Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 8 Lingkaran sihir 4


__ADS_3

Kelompok penyihir cahaya yang dipimpin oleh Raja Elf cahaya, Vien juga mengalami hal yang sama. Mereka menemukan singa raksasa dengan ekor api saat mereka berhasil menghancurkan lingkaran sihir itu.


Tapi mereka bisa melaluinya dengan mudah karena keberadaan Vien. Kekuatan yang dimiliki oleh Vien lebih dari kekuatan para manusia. Terutama kapasitas mananya yang sangat besar. Sehingga pertarungan menjadi lebih mudah


Saat mereka berhasil mengalahkan monster itu, semua orang berteriak dan mengagungkan Vien. Terutama para elf, karena Vien adalah pemimpin mereka.


"Kau adalah dewa di mata kami Raja!" salah satu dari mereka berteriak.


"Dewa?" sebuah suara dengan gema yang sangat nyaring tiba-tiba terdengar.


Seseorang turun dari langit dengan tubuh penuh cahaya menyilaukan. Para penyihir cahaya mengenali siapa sosok itu.


"Tuan Casius" mereka semua langsung menunduk hormat.


Casius menapak di tanah dan mendekat ke arah Vien. "Kau ingin menjadi dewa?"


"Aku tidak ingin" jawab Vien langsung. Dia bisa merasakan aura misterius dari Casius. Tapi dia tidak tahu apa itu.


Casius tersenyum dan menyodorkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu, namaku Casius. Aku salah satu penatua dari para manusia ini" dia memperkenalkan dirinya.


Vien menjabat tangannya. "Namaku Vien" katanya. Tapi tiba-tiba Vien membeku. Matanya berubah menjadi merah dan dia berhenti berbicara.


Casius tersenyum lalu mendekatkan wajahnya di telinga Vien dan berbisik. "Akulah dewanya, kau hanya serangga kecil" katanya.


Lalu dia menatap semua orang. "Kami berdua ingin membicarakan hal pribadi. Kalian bisa kembali ke tempat kalian"


"Baik tuan" para penyihir manusia menjawab. Tetapi para elf mengernyit bingung karena raja mereka terlihat seperti patung.


Casius memegang tangan Vien dan mereka berdua langsung terbang dengan cepat.


***


Reinell bersama para bawahannya dan beberapa elf sibuk menghadapi elang raksasa. Elang itu tiba-tiba muncul saat mereka menghancurkan lingkaran sihir. Dan jujur saja mereka kewalahan.


Tapi mereka memiliki keuntungan tersendiri. Mereka semua adalah pengguna elemen cahaya. Jadi mereka semua seperti zombie. Saat mereka terluka atau lelah, mereka bangkit kembali dengan menyuntikan sihir mereka sendiri.


Pertempuran berlangsung selama dua jam, sampai akhirnya mereka berhasil memusnahkan elang raksasa itu. Penampilan mereka compang camping sekarang karena baju mereka yang robek sana sini.


Reinell berniat kembali tapi dia melihat dua sosok mendekat ke arah mereka. Mereka adalah dua orang wanita muda.


"Kita salah tempat. Mereka ada di hutan sebelah" gadis berambut perak berkata. Sementara gadis rambut coklat mengangguk setuju. Mereka adalah Reina dan Lena.


Saat dua orang itu ingin pergi, Reinell menghalanginya. "Tunggu dulu. Aku pernah melihatmu sebelumnya" dia menatap Reina dari ujung rambut sampai kaki. "Kau penyihir cahaya dari kerajaan Well bukan?"


Reina tidak menjawab. Dia mengacuhkan Reinell.

__ADS_1


"Nona, aku ingin mengenalmu lebih jauh" kata Reinell sambil mengulurkan tangannya. Jantungnya sedikit berdegup sekarang.


Reina ingin menyambut tangan Reinell, tapi Lena tiba-tiba mencubit pinggangnya. "Kita harus pergi" bisik Lena.


"Maaf, kami sedang buru-buru" Kata Reina ketus dan pergi menjauh.


"NONA, HATI-HATI DENGAN WANITA DI SAMPINGMU. DIA BERBAHAYA!" Reinell berteriak keras untuk memperingatinya.


Tentu saja Reina mengacuhkan teriakan itu. Sementara Lena hanya tersenyum jijik. "Dia orang bodoh" katanya kemudian.


Reina mengangguk setuju.


***


Lalu kelompok terakhir, yaitu Eva dan yang lainnya harus menghadapi kadal raksasa sebesar naga.


"Oh, itu terlihat seperti naga" kata Ren santai. Dia menatap Rexus. "Kau menemukan teman baru sekarang"


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Rexus. "Dia bukan naga! Aku tidak mau berteman dengan monster jelek itu!" teriak Rexus.


Lalu kadal itu mengaum keras.


"Oh, lihat. Kalian sangat cocok" kata Ren kemudian.


Rexus merasa kesal. Dia maju sendirian. "Aku akan tunjukkan bahwa naga lebih hebat dari kadal jelek seperti ini!" katanya merajuk.


"Berhenti menganggunya. Dia masih anak-anak" kata Eva.


"Aku tidak menganggunya. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya." jawab Ren acuh.


"Kau harus membantunya. Dia tidak bisa menghadapi raksasa itu sendiri. Dia masih kecil"


"Ayolah, percaya saja padanya. Lagipula ini sangay berguna sebagai latihan untuknya. Aku akan menolongnya di saat kritis" Ren berjanji. Eva hanya bisa setuju. Semua orang juga. Jadi mereka mengamati bagaimana Rexus dan kadal besar itu bertarung.


Tanpa mereka sadari dua orang mengamati mereka dari semak-semak. Mereka adalah Reina dan Lena.


"Aku punya rencana. Ini kesempatan yang bagus untuk menggunakannya" kata Lena.


"Aku percaya padamu" Reina mengangguk.


Lena pun membuat ledakan ditengah-tengah pertarungan. Membuat perhatian semua orang teralihkan. Lalu kabut pekat mulai muncul dan menutupi seluruh wilayah.


Ren bahkan tidak mengira bahwa akan ada yang menyerang mereka diam-diam. Jadi dia langsung mencari pelakunya.


Lena memasang boneka sebagai pengalih perhatian untuk membuat Ren menjauh dari kelompok.

__ADS_1


Eva ingin mengikuti, tapi dia sadar bahwa dia tidak bisa bergerak.


"Tahan dia" kata Lena.


Reina langsung menggunakan alat sihir yang melilit seluruh tubuh Eva dengan sulur cahaya. Lalu Lena membuat kadal raksasa itu semakin ganas. Dan mengarahkan raksasa itu untuk menyerang Eva.


Kejadiannya berlangsung terlalu cepat. Bahkan Enell dan Rexus tidak bisa bergerak cepat sehingga jatuh dalam jebakan. Mereka juga tidak bisa bergerak dari tempat mereka.


Kadal raksasa itu berlari ke arah Eva dan menabraknya. Lena dan Reina tersenyum, mengira bahwa rencana mereka sudah berhasil.


Tapi tiba-tiba sosok kecil melompat dari balik kabut. Sosok itu tak lain adalah Eva. Dia bisa membebaskan diri dari jebakan dengan mudah.


Eva melompat dan BAM! Dia menendang kepala kadal raksasa itu. Kadal itu terpelanting ke tanah dan menciptakan lubang raksasa.


"Itu kau!" suara Ren bergema. Dia mengenali keberadaan Lena dan aura membunuh keluar dari tubuhnya. "Aku memperingatimu waktu itu, jangan muncul di depan mataku atau kau akan mati!"


Tubuh Lena bergetar ketakutan. Dia langsung melarikan diri dengan cepat, meninggalkan Reina sendirian. Ren langsung mengejarnya.


Reina ditinggalkan sendirian dan dikelilingi oleh musuh. Sontak dia menjadi sasaran kemarahan kadal raksasa itu.


Kadal itu menyerangnya. Kaki Reina tidak mau bergerak karena dia ketakutan.


"Lena, jangan tinggalkan aku! Tolong aku!" dia berteriak panik karena tidak bisa menggerakan kakinya.


Dia berpikir di saat semua orang meninggalkannya, Lena akan selalu ada di sampingnya. Tapi itu semua bohong. Dia ditinggalkan lagi dan lagi. Dia merasa frustasi dan menangis terisak, meratapi nasibnya.


Kadal itu menyerang ke arahnya. Reina menatap maut di depan matanya dengan pasrah. Dia menutup matanya. Dia berharap kematiannya tidak akan terasa sakit.


Tapi dia merasa bahwa tubuhnya melayang. Dia membuka matanya dan melihat bahwa Eva membawanya terbang. Biji matanya hampir keluar karena syok.


"Ke...kenapa?" diia bergumam bingung. Kehilangan pikirannya. Dari semua orang, dia tidak menyangka bahwa orang yang paling dibencinya akan menolongnya.


Eva melempar Reina ke tanah. Dia juga tidak tahu kenapa dia menolong gadis itu. Bukankah harusnya biarkan dia mati saja? Lagipula Reina adalah musuh besarnya.


Tapi saat melihat wajah sedih Reina karena ditinggalkan oleh semua orang, hatinya terketuk. Dia merasa seperti melihat diri sendiri. Ditinggalkan dan di jauhi oleh semua orang. Lalu mati dengan memalukan. Dia merasa melihat dirinya di masa lalu kalau saja dia tidak mengubah nasibnya.


"Kasihan" jawab Eva jujur. "Kau terlihat menyedihkan"


Reina menggertakan giginya. Dia tidak terima dikasihani oleh musuhnya. "Kasihan? Semua ini terjadi karena dirimu! Kau menghancurkan hidupku! Aku membencimu sampai mati!"


"Kau juga menghancurkan hidupku"


PLAK! Eva langsung menampar Reina dengan keras. "Aku juga membencimu. Kau manipulatif. Kau egois. Kau menjijikan" katanya dingin. "Tapi setidaknya aku tidak akan membiarkanmu mati seperti itu. Aku tidak mau menjadi orang jahat"


"Omong kosong!"

__ADS_1


Eva tidak peduli. Dia tidak mau berdebar lagi dengan Reina. Dia mengabaikan dan meninggalkan gadis itu sendirian di sana. Eva membuat janji untuk dirinya sendiri. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya dia menolong Reina. Dia tidak akan melakukannya lagi.


Sementara Reina yang ditinggalkan, menangis terisak sendirian di tengah hutan.


__ADS_2