Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Menginap


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Charlotte mengunjungi nenek penyihir kegelapan. Ternyata mereka adalah kenalan lama. Sang nenek membesarkan Charlotte dari kecil.  Charlotte bermaksud untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya, dan meminta bantuan nenek. Pelakunya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Tapi, Charlotte tidak tahu bahwa orang yang ingin dibunuhnya berada di depannya. Nenek di depannya adalah wanita yang dia cari.


Sementara itu, Eva dan Robert dalam perjalanan kembali ke menara sihir.


***


Robert menuntun Eva kembali ke menara sihir.


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?" tanya Robert.


"Uhh...kami membicarakan tentang mana tentu saja. Nenek berkata mana dalam tubuhku tidak teratur jadi dia memberiku liontin agar mana dalam tubuhku teratur. Lalu dia juga memberiku mantra untuk memperkuat sihir gelap" jelasku dengan susah payah memilih kata-kata yang tidak mencurigakan dan tidak mengandung unsur 'ramuan cinta'...


"Hanya itu?"


Aku mengangguk cepat "Tentu saja hanya itu!"


Bagaimana bisa tiba-tiba Robert menjadi curiga seperti ini?


Uhhh...ini menyusahkan! Aku takut mulut bodoh ini lepas kontrol dan tidak sengaja mengucapkan hal-hal yang tidak boleh diucapkan.


Robert menatapku sebentar dengan mata menyipit.


Pundakku langsung merinding. Apa-apaan dengan pandangan penuh curiga itu?


Apa aku begitu tidak bisa dipercaya?


"Apa kau akan menginap Eva?" tanya Robert merubah topik pembicaraan.


"Kurasa aku akan menginap"


"Kau bisa menginap di kamarku"


"Apa?" aku langsung berteriak kaget.


Eh, tapi setelah kupikir-pikir, ini tidak buruk juga. Tapi...gaya tidurku terlalu amburadul. Denis sudah menjadi korban. Bagaimana Kalau Robert menjadi korban juga, bukankah poin kesukaan Robert terhadapku akan berkurang?


"Hmmm..." aku berpikir sambil menatap Robert lekat-lelat.


"Kau tidak mau ?"


"Bukan itu master, hanya saja kalau aku bisa memiliki kamar sendiri, itu lebih leluasa...hehehe" kataku malu.


"Aku akan bertanya pada kakek dulu, setelah itu aku baru memutuskan"


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya memberi tawaran oke"


"Oke"


Robert membawaku ke salah satu pintu dan aku mulai berteleportasi ke lantai paling atas. Aku sebenarnya masih agak bingung dengan urutan semua pintu ini. Ada banyak pintu di lantai ini dan semuanya acak. Aku tidak tahu mana yang merupakan pintu dimensi, pintu kamar, atau pun pintu ruang virtual.


Saat kami tiba di lantai atas. Kami masuk ke salah satu ruangan. Ini bukan ruang kayu yang kami masuki sebelumnya, tapi ruang virtual. Dunia virtual yang kami masuki itu memiliki tema 'pantai'. Pasir putih berkilauan terbentang di sepanjang pantai. Ada beberapa pohon kelapa menghiasi pasir. Lalu ada ayunan gantung dan kursi untuk bersantai di bibir pantai. Lautnya berwarna biru muda dan sangat indah.


Tapi aku sedikit bingung...


"Ini sudah menjelang malam, kenapa tema langitnya tidak berubah? Kenapa masih siang?" aku bertanya pada Robert sambil mengernyitkan kening.


"Sudah kujelaskan kalau ini dunia virtual. Jadi keadaan di dalamnya tidak akan berubah karena waktu di tempat ini berubah. Kalau kau ingin melihat indahnya langit malam di pantai, aku akan membawamu ke dunia virtual lainnya"


Eh tunggu, sepertinya ada yang kelupaan....


"Masterr kau lupa mengajakku liburannn!!" sentakku langsung.


Aku tidak akan ingat kalau tidak melihat pemandangan pantai ini.

__ADS_1


"Bukannya kau sendiri asik berbelanja tadi. Tidak mungkin aku menganggumu, wajahmu sangat bahagia tadi" jelas Robert dengan nada agak kecewa.


"Maafkan aku masterr~" kataku menyesal. "Aku agak lupa diri tadi hehe"


"Besok aku akan mengajakmu untuk liburan. Kita akan pergi ke beberapa dunia virtual" janji Robert. "Tapi tentu saja setelah kau menemui Dean Cristal. Kau belum memberi salam secara pribadi kepada gurumu"


"hm,hm,hm" aku mengangguk cepat.


"Dimana kakek?"


Aku mengamati sekeliling mencari pak tua itu.


"Disana" kata Robert sambil menunjuk deretan kursi di bibir pantai.


Aku melihat ke arah yang ditunjuk Robert. Dean Wason ada disana, berbaring, sambil memejamkan matanya.


Wuahh, aku tidak percaya ini... orang tua itu benar-benar bersantai....


"Kakekkk..." aku berteriak sambil berlari kecil menghampirinya.


Dean Wason membuka matanya dan mengerjap. "Oh?"


"Gadis kecilku, ayo kemari"


Aku mendekatinya, dan pak tua itu mulai mengusap rambutku.


Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat ketagihan kepalaku dielus ya?


"Bagaimana? Apa kau suka pemandangan disini?" tanya Dean Wason.


Aku mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan perjalananmu berkeliling? Kau menyukainya?"


Aku mengangguk.


"Uohhh....kakek sangat hebat~" aku memujinya dengan nada yang sangat antusias.


Sekali-kali menyenangkan orang tua tidak apa kan? Kelihatannya Dean Wason sangat suka dipuji.


"Lalu apa kau ingin pulang sekarang?"


Aku menggeleng. "Aku belum bertemu Dean Cristal. Aku perlu memberinya salam pribadi sebagai murid"


"Kau ingin menginap?"


Aku mengangguk.


"Oh, baiklah. Kakek akan menyediakan ru...."


"Ketua" potong Robert tiba-tiba.


"Eva akan menginap di tempat ku"


Dean Wason mengeryitkan keningnya. Lalu menatap Robert dengan teliti dari atas sampai bawah.


"Kau ingin menginap di tempat Robert?" tanya Dean Wason saat berbalik menatap Eva.


"Hmmm....itu tidak masalah" jawabku ambigu.


"Baiklah" jawab Dean Wason langsung.


"Kalian bisa pergi"


"Baik kakek. Selamat beristirahat~" aku berpamitan sambil mencium pipinya.

__ADS_1


Dean Wason hanya mengangguk kaku. Ini pertama kalinya dia dicium seseorang. Tubuhnya bergetar.


'Ini cucu kecilku. cucu kecilku menciumku' pikirnya senang.


***


Setelah menemui kakek, aku mengikuti Robert menuju kamarnya.


Kami pun tiba di lantai asrama untuk murid senior. Robert memilih salah satu kamar dan membukanya.


Ruangan itu lumayan besar. Mirip apartemen atau penginapan. Ada dapur, ruang makan dan toilet. Ruang kamar berada di ruangan tersendiri. Tapi sayangnya, apartemen itu kosong, tidak berisi perlengkapan apa pun. Hanya ada perabotan dan kasur.


Untung saja kasurnya masih tersisa...


Kalau tidak, aku tidak membayangkan tidur di lantai di malam yang dingin ini...


Setelah memasuki kamar, aku langsung merebahkan diriku di kasur.


"Eva? Tidak ganti baju?"


"Aku akan menggantinya nanti"


aku mempunyai beberapa persediaan baju tidur dalam ruang dimensi.


"Eva, kau harus cuci tangan dan kaki dulu, lalu gosok gigi"


Aku langsung bangkit dan duduk. Aku menatap Robert kesal sambil mengernyitkan keningku. Apa-apaan pemuda ini, dia seperti bapak-bapak. Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti anak kecil?


Bahkan pelayanku sendiri tidak pernah berbicara seperti ini padaku. Aku bisa melakukan semua hal pribadi ini sendiri tauu...


Aku pun turun dari kasur. Dan mengambil beberapa gaun tidur di dalam ruang dimensi.


"Aku akan membantumu mengganti baju" kata Robert tiba-tiba sambil menyambar bajuku.


Untung saja aku dengan cepat mengelak, menyingkirkan bajuku ke samping "Tidak".


Aku menatap Robert kesal lalu menginjak kakinya.


"Ouch"


"Master kau harus tahu umurmu. Kau harus cepat-cepat menemukan pacar. Umur master sudah tidak muda lagi" jawabku dingin sambil menuju ke kamar mandi untuk berganti.


Robert menatap punggung Eva. Mendengar perkataannya, raut wajah Robert berubah ganas. Dia seperti predator yang ingin berburu, dan menetapkan Eva sebagai mangsanya.


Tapi, ekspresinya berubah lagi. Dia menghela napas dalam-dalam menenangkan dirinya.


'Sabar, sabar, aku harus sabar. Kau masih belum bisa memakannya'


Setelah mengganti baju dan membersihkan dirinya. Eva langsung menuju ke kasur. Dia melihat Robert masih duduk di meja kerja, sambil menulis suatu dokumen yang tidak diketahuinya.


"Mana ciuman selamat malamnya?" sanggah Robert tiba-tiba.


"Apa?!"


"Ciuman selamat malam" balas Robert sambil menghadap Eva. "Kau mencium pak tua itu. Aku menginginkan bagianku" Robert bersikeras.


Kali ini aku benar-benar kaget. Bagaimana bisa Robert menjadi lebih tidak tahu malu seperti ini....Ada apa dengan otaknya? Apakah menjadi lebih rusak? Kenapa?


Seiingatku, di dalam novel, Robert selalu bertingkah ramah dan keren terhadap Reina. Tidak pernah ada deskripsi tindakan memalukan pada karakter Robert. Bagaimana bisa berubah dari novel aslinya?


Ha~ aku menghela napas, pasrah.


Aku mulai mendekati Robert dan mencium pipinya.


Robert tersenyum senang, langsung mengangkat tangannya mengelus kepala Eva "Selamat tidur"

__ADS_1


Aku menuju kasur dan merebahkan diriku. "Selamat malam master" aku perlahan mulai menarik selimut.


Robert hanya tersenyum sambil menyaksikan Eva terbaring. Lalu dia kembali fokus pada pekerjaan di meja kerjanya.


__ADS_2