.


"Apa kau ingin menginap di sini lagi Eva?" tanya Dean Wason sambil menyesap minumannya.

__ADS_1


"Iya kakek"


"Baiklah. Aku akan menyiapkan ruangan untukmu."


"Eh?"


"Tidak perlu kakek, aku bisa menginap di kamar Robert" kataku sambil mengunyah makanan.


Aku memikirkannya barusan. Aku perlu mencari sesuatu di kamar Robert. Aku pikir ini pasti ada hubungannya kenapa aku tidak bisa menghubungi Robert. Karena itu aku perlu menginap di kamarnya. Dan ini situasi yang tepat karena Robert tidak ada di tempat.


"Apa? Kapan bocah itu memberikan kunci kamarnya padamu?" tanya Dean Wason sambil mengernyitkan kening.


Aku menatap pria tua tua di depanku dengan wajah kebingungan. "Master memberikanku kuncinya sejak dulu. Apa itu hal yang penting kakek?"


"Tidak...tidak...Tapi itu hal yang tidak baik. Saat kau ingin menginap lagi di masa depan, jangan menginap di kamar bocah itu oke?" kata Dean Wason dengan nada cemas. Dia berusaha menyakinkan Eva.


'Aku tidak bisa membiarkan gadis kecil ini terus menginap di tempat bocah itu' pikir Dean Wason.


"Dan jangan pernah menginap di kamar pria lain juga" tegasnya.


Aku mengangguk cepat. "Baik kakek" jawabku pasti.


Tentu saja aku tidak akan menginap di kamar pria saat aku dewasa. Aku juga tahu batasan oke. Aku hanya bersikap bebas sekarang karena tubuhku masih anak-anak hmph!


Saat kami selesai makan, Dean Wason langsung mengantarku untuk berteleportasi ke kamar Robert.


"Terima kasih kakek" kataku.


"...." Dean Wason tidak menjawab. Wajahnya kelihatan sedih.


Aku langsung memeluknya. "Aku akan menemui kakek lagi besok" kataku dengan nada manja.


Aku mengangguk cepat.


Lalu aku melambaikan tangan, sampai sosok Dean Wason secara perlahan menghilang.


Setelah Dean Wason pergi, aku memperhatikan pintu kamar di depanku.


Aku memegang ganggang pintu lalu mengucapkan mantra pembuka, tapi tiba-tiba sebuah suara asing memanggilku.


"Tungguuu"


Aku menoleh ke samping. Ada seorang bocah remaja menghampiriku. Bocah itu mengenangkan jubah putih khas menara sihir. Dari tampilannya kelihatannya dia seorang murid junior.


"Aku?" kataku bingung sambil menatap bocah itu, lalu jariku menunjuk diriku sendiri.


"Iya" bocah remaja itu mengangguk.


"Kau ingin masuk ke dalam bukan?" dia menunjuk kamar Robert.


"Oh? Iya. Kenapa?"


"Kau siapanya Robert?" tanyanya dengan mata menyipit.


"Aku kenalannya" jawabku langsung. "Ada apa? Kenapa memanggilku?"


"Apa Robert ada di dalam?" tanya bocah itu lagi.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Master sedang keluar."


"....." Bocah itu terdiam beberapa saat.


Kemudian dia merogoh sakunya. Dan mengeluarkan sebuah amplop.


"Karena Robert sedang tidak ada, berikan ini padanya oke" katanya sambil menyerahkan amplop itu.


"Baiklah"


Bocah itu menyakinkanku lagi "Berikan pada Robert secepatnya oke" sebelum dia menyusuri lorong dan menghilang.


Aku terdiam di depan kamar Robert sambil memandangi amplop di tanganku.


Ahh...aku akan memikirkannya benda ini nanti. Aku pun langsung meletakkannya di ruang dimensi.


Aku mengucapkan mantra pembuka sambil memegang ganggang pintu dan KREK! Pintu itu terbuka.


Aku masuk lalu menutup pintu itu kembali. Aku memandangi kamar yang terasa familiar ini.


Kondisi kamar ini sudah berbeda dari yang sebelumnya. Saat akau berkunjung kemari, itu hanya sebuah kamar kosong, tapi sekarang penuh dengan berbagai barang yang tertata rapi. Kelihatannya Robert sudah membawa semua barangnya kembali semenja dia kabur dari Menara Sihir.


Aku ingin menginap di kamar Robert, karena aku ingin mencari sesuatu.


Waktu aku menginap di kamar ini, setahun yang lalu. Aku melihat Robert sedang memegang sesuatu. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku curiga itu ada hubungannya dengan keadaan Robert saat ini. Aku masih ingat dokumen yang dipegang Robert sangat aneh dan juga kotak itu.


Aku mulai mencari benda itu. Aku menelusuri setiap sudut ruangan. Mencari di meja, laci, kursi bahkan di bawah kasur. Tapi aku tidak menemukannya.


"Ah" Aku mengetuk keningnku. "Aku benar-benar bodoh. Robert pasti membawa dokumen itu, tidak mungkin dia akan meninggalkannya di kamar" kataku menggerutu. "Uhhh...aku merasa ini tidak asing. Dokumen itu...." AKu mencoba berpikir. Sebelum aku tidur, aku melihat dokumen yang dipegang Robert. Itu hanya sekilas. Tapi aku melihat gambar-gambar abstrak yang aneh. Bukan dokumen yang penuh dengan tulisan. Karena itu aku merasa curiga.


Aku tidak menyerah. Aku mencoba mencari lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku tidak buru-buru. Aku mencarinya secara perlahan dan teliti. Aku membuka satu persatu dokumen dan memahaminya. Tapi dokumen yang kumaksud itu tidak ada di ruangan ini.


"Sudah kuduga, dia memang membawanya...." kataku pasrah melemparkan diriku di kasur.


"Aku sangat lelahh...ah....Master....kau ada dimana..." kataku lirih sambil menatap langit-langit kamar.


Aku menatap langit-langit dan melamun. Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh di langit-langit kamar. Ada sebuah kain biru yang melambai. Kain biru itu sangat kecil, sehingga kalau tidak diperhatikan benar-benar, kau tidak akan bisa melihatnya.


Aku mulai penasaran.


SHUUU! Aku menggunakan sihir terbang dan menarik kain biru itu. Aku kira itu kain biasa tapi tiba-tiba....


KREK   KREKKK    KREEEKKK


Terdengar bunyi deritan papan. Aku menoleh kiri kanan mencari sumber suara. Lalu melihat lantai kamar perlahan mulai berderak. Dan di tengah-tengah lantai, ada sebuah pintu kecil dan perlahan pintu itu terbuka dengan mengarah ke bawah.


Tidak mungkin! Ruang rahasiaa!


Aku langsung turun.


KREEKK  KREEKKK KREEEKK


Pintu itu perlahan semakin terbuka lebar.


Eh? Ini ruang bawah tanah. Saat sudah terbuka sempurna, aku melihat tangga-tangga kecil yang menuju ke bawah.


"Massterr, apa yang kau sembunyikan di tempat ini, sampai kau membuat ruang rahasiaa..." gumamku sambil berpikir.

__ADS_1


****


Hai para readers, jangan lupa likenya yaa, biar author semakin semangat nulisnya hahaha...


__ADS_2