Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Kembali ke Mansion


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Rombongan dari Menara Sihir terpisah menjadi dua kelompok. Dean Wason bersama Dean lainnya pergi menemui penatua Kota Sihir. Sementara kelompok lainnya kembali ke Menara Sihir menggunakan lingkaran sihir yang tersembunyi di tengah hutan.


Mereka sampai di Menara Sihir. Robert pun mengantar Eva kembali ke ibu kota.


***


"W...Wiya lepaskan aku" kataku lirih. Sejak kapan Wiya mempunyai kekuatan sebesar ini. Wiya yang aku tahu adalah pelayan lemah lembut dengan sedikit kekuatan. Sekarang kekuatannya Sudah seperti prajurit.


"Ah! Maaf Nona" Wiya langsung melepaskan pelukannya. Lalu dia menepuk-nepuk baju Eva, merapikannya.


"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir saat melihat baju Eva yang berantakan.


"Aku baik-baik saja"


"Nona...hiks...aku benar-benar takut....hiks...nona hilang begitu saja. Kami benar-benar takut..." Mata Wiya mulai berkaca-kaca lalu dia mulai menangis.


Aku merasa sedikit bersalah karena meninggalkan mansion diam-diam dan membuat semua orang khawatir.


"Maafkan aku..." kataku lirih.


Wiya mulai memelukku kali ini, tapi dengan kekuatan yang normal. "Tidak apa-apa nona. Yang penting anda baik-baik saja"


"Wiya, aku ingin bertanya padamu. Bagaimana kau bisa menjadi kuat seperti ini?"


Wiya melepas pelukannya dan menatapku dengan mata ragu.


"Apa yang terjadi?" aku bertanya lagi karena merasa penasaran.


"Sebenarnya Nona....kami menjalani pelatihan intensif" jawabnya lirih.


"Hah?!" aku mengerjap kaget. "Apa yang terjadi?"


Wiya menundukkan kepalanya takut-takut. "Tuan besar memberikan pelatihan kepada semua orang yang ada di rumah ini. Dia berpikir kami tidak cukup kuat dan kami harus menghadapi..." dia menatapku dengan mata penuh ketakutan "Neraka..."


Aku berkeringat dingin saat mendengar nya. Sungguh mengerikan. Melihat ekspresi Wiya, dia pasti merasa sangat tersiksa selama beberapa minggu ini.


"Apa ayahku ada di dalam?" tanyaku lagi dengan hati-hati.


Wiya menggeleng. Tapi di dalam hati dia hanya bisa meminta pengampunan. 'Maafkan aku nona muda...'


Aku merasa lega saat mendengar respon Wiya.


Aku pun memutuskan untuk masuk. Wiya mengikuti di belakangku.


Tapi saat aku mulai sampai di ruang tamu, seluruh suasana ruang itu sangat dingin. Aku bisa melihat siluet seseorang yang sedang duduk di sofa sambil memggoyangkan tangannya.


"Kau kembali" suara dingin bergema.

__ADS_1


Aku langsung menatap Wiya dengan tatapan tidak senang. Gadis ini berbohong padaku!


Wiya berpura-pura tidak tahu dan langsung melesat ke samping Duke.


'Pengkhianat!' umpatku dalam hati.


"Eva!" Teriakan Duke Court menggema. Bahkan para pelayan yang mengelilingi kami tertunduk gemetar. Dia benar-benar marah kali ini.


Aku juga mematung sambil mengeluarkan keringat dingin. "Iya...ayah?" kataku takut-takut.


"Kau berani pulang rupanya ya..." kata Duke Court sambil menembak kan tatapan tajamnya.


"Um...bagaimana mungkin aku tidak pulang? Ini rumahku bukan?"


"Kau masih ingat rumah?!" Duke Court menekankan nadanya dengan tinggi.


Aku tanpa sadar mengernyit ngeri. Aku benar-benar bingung sekarang. Ayahku benar-benar murka!


Tapi bagaimana dia bisa sampai ke ibu kota secepat ini? Bukankah ibu baru saja melahirkan? Apa dia meninggal kan ibu di mansion utama? Tapi itu tidak mungkin!


"Ayah, bagaimana kau kemari?" aku bertanya setelah melepaskan rasa takutku.


Duke Court cukup takjub dengan keberanian putrinya. "Ini rumahku. Tentu saja aku disini" jawabnya acuh. Dia menjawab dengan kalimat yang sama seperti Eva katakan. Dalam hati Duke Court dia bergumam 'Dasar anak nakal'


Walaupun kepala sekolah dan Dean Menara Sihir berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetap saja dia dan istrinya merasa sangat khawatir. Dia bahkan berniat untuk menyusul Eva ke Kota Sihir kalau istrinya tidak menghentikan nya.


"Tuan besar membuat lingkaran sihir teleportasi di ruang kerja baru-baru ini" jawab Wiya dengan berani.


Tapi memang ada lingkaran sihir sebelumnya. tapi tidak ada energi untuk menggunakannya. Aku tidak menyangka mereka mengisi mananya secepat itu.


"Kau sama sekali tidak merasa bersalah rupanya. Apa aku perlu menambahkan pelatihan kedisplinan untukmu" kata Duke Court.


"Maafkan aku ayah..." kataku menyerah.


"Aku tidak menerima permintaan maafmu. Mulai besok aku akan membuat pelatihan kedisplinan untukmu dan...."


Omongan Duke Court tiba-tiba dihentikan oleh omongan lainnya.


"Sayang~" nada suara itu sangat lembut dan tajam.


Duke Court langsung menutup mulutnya dan mematung. Seakan-akan dia ketakutan.


Aku bisa melihat sosok ibuku muncul bersama dengan mahluk tidak dikenal dalam gendongan nya.


Melihat reaksi ayahku kelihatannya kekuasaan ibuku dalam rumah tangga semakin bertambah semenjak dia melahirkan anak kedua. Ayah benar-benar menjadi pengecut sepenuhnya kalau berhadapan dengan ibu.


"Eva? Kau sudah kembali? Kau benar-benar pergi diam-diam lagi ya ~ Bukankah ibu sudah bilang jangan melakukan nya karena membuat cemas orang lain. Tapi kau selalu melakukan nya lagi dan lagi. Kau tidak tahu betapa kami mencemaskan mu. Kami takut kau terluka di luar sana. Kenapa kau selalu menyelinap? Seorang gadis tidak boleh terlalu nakal seperti itu. Kau harus menjadi gadis baik dan anggun. Jangan terlalu terobsesi dengan kekuatan seperti ayahmu. Atau kau akan menjadi gadis bodoh dengan otak otot seperti ayahmu. Ibu tidak akan mengizinkannya!" Diana mulai melontarkan ceramah panjang lebar miliknya.


Aku sama sekali tidak mendengar celotehan ibuku dan fokus pada benda kecil di dalam gendongan itu. Apa itu adikku?

__ADS_1


Sementara wajah Duke Court berkedut saat istrinya mulai menjelek-jelekan dirinya di depan kedua anaknya. Dia merasa harga dirinya sebagai ayah jatuh ke titik terendah sekarang.


"Ibu, boleh aku menyentuh nya" aku mengabaikan omelan ibuku dan wajah marahnya. Lalu dengan semangat menghampiri bayi itu.


"Ya ampun~" Diana menyerah. Dia tak sanggup memarahi putrinya lagi. "Kau boleh menyentuhnya."


Mataku langsung berbinar. Aku membawa mahluk kecil itu ke dalam gendongan ku. Astaga~ Dia sangat lembut. Aku merasa seperti sedang memegang roti bakpau besar. .


"Wa...wa....wa...wa" bayi itu bergumam sambil mengangkat tangannya ke arahku.


Sungguh imut~


Aku ingin mencubit pipinya, tapi aku menahannya karena dia masih sangat rapuh.


"Dia sama seperti dirimu waktu kecil" respon Diana sambil mengelus kepala bayi itu. Bayi itu berteriak senang.


"Apa aku seimut ini saat masih kecil? Dia benar-benar imut"


"Tapi sayangnya dia lebih lemah darimu. Saat seumuran dengannya kau sudah bisa berbicara sedikit" respon Duke kemudian.


Aku melihat nya cemberut. Aku seorang reinkarnator. Bagaimana dia bisa membandingkan ku dengan bayi normal yang tak berdosa ini. Dasar ayah bodoh gila kekuatan.


"Aku akan melatihnya saat dia sudah bisa berjalan. Bagaimana bisa seorang pria selemah ini. Aku tidak akan membiarkan keturunan Court menjadi lemah. Apalagi seorang pria. Pria harus bisa melindungi!" katanya Heroik. Sebelum BUK! Diana langsung memukul perutnya.


"K...kenapa kau memukulku?" kata Duke Court dengan mata tak percaya.


Diana menatapnya dengan mata melotot. "Berhenti menyakiti anakku." Dia menjambak rambut Duke Court. "Walaupun dia lebih lemah dari Eva, aku tidak akan membiarkan mu menyakiti Evan. Atau aku akan mengusirmu dari rumah"


"A...aduh...duh, duh, berhenti Diana. Aku hanya bercanda..."


"Humph!"


"Haa~" Duke Court menghela napas sambil menundukkan kepalanya sedih. Wajahnya frustasi seperti dia sedang kalah berperang saat ini.


Aku tidak mempedulikan dua orang itu dan sibuk menggendong sambil menyentuh tangan Evan.


"Evan kah....Selamat datang Evan" gumamku bahagia.


Rexus juga penasaran dengan kehadiran Evan. Dia tiba-tiba keluar dari tas rotan milikku dan melayang ke atas Evan.


Duke Court dan Diana kaget saat Rexus tiba-tiba menampakkan dirinya.


"Eva, baunya enak" kata Rexus sambil menatap Evan dengan mata berbinar.


TAK!


Aku memukul kepala Rexus.


"K... kenapa kau memukulku?" kata Rexus tak percaya. Bayi tetaplah bayi. Dia akan sedih kalau orang yang sudah dianggap orang tuanya memukulnya.

__ADS_1


"Jangan berpikir adikku adalah makanan" jawabku masam.


"Kau bukan makanan. Tapi baumu juga enak" jawab Rexus polos.


__ADS_2