Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Eva 11 Tahun, Mengunjungi Menara Sihir


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Denis mengantar Eva ke mansion yang ada di ibukota. Sesampainya disana, Denis langsung pergi. Sebelum pergi Denis mengingatkannya untuk memakai hadiahnya. Dia membuka hadiah itu dan menemukan kalung kelinci. Saat Eva mengenangkannya, dia merasa vitalitas di tubuhnya kembali.


Keesokan harinya, Eva memutuskan untuk belajar mantra sihir lanjutan. Salah satu sihir yang menarik perhatiannya adalah 'Golem'. Dia mencoba berkali-kali dan selalu gagal. Golemnya hancur saat bergerak karena tidak mampu menahan gravitasi. Saat percobaan terakhir, Eva membuat Golem raksasa. Golem itu bisa bergerak beberapa kali tanpa hancur bahkan bisa melayangkan tinju. Tapi, dampak dari gerakan golem itu membuat orang diseluruh mansion menjadi waspada. Hal ini terjadi karena gempa bumi kecil yang terjadi. Para penghuni mansion merasa bahwa golem itu tidak aman. Apa pun yang dibuat Eva selalu membawa bencana.


Dan itu terjadi...


Golem raksasa itu hancur dan merusak semuanya. Kekacauan yang terjadi ini disaksikan oleh duke dan istrinya. Akhirnya, Eva pun dihukum...


***


Setahun berlalu, aku sudah berumur sebelas tahun.


Selama setahun penuh, aku berdiam diri di rumah dan berperilaku seperti gadis yang baik. Hal ini kulakukan untuk membersihkan imageku sebagai 'gadis kecil yang nakal' karena sudah terlibat beberapa kejadian berbahaya selama beberapa tahun terakhir. Aku juga tidak mengendorkan pelatihan sihir dan terus mengasah kemampuan mantra sihir lanjutanku. Sesekali aku iseng berlatih sihir dimensi kegelapan tanpa diketahui siapapun.


'Yah, siapa tahu itu akan berguna di masa depan, kita tidak akan tahu' aku berpikir.


Aku memikirkan apa yang akan terjadi setahun lagi. Setahun lagi aku akan berumur dua belas tahun.


Eva  yang berumur dua belas tahun akan mengalami banyak even di akademi. Tentu saja bukan even yang baik, tapi even yang akan membawanya ke jalan kematian. Aku bergidik ngeri saat memikirkannya.


Setahun kedepan aku akan masuk akademi.


Setahun kedepan aku akan tinggal di ibukota dan jauh dari kedua orang tuaku. Yah, walaupun mereka akan sering berkunjung. Tapi aku tahu sebentar lagi aku akan dapat adik baru. Makanan itu berhasil.Setelah tiga bulan penggunaan, ibuku hamil lagi. Jadi kurasa kunjunganku akan dikurangi. Karena saat aku pindah di ibukota, ibuku juga akan melahirkan. Dan selama beberapa tahun, ibuku pasti akan fokus menjaga si kecil.


Setahun kedepan aku akan bertemu dengan para toko utama setiap hari. Aku akan bertemu dengan Reina. Bertemu dengan Denis dan Jensen. Bertemu dengan bangsawan lain, yang merupakan tokoh sampingan penentu. Tidak menutup kemungkinan aku akan bertemu dengan pemeran utama lainnya (pria tampan lain heheheh...)


Setahun kedepan pertandingan sihir juga akan diadakan. Aku sangat khawatir, apa aku bisa bertahan. Bagaimana kalau meninggal lebih awal karena mengikuti pertandingan itu? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak tahu apakah ada yang meninggal saat mengikuti pertandingan sihir karena tidak dijelaskan dengan detail di dalam novel. Namun, kurasa tidak.


Setelah menjadi anak rumahan selama setahun, aku mulai bosan.


"Aku rindu kakek...haa.." aku bergumam sambil menghela napas.


Semenjak mengunjungi Menara Sihir terakhir kali, aku tidak pernah melihat Dean Wason atau pun Dean Cristal. Walaupun aku bisa dengan mudah menemui mereka, kau tahu. Aku hanya tinggal teleport saja kesana! Tapi saat aku bersiap-siap menuju Menara Sihir, mata tajam ayahku yang melotot itu langsung menerjangku. Sehingga tekadku hancur dan kepergianku gagal....


"Kau boleh pergi setelah kau merenungkan dan mengubah sikapmu" kata Duke Court sarkatik.


Aku hanya bisa mengangguk dengan pasrah.


Hanya Robert yang sering mengunjungiku. Kadang dia bertemu dengan ayahku dan mengobrol tentang sesuatu yang tidak kumengerti,. Entah mengapa aku merasa mereka sangat cocok. Ayah bodoh itu sangat menyambut Robert. Dan Robert selalu bersikap sopan di depan ayahku.


Aku sudah berusaha bersikap baik selama setahun ini. Tidak berkeliaran dan belajar etiket dengan giat. Jadi kurasa aku bisa keluar bermain lagi kan?


Aku mulai mendekati ayahku yang saat itu sedang duduk bersama ibuku di ruang makan.


"Selamat datang sayang~" suara lembut Diana melayang.


Dia melihat wajah Eva yang muram. "Kenapa sayang? Kau tidak suka makanannya?"


"Ah, tidak! Aku langsung membantah. "Aku hanya rindu kakek~" gumamku langsung.


"Kakek?" Duke Court mengernyitkan kening. "Kita tidak punya kakek disini"


"Aku punya kakek" kataku langsung.


"Siapa sayang?~"


"Dean Wason, Ketua Menara sihir"


"....." Duke Court dan Diana langsung terdiam.

__ADS_1


"A...apa....siapa.... sayang?" Diana akhirnya membuka mulutnya dengan nada terbata-bata.


Aku memperhatikan kedua orangtuaku. Kelihatannya mereka kaget. Kenapa?


Oh! Bodohnya aku! Tentu saja mereka kaget. Dean Wason itu bukan pak tua biasa, tapi Ketua Menara SIhir yang mempunyai kekuatan mengerikan.


"Ah...Dean Wason memiliki kesan yang baik padaku. Dia mengangkatku menjadi cucu angkat" kataku malu-malu.


"Aku merindukannya dan ingin mengunjunginya, tapi...." aku menatap Duke Court "Seseorang selalu menghalagiku" kataku merenggut kesal.


"...."


Duke Court menatap Eva "Baiklah" katanya kemudian.


"Ah?" aku melonggo. "Aku dizinkan?"


Duke Court tidak menjawab dan mengalihkan tatapannya ke Diana yang sedang membuat wajah khawatir. "Jangan terlalu khawatir Diana. Kau harus menjaga kesehatanmu"


"Iya Ma. Aku baik-baik saja. Aku hanya berkunjung oke?"


"Baiklah~" jawab Diana lirih.


"Kau harus hati-hati" dia tiba-tiba memperingati putrinya dengan nada serius.


Aku agak kaget saat melihat ibuku berbicara serius. Biasanya dia selalu mengeluarkan suara halus, manja dan lembut. Jarang sekali mendengar suaranya yang tajam dan serius.


"Aku akan hati-hati" aku pun menjawabnya dengan nada serius.


Aku kemudian menghampiri kedua orang tuaku dan mencium pipi mereka satu persatu "Terima kasih".


Setelah itu aku langsung bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamarku. Aku ingin menyiapkan barang-barang yang akan kubawa di ruang dimensi.


Lalu, setelah semua persiapan selesai aku segera menuju titik teleport.


Oke, ayo ke menara sihir!


Beberapa detik kemudian, aku menginjakkan kaki di ruang yang familiar. Ya, ini adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan ketiga Dean. Tapi, untuk saat ini ruangan ini kosong.


"Uuhh..."aku merenggut bingung.


Kemana mereka? Apakah di aula? Atau di tempat lain?


Aku keluar dari ruangan itu dan menemukan lorong panjang. Aku belum terbiasa dengan tata letak Menara Sihir. Aku akan tersesat kalau aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini.


Aku mencoba menggunakan telepati untuk menghubungi Robert.


"Eh? Tidak tersambung?" aku belum pernah menemukan kasus seperti ini. Aku baru tahu telepati juga bisa tidak tersambung. Kenapa?


Aku mencoba mengubah target. Aku mencoba untuk menghubungi Dean Wason. Oke, sinyal terkirim.


"Siapa?" suara lain terdengar di pikiranku.


"Kakek!"


"Eva!"


"Aku sekarang ada di Menara Sihir. Di ruangan pertama kali kita bertemu. Tapi tidak ada siapa pun. Kakek ada dimana?"


"Uhh...aku sedang ada tamu. Bisakah kau tunggu sebentar. Eh, tidak! Aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu. Tunggu saja disitu dulu"


"Baik"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian seseorang berteleport ke ruangan ini. Sosok itu mengenangkan jaket hitam. Eh? Bukan jubah putih?


Sosok itu mendekat ke arahku. Saat semakin dekat, aku melihat jelas wajahnya. Seorang pria dengan penutup mata. Walaupun mata sebelahnya ditutup, itu tidak menyembunyikan bahwa dia adalah pria tampan! Lihat saja matanya yang cantik, alisnya yang rapi, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang seksi.


Uwahhh! Dia pria tampan! Aku ingin sekali melepas topeng itu untuk melihat wajah aslinya! Pasti tidak kalah dari Denis dan Robert.


"Halo gadis kecil, Dean menyuruhku untuk menjemputmu" katanya ramah.


"Halo" balasku. "Siapa namamu?" tanyaku lagi.


Sosok itu mengangkat alisnya. "Panggil saja aku No 2" jawabnya.


"Eh? No 2? Sangat tidak enak disebut. Aku ingin nama lain. Apa kau tidak punya nama yang lebih baik?" kataku bodoh.


Alis pria itu berkedut. Dia mengamati gadis kecil disampingnya. Ternyata rumor tentang putri duke Court benar! Dia tahu bagaimana karakter gadis kecil ini hanya dengan sekali percakapan. Kelihatannya, orang yang berhadapan dengan gadis kecil ini harus punya kesabaran yang besar. Kalau tidak mereka akan meledak. Karena gadis kecil ini benar-benar menyebalkan!


"Aku tidak punya nama lainn"


"Oh" aku kecewa. No 2 itu sangat jelek disebut. Tidak elegan dan tidak keren. "Apa aku perlu memberikan julukan yang lebih keren?"


"Tidak perlu"


"Cih"


Eh? Tunggu dulu!


Aku tiba-tiba teringat sesuatu. No 2, No 2, No 2....


Kok tidak asing ya? Aku merasa sangat familiar. Tapi saat aku mencoba mengingatnya, aku tidak bisa ingat!


"Ayo!" kata No 2 sambil menarik tanganku. "Kenapa melamun"


"Eh?"


"Tidak apa-apa" kataku.


Aku ditarik olehnya keluar ruangan.


"Kenapa tidak teleport saja?" tanyaku malas.


"Lewat pintu dimensi saja. Aku tahu jalan pintas. Itu lebih sopan, karena sedang ada pertemuan di aula. Kita tidak bisa tiba-tiba berteleportasi dan menganggu diskusi mereka"


Aku memandangi pria yang memegangku.


'Kenapa dia kelihatannya sangat terbiasa dengan Menara sihir? Apa dia salah satu murid?' aku berpikir.


Tapi tidak mungkin! Murid-murid Menara Sihir memiliki penampilan yang khas, tapi pria ini berpenampilan aneh. Aku melirik jaket kulit hitam yang dikenakannya. Ini bukan cara berpakaian di negara ini! Jelas-jelas tidak ada yang menjual jaket kulit disini!


"Darimana asalmu No 2? Apa kau murid Menara Sihir?" tanyaku.


"Aku bukan dari Menara Sihir"


"Eh? Darimana asalmu? Pakaianmu sangat aneh?" tanyaku penasaran.


"Aku dari Kerajaan Kano" jawabnya sambil tersenyum.


"Ehhhhh??" Aku menjerit kaget.


Bagaimana bisa orang dari kerajaan musuh bisa berada disini?


Apa yang terjadi? Apa hubungannya dengan Menara Sihir? Perasaanku kok tidak enak....

__ADS_1


__ADS_2