
cerita sebelumnya:
Keesokan harinya, Vivian menuju gedung kelas A untuk menemui Eva. Tapi dia malah bertemu dengan Reina di tengah-tengah perjalanan. Kedua gadis itu akhirnya bertengkar.
Semuanya berawal dari Reina yang membawa kabar pertunangan Vivian dengan seorang pria tua. Vivian langsung menolak di tempat.
Kedua gadis itu masih terus mengejek satu sama lain bahkan membawa ibu mereka masing-masing. Sampai akhirnya Vivian menampar Reina karena dia tidak terima ibunya dihina.
***
Aku berusaha menghentikan Vivian untuk menyerang Reina. Dan aku tidak menyangka bahwa gadis itu akan memelukku secara tiba-tiba dan menangis.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" aku bertanya. Tapi Vivian hanya merespon ku dengan Isak tangis nya sehingga aku mengurungkan niatku untuk bertanya lagi. Dan berusaha menenangkannya.
Sementara Lilac, di sisi lainnya juga memenangkan Reina yang hampir menangis karena terkena tamparan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lilac cemas sambil menyentuh pipi Reina yang memerah.
Mata Reina berkaca-kaca, hampir menangis. Ekspresinya sangat menyedihkan seakan-akan dia menerima perlakuan yang tidak adil. "Tidak apa-apa..."
Aku menatap Vivian dan Reina bolak-balik lalu menghela napas. Aku yakin ini hanyalah perkelahian antara wanita. Lagipula hubungan mereka dari awal juga tidak baik. Jadi tentu saja mereka akan berkelahi satu sama lain saat mereka bertemu.
Aku tidak bisa membela siapapun. Dilihat dari manapun keduanya sama-sama salah. Aku tahu Reina memprovokasi Vivian dengan mulutnya. Tapi Vivian juga tidak bisa menahan tindakan nya dan menampar gadis itu.
Sebenarnya provokasi seperti apa yang dilakukan oleh Reina sehingga Vivian benar-benar meledak seperti ini?
Sementara Sayn hanya mengintip di belakang. Dia sama sekali tidak berminat untuk ikut campur. Perkelahian kedua gadis itu sama sekali tidak penting untuk nya, alias bukan urusan nya sama sekali.
Aku menarik Vivian untuk meninggalkan tempat ini. Aku sama sekali tidak memaksanya untuk menjelaskan semuanya atau pun minta maaf pada Reina.
Tapi berbeda dengan Lilac. Dia tidak setuju dengan sikap Vivian sehingga dia menuntut permintaan maaf darinya. "Vivian, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi menampar seseorang seperti itu... bukankah kau harus meminta maaf?"
Vivian sudah menghentikan tangisnya. Dia menggertakkan giginya sekarang karena perkataan Lilac. Jujur saja dia sama sekali tidak ingin dianggap jelek di mata Lilac. Mereka baru saja berteman baik akhir-akhir ini.
"Aku minta maaf..." Vivian berkata lirih sebelum akhirnya dia berlari pergi dengan cepat.
"Lilac, kau urus Reina. Aku akan mengejar Vivian. Jangan lupa bahwa Reina bisa menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan diri. Jadi jangan terlalu khawatir" kataku, sebelum menyusul Vivian yang melarikan diri.
Melihat Eva sudah meninggalkan tempat ini, Sayn mengikutinya. Lilac melihat Sayn mengekor pada Eva dan meninggalkan nya sendiri. Entah kenapa dia merasa kecewa karena hal itu. Dia tidak tahu apa yang salah padanya.
***
Vivian berhenti di sebuah tempat yang cukup sunyi. Dia terduduk dengan wajah lesu di sebuah bangku taman yang kosong.
__ADS_1
Aku langsung menghampiri nya dan duduk di samping nya. Tapi aku tidak mengatakan apapun dan hanya duduk dalam diam.
"Apa aku orang yang buruk?" Vivian pun membuka mulutnya.
Aku menatapnya lekat-lekat. "Setiap orang tidak sempurna. Mungkin beberapa orang menganggap mu buruk. Tapi aku tidak" jawabku datar.
"...."
"Maafkan aku..."
"Kenapa kau meminta maaf padaku?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin minta maaf"
Vivian menghela napasnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kepala mengadah ke atas langit. "Aku mungkin dikutuk"
Aku langsung menjitak keningnya. "Jangan bicara yang aneh-aneh. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Vivian pun mulai menjelaskan tentang pengaturan pertunangan miliknya dengan nada sedih. "Apa aku benar-benar harus terjerat seperti itu? Sama sekali tidak bisa bebas? Aku tidak ingin bertunangan..." matanya mulai berkaca-kaca lagi, dia ingin menangis kembali. "Tapi aku tidak bisa menentang takdirku, hanya karena aku seorang bangsawan. Menyedihkan"
"Kalau kau tidak ingin, jangan lakukan." jawabku sungguh-sungguh. "Pertunangan ku juga di atur oleh orang tuaku. Tapi kalau aku tidak ingin, aku bisa membatalkan nya. Lagipula selagi belum diumumkan, hal itu hanya akan menjadi rumor semata..."
Tapi aku tidak menyangka Marquis Zent akan mengatur pertunangan untuk Vivian. Di masa lalj, hubungan kedua orang itu memang retak. Tapi Vivian hanya berakhir dengan diusir dari rumahnya dan kehilangan gelar kebangsawanan nya. Tidak ada pernikahan paksa.
"Jangan menangis, aku akan membantumu. Kau tidak akan bertunangan oke." kataku serius. "Kalau Marquis ingin membuatmu bertunangan dengan Count tua itu. Aku akan melindungi mu. Jangan khawatir"
Vivian menatap Eva dengan wajah sedih lalu dia mulai memeluknya lagi. "Terima kasih." Tentu saja Vivian mempercayai perkataan Eva. Dia percaya dapat menentang pernikahan itu dengan bantuan Duke. Tapi itu akan menjadi pilihan terakhir. Dia akan berusaha mempertahankan dirinya sendiri untuk saat ini.
Mereka berpelukan beberapa saat sampai tangisan Vivian kembali mereda. Eva tetap membisu sambil membelai punggung sahabatnya. Sementara Sayn mengamati semuanya dari dekat. Ada sedikit rasa tidak senang di wajah Sayn saat melihat kedua gadis kecil itu berpelukan. Lebih tepatnya dia iri pada Vivian yang saat ini berada di pelukan Eva. Walaupun dia tahu rasa iri nya ini cukup memalukan.
Setelah berhenti menangis Vivian kembali menguatkan dirinya untuk menceritakan semua yang di dengarnya di kediaman Marquis. Tentang rencana penyerangan duke Court.
Mataku membelalak tak percaya saat mendengar cerita Vivian. Aku tahu bahwa faksi kerajaan membenci ayahku. Tapi aku tidak akan menyangka bahwa mereka akan merencanakan hal jahat untuk melukai keluarga ku. Ini benar-benar keterlaluan.
Aku sebenarnya ingin memberitahu ayahku segalanya. Tapi berdasarkan sifat Duke Court yang ganas, dia akan memulai perang dengan Marquis Zent dan menimbulkan keributan di ibukota. Itu adalah hal yang paling tidak kuinginkan.
Bukan berarti aku menganggap Duke Court lemah. Tapi perkelahian itu akan menimbulkan konflik yang semakin besar dengan keluarga kerajaan. Sehingga raja mungkin akan memusuhi kami. Dan rakyat juga. Kami mungkin akan menjadi penjahat disini sejak reputasi keluarga kami juga tidak baik karena rumor yang sudah beredar.
Dari informasi yang kuperoleh, aku lebih penasaran dengan pria misterius berjubah hitam itu daripada sesuatu yang mereka rencanakan. Siapa pria itu? Kenapa dia bisa bekerja sama dengan Marquis Zent dan bahkan merahasiakan semuanya dari raja?
"Eva? Eva..." Vivian terus memanggilnya saat dia tahu Eva sudah mematung selama setengah jam, hanya untuk melamun.
"Iya..."
__ADS_1
"Jangan takut. Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh ayahku. Tapi kau bisa melaporkan semuanya pada raja. Ayahku sangat menuruti raja dan dia mungkin akan menghentikan rencana jahat itu kalau raja yang mentitahkannya."
Aku menatap Vivian dengan mata kasihan. Saat mendengar ocehan polosnya, aku hanya bisa menggeleng kan kepala. Kalau aku melakukan apa yang dia katakan, keluargaku akan musnah dengan cepat.
"Kita tidak boleh memberitahu Raja. Raja tidak akan percaya padaku atau pun keluargaku, sejak ayahmu berada di faksi kerajaan. Aku juga tidak bisa memberitahu ayahku karena akan terjadi perang kalau dia mengetahuinya" jelasku bimbang.
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan balik. Kita masih anak-anak..." kata Vivian putus asa.
"Aku mungkin akan meminta bantuan kakek untuk menyelidiki semuanya" gumamku tanpa sadar.
"Kakek? Dean Menara Sihir?"
Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. "Jadi jangan terlalu khawatir oke. Karena situasi sudah mulai berbahaya, kau juga harus berhati-hati. Kalau ada apa-apa, kau harus menghubungi ku dengan cepat" aku takut pria berjubah hitam itu mencelakai Vivian.
"Tentu saja."
Setelah itu, kami menutup topik ini. Lagipula topik ini cukup sensitif dan rahasia. kau bersyukur Lilac tidak ada disini. Lagipula gadia kecil itu tidak tahu apa-apa dan dia bisa salah paham kalau mendengar semuanya. Dan untuk Sayn, aku sama sekali tidak peduli dia mendengar semuanya. Aku yakin Sayn sudaj mengetahui konflik internal yang terjadi di Kerajaan ini sejak pria itu menjalankan organisasi bawah tanah.
Kemudian, aku menyuruh Vivian untuk berisitirahat kembali di asrama sejak gadis itu benar-benar tidak tidur sama sekali. Wajahnya kelihatan kusut dan despresi. Aku takut kesehatan mentalnya akan terganggu.
Awalnya Vivian menolak. Tapi aku terus membujuk nya. Bahkan aku memberinya kertas mantra untuk melarikan diri dan lebih banyak artefak pelindung yang bisa dipasang di depan pintu kamar. Hingga akhirnya Vivian menyerah dan kembali ke asrama.
"Sampai kan permintaan maafku pada Lilac kalau anak itu kembali" ini adalah pesan terakhir yang Vivian sampaikan sebelum dia berlari kecil kembali ke asrama.
Lilac ya...
Aku tidak yakin dia akan kembali kesini. Reina pasti akan menahannya dan Lilac pasti akan menemaninya. Lagipula di mata Lilac, Reina masihlah seorang Dewi.
"Perlu bantuan?" Sayn tiba-tiba duduk di sampingku, sambil menatapku penuh arti.
Aku tersenyum kecut. "Terima kasih. Tolong bantuannya~" aku tidak menolak bantuan yang ditawarkan oleh Sayn. Cara terbaik memang memanfaatkan kekuatan yang ada di sekitar kita semaksimal mungkin.
Melihat Eva tidak menolak tawarannya, Sayn tersenyum senang. Entah mengapa suasana hatinya sedang berbunga-bunga saat ini. Jadi tanpa sadar dia menggerakan wajahnya dan mencium kening gadis di depannya.
Cup!
"Aku tidak akan mengecewakan mu~"
Aku cukup tersentak dengan tindakan tiba-tiba Sayn. Refleks, wajahku memerah malu.
"Ehem, ehem"
Terdengar suara batuk yang dibuat-buat. Suara itu menghancurkan suasana di antara mereka dalam sekejap.
__ADS_1
Aku melihat si sumber suara dan membelalak kagetm "Ren...um maksudku, guru Wilson. Apa yang kau lakukan di tempat ini?"