
Aku hanyalah seorang siswa biasa yang tinggal di bumi. Kehidupan kami biasa saja dan kami bukan berasal dari keluarga kaya. Tapi kami hidup dengan bahagia sebagai keluarga empat orang. Sampai akhirnya kakak bodohku meninggal secara tiba-tiba saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah.
Kami sekeluarga menjadi syok saat mengetahui hal itu. Terutama saat tahu bahwa dia meninggal karena keracunan. Bahkan ibu menangis sejadi-jadinya. Bagaimana pun juga kakakku masih muda, dan kedua orang tuaku sangat menantikan masa depannya.
Aku juga merasa tidak enak saat melihat tubuh kaku di depanku. Kami sering bertengkar. Tapi aku tidak membencinya. Itu adalah pertengkaran kakak adik biasa. Tapi saat melihat tubuh kakunya di atas ranjang, ditambah isak tangis ibuku, mau tidak mau aku juga ikut menangis saat itu. Akhirnya kami sekeluarga benar-benar menangis semalaman.
Pemakaman pun terjadi dengan sangat cepat. Suasana di keluargaku juga berubah sejak saat itu. Awalnya keluarga kami baik-baik saja seperti keluarga normal. Tapi sekarang orang tuaku bersikap sangat protektif padaku. Mereka melarangku untuk melakukan semua hal. Terutama bermain dengan teman-teman ku atau kegiatan sosialisasi lainnya. Aku mulai merasa terkekang dan bahkan mulai menyalahkan kematian kakakku.
Ibu juga selalu bertingkah aneh. Dia kadang membuat dua porsi sarapan di atas meja.
"Ibu, kenapa kau membuat dua sarapan?"
"Satunya untuk Eri" ibu menjawab dengan bada melankolis. Tapi aku hanya bisa melihat semua itu dengan tatapan mengerikan.
"Siapa yang akan membuat sarapan untuk orang yang sudah mati? Ibu hanya membuang-buang makanan" aku mengomel.
Wajah ibu langsung berubah sedih saat itu dan aku merasa sangat bersalah. Jadi aku meminta maaf.
Tapi hal lainnya terjadi, Terutama saat ayahku tiba-tiba datang dan membawa dua hadiah, lalu mengatakan. "yang lainnya untuk Eri"
Ini semua benar-benar membuat ku gila! Hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Bahakn aku juga sudah menjadi siswa menengah atas. Tapi orang tuaku tetap melakukan hal-hal gila dan mengangga bahwa kakakku masih hidup. Apa-apaan! Aku tidak senang sama sekali dengan semua kegilaan ini.
Lalu suatu hari, aku juga mulai bermimpi aneh. Ada sosok aneh di dalam mimpi itu, aku tidak bisa melihat dengan jelas wujudnya, tapi aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Kakakmu mati karena menggantikan mu. Bukankah kau harus menebusnya?" suara itu berkata.
Aku langsung terbangun dengan keringat dingin saat mendengar semuanya. Setelah itu, aku mengalami mimpi yang sama selama sebulan. Aku bahkan terlalu takut untuk tidur sekarang. Tapi aku tetap tertidur karena tidak bisa menahan rasa kantukku.
Mimpi itu akhirnya terjadi lagi. Tapi kali ini berbeda dari biasanya. Sosok aneh itu tidak mengatakan hal yang sama lagi. Tapi bahkan menghampiri nya dan saat itu dia kehilangan kesadarannya dan tidak sadarkan diri.
Aku pun terbangun di tempat yang aneh. Aku Mengira bahwa aku masih di dalan kamarku seperti biasanya. Tapi ternyata aku berada di tempat yang gelap seperti gua. Lalu ada sekelompok orang dengan jubah hitam yang mengelilingi ku dan mengucapkan kata-kata aneh. Suasana yang sangat menakutkan. Aku berpikir aku akan dijadikan makanan. Dan Aku bahkan pingsan untuk yang kedua kalinya karena tidak bisa menerima kenyataan yang kulihat ini.
Saat aku bangun untuk yang kedua kalinya, kau berada di dalam kamar yang normal. Sehingga aku merasa tidak terlalu ketakutan lagi. Tapi seorang pria asing dengan jubah hitam berdiri di samping tempat tidurku. Mau tidak mau, aku berteriak saking kagetnya.
__ADS_1
"Siapa kau?!" aku bergerak menjauh sambil memeluk bantalku.
Si jubah hitam itu menundukkan kepalanya dan berkata dengan sangat hormat "Selamat datang Yang Mulia" katanya.
"Siapa Yang Mulia? Aku Ricko. Aku tidak kenal kalian sama sekali" aku dengan frustasi melempar bantalku ke arahnya.
Aku masih ingat bahwa dia tidak mengerti apa yang mereka katakan sebelumnya. Tapi kenapa sekarang aku mengerti?
"Apa yang sebenarnya terjadi sih?" aku menggosok kepalaku frustasi. "Aku ada dimana sekarang?"
"Hutan Riot"
"Apalagi hutan riot itu" aku bergumam kesal. Baru kali ini aku mendengar nama hutan seaneh itu.
"Bisakah kau mengantarku pulang?" tanyaku dengan nada memohon.
Si jubah hitam itu menggeleng pelan. "Kedatangan Yang Mulia adalah kehendak dewa" katanya tidak jelas.
Dewa? Aku tidak mengenal siapa dewa ini. Tapi aku ingat bahwa ada sosok aneh yang selalu muncul dalam mimpiku. Apa itu dewa?
"Bisakah kau buka jubahmu itu? Benar-benar membuatku risih" aku menggerutu.
Dia dengan cepat membuka jubahnya, menampakan sosok pria berotot dengan bekas luka di hidungnya. Penampilan yang sangat sangar tapi terlihat lebih normal daripada harus menggunakan jubah hitam jelek itu.
"Ceritakan padaku semuanya tentang dunia ini" aku memerintahkan.
Lalu pria itu mulai menjelaskan. Mulai dari namanya, Gord. Lalu tentang tempat ini. Tentang penggunaan sihir di tempat ini. Dan juga sihir spesialis kaum mereka, yaitu sihir gelap dan sihir elemen lainnya. Tentang kerajaan dan sistem bangsawan yang ada di dunia ini. Tidak lupa dia juga menjelaskan tentang status mereka sebagai penyihir gelap di dunia ini. Dia menjelaskan semuanya dengan ringkas.
Aku melonggo kaget setelah mendengar semua ceritanya.
"Jadi maksudnya aku menjadi penjahat di tempat ini?!" aku berteriak tak percaya. Padahal aku tidak tahu apa-apa, tapi harus menjadi buronan.
"Kita bukan penjahat" Gord menjelaskan. "Mereka hanya orang-orang bodoh yang takut pada kekuatan kita sehingga mereka memburu kita" katanya percaya diri.
__ADS_1
Wajahku berubah cemberut. "Persetan!" aku mengumpat lagi. Siapa yang bodoh disini? Jelas-jelas itu bernama sihir gelap, sudah pasti itu adalah hal yang jahat. Tapi dia harus menerima identitas nya sejak dikirim ke tempat ini.
Dia akan menggunakan sihir gelap ini untuk mencari jalan pulang. Sehingga dia akan kembali ke kehidupan damainya. Bagaimana pun juga dia mencemaskan kedua orang tuanya. Mereka sudah sangat frustasi selama bertahun-tahun saat tahu kakaknya meninggal. Bagaimana reaksi mereka kalau tahu dirinya menghilang sekarang? Aku tidak ingin membuat mereka khawatir tapi aku melakukannya. Walaupun ini bukan salahku sama sekali.
"Ajari aku cara menggunakan benda bernama sihir itu"
"Itu mudah Yang Mulia. Karena itu adalah Yang Mulia, dirimu bisa melakukan nya dengan mudah. Konsentrasi, lalu rasakan aliran hangat di tubuh anda. Lalu bayangkan elemen apa yang ingin anda gunakan" Gord menjelaskan.
Aku pun langsung mencobanya. Aku memejamkan mataku. Memang benar, aku merasakan aliran hangat yang sangat kuat di dalam tubuhku. Lalu aku mulai membayangkan api, dan sepercik api mulai keluar dari jariku.
Aku membuka mulutku tak percaya. Aku mencoba sihir angin dan udara di sekitar ku langsung bergerak mengelilingi ku, membentuk pelindung angin. Lalu saat menggunakan sihir air, aku bisa mengalirkan air dari tanganku. Saat menggunakan sihir bumi, aku bisa membuat lantai di bawahku bergerak dan retak. Lalu yang terakhir adalah sihir gelap. Saat aku menggunakan nya, kabut gelap aneh mulai mengelilingi ruangan. Aku tidak tahu fungsinya sama sekali. Jangan-jangan sihir gelap ini tidak berfungsi sama sekali, cih!
Gord cukup kaget saat melihat Ricko bisa menggunakan hampir semua elemen! Apa yang terjadi? Bukankah harusnya pemuda itu hanya bisa menggunakan sihir gelap. Tapi bagaimana dia bisa menggunakan elemen lainnya? Dia tidak tahu alasannya, tapi dia merasa sangat senang. Akhirnya, penyihir gelap akan kembali ke masa kejayaan mereka dan tidak perlu menjadi buronan lagi. Ini adalah berkat yang diberikan oleh dewa gelap kepada mereka.
"Ada yang aneh? Kenapa sihir cahayaku tidak keluar?" kataku kecewa. Awalnya aku sangat senang setelah tahu, aku bisa menggunakan banyak sihir elemen. Tapi dia tidak bisa menggunakan sihir cahaya
Wajah Gord berkedut saat mendengarnya. Bocah ini lupa bahwa mereka adalah penyihir gelap. Tidak ada Penyihir gelap yang bisa menggunakan sihir cahaya. Itu tidak mungkin terjadi sama sekali.
"Yang Mulia, kita adalah penyihir gelap. Tidak mungkin kita bisa menggunakan sihir menjijikan itu" kata Gord benci.
Aku mengerutkan keningku tidak mengerti. "Kenapa? Kau menjelaskan sebelum nya bahwa pengguna sihir cahaya mendapatkan berkat dari dewa. Aku bertemu dengan dewa aneh itu dalam mimpiku" kataku.
"Ehem!" Gord terbatuk kecil. "Itu dewa yang berbeda." dia berkata. "Dewa dunia ini sangat membenci keberadaan kita. Sementara dewa kita adalah dewa dari dunia lain. Dia adalah dewa yang menakjubkan, membuat kita bisa berpindah dimensi" kata Gord kagum.
"Berpindah dimensi katamu?"
Gord mengangguk. "Ya. Yang Mulia harus mempelajari sihir gelap dengan baik. Kalau Yang Mulia berhasil menguasainya seperti leluhur pertama kita, maka Yang Mulia bisa merobek dimensi dan berpindah ke dunia lainnya" dia berkata.
Mataku berbinar setelah mendengar nya. Artinya aku bisa kembali ke duniaku sebelumnya bukan? Aku hanya perlu mempelajari sihir bodoh ini dan menjadi kuat! Ini terdengar sederhana tapi aku yakin sangat sulit untuk dilakukan.
"Aku akan mengirim guru kepada Yang Mulia untuk menstabilkan semua sihir serta mengajari Yang Mulia cara bermeditasi untuk menumpuk mana" Gord menjelaskan. "Tapi kita akan lebih fokus untuk mempelajari elemen gelap. Untuk elemen lainnya, aku akan mengajak Yang Mulia berbelanja ke kerajaan manusia untuk membeli buku sihir" kata Gord.
Aku mengangguk patuh. Selama seminggu pertama aku belajar sihir dasar dari seorang guru. Dia adalah seorang pria tua yang terlihat sudah sangat berpengalaman. Aku belajar dengan sungguh-sungguh karena aku ingin kembali dengan cepat.
__ADS_1
Lalu di Minggu berikutnya, aku fokus mempelajari sihir gelap. Mereka memberiku banyak sekali pelatihan untuk menggunakan mantra sihir tingkat dasar dan tingkat lanjut. Aku bisa menguasainya dengan mudah. Mereka sudah siap untuk mengajari mantra tingkat tinggi, tapi aku meminta Gord untuk menemaniku berkeliling lebih dulu. Aku sudah terkurung di tempat ini selama dua minggu berturut-turut, aku perlu istirahat dan liburan.
Saat itu, aku dan Gord pergi ke salah satu kerajaan dengan pelajar akademi terbanyak. Kerajaan itu bernama Kerajaan Well. Nama yang sangat aneh. Aku yakin pendiri kerajaan ini sangat tidak pandai memilih nama. Kami berbelanja banyak hal disana. Buku sihir, ramuan, makanan dan alat sihir. Aku cukup bersenang-senang dan meminta Gord agar kita menginap lebih lama di tempat ini. Tapi aku tidak menyangka bahwa ternyata Gord sangat kaya. Dia membelikan apapun yang aku mau bahkan memberiku ruang dimensi yang sangat menakjubkan luasnya.